- Back to Home »
- Fanfiction »
- Sang Angsa Emas Chapter 2, a NaruIno Fanfic
Posted by : Unknown
Sang Angsa Emas.
Naruto
© Masashi Kishimoto.
Warning
: AU, OOC, OC, Typo, Bad Languange. Anda dipersilahkan mundur untuk
menghindari tindak anarkis (?) yang mungkin akan Anda lakukan di kotak review.
-oOo-
Enjoy~
.
.
.
Aku terdiam kala iris biruku mendapati Ino yang berdiam diri sembari memandangi hamparan tanah retak nan tandus di bawah kakinya.
Kilau sendu membayang di kornea birunya. Aku berdecak, sedikit rasa kecewa juga merasuk ke dalam dadaku saat kulihat kekeringanlah yang membentang di mana-mana—seolah tak mengizinkan kami untuk memutar kenangan indah akan tempat ini. Seolah tiada lagi kenangan yang patut diingat akan tempat yang dulunya terlihat sangat indah ini.
"Kering, Naru," bisiknya dengan suara parau.
Aku menghela napas sebelum kakiku bergerak memangkas jarak antara aku dan Ino. Aku berdiri tegak di sampingnya, tangan kiriku bergerak menepuk kepalanya pelan. "Apa yang kau harapkan? Ini sudah bertahun-tahun, Ino."
Ino menoleh dan memandangku dengan lirikan nakalnya. "Hmmm, eternity? As a beautiful place, which existence is eternal, as memory does," jawabnya sambil memandangku lekat-lekat.
"Ah," sahutku singkat sebelum terkekeh pelan, "beauty is in the eye of the beholder," sambungku sok puitis.
Ino menatapku dengan sebelah alis terangkat. Gadis bermahkota pirang itu nampaknya berusaha keras menahan kekehan yang berada di ujung bibirnya—lihatlah bibirnya yang bergetar itu.
"Kalau ingin tertawa, tertawa saja. Tidak usah ditahan!" celetukku sok sinis, membuat Ino tak tahan lagi untuk menahan segaris senyum yang terlukis di bibir pink-nya.
Aku mendesah lirih dalam hati ketika aku menangkap pancaran kelegaan membias dari bola mata aquamarine itu. Tanpa aba-aba, Ino menekuk lututnya; berjongkok dan mengulurkan tangan kanannya—meraih segumpal tanah kering di hadapannya.
Tangan mungil itu mengepal, membuat kepingan tanah yang ada di gengamannya berubah menjadi serpihan-serpihan halus yang berjatuhan dengan pasrah menghias rumput kering di bawahnya.
"Kalau aku tutup mata ... mungkin nggak ya, danau kecil itu kembali?" Pertanyaan Ino yang terlalu tiba-tiba mendadak menimbulkan perasaan ingin tahu mencuat di dasar hatiku.
"Mau mencoba?" ucapku kemudian. Ino menoleh dan mengangguk lirih. Tangan putih susunya menggapai pergelangan tanganku—memaksaku berjongkok di sampingnya untuk yang kedua kalinya di hutan jati ini.
"Coba pejamkan mata. Kukira dengan adanya kau di sini, segalanya menjadi lebih mudah," kata Ino lirih. Aku baru saja menolehkan wajahku ketika melihatnya telah memejamkan mata dengan bibir yang sedikit meruncing ke depan, dan alis berkerut tipis—tanpa sadar membuatku tersenyum tipis.
Menepuk kepala pirangnya sejenak, lalu aku kembali berpaling ke arah hamparan tanah kering yang ada di hadapanku, dan memejamkan mata dalam diam.
End of Naruto P.O.V
Semenit dalam kesunyian, kedua insan berhelai pirang itu seolah tengah menikmati kicauan burung, desir angin yang lembut, gemerisik dedaunan, embusan napas yang bersahutan, bahkan degupan jantung mereka yang bertalu-talu dengan lembut.
"Lihat ... danau itu kembali pada kita, Naru." Suara lembut Ino mendadak memecah keheningan yang beberapa menit lalu masih mendominasi atmosfer di sekitar mereka.
Lalu ... memori itu kembali ...
Tanah kering yang semula retak dan tandus karena termakan usia kini berubah menjadi kumpulan air yang membentang dalam sebuah proses transformasi yang lembut.
Titik-titik kehijauan mulai bermunculan di permukaan; bersamaan dengan tunas-tunas eceng gondok yang dengan cepat mulai berdaun dengan indah.
Naruto menghela napasnya, menyadari bahwa keindahan sebuah kenangan akan tetap berada di hati seseorang yang mengalaminya—bahkan ketika kenyataan tak seindah sebuah kenangan.
Kemudian, lamunan lelaki berparas tampan itu buyar saat genggaman Ino mendadak mengerat.
"Tahun-tahun yang berlalu ..." Ino berucap singkat nan lirih.
Tak ada kata yang terucap setelahnya. Yang ada hanyalah sebuah dekapan hangat dari Naruto untuk gadis pirangnya. Sepatah kata berisi permintaan maaf terlantun dari bibirnya sebelum lelaki beriris blue ocean itu tenggelam dalam bisunya kebingungan.
'Apa-apaan kamu, Naruto?! Ino itu sahabatmu! Ino bukan gadis yang boleh kau permainkan sesuka hatimu!' Suara batin Naruto menjerit dengan alasan-alasan sok suci.
Untuk sesaat kemudian, kejujuran dalam hati Naruto mengatakan alasan yang sebenarnya ...
Bahwa Ino bukan levelnya.
Bahwa dia, Si Itik Buruk Rupa, tak layak menerima kecupan dari Si Angsa Emas.
Tidak.
Dia tak pantas.
"Kalau kamu merasa tenang dengan itu. Aku tak masalah." Kata-kata yang mengalir dari bibir Ino mampu membuat Naruto malu seketika. Pikirannya terbaca dengan mudah!
'Bagaimana aku bisa menghakiminya sedemikian rupa hanya dengan menatap perbedaan fisik kami?! Bagaimana aku bisa melakukannya saat aku dapat merasakan ketulusan itu dalam kata-katanya?!' batin Naruto kembali berteriak memaki sang inang.
Naruto terdiam, namun dia tak jua melepaskan rengkuhan lengannya pada tubuh Ino. Dia membiarkannya. Naruto membiarkan rengkuhan lengannya mengombang-ambingkan perasaan dan logikanya.
'Ketulusan, itu yang kuperlukan untuk mengobati pengkhianatan.' Batin Naruto kembali berseru memberikan pembelaan.
Dan saat itulah ia kembali mengecup bibir Ino dengan lembut.
Pejaman mata dan kenikmatan lahir batin.
Ketenangan jiwa yang murni.
Pun rasa sayang yang tiada bisa terukur, dan hanya bisa dinyatakan dalam setiap kelembutan dan kehangatan yang membuat tubuhnya bergetar secara nyata—telah ia dapatkan dari gadis dalam pelukannya,
Yamanaka Ino.
'Ia menyayangiku! Ia mengasihiku! Ia mencintaiku!' Jeritan hati Naruto kembali berkumandang bak orang gila yang tengah kasmaran.
Hatinya bergemuruh, pergulatan kini tengah berlangsung riuh di dalam hatinya. Kemunafikan dan sisi narsisme yang mendominasi sikap superior-nya selama menjadi Si Angsa Emas kini bergelut dengan keinginan untuk dicintai dan mencintai yang menyeruak dari dasar palung terdalam di hatinya.
Semuanya bergelut mempertahankan pendapat masing-masing, tak ada yang mau mengalah.
Dan yang terjadi selanjutnya adalah sebuah proses transformasi lain yang disusun rapi oleh Naruto untuk gadis pirangnya. Untuk Yamanaka Ino.
Detik demi detik,
Setiap sentuhan demi sentuhan.
Pelajaran demi pelajaran.
Canda tawa dan kemesraan.
Kolam renang dan gym yang menjadi tujuan setelah pulang sekolah.
Pelajaran berdansa, dunia hiburan malam, liukan-liukan yang menggandeng romantisme bersama keringat yang mengucur telah terlewati.
Angsa-Angsa Emas yang lain telah menawarkan bantuan dengan sukarela selama proses itu berlangsung. Sebuah proses pembentukan mahakarya oleh seorang maestro sejati telah berhasil mengubah Sang Itik Buruk Rupa menjadi seekor Angsa Emas yang cantik.
Ino berubah.
Perlahan tapi pasti, dengan atau tanpa disadarinya, Ino sudah menjadi seekor Angsa Emas yang begitu cantik nan anggun.
Semua jerih payah dan cucuran keringat yang berjatuhan kini telah menampakkan hasil yang sungguh memikat hati.
Berat badan yang menurun drastis, tatanan fisik yang mengagumkan, pergaulan yang mencuatkan reputasi—semua itu telah dimiliki Ino dalam waktu enam bulan.
Hanya enam bulan.
Waktu yang relatif singkat untuk membuat Ino memperoleh pernyataan-pernyataan cinta dari pemuda-pemuda yang dahulu mencibirnya dengan pandangan congkak.
Hanya enam bulan pula waktu yang dibutuhkan oleh Naruto untuk menyadari bahwa perubahan fisik Ino turut membawa perubahan dalam cara berpikirnya.
Naruto tak pernah tahu siapa yang mengenalkan gadis pirang polosnya pada sosok itu.
Seorang pria dewasa dengan atribut, pangkat, dan kemewahan seorang abdi negara yang melekat erat pada tubuhnya—sosok pria yang paling dielu-elukan setiap wanita saat itu.
Sosok yang kemudian mampu membuat Ino berkata, "Keluar? Wah, nanti aku ada acara sama teman-teman. Sorry ya? Besok lusa saja, oke?"
Itu hanya sepenggal kata penolakan dari puluhan kata yang Ino lontarkan ketika ia telah mengenal lelaki bersurai merah itu.
Saat itulah Naruto menyadari bahwa ia tak bisa lagi menemukan sosok Yamanaka Ino yang dulu selalu ada untuknya.
Yang bersamanya sekarang adalah sosok seorang gadis populer yang menghabiskan waktunya untuk mempertahankan apa yang sudah dicapainya.
Sosok gadis yang kini hanya menganggap Naruto tak lebih dari seekor lalat pengacau saat ia melihat masa depan yang lebih cerah di depan matanya.
Dia bukan Yamanaka Ino-nya.
Dia adalah Yamanaka Ino yang lain.
-To be Continue-
.
"Perubahan
selalu membawa dampak positif dan negatif di saat yang bersamaan. Di saat
itulah kepiawaian kalian dalam bersikap bijak akan menentukan segalanya."
—Nakazawa Miyuki.
Regards,
Nakazawa Miyuki.
