- Back to Home »
- Fanfiction »
- CHOICE (PART 6)
Posted by : Unknown
.
.
.
.
CHOICE
.
.
.
.
Disclaimer
© Masashi Kishimoto
Story
Written By EmeraldAI
Rate
M for Blood
Genre
: Romance, Crime, Mistery, Tragedy
Pairing
: Sasuke X Sakura
.
.
.
.
Summary
Hidup
di sebuah negara yang penuh dengan kelicikan sama sekali bukan kehendaknya.
Bekerja di bawah kekuasaan pemerintah yang keji juga bukan kehendaknya. Hidup
tanpa ingatan juga bukan kehendaknya/”Yang ku tau, aku hanyalah boneka dengan
rantai di leherku…”/”Jika kau mengerti arti hidup, maka kau akan mengerti hidup
adalah pilihan—Sakura.”
.
.
.
.
Warning
Typos,
OOC, Blood Expilist, Kissing Scane, Bad Sakura, Sad Ending, AU type, Action
Story, DLDR, Mind RnR?
.
.
.
.
.
Opening
Song
EGOIST
– Namae no Nai Kaibitsu
.
.
.
“Dibalik jeruji hitam
Aku
dilahirkan”
.
.
In
ga no daishou harai
Tomo
ni yokou
Namae
no nai—Kaibitsu
.
.
.
.
.
Chapter
6
DOR
DOR
TRANG
TRANG
Suara dua jenis besi yang
beradu tampak menggema di sebuah area lahan luas yang hanya ditumbuhi rumput
liar. Walau masih terbilang sangat pagi, bahkan matahari belum menampakkan
cahayanya—namun, suara bising tampak memenuhi area sekitar lahan, baik suara
tembakan pistol maupun teriakan penuh ketegasan dari sosok gadis yang tampak
bertarung dengan pria yang membawa dua buah pistol di masing-masing tangannya.
“Masih belum!! Kau masih
terlalu lemah untuk disebut seorang pria!” bentak sosok gadis berambut soft pink pendek kurang dari bahu,
dengan dua buah kepangan rambut bagian bawahnya, yang menjuntai panjang
mencapai pantat—atau bahkan lebih.
Pria yang dibentaknya
tampak mendecih pelan, lalu mengarahkan mulut dua buah pistolnya ke arah sosok
gadis yang berdiri beberapa meter dari tempatnya. Sepasang mata merah darahnya
tampak menggantikan sepasang onyx
menawan yang biasa ia tunjukkan sehari-hari.
DOR
DOR
TRANG
TRANG
Lagi-lagi suara tembakkan
terdengar, namun kali ini frekuensi suaranya
lebih lemah dari yang sebelum-sebelumnya, dan untuk yang kesekian kalinya dua
buah peluru yang meluncur dari mulut pistol itu terjatuh sebelum sampai pada
sasaran. Hal ini semakin membuat pria itu geram—lagi-lagi pelurunya kalah
dengan dua buah jarum yang memiliki ketebalan tak lebih dari setengah peluru
tersebut.
“Berhentilah membentak
Sakura. Baretta tak sekuat apa yang
kau duga—“
“Baretta membentuk kekuatan pelurunya berdasarkan emosi orang yang
menjadi tuannya. Kau harus mengendalikan emosimu Sasuke-san,” jelas Sakura seraya memberikan jeda sejenak seraya
menghembuskan nafasnya pelan.
Dia harus rela membalikkan
kepribadiannya yang dingin dan tegas, demi menjadi seorang pelatih yang
bijaksana dalam bersikap. Sakura lalu berucap lagi, “kau memang memiliki raut
wajah stoic untuk menyembunyikan
segala bentuk emosi—tapi dalam dirimu, emosi itu bergejolak tak terkendali.”
“…”
“Sudah tugasmu untuk
mengendalikan emosi itu, kau hanya perlu menata emosimu dari dalam.” ucap
Sakura seraya menepuk pelan pundak kiri Sasuke.
Dengan suara pelan namun
tegas—Sakura kembali berucap, “latihanmu untuk pagi ini cukup—kita akan
melanjutkan latihannya setelah kelas selesai. Sekarang bersiaplah sebelum bel
berbunyi.”
“Hn.”
“Kau bisa menemukanku di
kelas ranking SS. Aku ada pelajaran
olahraga pagi ini.” Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Sakura kembali
berjalan hendak meninggalkan tempatnya melatih Sasuke.
Namun langkahnya terhenti
ketika sebuah tangan kekar menggenggam lengannya. Sakura tak menolehkan
pandangannya, ia hanya menatap Sasuke yang memegang lengannya melalui ekor mata
miliknya. Sedetik kemudian ia mendengar Sasuke mengucapkan dua patah kata yang
tak pernah ia duga sebelumnya.
“Sakura—“
“…”
“—arigatou.”
Tak lama setelahnya Sasuke
melepaskan genggaman pada lengannya. Sakura tak menjawab, gadis itu memilih
diam seakan menulikan sepasang telinga miliknya. Ia bingung harus menjawab apa
atas perkataan Sasuke, dan memilih melengos pergi begitu saja.
Jujur, ini awal pertama
kalinya ia mendapatkan ucapan seperti itu dari seseorang. Dan mungkin inilah
penyebab jantungnya berdetak semakin kencang, seakan jantungnya ingin terjun
bebas menuju perutnya.
Melihat Sakura yang lebih
memilih pergi tanpa menjawab apapun atas perkataannya, membuatnya mencelos—ia
susah payah mengatakan hal tabu tersebut, tapi orang yang diajaknya bicara
memilih pergi tanpa membalas perkataannya walau dengan gumaman. Jika tau
begini, ia lebih memilih diam dan tidak akan pernah mengatakannya pada Sakura.
Tapi—
Entah kenapa sisi lain
hatinya terasa mengembang, memberikan sensasi tersendiri di perutnya. Serta,
rongga dadanya terasa menghangat ketika kulitnya bersentuhan dengan kulit
lengan Sakura. Tak dapat ia pungkiri, saat ini guratan merah tipis tampak
menghiasi wajah tampannya.
Sebelah tangannya tampak
memegang dada kirinya tempat jantungnya berada, ia bisa merasakan detak
jantungnya yang menggila. Ia tak pernah merasakan perasaan seperti ini
sebelumnya, walau ia seringkali bersentuhan dengan wanita bahkan berciuman
dengan mereka. Tapi ia tak pernah mendapatkan sensasi seperti apa yang ia
rasakan sekarang.
‘Aku
tidak mengerti—semua hal tentangmu, perasaanmu, bahkan pemikiranmu—berikan aku
penjelasan tentang itu semua bahkan yang saat ini terjadi padaku.’
.
.
.
“Sakura-chan, ohayou!!”
Sosok gadis berambut
indigo panjang tampak terduduk di atas sebuah kapak dengan pegangannya yang
panjang. Kapak itu berwarna hitam pekat dengan beberapa rantai penghubung yang
dipegang gadis itu.
Gadis itu berpenampilan
gelap, tubuhnya dibalut dengan dress
ala goth dengan bagian bawahnya yang
menggunakan kain transparan mencapai mata kaki. Gadis itu hanya mengenakan
celana pendek berwarna hitam berbahan kulit, yang hanya menutupi sepermpat paha
atasnya. Sedangkan sepasang kaki jenjangnya dibalut dengan sepatu boot berwarna hitam yang menutupi betis
sampai seperempat pahanya dengan sebuah tali pada masing-masing bagian atas
sepatunya untuk menghubungkan antara sepatu dengan celana pendek yang ia
kenakan.
Rambut indigo panjangnya ia
kepang menyamping, dan sebuah topi hitam ala
penyihir menutupi kepalanya. Gadis itu mengubah total penampilannya, kini
semua orang memandangnya dengan pandangan kagum, bukan lagi dengan pandangan
sinis yang biasa mereka berikan pada gadis itu.
“Ohayou.” balas Sakura seraya berusaha bersikap lunak, namun kesan
aneh semakin melekat padanya saat ia berusaha bersikap lebih lunak dari
kesehariannya.
“Ne ne, Sakura-chan…!!
Kita sekelas, pasti menyenangkan memiliki teman di kelas. Aku benar-benar tak
sabar, kira-kira apa kita bisa sebangku??” ucap Hinata tampak sangat antusias
dengan keberadaan Sakura. Gadis itu seolah melupakan semua masalahnya dalam
pertemanan.
“Souka. Aku juga berharap begitu.” Sakura tak bisa berkata banyak,
ia hanya menjawab singkat atas pertanyaan Hinata. Dia bukanlah gadis yang
pernah memiliki kenangan indah bersama seorang teman—bahkan ia tak memiliki
satupun teman di Tokyo.
Hinata tampak menunjukkan
pose berpikirnya, sedetik kemudian ia tersenyum lembut. Ia lalu berucap, “ada
rumor bilang jika kau berada di ranking
V1S di Tokyo—apa itu hanya rumor saja, atau—“
“Ya.”
“Hah?”
“Aku memang ranking V1S, aku bukan ranking SS tapi aku sering berbaur
dengan ranking SS, karena tidak ada
murid lain yang memiliki ranking V1S
selain aku.” Sakura berucap dengan panjang namun cepat, membuat Hinata
menampilkan ekspresi kagetnya.
Jadi, Sakura bukanlah
gadis dengan kekuatan setara dengan gadis lain? Hinata sudah berpikir sejak
awal jika Sakura bukanlah pemilik ranking
pada umumnya, ada kekuatan besar dalam diri gadis itu. Kekuatan itu terkurung,
seperti menunggu pasangannya menyelamatkan dirinya.
Intinya, Sakura memiliki
kekuatan besar namun hanya bisa di aktifkan jika bertemu dengan kekuatan yang
menjadi pasangannya.
“Kau tidak mengikuti
pelajaran olahraga? Kau akan mendapatkan hukuman dari Anko-sensei jika kau tidak mengikutinya, Sakura-chan.” ujar Hinata seraya mengikuti arah langkah Sakura yang menuju
gedung olahraga, walau kapaknya yang bergerak dan dirinya hanya duduk di
atasnya.
Tanpa perlu mengalihkan
pandangannya Sakura menjawab pertanyaan Hinata, “iie, di Tokyo aku tak pernah mengikutinya. Aku hanya melihat dan
aku akan menerima tantangan jika ada yang menantangku.”
“…”
“Di Tokyo memiliki sistem
berbaur, dari ranking teratas hingga terendah
akan saling bertarung dalam sebuah labirin yang dibuat dari illusion room. Apa di sini sama?”
Hinata menggeleng cepat, “iie, di sini pertarungan dikelompokkan
berdasarkan ranking. Dan memang
terkadang kami menggunakan sistem labirin, tapi terkadang kami menggunakan
hutan yang mengelilingi gedung.” jelas Hinata.
“Souka.”
“A-ano Sakura-chan. Apa
pendapatmu tentang kesetiaan?” ucap Hinata seraya menggigit bibir bawahnya,
takut jika Sakura akan marah jika ia bertanya hal macam-macam.
Sakura tampak berpikir
sejenak, namun detik selanjutnya ia menjawab, “setia, kau menetapkan pilihanmu
pada satu hal, mungkin? Aku tak seberapa mengerti dengan hal semacam itu. Gomen.”
“I-iie Sakura-chan. Kau
sudah sedikit membantu dengan perkataanmu.” Hinata merasa tak enak hati ketika
mendengar perkataan ‘maaf’ meluncur dari bibir gadis di sebelahnya.
Ia mengakui apa yang
dikatakan Sakura ada benarnya, perkataan Sakura sama seperti yang berada di
pikirannya. Dia juga berpikir untuk apa mempertahankan hubungannya dengan sang
kekasih jika kekasihnya saja senang bermain dengan wanita di luar sana. Untuk
apa dia membuang cintanya hanya untuk pria yang sama sekali tak memandangnya.
Jadi, dia memilih mengakhiri semuanya semalam, dengan begini tak ada yang tersakiti
lebih lama bukan?
Dirinya bukan seorang yang
masochist yang menyukai rasa sakit
yang menjalar di fisik maupun batinnya. Dia hanyalah seorang gadis biasa dengan
darah Hyuuga yang mengalir dalam dirinya, dia hanya menginginkan kebahigaan
pasti bukan kebahagiaan semu yang kapan saja bisa menjadi penderitaan.
“Tentang kekasihmu?”
Hinata sempat terkejut
ketika mendengar pertanyaan Sakura yang tepat sasaran. Ia mengangguk pelan
seraya bergumam, kedua telapak tangannya yang dibalut dengan sarung tangan hitam
mengepal erat. Tak dapat dipungkirinya, sisi lain dirinya menjerit sakit.
Karena jujur, masih ada rasa cinta dalam dadanya hingga membuat jantungnya
serasa tercabik-cabik setiap kali mengingat mantan kekasihnya.
“Dia bukan satu-satunya
lelaki di dunia ini, kau bisa mendapatkan yang lebih baik darinya.” ucap Sakura
dengan nada datar. Walaupun ini pertama kalinya ia mendengar kasus seperti
percintaan, namun lidahnya tak kelu untuk berbicara memberikan pendapat serta
sarannya.
“Kau tidak mengerti
Sakura-chan, ini hal yang sulit.”
Sakura terdiam sejenak
untuk menghela nafas pendek, ia lalu berucap mengeluarkan pendapatnya apa yang
ia tau saat ini. “Aku memang tidak mengerti apapun tentang perasaan ataupun
cinta, aku menyelesaikan ratusan misi dengan kasus yang rumit dan berbahaya
namun tidak dengan perasaan dan cinta.”
“…”
“Tsunade-sama pernah memberitahuku jika rasa
cinta itu pahit dan manis, tapi aku tak pernah mengerti betul rasa cinta. Aku
terus bertanya pada setiap orang ‘apa rasa cinta?’ namun setiap orang memiliki
jawaban berbeda.”
“…”
“Aku semakin bingung, aku
mencoba mencari taunya sendiri. Dengan mencoba satu persatu apa yang mereka
katakan, mereka bilang cinta itu ciuman. Aku mempraktekannya pada salah satu
musuhku sendiri, sekaligus demi kelancaran misi.”
Hinata terbelalak kaget
ketika mendengar ucapan Sakura, rona merah tampak menghiasi wajah manisnya.
“Sa-Sakura-chan.” cicitnya seraya
menahan rasa malu yang luar biasa.
“Dan bagiku terasa hambar,
aku tak merasakan pahit dan manis di ciuman itu. Setelah berpikir panjang aku
menarik sebuah kesimpulan pasti—“
“—rasa cinta itu, memang
hambar. Pahit dan manis yang dimaksud adalah kehidupan, cinta akan terasa pahit
dam manis jika bercampur dengan kehidupan. Namun bukan itu pandanganku, cinta
itu adalah perasaan nyaman dengan hal yang asing dan perlahan menjadi hal yang
kau kenal baik.”
“…”
“Itulah cinta menurut
kesimpulanku—Hinata.”
KRIEET
Hinata sempat terpaku
dengan perkataan Sakura yang panjang, namun sedetik kemudian ia bisa menarik
kesimpulan tentang teman pinknya ini.
Cara pandang gadis itu berbeda dengan orang kebanyakan, gadis itu akan
memandang dari segala pihak tidak hanya dalam lingkup pandangannya. Mungkin
mayoritas orang yang tidak mengenal Sakura akan beranggapan jika gadis itu
tidak peduli dengan sekitarnya, hanya karena sikapnya yang dingin dan sifatnya
yang memilih diam.
Tapi tidak, Hinata sejak
awal tidak memandang buruk sifat Sakura yang selalu diam dan terkesan dingin.
Gadis itu diam bukan karena ia tak peduli, ia diam karena hal itu tak perlu ia
tanggapi, di balik itu semua Sakura adalah gadis yang peduli dengan sekitarnya,
ia menghargai cara pandang orang, ia peduli dengan setiap saran yang diberikan
untuknya. Dan dingin karena memang itulah dirinya, entah karena masa lalu atau
apa—Hinata masih belum mengerti.
‘Inikah
dirimu—Sakura-chan?’
.
.
.
BRAK
“Tsunade-sama!!” teriak seorang wanita berambut
hitam pendek yang baru saja membanting pintu. Wanita itu berjalan cepat
menghampiri sosok wanita berambut pirang yang memandang ke arah luar jendela.
Langkahnya terhenti ketika
sebuah isyarat tangan dari wanita berambut pirang itu tertuju ke arahnya untuk
tidak berbicara. Sebuah senyum pedih tampak menghiasi wajahnya. Ia sudah
menduga jika hal ini akan terjadi, pertarungan ini tak dapat dihindari.
“Aku mengerti Shizune. Aku
tak mampu menghentikan pertempuran ini dan aku menyadari tak cukup hanya dengan
kekuatan kita semua untuk menghancurkan mereka.”
“Tsunade-sa—“
“Jadi—tak ada jalan lain
selain mundur untuk sementara waktu. Hubungi Academy Anbu Okinawa…perintahkan para murid untuk berkemas. Kita
akan tinggal di sana untuk sementara waktu.”
“Tapi Tsunade-sama, bukankah lebih baik kita
menghubungi Kyoto—“
“Iie.” Tsunade berbalik seraya menatap serius ke arah asistennya.
“Kau hanya perlu melaksanakan apa yang aku perintahkan, mengerti?!” bentak
Tsunade.
“Hai’!! Kalau begitu saya akan segera menghubungi AAO dan memerintahkan para murid untuk
berkemas.” ucapnya dengan tegas walau ia cukup terkejut mendengar bentakkan
sang kepala sekolah.
“…”
“Kalau begitu saya
permisi.”
Dan detik selanjutnya,
tampak kepulan asap putih menyelubungi tubuh wanita berambut hitam pendek itu.
Tak lama setelahnya, asap itu menghilang bersamaan dengan hilangnya sosok
Shizune dari pandangan mata.
“Aku sudah menyadari semua
permainan bodoh ini, tidak akan kubiarkan nyawa putriku terancam—tidak akan,
sekalipun dia bukan putri kandungku.” ucap Tsunade seraya memandang datar ke
arah pintu ruangannya. Ia memejamkan matanya sejenak, ia melihat kematiannya
yang tak lama lagi.
Setidaknya ia bisa
mempermudah pergerakan putrinya kelak untuk memusnahkan siapa yang seharusnya
dimusnahkan. Telah lama ia berpikir tentang semuanya, dan ia kini dapat menarik
satu kesimpulan.
Tsunade mengambil sebuah
kertas dan sebuah pena, ia menuliskan beberapa buah kata yang bercampur dengan
kode. Dilipatnya kertas tersebut, ia lalu memberikan sebuah kata kunci pada
selembar kertas itu, seperti halnya kutukan. Tidak ada seorangpun yang bisa membuka
kertas itu apalagi menghancurkannya, namun ia yakin Sakura akan menemukan cara
itu.
‘Hanya
tersisa nyawaku yang dapat kukorbankan. Setelah ini, jaga dirimu baik-baik—kau
kunci semua permasalahan ini. Aku yakin, kau akan menemukan jawaban—‘
.
.
.
‘—siapa yang seharusnya kau bunuh.’
.
.
.
Sakura melangkahkan
sepasang kaki jenjangnya menyusuri koridor gedung yang tampak sepi. Hari ini ia
tak bisa langsung beristirahat di kamarnya karena sang wali kelas memaksanya
untuk membantu mengembalikan setumpuk buku tebal ke perpustakaan. Sebenarnya
Hinata hendak membantu, namun gadis itu dipaksa pulang karena keluarganya
mengadakan acara makan malam yang wajib dihadiri setiap anggota keluarga Hyuuga.
BRUK
Sebuah dorongan membuat
Sakura terjatuh ke belakang dan membuat buku-buku yang dibawanya menebar ke
sekelilingnya. Gadis segera bangkit dari posisinya, memungut satu persatu buku
yang dibawanya. Sakura tampak sedikit terkejut ketika mendengar sebuah suara
seorang pria yang ditabraknya.
“Biar kubawakan setengahnya.
Kau baik-baik saja kan?” nada lembut itu mengalun memasuki indera pendengaran
Sakura.
Gadis itu mengangguk pelan
seraya berusaha berdiri walau ia bisa merasakan kaki kanannya terkilir. Namun
ini bukan hal fatal baginya, ia sudah sering mendapatkan luka yang bahkan lebih
parah daripada ‘terkilir’
Pemuda itu memiliki wajah
imut dengan rambut semerah darah. “Kau bisa memanggilku Sasori, kau?”
“Sakura—Haruno Sakura, desu.” ucap datar Sakura yang tanpa
henti memandang wajah tampan pemuda yang berjalan di sampingnya.
Bukan karena ia terpesona
dengan ketampanan pemuda di sebelahnya, tapi wajah pemuda itu tampak sangat
familiar di pikirannya. Ia bisa merasakan ikatan kuat dengan pemuda itu, namun
ia tak pernah mengingat sedikitpun tentang pemuda di sebelahnya. Untuk
sementara waktu Sakura memilih diam, sembari berpikir sejenak.
‘Kau
bahkan tak mengingatku Sakura. Tapi, aku berjanji akan mengembalikan
ingatanmu—dan kita akan menikah. Hanya kau, aku dan anak-anak kita—aku akan
menciptakan dunia tersendiri untuk keluarga kita—‘
.
.
.
‘—dunia
tanpa peperangan.’
.
.
.
.
To
Be Continued
.
.
.
.
.
.
.
Ending
Song
Nano
– Savior Song
.
.
.
.
.
A/N
Selesai sudah chapter 6
ini #lapKeringat saya memutuskan untuk keluar dari fanfiction.net, dan saya
akan fokus di sini dan blog pribadi saya. Di web milik Sena ini saya akan
mempublish segala rate, mulai dari K, T, M bahkan MA. Tapi di blog pribadi saya
hanya akan menulis rate K dan T saja.
Saya sempat kaget ketika
diberi tau Sena jika banyak yang menunggu fic saya ini -_- terutama fic Only Mine
yang jujur bikin saya miris karena banyak yang suka :v padahal itu lemonnya
semakin lama akan semakin ekstrim :v dan saya gak berani jamin tidak ada unsur
kekerasa di dalamnya :D #Plak
Baiklah saya mulai
perkenalan di sini demi menjaga kesopanan.
Perkenalkan nama saya
Gheralda, namun biasa dipanggil dengan sebutan Ai. Keduanya adalah nama asli
saya , dan saya seorang gadis #karenaBanyakYangMengiraSayaLaki2 , desu yoroshiku.
Kalian bisa menemukan saya
di jejaring social facebook dengan
nama ‘Ai Ling Che Che’ jika nanti saya menggantinya, saya akan ganti dengan
nama ‘Gheralda Ai’ :3
Baiklah terimakasih J
bagi pembaca Only Mine mohon bersabar. Dan siapa yang kemaren request ficnya
dibanyakin? Sekarang yang mengisi bagian fanfiction ini tidak hanya saya tapi
juga Cece saya J tapi dia hanya
mengisi rating aman seperti K dan T J
untuk rating di atas itu masih saya pegang. ^^
Salam
.
.
.
Gheralda
Citra Prameswari
Arigatou
