Archive for Agustus 2014
Sang Angsa Emas Chapter 2, a NaruIno Fanfic
Sang Angsa Emas.
Naruto
© Masashi Kishimoto.
Warning
: AU, OOC, OC, Typo, Bad Languange. Anda dipersilahkan mundur untuk
menghindari tindak anarkis (?) yang mungkin akan Anda lakukan di kotak review.
-oOo-
Enjoy~
.
.
.
Aku terdiam kala iris biruku mendapati Ino yang berdiam diri sembari memandangi hamparan tanah retak nan tandus di bawah kakinya.
Kilau sendu membayang di kornea birunya. Aku berdecak, sedikit rasa kecewa juga merasuk ke dalam dadaku saat kulihat kekeringanlah yang membentang di mana-mana—seolah tak mengizinkan kami untuk memutar kenangan indah akan tempat ini. Seolah tiada lagi kenangan yang patut diingat akan tempat yang dulunya terlihat sangat indah ini.
"Kering, Naru," bisiknya dengan suara parau.
Aku menghela napas sebelum kakiku bergerak memangkas jarak antara aku dan Ino. Aku berdiri tegak di sampingnya, tangan kiriku bergerak menepuk kepalanya pelan. "Apa yang kau harapkan? Ini sudah bertahun-tahun, Ino."
Ino menoleh dan memandangku dengan lirikan nakalnya. "Hmmm, eternity? As a beautiful place, which existence is eternal, as memory does," jawabnya sambil memandangku lekat-lekat.
"Ah," sahutku singkat sebelum terkekeh pelan, "beauty is in the eye of the beholder," sambungku sok puitis.
Ino menatapku dengan sebelah alis terangkat. Gadis bermahkota pirang itu nampaknya berusaha keras menahan kekehan yang berada di ujung bibirnya—lihatlah bibirnya yang bergetar itu.
"Kalau ingin tertawa, tertawa saja. Tidak usah ditahan!" celetukku sok sinis, membuat Ino tak tahan lagi untuk menahan segaris senyum yang terlukis di bibir pink-nya.
Aku mendesah lirih dalam hati ketika aku menangkap pancaran kelegaan membias dari bola mata aquamarine itu. Tanpa aba-aba, Ino menekuk lututnya; berjongkok dan mengulurkan tangan kanannya—meraih segumpal tanah kering di hadapannya.
Tangan mungil itu mengepal, membuat kepingan tanah yang ada di gengamannya berubah menjadi serpihan-serpihan halus yang berjatuhan dengan pasrah menghias rumput kering di bawahnya.
"Kalau aku tutup mata ... mungkin nggak ya, danau kecil itu kembali?" Pertanyaan Ino yang terlalu tiba-tiba mendadak menimbulkan perasaan ingin tahu mencuat di dasar hatiku.
"Mau mencoba?" ucapku kemudian. Ino menoleh dan mengangguk lirih. Tangan putih susunya menggapai pergelangan tanganku—memaksaku berjongkok di sampingnya untuk yang kedua kalinya di hutan jati ini.
"Coba pejamkan mata. Kukira dengan adanya kau di sini, segalanya menjadi lebih mudah," kata Ino lirih. Aku baru saja menolehkan wajahku ketika melihatnya telah memejamkan mata dengan bibir yang sedikit meruncing ke depan, dan alis berkerut tipis—tanpa sadar membuatku tersenyum tipis.
Menepuk kepala pirangnya sejenak, lalu aku kembali berpaling ke arah hamparan tanah kering yang ada di hadapanku, dan memejamkan mata dalam diam.
End of Naruto P.O.V
Semenit dalam kesunyian, kedua insan berhelai pirang itu seolah tengah menikmati kicauan burung, desir angin yang lembut, gemerisik dedaunan, embusan napas yang bersahutan, bahkan degupan jantung mereka yang bertalu-talu dengan lembut.
"Lihat ... danau itu kembali pada kita, Naru." Suara lembut Ino mendadak memecah keheningan yang beberapa menit lalu masih mendominasi atmosfer di sekitar mereka.
Lalu ... memori itu kembali ...
Tanah kering yang semula retak dan tandus karena termakan usia kini berubah menjadi kumpulan air yang membentang dalam sebuah proses transformasi yang lembut.
Titik-titik kehijauan mulai bermunculan di permukaan; bersamaan dengan tunas-tunas eceng gondok yang dengan cepat mulai berdaun dengan indah.
Naruto menghela napasnya, menyadari bahwa keindahan sebuah kenangan akan tetap berada di hati seseorang yang mengalaminya—bahkan ketika kenyataan tak seindah sebuah kenangan.
Kemudian, lamunan lelaki berparas tampan itu buyar saat genggaman Ino mendadak mengerat.
"Tahun-tahun yang berlalu ..." Ino berucap singkat nan lirih.
Tak ada kata yang terucap setelahnya. Yang ada hanyalah sebuah dekapan hangat dari Naruto untuk gadis pirangnya. Sepatah kata berisi permintaan maaf terlantun dari bibirnya sebelum lelaki beriris blue ocean itu tenggelam dalam bisunya kebingungan.
'Apa-apaan kamu, Naruto?! Ino itu sahabatmu! Ino bukan gadis yang boleh kau permainkan sesuka hatimu!' Suara batin Naruto menjerit dengan alasan-alasan sok suci.
Untuk sesaat kemudian, kejujuran dalam hati Naruto mengatakan alasan yang sebenarnya ...
Bahwa Ino bukan levelnya.
Bahwa dia, Si Itik Buruk Rupa, tak layak menerima kecupan dari Si Angsa Emas.
Tidak.
Dia tak pantas.
"Kalau kamu merasa tenang dengan itu. Aku tak masalah." Kata-kata yang mengalir dari bibir Ino mampu membuat Naruto malu seketika. Pikirannya terbaca dengan mudah!
'Bagaimana aku bisa menghakiminya sedemikian rupa hanya dengan menatap perbedaan fisik kami?! Bagaimana aku bisa melakukannya saat aku dapat merasakan ketulusan itu dalam kata-katanya?!' batin Naruto kembali berteriak memaki sang inang.
Naruto terdiam, namun dia tak jua melepaskan rengkuhan lengannya pada tubuh Ino. Dia membiarkannya. Naruto membiarkan rengkuhan lengannya mengombang-ambingkan perasaan dan logikanya.
'Ketulusan, itu yang kuperlukan untuk mengobati pengkhianatan.' Batin Naruto kembali berseru memberikan pembelaan.
Dan saat itulah ia kembali mengecup bibir Ino dengan lembut.
Pejaman mata dan kenikmatan lahir batin.
Ketenangan jiwa yang murni.
Pun rasa sayang yang tiada bisa terukur, dan hanya bisa dinyatakan dalam setiap kelembutan dan kehangatan yang membuat tubuhnya bergetar secara nyata—telah ia dapatkan dari gadis dalam pelukannya,
Yamanaka Ino.
'Ia menyayangiku! Ia mengasihiku! Ia mencintaiku!' Jeritan hati Naruto kembali berkumandang bak orang gila yang tengah kasmaran.
Hatinya bergemuruh, pergulatan kini tengah berlangsung riuh di dalam hatinya. Kemunafikan dan sisi narsisme yang mendominasi sikap superior-nya selama menjadi Si Angsa Emas kini bergelut dengan keinginan untuk dicintai dan mencintai yang menyeruak dari dasar palung terdalam di hatinya.
Semuanya bergelut mempertahankan pendapat masing-masing, tak ada yang mau mengalah.
Dan yang terjadi selanjutnya adalah sebuah proses transformasi lain yang disusun rapi oleh Naruto untuk gadis pirangnya. Untuk Yamanaka Ino.
Detik demi detik,
Setiap sentuhan demi sentuhan.
Pelajaran demi pelajaran.
Canda tawa dan kemesraan.
Kolam renang dan gym yang menjadi tujuan setelah pulang sekolah.
Pelajaran berdansa, dunia hiburan malam, liukan-liukan yang menggandeng romantisme bersama keringat yang mengucur telah terlewati.
Angsa-Angsa Emas yang lain telah menawarkan bantuan dengan sukarela selama proses itu berlangsung. Sebuah proses pembentukan mahakarya oleh seorang maestro sejati telah berhasil mengubah Sang Itik Buruk Rupa menjadi seekor Angsa Emas yang cantik.
Ino berubah.
Perlahan tapi pasti, dengan atau tanpa disadarinya, Ino sudah menjadi seekor Angsa Emas yang begitu cantik nan anggun.
Semua jerih payah dan cucuran keringat yang berjatuhan kini telah menampakkan hasil yang sungguh memikat hati.
Berat badan yang menurun drastis, tatanan fisik yang mengagumkan, pergaulan yang mencuatkan reputasi—semua itu telah dimiliki Ino dalam waktu enam bulan.
Hanya enam bulan.
Waktu yang relatif singkat untuk membuat Ino memperoleh pernyataan-pernyataan cinta dari pemuda-pemuda yang dahulu mencibirnya dengan pandangan congkak.
Hanya enam bulan pula waktu yang dibutuhkan oleh Naruto untuk menyadari bahwa perubahan fisik Ino turut membawa perubahan dalam cara berpikirnya.
Naruto tak pernah tahu siapa yang mengenalkan gadis pirang polosnya pada sosok itu.
Seorang pria dewasa dengan atribut, pangkat, dan kemewahan seorang abdi negara yang melekat erat pada tubuhnya—sosok pria yang paling dielu-elukan setiap wanita saat itu.
Sosok yang kemudian mampu membuat Ino berkata, "Keluar? Wah, nanti aku ada acara sama teman-teman. Sorry ya? Besok lusa saja, oke?"
Itu hanya sepenggal kata penolakan dari puluhan kata yang Ino lontarkan ketika ia telah mengenal lelaki bersurai merah itu.
Saat itulah Naruto menyadari bahwa ia tak bisa lagi menemukan sosok Yamanaka Ino yang dulu selalu ada untuknya.
Yang bersamanya sekarang adalah sosok seorang gadis populer yang menghabiskan waktunya untuk mempertahankan apa yang sudah dicapainya.
Sosok gadis yang kini hanya menganggap Naruto tak lebih dari seekor lalat pengacau saat ia melihat masa depan yang lebih cerah di depan matanya.
Dia bukan Yamanaka Ino-nya.
Dia adalah Yamanaka Ino yang lain.
-To be Continue-
.
"Perubahan
selalu membawa dampak positif dan negatif di saat yang bersamaan. Di saat
itulah kepiawaian kalian dalam bersikap bijak akan menentukan segalanya."
—Nakazawa Miyuki.
Regards,
Nakazawa Miyuki.
Secret Love Trip (1 of 2) - Anashin
OSIS membuka pendaftaran anggota baru!
Aoi tertarik untuk mengikutinya dengan alasan untuk bahan riset komiknya. Ya, Aoi berniat untuk menjadi seorang komikus. Segala cara pun dilakukannya, bahkan sampai membuat Kosei jengkel dan marah. Namun, Hinata akhirnya memutuskan untuk meminta bantuan Aoi yang pintar menggambar membuat poster Festival Sekolah. Aoi pun bingung tak tahu harus berbuat apa. Tapi Aoi berhasil menyelesaikan tugasnya. Kelelahan dengan pekerjaan memodifikasi posternya, Aoi pun tumbang di pagi hari. Kebetulan sekali Kosei melihatnya dan membawa Aoi ke ruang kesehatan.
Kosei mengatakan bahwa Aoi boleh masuk OSIS berkat usaha dan kerja kerasnya membantu pemodifikasian poster. Hal tak terduga pun terjadi. Kosei malah menyatakan cinta pada Aoi.
Sementara itu, diungkapkanlah bagaimana kehidupan Aoi. Aoi memiliki seorang kakak laki-laki. Kakaknya adalah seorang penulis novel roman. Kadang, Aoi sering dimintai tolong macam-macam atau bahkan diganggu kakaknya.
Sedangkan di pihak lain, Kosei juga memiliki kakak perempuan. Mereka tidak memiliki ikatan darah dan sepertinya Kosei menaruh perasaan pada kakak tirinya itu.
Lalu bagaimana hubungan Aoi dan Kosei? Apa yang sebenarnya Kosei sembunyikan?
Enjoy reading, minna~
##Maaf sekali karena lama tidak update. Bukannya bagaimana, pengiriman komik sendiri menjadi terlambat dan khusus minggu lebaran kemarin, tidak ada komik baru yang terbit. Harap maklum saja ya >w< Jadi dengan ini, saya tebus ya. Hehe >w<)/ Wait for the next~
-Aoi Kaito-
MATRYOSHIKA
.
.
.
.
MATRYOSHKA
.
.
.
Disclaimer
© Masashi Kishimoto
Story
Written By © EmeraldAI
Rate
M for Blood
Genre
© Horror, Supense, Mistery
Main
Pairing © Sasuke X Sakura
.
.
.
.
Summary
Sebuah boneka kayu
asal Rusia yang dilukis unik menyerupai wajah seorang wanita—Matryoshka.
Cantik, itulah gambar wajah yang terlukis di sana. Namun, tidak semua barang
bisa dikatakan cantik dengan hanya melihat dari luarnya bukan? Lihatlah! Sebuah
boneka Matryoshka di sana! Menatapmu seolah akan membunuhmu kapan saja.
Membuatmu agar terlihat seperti wujud aslinya.
.
.
.
.
.
Warning
OOC,
Typo(s), DLDR, Blood, AU type, Oneshoot, Mind RnR? Saver Contest : Banjir Tomat
Cherry.
.
.
.
.
.
Opening
Song
Kagamine
Len & Rin – Trick and Treat
.
.
.
.
.
.
.
.
TRING
Alunan
suara lonceng terdengar ketika seorang pria memasuki salah satu toko souvenir di Kota Moskow. Tanpa perlu melepas mantel hangat miliknya, ia berjalan
memasuki lebih dalam sebuah toko yang paling unik di antara toko-toko lain di
pusat Kota Moskow. Walau lorong
sempit ia lewati dengan berhias berbagai macam souvenir di sisi kanan dan kiri tubuhnya, tak ada alasan baginya
untuk melepas mantel tebal yang melekat pada tubuhnya. Hei, siapa yang akan
tahan jika berada di dalam sebuah kota atau bahkan negara dimana tengah terjadi
musim dingin, walau masih terbilang awal.
“Ah!
Maaf tadi saya sedang ada urusan di dalam. Jadi tidak mendengar suara seorang
pelanggan masuk kemari. Ah! Silahkan tuan ingin membeli apa?” Ucap sopan
seorang pria tua dengan rambutnya yang sudah memutih walau tak keseluruhan.
Lelaki
itu sedikit menyingkir dari tempatnya, memberikan kebebasan bagi pelanggannya
untuk memilih barang yang akan dibelinya sebagai souvenir. Dengan langkah pelannya ia mengikuti sosok pria muda
berwajah tegas itu di balik punggungnya.
Pria
itu tak menjawab, ia berjalan pelan dengan pandangan mata menilai satu persatu
barang yang nantinya akan menjadi souvenir
untuk sang adik tercinta. Walau sejahil apapun dirinya pada adiknya, tapi itu
hanyalah sebuah canda gurau semata. Jahil bukan berarti dirinya dendam terhadap
sang adik. Yeah, melihat wajah kesal
si bungsu Uchiha itu adalah sebuah kesenangan tersendiri baginya.
Sepasang
mata onyx miliknya masih setia menelusuri
satu persatu barang di sana—tak ada yang menarik perhatiannya. Kedua matanya
tampak menatap penuh kearah sebuah benda di dalam sebuah lemari kaca yang
berada di ujung ruangan. Tanpa sadar, langkah kakinya membawa tubuhnya agar
lebih mendekat kearah benda tersebut.
Langkah
kaki pria tua di belakangnya terhenti seketika. Sepasang matanya menatap kearah
satu-satunya barang yang berada di dalam sebuah lemari kata besar di ujung
ruangan. Sebuah senyum tipis merekah di bibir kusam miliknya. Dalam hati ia
sudah menduga bahwa boneka Matryoshka
pastilah digemari banyak tourist dari
Luar Negeri.
Boneka
Matryoshka memang bukanlah boneka
secantik Barbie atau boneka lain yang
memiliki postur tubuh menawan. Matryoshka
terbuat dari kayu yang diukir dan dibentuk menyerupai bentuk angka ‘8’ dan
dilukis apik sebagai penggambaran siapa boneka itu. Boneka Matryoshka pada dasarnya dilukis apik bertema wanita petani dengan
bunga-bunga atau flora sebagai pelengkapnya.
“Aku
ambil Matryoshka. Berapa harganya,
paman?” Ucap pemuda tampan itu seraya menunjuk satu-satunya benda yang berada
di rak paling ujung.
Lelaki
tua itu berjalan pelan, meminta izin pemuda itu untuk sedikit menggeser
tempatnya. Ia lalu berdiri di depan pemuda itu, berusaha mengambil sebuah
boneka Matryoshka berdebu yang
tersisa satu di dalam rak paling ujung. Dengan kaos lusuhnya ia mengusap bagian
berdebu boneka tersebut. Ia lalu memberikannya pada pemuda di hadapannya.
“Tidak
usah dibayar. Boneka ini telah lama tidak terjual, aku memberikan gratis untukmu.
Anggaplan sebagai pemberian dariku karena telah menjadi pelanggan pertamaku.”
Ucap serak pria tua itu setelah memberikan sebuah boneka Matryoshka kepada pelanggan pertamanya di pagi ini.
Pria
itu tampak sedikit terkejut sesaat setelah mendengar ucapan pria di depannya
itu, namun detik selanjutnya sebuah senyum tulus terukir di wajah tampannya
seraya berucap, “Thank you.”
Dengan
langkah tergesa-gesa pria itu keluar dari dalam toko tersebut, pria itu
membungkuk sejenak untuk berucap terima kasih pada pria tua itu, sebelum
berjalan menghampiri taksi yang terparkir di tepi jalan.
.
.
.
Tampak
sosok pria tengah duduk di sebuah kursi dengan sebuah layar komputer di
depannya. Sepasang mata onyx hitam
legam miliknya memandang serius setiap baris kata yang terpampang di layar PCnya, sesekali terdengar suara geraman
kesal dari mulutnya. Sambil menggerutu pelan ia mengarahkan kusornya lalu menggerakkan jarinya di
atas papan keyboard
TUK
Pemuda
itu hampir saja terjungkir ke belakang akibat suara yang datang dari arah
sebelahnya, ia lalu memandang sengit sosok pria yang meletakkan sebuah barang
aneh di kamarnya. Bukan itu yang ia permasalahkan, tapi kenapa pria itu tidak
bisa menghilangkan kebiasaannya untuk mengganggu privasi orang tanpa berkata permisi atau apalah itu.
“Hn.
Bisakah kau mengetuk pintu sebelum masuk? Itachi?” Ucap Sasuke dengan nada
datar nan tajam. Pandangannya lalu beralih pada sebuah benda yang diletakkan
pria bernama Itachi itu di atas mejanya.
“Hn.
Apa itu?” Ucapnya lagi seraya mengambil sebuah benda aneh di atas mejanya.
“Matryoshika. Kau pernah mendengarnya?”
Ucap Itachi dan membuat Sasuke mengangguk mengerti.
Yeah, dia pernah
mengetahui boneka bernama Matryoshika
ini dari sebuah artikel di internet. Boneka ini memang tidak memiliki bentuk
secantik Barbie atau sejenisnya,
boneka ini justru memiliki bentuk seperti angka ‘8’ yang dilukis dengan apik
bergambar seorang wanita petani di sana. Walaupun boneka ini sederhana namun
boneka menjadi mascot kota Rusia sampai saat ini.
Ada
kabar lain mengenai boneka Matryoshika
yang ditaburi dengan sedikit bumbu horror yang sama sekali tidak menyeramkan
menurutnya. Hei, apa kau percaya jika boneka seperti chucky atau Robert itu
ada? Bagi Sasuke boneka yang menyerupai mayat hidup seperti itu tidak ada dalam
kamusnya, boneka tetaplah boneka, hanya benda mati yang tak memiliki nyawa.
“Hn.
Kupikir kau berada di Amerika.”
Sasuke
menaikkan sebelah alisnya ketika menyadari manusia yang diajaknya bicara sudah
menghilang dari hadapannya. ‘Kemana orang
itu?’ Namun pada akhirnya Sasuke hanya mengangkat bahu acuh dengan
keberadaan kakaknya itu, toh jika makhluk itu menghilang dari hadapannya itu
akan sangat menguntungkan baginya.
Tanpa
ia sadari, malam petaka ini baru saja di mulai. Game yang menyenangkan ini baru saja memasuki pertengahan, dimana level selanjutnya akan sulit di dapat.
Anggaplah jika level yang dimaksud
adalah nyawa, kau akan mengerti apa maksud game
tersebut.
.
.
.
KRING
KRING
Suara
dering telepon memenuhi ruangan bernuansa Eropa itu, dengan langkah malas
Sasuke berjalan menuju sebuah telepon rumah yang tergantung di dinding ruang
tengah. Ia lalu mengangkat ganggan telepon dengan sedikit ogah-ogahan.
“Hn?”
Gumam Sasuke tak jelas melalui ganggang telepon yang dipegangnya.
“Oh Sasuke.
Akhirnya kau mengangkat teleponnya juga!!”
“Hn?
Itachi? Bukannya kau—“
Sasuke
menghentikan ucapannya ketika sebuah suara menyelanya dari seberang telepon, “Oh, aku hanya ingin memberitahumu. Aku menunda
kepulanganku ke Tokyo hari ini.”
“…”
“Kau tau? Aku terjebak di Russia dengan badai
salju. Mungkin aku akan pulang 3 sampai 5 hari lagi sampai badai salju mereda
dan saljunya mulai mencair.”
“…”
“Kau baik-baiklah
di sana. Ah ya! Aku sudah membelikanmu souvenir dari Russia—Matryoshika. Hanya di jual di
Russia.”
“…”
“Jaa. Kalau
begitu—sampai di sini ya? Sasu-chan.”
PIIP
PIIP
PIIP
Sasuke
tetap terdiam sampai sambungan komunikasi itu dimatikan secara sepihak oleh
sang kakak. Ia terpaku dengan pandangan mata kosong, menatap lurus kearah
boneka Matryoshika yang seolah
menunjukkan wajah mengejek kearahnya. Namun pada kenyataannya boneka itu memang
berwajah demikian, seorang wanita petani dengan sebuah senyum di wajahnya.
Namun
bukan itu yang kini menjadi persoalan utama. Jika Itachi menelponnya dalam
keadaan terjebak badai salju di Russia,
lalu siapa yang tadi tiba-tiba masuk ke kamarnya dan menyerahkan sebuah boneka matryoshka? Siapa dia yang begitu mirip
dengan kakaknya?
—Apa mungkin dia
semacam hantu?
Sasuke
tertawa ketika pemikirannya mengarah pada cerita mitos yang belum ada
kebenarannya itu. Oh yang benar saja, apakah dia harus percaya dengan adanya
boneka pembunuh seperti chucky. Oh
ayolah jangan membuatnya tertawa! Mana mungkin ada boneka bisa bergerak,
terlebih lagi ini Matryoshika! Boneka
yang berbentuk seperti angka ‘8’ dan tidak memiliki tangan ataupun kaki. Jika
ini boneka seperti Barbie mungking
dia akan sedikit mempercayainya.
Sasuke
menghentikan tawanya, lalu pandangannya kembali melihat kearah meja komputernya
tempat di mana boneka mascot Russia
itu berada. Namun, sepasang mata onyxnya
terbelalak kaget seraya sesekali mengerjap cepat. Boneka itu menghilang dari
tempatnya, tapi apa ini benar dengan apa yang dilihatnya? Jangan bilang jika
boneka itu memiliki roda di bawah tubuhnya sehingga menggelinding dan terjatuh?
Tapi,
itu sangat tidak mungkin kan?
Dengan
langkah pelan Sasuke masuk kembali ke dalam kamarnya, ia segera menghampir
tempat boneka tadi berada dan mulai mencari di sekitarnya. Di bawah meja,
lemari dan di balik pintu—namun hasilnya nihil, tak ia temukan boneka aneh itu.
Ia lalu membungkukkan tubuhnya untuk melihat di bawah tempat tidurnya—namun
nihil, di sana juga tak ada.
“Oya oya. Apa anda mencari saya—tuan.”
Sasuke
berjengit kaget seraya menolehkan pandangannya ke belakang, namun tak ada
siapapun di sana. Sepasang mata itu semakin membulat kaget tatkala ia merasakan
seseorang mendekapnya dari belakang.
Seiring
berjalannya waktu, Sasuke merasakan perih menyerang daerah bagian leher dan
pundaknya. Sesuatu yang tajam tengah memberikan sayatan di sana, ia bahkan bisa
merasakan setiap tetesan cairan yang merembes keluar dari dalam
tubuhnya—darahnya.
“Aa~
tuan anda benar-benar—“
“—manis.”
KRAK
ZRASH
Detik
selanjutnya, ia bisa merasakan tubuhnya seakan terbelah menjadi dua bagian,
dari bagian pundak kanannya yang membuat garis perpotongan menuju ke rusuk
kiri. Sasuke membulatkan matanya ketika merasakan tubuhnya mati rasa saat itu
juga.
Namun anehnya dia masih bisa bernafas dan merasakan sakit, padahal
seharusnya dia sudah mati seketika itu juga.
.
.
.
“AAAARRRGGGHH!!!
Hahh—hah…hah!! Hhh~”
Sasuke
terbangun dari mimpi mengerikannya dengan keringat yang mengucur membasahi
seluruh tubuh bagian atasnya yang tak tertutup dengan sehelai benang pun. Eh?
Telanjang? Sasuke tak pernah ingat dirinya tertidur, sejak kapan?
‘A-apa yang
terjadi?!!’
Kini baru disadarinya jika tubuhnya dalam keadaan terikat di sebuah palang
berbentuk ‘X’ di dalam ruangan dimana di dalamnya banyak sekali terdapat benda
berbentuk seperti roda bergerigi, yang berputar sesuai dengan poros jam.
TENG
TENG
Suara
lonceng jam tiba-tiba saja terdengar begitu aneh di indra pendengarannya,
seperti sebuah kotak musik yang kehabisan daya putaran makan nadanya akan
berbelok-belok tanpa arah. Sama halnya dengan suara lonceng yang di dengarnya.
“Oya oya—kon’nichiwa, gou-su-jhin—sama.”
Pandangan
Sasuke lalu teralih pada sosok makhluk menyerupai manusia dengan rambut panjang
berwarna merah muda kusut, wajahnya penuh dengan jahitan dan tindikan di
mana-mana, dan anehnya jahitan itu seperti penghubung antara kain berwarna
putih dengan kain berwarna putih tulang—singkatnya jahitan di wajah gadis itu
seperti jahitan boneka kain untuk menyambungkan kain yang berbeda menjadi satu. Tubuh gadis itu ditutupi dengan sebuah baju berwarna dark pink yang jahitannya benar-benar tak karuan.
—Satu
kata untuk mendeskripsikan secara keseluruhan tentang keadaan gadis itu,
mengerikan.
Dengan
langkah layaknya sebuah robot gadis itu berjalan kearah Sasuke membawa sebuah
gunting dan alat jahit manual di masing-masing tangannya. Sasuke tak berani
berteriak, pita suaranya seakan terputus sehingga membuatnya tak mampu bersuara
sekecil apapun itu. Sepasang mata onyxnya
bergetar ketika memandang gadis itu yang semakin mempersempit jarak di antara
mereka.
DUG
“Ara ara. Kepalaku terjatuh.”
Tubuh
tanpa kepala itu membungkuk seraya mengambil sebuah benda berbentuk menyerupai
lingkaran yang tampak tersenyum mengerikan kearah Sasuke. Dengan terburu-buru,
tangan dari tubuh itu menjahit kepalanya sendiri agar tetap pada tempatnya. Dan
tak butuh waktu lama untuk menyatukan kembali kedua bagian tubuh itu.
Gadis
itu kembali berjalan tertatih-tatih, membawa sebuah gunting dan peralatan jahit
manual di tangannya. Ketika ia berada tepat di depan pemuda yang terikat di
palang itu, ia segera mengarahkan ujung gunting itu untuk menggores kulit tubuh
atasnya.
Gerakan itu seakan memberikan kesan seni yang tinggi karena garis itu
bukan hanya horizontal maupun vertikal—namun sebuah garis berliku-liku
layaknya akar tanaman yang melilit sebuah dahan.
Sasuke
meringis pelan ketika merasakan ujung tajam gunting itu ditekankan gadis itu
tepat pada bagian dadanya, hingga bisa ia rasakan ujung besi runcing itu
menembus tulang rusuknya. Ia semakin menjerit tatkala merasakan gunting itu membelah
tubuhnya dari dada sampai perutnya.
“ARGH!!
ARRRGGGHHHHH!!!!”
Jeritan
itu semakin menggelegar ketika sebuah tangan masuk ke dalam tubuhnya,
mengacak-acak organnya bahkan mengeluarkan organ-organ penting itu dari dalam
tubuhnya. Dan jeritan itu semakin menjadi-jadi ketika merasaka tangan itu
meremas organ hati miliknya, hingga hancur tak bersisa.
“Kakoiii~ kau memiliki organ-organ yang
sempurna tuan. Sa!! Sa!! Mari kita
gantikan organ-organ itu dengan ini.” Ucap gadis itu seraya menunjukkan
sekarung penuh benda berwarna putih seperti busa
yang biasa digunakan untuk mengisi bantal dan boneka.
Hal
mengerikan selanjutnya yang ia rasakan adalah benda tajam itu memaksa masuk
menuju bagian jantung dan paru-parunya. Dengan gerakan pelan, gadis itu
menggunting jantung serta paru-paru miliknya. Membuat Sasuke semakin menjerit
kesakitan, namun anehnya ia masih bisa merasakan rasa sakit yang mendominasi
rasa di tubuhnya yang sudah terasa mati rasa itu.
.
.
.
TREK
TREK
TREK
Langkah
berat seorang gadis memakai mantel dan topi yang menyembunyikan wajahnya tampak
memasuki sebuah toko souvenir di kota
Moskow, Russia. Seorang pria tua dengan sebuah boneka Matryoshika yang di dominasi warna biru tua itu tampak menatap
penuh damba sosok gadis yang berjalan layaknya sebuah robot kearahnya.
“Okaerinassai—Sakura-chan.”
Gadis itu tampak melepas mantel serta topinya, “Tadaima, gou-shu-jin—sama.”
DUG
DUG
“Ara-ara, kepalaku lepas lagi.”
.
.
.
Sosok
pria tampan tampak termenung di atas tempat tidurnya, pandangannya sama sekali
tidak menyiratkan apapun—kosong. Namun jantungnya masih berdetak walau mulai
melemah dan deru nafas tak lagi menghiasi hidupnya. Ralat, dia tidak lagi hidup
sekarang—hanya kurang beberapa detik lagi sebelum jantungnya itu berhenti
berdetak.
Uchiha
Sasuke, seorang pria tampan baru saja kehilangan jiwa yang mengisi tubuhnya
ketika mengalami kejadian aneh, seperti mimpi namun terasa nyata. Dan hanya
dalam hitungan detik, jantung itu akan berdetak.
BRUK
DUG
DUG
Dan
benar saja, beberapa detik kemudian, tubuh itu kembali ambruk diiringi dengan
terlepasnya kepala milik pemuda itu dari tubuhnya. Menggelinding di lantai
kamarnya begitu saja. Anehnya, tak ada darah yang mengucur dari tubuhnya yang
sudah memucat.
.
.
.
THE
END (?)
.
.
.
OMAKE
.
.
“Ara ara. Kita bertemu lagi tuan.” Ucap
penuh ekspresi dari sosok gadis menyeramkan dengan rambut berwarna merah muda.
Ia memandang ramah sosok pria yang tak beda jauh dari dirinya.
DUG
DUG
“Are?? Biar kupasang kepala dan tanganmu—goushujin—sama.”
DUG
“Yare yare. Kepalaku terlepas lagi.”
.
.
.
.
THE
END
.
.
.
.
.
Ending
Song
Supercell
– Juuzoku Ningen
.
.
.
.
.
CHOICE (PART 6)
.
.
.
.
CHOICE
.
.
.
.
Disclaimer
© Masashi Kishimoto
Story
Written By EmeraldAI
Rate
M for Blood
Genre
: Romance, Crime, Mistery, Tragedy
Pairing
: Sasuke X Sakura
.
.
.
.
Summary
Hidup
di sebuah negara yang penuh dengan kelicikan sama sekali bukan kehendaknya.
Bekerja di bawah kekuasaan pemerintah yang keji juga bukan kehendaknya. Hidup
tanpa ingatan juga bukan kehendaknya/”Yang ku tau, aku hanyalah boneka dengan
rantai di leherku…”/”Jika kau mengerti arti hidup, maka kau akan mengerti hidup
adalah pilihan—Sakura.”
.
.
.
.
Warning
Typos,
OOC, Blood Expilist, Kissing Scane, Bad Sakura, Sad Ending, AU type, Action
Story, DLDR, Mind RnR?
.
.
.
.
.
Opening
Song
EGOIST
– Namae no Nai Kaibitsu
.
.
.
“Dibalik jeruji hitam
Aku
dilahirkan”
.
.
In
ga no daishou harai
Tomo
ni yokou
Namae
no nai—Kaibitsu
.
.
.
.
.
Chapter
6
DOR
DOR
TRANG
TRANG
Suara dua jenis besi yang
beradu tampak menggema di sebuah area lahan luas yang hanya ditumbuhi rumput
liar. Walau masih terbilang sangat pagi, bahkan matahari belum menampakkan
cahayanya—namun, suara bising tampak memenuhi area sekitar lahan, baik suara
tembakan pistol maupun teriakan penuh ketegasan dari sosok gadis yang tampak
bertarung dengan pria yang membawa dua buah pistol di masing-masing tangannya.
“Masih belum!! Kau masih
terlalu lemah untuk disebut seorang pria!” bentak sosok gadis berambut soft pink pendek kurang dari bahu,
dengan dua buah kepangan rambut bagian bawahnya, yang menjuntai panjang
mencapai pantat—atau bahkan lebih.
Pria yang dibentaknya
tampak mendecih pelan, lalu mengarahkan mulut dua buah pistolnya ke arah sosok
gadis yang berdiri beberapa meter dari tempatnya. Sepasang mata merah darahnya
tampak menggantikan sepasang onyx
menawan yang biasa ia tunjukkan sehari-hari.
DOR
DOR
TRANG
TRANG
Lagi-lagi suara tembakkan
terdengar, namun kali ini frekuensi suaranya
lebih lemah dari yang sebelum-sebelumnya, dan untuk yang kesekian kalinya dua
buah peluru yang meluncur dari mulut pistol itu terjatuh sebelum sampai pada
sasaran. Hal ini semakin membuat pria itu geram—lagi-lagi pelurunya kalah
dengan dua buah jarum yang memiliki ketebalan tak lebih dari setengah peluru
tersebut.
“Berhentilah membentak
Sakura. Baretta tak sekuat apa yang
kau duga—“
“Baretta membentuk kekuatan pelurunya berdasarkan emosi orang yang
menjadi tuannya. Kau harus mengendalikan emosimu Sasuke-san,” jelas Sakura seraya memberikan jeda sejenak seraya
menghembuskan nafasnya pelan.
Dia harus rela membalikkan
kepribadiannya yang dingin dan tegas, demi menjadi seorang pelatih yang
bijaksana dalam bersikap. Sakura lalu berucap lagi, “kau memang memiliki raut
wajah stoic untuk menyembunyikan
segala bentuk emosi—tapi dalam dirimu, emosi itu bergejolak tak terkendali.”
“…”
“Sudah tugasmu untuk
mengendalikan emosi itu, kau hanya perlu menata emosimu dari dalam.” ucap
Sakura seraya menepuk pelan pundak kiri Sasuke.
Dengan suara pelan namun
tegas—Sakura kembali berucap, “latihanmu untuk pagi ini cukup—kita akan
melanjutkan latihannya setelah kelas selesai. Sekarang bersiaplah sebelum bel
berbunyi.”
“Hn.”
“Kau bisa menemukanku di
kelas ranking SS. Aku ada pelajaran
olahraga pagi ini.” Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Sakura kembali
berjalan hendak meninggalkan tempatnya melatih Sasuke.
Namun langkahnya terhenti
ketika sebuah tangan kekar menggenggam lengannya. Sakura tak menolehkan
pandangannya, ia hanya menatap Sasuke yang memegang lengannya melalui ekor mata
miliknya. Sedetik kemudian ia mendengar Sasuke mengucapkan dua patah kata yang
tak pernah ia duga sebelumnya.
“Sakura—“
“…”
“—arigatou.”
Tak lama setelahnya Sasuke
melepaskan genggaman pada lengannya. Sakura tak menjawab, gadis itu memilih
diam seakan menulikan sepasang telinga miliknya. Ia bingung harus menjawab apa
atas perkataan Sasuke, dan memilih melengos pergi begitu saja.
Jujur, ini awal pertama
kalinya ia mendapatkan ucapan seperti itu dari seseorang. Dan mungkin inilah
penyebab jantungnya berdetak semakin kencang, seakan jantungnya ingin terjun
bebas menuju perutnya.
Melihat Sakura yang lebih
memilih pergi tanpa menjawab apapun atas perkataannya, membuatnya mencelos—ia
susah payah mengatakan hal tabu tersebut, tapi orang yang diajaknya bicara
memilih pergi tanpa membalas perkataannya walau dengan gumaman. Jika tau
begini, ia lebih memilih diam dan tidak akan pernah mengatakannya pada Sakura.
Tapi—
Entah kenapa sisi lain
hatinya terasa mengembang, memberikan sensasi tersendiri di perutnya. Serta,
rongga dadanya terasa menghangat ketika kulitnya bersentuhan dengan kulit
lengan Sakura. Tak dapat ia pungkiri, saat ini guratan merah tipis tampak
menghiasi wajah tampannya.
Sebelah tangannya tampak
memegang dada kirinya tempat jantungnya berada, ia bisa merasakan detak
jantungnya yang menggila. Ia tak pernah merasakan perasaan seperti ini
sebelumnya, walau ia seringkali bersentuhan dengan wanita bahkan berciuman
dengan mereka. Tapi ia tak pernah mendapatkan sensasi seperti apa yang ia
rasakan sekarang.
‘Aku
tidak mengerti—semua hal tentangmu, perasaanmu, bahkan pemikiranmu—berikan aku
penjelasan tentang itu semua bahkan yang saat ini terjadi padaku.’
.
.
.
“Sakura-chan, ohayou!!”
Sosok gadis berambut
indigo panjang tampak terduduk di atas sebuah kapak dengan pegangannya yang
panjang. Kapak itu berwarna hitam pekat dengan beberapa rantai penghubung yang
dipegang gadis itu.
Gadis itu berpenampilan
gelap, tubuhnya dibalut dengan dress
ala goth dengan bagian bawahnya yang
menggunakan kain transparan mencapai mata kaki. Gadis itu hanya mengenakan
celana pendek berwarna hitam berbahan kulit, yang hanya menutupi sepermpat paha
atasnya. Sedangkan sepasang kaki jenjangnya dibalut dengan sepatu boot berwarna hitam yang menutupi betis
sampai seperempat pahanya dengan sebuah tali pada masing-masing bagian atas
sepatunya untuk menghubungkan antara sepatu dengan celana pendek yang ia
kenakan.
Rambut indigo panjangnya ia
kepang menyamping, dan sebuah topi hitam ala
penyihir menutupi kepalanya. Gadis itu mengubah total penampilannya, kini
semua orang memandangnya dengan pandangan kagum, bukan lagi dengan pandangan
sinis yang biasa mereka berikan pada gadis itu.
“Ohayou.” balas Sakura seraya berusaha bersikap lunak, namun kesan
aneh semakin melekat padanya saat ia berusaha bersikap lebih lunak dari
kesehariannya.
“Ne ne, Sakura-chan…!!
Kita sekelas, pasti menyenangkan memiliki teman di kelas. Aku benar-benar tak
sabar, kira-kira apa kita bisa sebangku??” ucap Hinata tampak sangat antusias
dengan keberadaan Sakura. Gadis itu seolah melupakan semua masalahnya dalam
pertemanan.
“Souka. Aku juga berharap begitu.” Sakura tak bisa berkata banyak,
ia hanya menjawab singkat atas pertanyaan Hinata. Dia bukanlah gadis yang
pernah memiliki kenangan indah bersama seorang teman—bahkan ia tak memiliki
satupun teman di Tokyo.
Hinata tampak menunjukkan
pose berpikirnya, sedetik kemudian ia tersenyum lembut. Ia lalu berucap, “ada
rumor bilang jika kau berada di ranking
V1S di Tokyo—apa itu hanya rumor saja, atau—“
“Ya.”
“Hah?”
“Aku memang ranking V1S, aku bukan ranking SS tapi aku sering berbaur
dengan ranking SS, karena tidak ada
murid lain yang memiliki ranking V1S
selain aku.” Sakura berucap dengan panjang namun cepat, membuat Hinata
menampilkan ekspresi kagetnya.
Jadi, Sakura bukanlah
gadis dengan kekuatan setara dengan gadis lain? Hinata sudah berpikir sejak
awal jika Sakura bukanlah pemilik ranking
pada umumnya, ada kekuatan besar dalam diri gadis itu. Kekuatan itu terkurung,
seperti menunggu pasangannya menyelamatkan dirinya.
Intinya, Sakura memiliki
kekuatan besar namun hanya bisa di aktifkan jika bertemu dengan kekuatan yang
menjadi pasangannya.
“Kau tidak mengikuti
pelajaran olahraga? Kau akan mendapatkan hukuman dari Anko-sensei jika kau tidak mengikutinya, Sakura-chan.” ujar Hinata seraya mengikuti arah langkah Sakura yang menuju
gedung olahraga, walau kapaknya yang bergerak dan dirinya hanya duduk di
atasnya.
Tanpa perlu mengalihkan
pandangannya Sakura menjawab pertanyaan Hinata, “iie, di Tokyo aku tak pernah mengikutinya. Aku hanya melihat dan
aku akan menerima tantangan jika ada yang menantangku.”
“…”
“Di Tokyo memiliki sistem
berbaur, dari ranking teratas hingga terendah
akan saling bertarung dalam sebuah labirin yang dibuat dari illusion room. Apa di sini sama?”
Hinata menggeleng cepat, “iie, di sini pertarungan dikelompokkan
berdasarkan ranking. Dan memang
terkadang kami menggunakan sistem labirin, tapi terkadang kami menggunakan
hutan yang mengelilingi gedung.” jelas Hinata.
“Souka.”
“A-ano Sakura-chan. Apa
pendapatmu tentang kesetiaan?” ucap Hinata seraya menggigit bibir bawahnya,
takut jika Sakura akan marah jika ia bertanya hal macam-macam.
Sakura tampak berpikir
sejenak, namun detik selanjutnya ia menjawab, “setia, kau menetapkan pilihanmu
pada satu hal, mungkin? Aku tak seberapa mengerti dengan hal semacam itu. Gomen.”
“I-iie Sakura-chan. Kau
sudah sedikit membantu dengan perkataanmu.” Hinata merasa tak enak hati ketika
mendengar perkataan ‘maaf’ meluncur dari bibir gadis di sebelahnya.
Ia mengakui apa yang
dikatakan Sakura ada benarnya, perkataan Sakura sama seperti yang berada di
pikirannya. Dia juga berpikir untuk apa mempertahankan hubungannya dengan sang
kekasih jika kekasihnya saja senang bermain dengan wanita di luar sana. Untuk
apa dia membuang cintanya hanya untuk pria yang sama sekali tak memandangnya.
Jadi, dia memilih mengakhiri semuanya semalam, dengan begini tak ada yang tersakiti
lebih lama bukan?
Dirinya bukan seorang yang
masochist yang menyukai rasa sakit
yang menjalar di fisik maupun batinnya. Dia hanyalah seorang gadis biasa dengan
darah Hyuuga yang mengalir dalam dirinya, dia hanya menginginkan kebahigaan
pasti bukan kebahagiaan semu yang kapan saja bisa menjadi penderitaan.
“Tentang kekasihmu?”
Hinata sempat terkejut
ketika mendengar pertanyaan Sakura yang tepat sasaran. Ia mengangguk pelan
seraya bergumam, kedua telapak tangannya yang dibalut dengan sarung tangan hitam
mengepal erat. Tak dapat dipungkirinya, sisi lain dirinya menjerit sakit.
Karena jujur, masih ada rasa cinta dalam dadanya hingga membuat jantungnya
serasa tercabik-cabik setiap kali mengingat mantan kekasihnya.
“Dia bukan satu-satunya
lelaki di dunia ini, kau bisa mendapatkan yang lebih baik darinya.” ucap Sakura
dengan nada datar. Walaupun ini pertama kalinya ia mendengar kasus seperti
percintaan, namun lidahnya tak kelu untuk berbicara memberikan pendapat serta
sarannya.
“Kau tidak mengerti
Sakura-chan, ini hal yang sulit.”
Sakura terdiam sejenak
untuk menghela nafas pendek, ia lalu berucap mengeluarkan pendapatnya apa yang
ia tau saat ini. “Aku memang tidak mengerti apapun tentang perasaan ataupun
cinta, aku menyelesaikan ratusan misi dengan kasus yang rumit dan berbahaya
namun tidak dengan perasaan dan cinta.”
“…”
“Tsunade-sama pernah memberitahuku jika rasa
cinta itu pahit dan manis, tapi aku tak pernah mengerti betul rasa cinta. Aku
terus bertanya pada setiap orang ‘apa rasa cinta?’ namun setiap orang memiliki
jawaban berbeda.”
“…”
“Aku semakin bingung, aku
mencoba mencari taunya sendiri. Dengan mencoba satu persatu apa yang mereka
katakan, mereka bilang cinta itu ciuman. Aku mempraktekannya pada salah satu
musuhku sendiri, sekaligus demi kelancaran misi.”
Hinata terbelalak kaget
ketika mendengar ucapan Sakura, rona merah tampak menghiasi wajah manisnya.
“Sa-Sakura-chan.” cicitnya seraya
menahan rasa malu yang luar biasa.
“Dan bagiku terasa hambar,
aku tak merasakan pahit dan manis di ciuman itu. Setelah berpikir panjang aku
menarik sebuah kesimpulan pasti—“
“—rasa cinta itu, memang
hambar. Pahit dan manis yang dimaksud adalah kehidupan, cinta akan terasa pahit
dam manis jika bercampur dengan kehidupan. Namun bukan itu pandanganku, cinta
itu adalah perasaan nyaman dengan hal yang asing dan perlahan menjadi hal yang
kau kenal baik.”
“…”
“Itulah cinta menurut
kesimpulanku—Hinata.”
KRIEET
Hinata sempat terpaku
dengan perkataan Sakura yang panjang, namun sedetik kemudian ia bisa menarik
kesimpulan tentang teman pinknya ini.
Cara pandang gadis itu berbeda dengan orang kebanyakan, gadis itu akan
memandang dari segala pihak tidak hanya dalam lingkup pandangannya. Mungkin
mayoritas orang yang tidak mengenal Sakura akan beranggapan jika gadis itu
tidak peduli dengan sekitarnya, hanya karena sikapnya yang dingin dan sifatnya
yang memilih diam.
Tapi tidak, Hinata sejak
awal tidak memandang buruk sifat Sakura yang selalu diam dan terkesan dingin.
Gadis itu diam bukan karena ia tak peduli, ia diam karena hal itu tak perlu ia
tanggapi, di balik itu semua Sakura adalah gadis yang peduli dengan sekitarnya,
ia menghargai cara pandang orang, ia peduli dengan setiap saran yang diberikan
untuknya. Dan dingin karena memang itulah dirinya, entah karena masa lalu atau
apa—Hinata masih belum mengerti.
‘Inikah
dirimu—Sakura-chan?’
.
.
.
BRAK
“Tsunade-sama!!” teriak seorang wanita berambut
hitam pendek yang baru saja membanting pintu. Wanita itu berjalan cepat
menghampiri sosok wanita berambut pirang yang memandang ke arah luar jendela.
Langkahnya terhenti ketika
sebuah isyarat tangan dari wanita berambut pirang itu tertuju ke arahnya untuk
tidak berbicara. Sebuah senyum pedih tampak menghiasi wajahnya. Ia sudah
menduga jika hal ini akan terjadi, pertarungan ini tak dapat dihindari.
“Aku mengerti Shizune. Aku
tak mampu menghentikan pertempuran ini dan aku menyadari tak cukup hanya dengan
kekuatan kita semua untuk menghancurkan mereka.”
“Tsunade-sa—“
“Jadi—tak ada jalan lain
selain mundur untuk sementara waktu. Hubungi Academy Anbu Okinawa…perintahkan para murid untuk berkemas. Kita
akan tinggal di sana untuk sementara waktu.”
“Tapi Tsunade-sama, bukankah lebih baik kita
menghubungi Kyoto—“
“Iie.” Tsunade berbalik seraya menatap serius ke arah asistennya.
“Kau hanya perlu melaksanakan apa yang aku perintahkan, mengerti?!” bentak
Tsunade.
“Hai’!! Kalau begitu saya akan segera menghubungi AAO dan memerintahkan para murid untuk
berkemas.” ucapnya dengan tegas walau ia cukup terkejut mendengar bentakkan
sang kepala sekolah.
“…”
“Kalau begitu saya
permisi.”
Dan detik selanjutnya,
tampak kepulan asap putih menyelubungi tubuh wanita berambut hitam pendek itu.
Tak lama setelahnya, asap itu menghilang bersamaan dengan hilangnya sosok
Shizune dari pandangan mata.
“Aku sudah menyadari semua
permainan bodoh ini, tidak akan kubiarkan nyawa putriku terancam—tidak akan,
sekalipun dia bukan putri kandungku.” ucap Tsunade seraya memandang datar ke
arah pintu ruangannya. Ia memejamkan matanya sejenak, ia melihat kematiannya
yang tak lama lagi.
Setidaknya ia bisa
mempermudah pergerakan putrinya kelak untuk memusnahkan siapa yang seharusnya
dimusnahkan. Telah lama ia berpikir tentang semuanya, dan ia kini dapat menarik
satu kesimpulan.
Tsunade mengambil sebuah
kertas dan sebuah pena, ia menuliskan beberapa buah kata yang bercampur dengan
kode. Dilipatnya kertas tersebut, ia lalu memberikan sebuah kata kunci pada
selembar kertas itu, seperti halnya kutukan. Tidak ada seorangpun yang bisa membuka
kertas itu apalagi menghancurkannya, namun ia yakin Sakura akan menemukan cara
itu.
‘Hanya
tersisa nyawaku yang dapat kukorbankan. Setelah ini, jaga dirimu baik-baik—kau
kunci semua permasalahan ini. Aku yakin, kau akan menemukan jawaban—‘
.
.
.
‘—siapa yang seharusnya kau bunuh.’
.
.
.
Sakura melangkahkan
sepasang kaki jenjangnya menyusuri koridor gedung yang tampak sepi. Hari ini ia
tak bisa langsung beristirahat di kamarnya karena sang wali kelas memaksanya
untuk membantu mengembalikan setumpuk buku tebal ke perpustakaan. Sebenarnya
Hinata hendak membantu, namun gadis itu dipaksa pulang karena keluarganya
mengadakan acara makan malam yang wajib dihadiri setiap anggota keluarga Hyuuga.
BRUK
Sebuah dorongan membuat
Sakura terjatuh ke belakang dan membuat buku-buku yang dibawanya menebar ke
sekelilingnya. Gadis segera bangkit dari posisinya, memungut satu persatu buku
yang dibawanya. Sakura tampak sedikit terkejut ketika mendengar sebuah suara
seorang pria yang ditabraknya.
“Biar kubawakan setengahnya.
Kau baik-baik saja kan?” nada lembut itu mengalun memasuki indera pendengaran
Sakura.
Gadis itu mengangguk pelan
seraya berusaha berdiri walau ia bisa merasakan kaki kanannya terkilir. Namun
ini bukan hal fatal baginya, ia sudah sering mendapatkan luka yang bahkan lebih
parah daripada ‘terkilir’
Pemuda itu memiliki wajah
imut dengan rambut semerah darah. “Kau bisa memanggilku Sasori, kau?”
“Sakura—Haruno Sakura, desu.” ucap datar Sakura yang tanpa
henti memandang wajah tampan pemuda yang berjalan di sampingnya.
Bukan karena ia terpesona
dengan ketampanan pemuda di sebelahnya, tapi wajah pemuda itu tampak sangat
familiar di pikirannya. Ia bisa merasakan ikatan kuat dengan pemuda itu, namun
ia tak pernah mengingat sedikitpun tentang pemuda di sebelahnya. Untuk
sementara waktu Sakura memilih diam, sembari berpikir sejenak.
‘Kau
bahkan tak mengingatku Sakura. Tapi, aku berjanji akan mengembalikan
ingatanmu—dan kita akan menikah. Hanya kau, aku dan anak-anak kita—aku akan
menciptakan dunia tersendiri untuk keluarga kita—‘
.
.
.
‘—dunia
tanpa peperangan.’
.
.
.
.
To
Be Continued
.
.
.
.
.
.
.
Ending
Song
Nano
– Savior Song
.
.
.
.
.
A/N
Selesai sudah chapter 6
ini #lapKeringat saya memutuskan untuk keluar dari fanfiction.net, dan saya
akan fokus di sini dan blog pribadi saya. Di web milik Sena ini saya akan
mempublish segala rate, mulai dari K, T, M bahkan MA. Tapi di blog pribadi saya
hanya akan menulis rate K dan T saja.
Saya sempat kaget ketika
diberi tau Sena jika banyak yang menunggu fic saya ini -_- terutama fic Only Mine
yang jujur bikin saya miris karena banyak yang suka :v padahal itu lemonnya
semakin lama akan semakin ekstrim :v dan saya gak berani jamin tidak ada unsur
kekerasa di dalamnya :D #Plak
Baiklah saya mulai
perkenalan di sini demi menjaga kesopanan.
Perkenalkan nama saya
Gheralda, namun biasa dipanggil dengan sebutan Ai. Keduanya adalah nama asli
saya , dan saya seorang gadis #karenaBanyakYangMengiraSayaLaki2 , desu yoroshiku.
Kalian bisa menemukan saya
di jejaring social facebook dengan
nama ‘Ai Ling Che Che’ jika nanti saya menggantinya, saya akan ganti dengan
nama ‘Gheralda Ai’ :3
Baiklah terimakasih J
bagi pembaca Only Mine mohon bersabar. Dan siapa yang kemaren request ficnya
dibanyakin? Sekarang yang mengisi bagian fanfiction ini tidak hanya saya tapi
juga Cece saya J tapi dia hanya
mengisi rating aman seperti K dan T J
untuk rating di atas itu masih saya pegang. ^^
Salam
.
.
.
Gheralda
Citra Prameswari
Arigatou


.jpg)
