Archive for Juli 2014
Pokémon of Week : Chinchou #170
Selamat malam minna XD berjumpa lagi dengan saya Hirano ,.. oh ya di post sebelumnya saya belum ngenalin diri yah XDa ... kalo gitu watashi wa Akinari Hirano yoroshiku onegaishimasu X3.
Pada tau nggak saya sekarang datengin bintang tamu dari mana dan siapakah dia ?
hayo ada yang tau nggk?
Oke deh kalo gitu aku kasih tau pokemon di sebelah kiri ini namanya adalah "Chinchou" dia berasal dari perairan Johto di kota Olivine City.
Seperti biasa pertama kita akan bahas tentang Pokédex Data.
Pokédex Data
National № : 170
Type : Water Electric
Species : Angler Pokémon
Height : 1′8″ (0.51m)
Weight : 26.5 lbs (12.0 kg)
Abilities : Illuminate
Volt Absorb
Water Absorb (hidden ability)
Local № : 174 (Gold,Silver,Crystal)
181 (Ruby,Sapphire,Emerald)
176 (HeartGold,SoulSilver)
147 (X,Y)
Japanese : Chonchi
Dari data diatas Chinchou memiliki 2 elemen yaitu air dan listrik . Sebenarnya elemen air lemah terhadap listrik tapi tidak bagi Chinchou karena chinchou memiliki elemen listrik juga. Selanjutnya
Chinchou memiliki HP(Health Point) sebanyak 75 dan angka tersebut adalah angka yang paling tinggi dari semua stats ,speed Chinchou memiliki jumlah angka 67 ,yaa angka yang cukup lumayan ,tetapi Chinchou memiliki attack dan defense yang sama yaitu 38 ,seimbang.
Chinchou lemah terhadap serang bertipe Grass dan Ground dan kebal terhadap serangan Fire,Water,Ice,Electric,Flying,dan Steel.
Evolution Chart
Bonus untuk para pembaca XD Chinchou loli Fanart
Pada tau nggak saya sekarang datengin bintang tamu dari mana dan siapakah dia ?
hayo ada yang tau nggk?
Oke deh kalo gitu aku kasih tau pokemon di sebelah kiri ini namanya adalah "Chinchou" dia berasal dari perairan Johto di kota Olivine City.
Seperti biasa pertama kita akan bahas tentang Pokédex Data.
Pokédex Data
National № : 170
Type : Water Electric
Species : Angler Pokémon
Height : 1′8″ (0.51m)
Weight : 26.5 lbs (12.0 kg)
Abilities : Illuminate
Volt Absorb
Water Absorb (hidden ability)
Local № : 174 (Gold,Silver,Crystal)
181 (Ruby,Sapphire,Emerald)
176 (HeartGold,SoulSilver)
147 (X,Y)
Japanese : Chonchi
Dari data diatas Chinchou memiliki 2 elemen yaitu air dan listrik . Sebenarnya elemen air lemah terhadap listrik tapi tidak bagi Chinchou karena chinchou memiliki elemen listrik juga. Selanjutnya
Chinchou memiliki HP(Health Point) sebanyak 75 dan angka tersebut adalah angka yang paling tinggi dari semua stats ,speed Chinchou memiliki jumlah angka 67 ,yaa angka yang cukup lumayan ,tetapi Chinchou memiliki attack dan defense yang sama yaitu 38 ,seimbang.
Chinchou lemah terhadap serang bertipe Grass dan Ground dan kebal terhadap serangan Fire,Water,Ice,Electric,Flying,dan Steel.
Evolution Chart
Evolusi Chinchou membutuhkan level 27 untuk berevolusi menjadi Lanturn .
Name Origin- chochin
- Bahasa jepangJepang untuk 'lantern' (lentera).
Bonus untuk para pembaca XD Chinchou loli Fanart
Spring Love Diary - Kinoko Higurashi
Gadis yang jatuh cinta terkadang memiliki hal-hal tertentu yang dilakukannya. Umehara pun begitu. Gadis 2 SMA itu memiliki catatan tentang orang yang disukainya. Seperti stalker sih, tapi namanya juga jatuh cinta. Catatan ISZK. Ya, Isezaki adalah teman sekelas Umehara yang kebetulan duduk di depannya. Tapi setelah selama ini disembunyikan, catatan itu malah tak sengaja dibaca oleh Isezaki.
Malu luar biasa dan rasanya tak ingin bertemu apalagi sekedar bertemu pandangan dengan Isezaki. Umehara pun berusaha menghindar. Sampai saat ini, gadis lugu itu belum berani mengatakan perasaannya karena Isezaki memiliki pacar di SMA lain. Berkat keberaniannya, Umehara memberanikan diri menanyakan kabar tentang putusnya Isezaki. Laki-laki riang itu mengakui kebenaran berita itu dengan wajah kecewa dan sedih.
Bagaimana pun usaha yang dilakukan Umehara untuk mendekati dan menarik perhatian Isezaki, rasanya percuma saja. Sampai akhirnya, Isezaki menyadari bahwa Umehara benar-benar tahu tentang dirinya dan perhatian terhadap dirinya.
Walaupun terkesan jahil dan sering meminjam catatan Umehara, Isezaki tampak tertarik dan malah terlihat mendekati Umehara. Ah, mungkin karena pernyataan cinta yang sempat diungkapkan Umehara pada Isezaki. Tapi, apakah itu berarti Isezaki menerima perasaannya? Lalu bagaimana dengan Umehara yang masih digantung perasaannya?
Seven Colours Closet
Hubungan jarak jauh menjadi hal yang harus dijalani Akari dan Hinata. Ya, saat menyelesaikan SMA, Hinata memutuskan untuk melanjutkan kuliahnya ke jurusan desain fashion. Berkutat dengan pakaian dan berjanji akan membuatkan Akari baju yang bisa membuatnya bertualang. Akari tak mengerti yang dimaksudkan Hinata dan sejujurnya ia tak pernah tertarik dengan pakaian yang fashionable. Hinata juga sering mengirimkan beberapa helai pakaian buatannya. Lalu apakah Akari akan bisa bertahan dengan hubungan jarak jauh itu?
Enjoy reading, minna~
-Aoiwj-
Pokémon of Week : Chikorita #152
Pertama saya akan bahas tentang pokédex data dari si manis ini X3
Pokédex Data
National № : 152
Type : Grass
Species : Leaf Pokémon
Height : 2′11″ (0.89m)
Weight : 14.1 lbs (6.4 kg)
Abilities : Overgrow
Leaf Guard ( Hidden Ability)
Local № : 001 (Gold,Silver,Crystal)
001 (HeartGold,SoulSilver)
Wow berat Chikorita sama seperti berat 2 tabung gas 3kg XD lumayan berat yah. Oke next
Chikorita adalah Pokemon tipe Bertahan atau defense .Dari base status terlihat bahwa jumlah angka lebih tinggi adalah Defense dan Sp. Defense sama yaitu 65. Tapi walau Chikorita pokemon tipe defense dia tetap memiliki kelemahan terhadap beberapa elemen yaitu : Fire,Ice,Poison,Flying,dan Bug.
| Bagaimana tertarik dengan pokemon satu ini? XD oke sampai jumpa lagi minggu depan X3. |
|---|
| Bonus untuk para pembaca XD Chikorita versi loli |
|---|
CHOICE (PART 1)
.
.
.
CHOICE
.
.
.
.
.
Disclaimer
© Masashi Kishimoto
Story
Written By Gheralda
Rate
M for Blood
Genre
© Romance, Mistery, Crime.
Pairing
© Sasuke X Sakura
.
.
.
.
Summary
Hidup
di sebuah negara yang penuh dengan kelicikan sama sekali bukan kehendaknya. Bekerja
di bawah kekuasaan pemerintah yang keji juga bukan kehendaknya. Hidup tanpa
ingatan juga bukan kehendaknya/”Yang ku tau, aku hanyalah boneka dengan rantai
di leherku…”/”Jika kau mengerti arti hidup, maka kau akan mengerti hidup adalah
pilihan—Sakura.”
.
.
.
Warning
Typos,
OOC, Blood Expilist, Kissing Scane, Bad Sakura, Sad Ending, AU type, Action
Story, DLDR, Mind RnR?
.
.
.
.
Opening
Song
EGOIST
– Namae no Nai Kaibitsu
.
.
.
Dibalik
jeruji hitam
Aku
dilahirkan
.
.
In
ga no daishou harai
Tomo
ni yokou
Namae
no nai—Kaibitsu
.
.
.
.
Chapter
1
Tokyo,
merupakan salah satu kota besar di Jepang, sekaligus sebagai ibukota negara.
Hanya tempat itulah yang merupakan kota teraman di Jepang setelah Kyoto dan Okinawa yang berhasil direbut. Jika kalian bertanya mengapa hanya
Tokyo sebagai kota teraman? Jawabannya, karena Jepang tengah melakukan perang
terhadap negara sendiri. Bukan maksud menghancurkan negara sendiri—namun,
menghancurkan sekumpulan pemberontak, sebutlah mereka mafia.
Para penduduk yang berada di luar ketiga kota tersebut,
pastilah menjadi budak para mafia. Jika kau seorang wanita, bersiaplah untuk
melayani nafsu puluhan pria setiap malamnya. Dan jika kau laki-laki, bersiaplah
untuk menjadi anggota terbawah mafia tersebut—sebutlah mereka sebagai budak
yang akan menjadi umpan para anjing
pelacak.
Mereka, para penduduk di luar sana tidak akan pernah
bisa lepas dalam keadaan hidup-hidup—kecuali jika seseorang menyelamatkan
mereka dari tangan penjahat. Namun apa yang bisa mereka harapkan? Jutaan orang
Jepang di berbagai kota bernasib sama seperti mereka. Sungguh hal mustahil jika
hanya mengandalkan kekuatan para tentara Jepang atau mereka yang menjadi
lulusan terbaik sebuah sekolah akademi pertahanan Tokyo, Kyoto dan Okinawa.
Academy Anbu, sebuah sekolah yang di
dirikan di Tokyo dan baru-baru ini di dirikan juga di Kyoto dan Okinawa.
Sekolah tersebut diperuntukkan bagi mereka yang memiliki potensi tak biasa
sejak lahir atau bahkan sejak masih berada di kandungan. Bukan sembarang
potensi yang harus mereka miliki—setidaknya mereka harus mampu menghindari
ratusan jarum beracun dalam waktu yang bersamaan. Tentu saja itu adalah hal
yang tidak mungkin bagi mereka yang tidak memiliki kemampuan khusus.
Bisa dikatakan kemampuan khusus tersebut memiliki
sedikit hubungan dengan kekuatan supranatural, tapi mereka juga bukan seorang
penyihir. Mereka bertarung dengan kecepatan dan kelincahan dengan bantuan
senjata, bukan dengan buku mantra dan sebuah tongkat sihir. Mereka menggunakan
teknologi sebagai pelacak lokasi, bukan menggunakan bola kristal. Itulah
perbedaan mereka dengan penyihir.
Para murid Academy
Anbu dibedakan menjadi beberapa peringkat yang dibedakan menjadi 11
peringkat—yang pertama SS, kedua S, ketiga A, keempat A1, kelima B, keenam B1, ketujuh C, kedelapan
C1, kesembilan D, kesepuluh D1. Itu adalah peringkat utama, namun ada satu
peringkat dimana peringkat tersebut
memiliki tingkat tertinggi diatas 10 peringkat tersebut, hanya lima orang yang
bisa mendapatkan tingkat itu—V1S.
Namun banyak dari para murid tidak pernah mengetahui
tentang peringkat V1S, karena saat ini hanya ada satu orang yang mendapatkan
tingkat itu. Dia adalah seorang gadis cantik berambut soft pink panjang.
Queen
of Nightmare, itulah nama julukan yang diberikan oleh
kepala sekolah padanya. Setiap murid mendapatkan julukan mereka masing-masing
bedasarkan hasil analisa kekuatan, cara bertarung, dan cara mereka membunuh.
Gadis itu diberi julukan Queen Nightmare,
karena dia selalu memberikan mimpi buruk bagi mereka menjadi target misinya.
Pernah suatu ketika ia mendapat misi merebut wilayah
selatan dari kota Tokyo, dari para mafia. Biasanya dia hanya melempar jarum
beracun kearah lawannya untuk mengalahkan mereka. Namun tidak pada saat itu, di
depan kedua matanya sendiri ia melihat seorang leader dari salah satu mafia di Oto
dengan keji membunuh target yang harusnya ia selamatkan karena merupakan salah
satu murid di Academy Anbu di Kyoto yang memegang peringkat SS.
Dan sesaat setelahnya. Gadis itu langsung mencincang leader mafia tersebut menjadi beberapa
bagian, dengan berani ia membawa mayat pemuda yang harusnya ia selamatnya
dengan potongan sebuah kepala milik leader
mafia tersebut.
.
.
.
Sosok gadis berambut soft pink tengah melangkahkan kakinya melalui sepanjang koridor
yang dipenuhi oleh sekelompok gadis dan pria yang tengah bercengkrama. Namun
ada beberapa yang memandangnya remeh dirinya seraya berbisik-bisik tentang
rumor yang beredar akan dirinya.
Gadis itu menghentikan langkahnya tepat di belakang
sosok pemuda berpakaian hitam dengan jas lab miliknya. Tangannya terulur
menepuk bahu pemuda itu agar si empunya berbalik menatap kearahnya.“Ah, Sakura-chan.
Ada perlu ap—“
“Kabuto-senpai.
Aishiteru.”
CUP
Gadis itu berkata lantang disertai dengan kecupan yang
merenggut ciuman pertamanya. Sosok gadis berambut dark pink menatapnya dengan wajah memerah menahan amarah, ia pun
berjalan menuju gadis itu dan menampar keras pipi kanan gadis yang bernama
Sakura itu.
PLAK
Suara tamparan keras terdengar di lorong, mereka yang
melihat itu terdiam tanpa ada satupun yang berani bergerak selangkahpun. Mereka
juga tak habis pikir dengan tingkah Haruno Sakura yang dengan berani menyatakan
perasaannya dengan Yakushi Kabuto, yang sudah memiliki kekasih yaitu Tayuya.
Dalam hati mereka berkata jika Haruno Sakura adalah
gadis yang tak tau malu. Mengapa? Karena rumor mengatakan jika Haruno Sakura
hampir dikeluarkan dari Academy Anbu karena peringkatnya yang rendah
diantara para murid D1. Dan sekarang gadis itu makin memperburuk imagenya sendiri dengan berusaha merebut
pasangan orang lain, bukankah itu hal gila?
Namun di sisi lain—kenyataan berkata bahwa, Haruno
Sakura tidak berada di peringkat D1. Dia malah memiliki peringkat yang lebih tinggi
dibanding para murid lain, hanya dalam beberapa menit dia bisa mengalahkan
Tayuya atau bahkan seseorang yang berada di peringkat SS. Namun ia tidak mau
pamer akan kehebatannya, karena jika kehebatan terlihat oleh seseorang, maka
kelemahan pun juga akan terlihat.
“Bitch!! Aku
memang sudah dari awal menduga, kau memang gadis tidak tau malu. Haruno Sakura
seorang gadis yang berada di peringkat D1, merebut kekasih orang lain—kurasa
kau lebih pantas disebut bitch-chan.”
Ucap Tayuya dengan nada saskartik seraya menatap Sakura dengan pandangan sinis.
Untuk beberapa saat, Sakura tak menjawab. Ia hanya
membalas tatapan Tayuya dengan dingin dan menusuk, memberikan isyarat agar
gadis itu tidak membuka pertarungan dengannya di illusion room.
“Aku hanya mengatakan hal jujur dan aku tidak memiliki
urusan denganmu Hagane Tayuya-san.”
Sakura mengelak ucapan Tayuya yang menebutnya bitch-chan. Dan itu cukup menyakiti harga dirinya—menurut Sakura.
“Kau pikir kau pantas dengannya? Dia kekasihku dan
semua yang berhubungan dengannya sama dengan berurusan denganku. Kurasa aku
akan sedikit membantumu untuk keluar dari sekolah ini dan memberi hadiah atas keberanianmu—FIGHT OPEN!!”
“Accept—open.”
.
.
.
Mereka berdua kini berada di dalam illusion room, sebuah ruangan yang menyerupai tempat mereka berada.
Sistem ruangan ini memang khusus untuk para murid agar mereka tak mengadakan
pertarungan yang bisa membahayakan murid lain atau menghancurkan gedung serta
fasilitas sekolah.
Sakura membuka kedua kelopak matanya perlahan, sesaat
setelah memasuki illusion room.
Beberapa meter di depannya berdiri sosok gadis yang menjadi lawannya, Tayuya
yang dikenal pengguna senjata langka. Bagaimana tidak disebut langka jika yang
gadis itu gunakan adalah sebuah seruling berwarna hitam. Karena itulah gadis
itu diberi julukan black music.
“Ada apa Haruno? Kau takut, eh? Kau tak perlu khawatir
karena sebentar lagi—aku akan mengakhiri ketakutanmu itu, jalang.” Ucap Karin,
sedetik kemudian langsung memainkan seruling miliknya.
Sebuah gelombang mengarah kearah Sakura. Gadis itu
dengan sigap menghindar dengan cepat layaknya seorang pengguna teleport. Tiba-tiba saja gadis itu sudah
berada di belakang Tayuya hanya dengan dua kedipan mata berturut-turut.
Gadis penyandang gelar black music itu tersentak kaget ketika merasakan sebuah pukulan
keras di tengkuknya. Ia pun terjatuh ke lantai dengan keadaan setengah sadar.
Kedua kelopak matanya terbuka setengah, samar-samar ia masih bisa melihat
Haruno Sakura yang berjalan kearahnya dengan sebuah pedang hitam di tangan
kanannya.
“Anata wa—da-dare?” Ucap Tayuya yang perlahan mulai kehilangan kesadarannya.
Diambang batas keasadarannya, walau samar ia mendengar jawaban mengejutkan dari
lawannya.
“Haruno Sakura—Queen
of Nightmare—rank V1S, desu.”
.
.
.
“Hei, kau dengar soal kejadian tadi pagi??” Ucap salah
seorang murid pada temannya dengan nada ngeri.
“Tentang Haruno Sakura yang mencium Kabuto-senpai setelah menyatakan perasaannya??”
“Hontou?”
“Hontou da yo.”
Sakura melangkahkan kakinya melewati koridor yang dipenuhi
oleh para siswi yang tengah berbincang-bincang. Mayoritas, mereka membicarakan
tentangnya yang menyatakan cinta dengan kekasih orang, belum lagi ia harus siap
mental bahwa sebentar lagi semua siswi akan tau jika dia adalah seseorang yang
memiliki peringkat tertinggi V1S.
Namun Sakura tidak mempermasalahkan hal tersebut, toh
ia tidak pernah berencana untuk menyembunyikan jati dirinya. Jika memang
terbongkar, biarlah terbongkar—untuk apa ia menutupinya, itu malah akan semakin
membuatnya terlihat lemah. Jika nantinya Tayuya—gadis yang beberapa menit lalu
dikalahkan olehnya, tidak terima akan kekalahannya. Ia akan dengan suka rela
mengembalikan seluruh point milik
Tayuya—lagipula ia tidak membutuhkan point
yang tak seberapa itu.
“Berhenti!! Pengecut!!” Suara lantang seorang gadis
terdengar jelas di indra pendengaran Sakura, walau suasana di koridor tidak
bisa dikatakan sepi itu.
Sakura yang merasa panggilan itu tertuju pada dirinya,
ia pun sedikit menoleh seraya menatap sosok gadis berambut dark pink melalui ekor matanya. Ia sudah menduga jika Tayuya akan
menuntutnya akan pertarungan yang sungguh tak adil tadi. Bukan karena Sakura
berlaku curang, melainkan karena perbedaan level
dan point yang cukup jauh.
“Kau berbicara denganku—Hagane Tayuya-san?” Ucap Sakura seraya membalikkan
tubuhnya agar berhadapan dengan orang yang memanggilnya.
Gadis itu tak menjawab, ia berjalan dengan cepat kearah
Sakura. Lalu sedetik kemudian terdengar suara tamparan keras yang membuat
semuanya memandang mereka. “Kau—sialan!!
Kau mengambil semua pointku!!
Dan—ternyata rumor itu salah!! Kukira kau—SIALAN!! KAU SENGAJA?!!”
“…”
“Souka, kau
sengaja tidak mengatakan apapun tentang peringkatmu, kau sengaja diam padahal
jelas-jelas kau mendengar rumor buruk tentang dirimu sendiri. Itu semua kau
lakukan agar kau bisa mendapatkan point
kami yang berada di bawahmu.”
“…”
“Aku ucapkan selamat padamu nona!! Kau berhasil!!
Hahahaha—dengarkan aku Haruno Sakura yang pengecut!! Buka lebar kedua telingamu
yang kuharap masih berfungsi baik!! Aku Tayuya, tidak akan pernah menyerahkan
Yakushi Kabuto—kekasihku, kepadamu!! Tidak akan!! Sekalipun kau berada
diperingkat V1S!!”
Sakura masih terdiam hingga Tayuya selesai dengan
ucapannya. Ia tak berniat menjawab pertanyaan gadis berambut dark pink tersebut. Tanpa memperdulikan
tatapan mengancam Tayuya—Sakura berjalan melewati gadis itu. Namun saat posisi
mereka sejajar, Sakura memberhentikan langkahnya lalu berbisik pelan.
“Aku tidak pernah menipu siapapun. Mempublishkan
kehebatan diri sendiri sama dengan kau susah payah memasang perangkap untuk
lawanmu dan pada akhirnya kau lah yang terkena perangkapmu sendiri.”
“…”
Sakura kembali berjalan beberapa meter, lalu menolehkan
pandangannya kearah Tayuya. “Jika kau memang orang berbakat dan cerdas. Kau
tentu bisa mencerna ucapanku—Hagane Tayuya-san.”
BRUK
Tayuya terjatuh bertumpu dengan kedua lututnya. Jadi
dia harus berakhir di sini? Meninggalkan semua impiannya untuk menjadi anbu yang terkuat demi melindungi
keluarganya serta mencari adiknya yang berada di Hokkaido. Walaupun sedikit
kemungkinan adiknya masih hidup, biarlah jika ia hanya menemukan tulang
benulang milik adiknya—Mayu.
Sebelah tangannya tampak menggeser udara di depannya
yang sebenarnya sebuah layar tembus pandang. Beberapa saat kemudian kedua bola
matanya membulat kaget tatkala melihat empat digit angka tercetak di kolom point miliknya. Tak ada perubahan di
sana, bahkan tak ada satu pointpun
hilang di sana.
Tayuya bisa menarik satu kesimpulan. Haruno Sakura
tidak mengembalikan hadiah
pertandingan yang merupakan seluruh point miliknya. Tayuya lalu menengok ke
belakang, menatap tubuh Sakura yang tak lama kemudian menghilang di balik pintu
besi yang merupakan penghubung antara koridor lantai satu dengan sebuah ruangan
yang tak pernah ia ketahui untuk apa.
Tapi yang jelas, ruangan itu hanya bisa di masuki oleh
Haruno Sakura kepala sekolah—karena tak pernah ia lihat satupun guru selain
Senju Tsunade, yang pernah memasuki ruangan itu
.
.
.
Sakura melangkahkan kakinya menuju sebuah jendela besar
ruangan pribadinya di Academy Anbu.
Kaca jendela tersebut dibuat dari bahan khusus sehingga mereka yang berada di
luar tidak bisa melihat mereka yang di dalam, sebaliknya mereka yang berada di
dalam akan sangat jelas melihat mereka yang berada di luar.
Bosan melihat dari lantai satu. Sakura memutuskan
menaiki satu persatu anak tangga di ruangan tersebut untuk bisa sampai ke
lantai dua ruangannya. Ruangan pribadinya memang memiliki dua ruangan yakni lantai
satu dan dua.
Tak butuh waktu lama, telapak kakinya yang di balut
dengan sepatu pantofel dengan model bod berwarna hitam itu menapak lantai
dua ruangan pribadinya. Ia cukup puas dengan ruangan pribadinya yang terdiri
dari dua lantai ini, ia tidak merasa rugi saat mengambil alih dua buah kota di
Jepang yang saat ini berada di dalam pengawasan anbu dan kemiliteran Jepang.
Sakura berdiri menghadap dinding kaca yang mempertontonkan
halaman depan sekolahnya. Sepasang mata emeraldnya
tampak memicing ketika melihat sebuah tindakan penindasan yang di kerubungi
banyak siswa di sana—lima lawan satu, bukankah tak adil? Apalagi jika lima
orang yang terbagi dari peringkat A dan B sedangkan satu orang yang mungkin
memiliki peringkat lebih rendah.
Kenapa Sakura bisa mengetahui peringkat mereka semua?
Terlihat dari lambang tato bunga yang berada di lengan mereka masing-masing.
Namun ada beberapa yang memiliki lambang tersebut di bagian yang tertutup kain.
Contohnya Sakura yang memiliki lambang mawar emas di balik sarung tangan
hitamnya, tepatnya bagian punggung tangan miliknya.
“Lemah—pengecut.” Ucap Sakura dingin seraya menatap
gerombolan siswa yang tampak menindas seorang lelaki yang peringkatnya lebih
rendah—perkiraan Sakura karena tak bisa melihat lambang mawar, yang mungkin
berada di balik baju pemuda itu.
Sakura tidak menujukan ucapannya untuk seorang pemuda
yang ditindas itu, namun untuk lima orang penindas di sana. Jika mereka memang
kuat, seharusnya mereka akan memilih bertarung di dalam illusion room, bukan dengan menindas orang di kenyataan. Apalagi
orang itu berada di peringkat di bawahmu.
“Bukankah kau sama dengan mereka—Sakura, jika kau
hilangkan kata ‘lemah’mu itu.”
Sebuah suara terdengar jelas di sertai dengan
suara langkah kaki di ruangan tersebut.
Sakura sangat mengenali sosok yang tiba-tiba saja masuk
ke dalam ruangannya, karena tak ada satu orangpun selain dia dan orang itu yang
bisa masuk kemari.
Ia pun membalikkan tubuhnya seraya sedikit merendahkan
tubuhnya, serta tangan kanannya yang ia letakkan di depan dada yang tidak dalam
posisi terkepal.
“Sumimarsen,
Tsunade-sama. Saya tidak menyadari
kehadiran anda.”
“Bukan masalah bagiku—“
“…”
“Kenapa kau tidak pergi menolongnya jika kau merasa
kasihan padanya. Hanya dengan melihat saja kau tak mungkin bisa mengubah
apapun.” Ucap Tsunade seraya berjalan
mendekat kearah kaca seraya melihat penindasan tersebut dari kejauhan.
“Itu bukan tanggung jawab saya. Anda hanya menugaskan
saya untuk menangkap Yakushi Kabuto-senpai
karena penelitiannya beberapa bulan lalu yang mengakibatkan tiga orang siswi
peringkat S dan dua orang siswa peringkat SS, tewas.”
Tsunade menghela nafas pelan, ia sudah menduga jika
gadis itu tidak akan melakukan tugas yang memang bukan tanggung jawabnya. “Yare yare, itu terserah padamu.
Lagipula, pemuda itu memiliki peringkat yang lumayan tinggi.”
Sakura tak menjawab, ia hanya melemparkan pandangan
tanya-nya kearah Tsunade.
“Uchiha Sasuke—rank
S.”
.
.
.
.
.
To
Be Continued
.
.
.
.
Ending
Song
Nano
– Savior Of Song
.
.
.
.
A/N
Err—apa ini termasuk genre sci-fi? Aku bingung. Ini
bisa di kata Tragedy, bisa dibilang
Romance, bisa dibilang Action, bisa
dibilang Fantasy, bisa dibilang crime, bisa juga dibilang Mistery. Astaga TT
ini benar apa nggak kalo genrenya Romance Crime. Kupikir karena ini yang paling
mendasar TT.
Oke, ini sudah update sesuai permintaan. Saya ingin
fokus di fic ini karena takut ancur lagi. Dan jangan terlalu bermimpi ini bakal
happy ending :p
Jika berkenan silahkan tinggalkan jejak di kolom review
atau bisa langsung PM saya bagi silent readers atau apapun itu.
Salam
.
.
.
Gheralda
Citra Prameswari
Only Mine (PART 1)
.
.
.
ONLY
MINE
.
.
.
Disclaimer
© Masashi Kishimoto
Story
Written By © Gheralda
Inspirator
By Anime No Game No Life
Rate
© M for Mature
Genre
© Fantasy, Angst
Pairing
© Madara X Sakura
.
.
.
Summary
Apa kau percaya
dunia ini seperti game? Apa kau percaya
jika dunia ini memiliki celah dimana terdapat kehidupan lain di dalamnya? Tanpa
kalian sadari selama ini manusia telah menjalani game—jika tidak? Lalu apa guna mereka berebut kuasa? dan tanpa
manusia sadari pula, ada kehidupan lain yang mengintai setiap gerak gerik para
manusia, penyebab segala malam petaka yang terjadi.
Menceritakan sebuah
kehidupan di balik celah dunia, tentang seorang gadis yang merupakan
satu-satunya pewaris tahtah hutan barat, setelah kematian seluruh rasnya.
Dialah ras rubah putih terakhir. Dan malam petaka selanjutnya menghampirinya—ia
harus merelakan hutan barat serta dirinya sendiri untuk pemimpin ras vampire—Uchiha Madara, makhluk yang
sudah memusnahkan rasnya.
.
.
.
Warning
OOC,
Typo(s), Vampict, Bad Ending, Lemon/Lime, Mengandung Unsur Kekerasan,
Multichapter, EYD kurang sempurna, Type AU, Mind RnR?
.
.
.
.
Opening
Song
Suzuki
Konomi – This Game
.
.
.
.
.
Chapter
1
TRAK
“Haah—hahh—Hhh.”
Suara
deru nafas mengiringi setiap langkah
cepat sosok gadis rubah, berlari menembus tebalnya kabut putih yang menutupi area hutan barat. Langit malam yang
berawan menyebabkan cahaya bulan tak mampu sampai ke permukaan bumi.
Tangan
kanannya tampak mengarah pada sebuah kusanagi
berwadah merah yang berada di pinggangnya, dengan perlahan ia menarik ganggang kusanagi tersebut. Mengeluarkan sisi
tajam senjatanya dari tempat yang melindunginya.
“I-itu
dia di sana—tangkap dia!!!”
Sosok
gadis itu mendecih pelan saat menyadari keberadaannya telah ditemukan oleh
sekumpulan vampire yang hendak
menangkapnya. Langkah kakinya semakin cepat tatkala ia mendengar suara puluhan langkah kaki yang semakin mendekat. Kepalanya
sedikit ia tengokkan ke belakang, memastikan seberapa dekat mereka dari
jaraknya.
Sepasang
iris mata green emerald itu mengecil
seketika, tatkala melihat sekumpulan pasukan vampire yang semakin mendekat kearahnya. Ia lalu kembali
memfokuskan pandangannya kearah depan, dia harus ekstra berhati-hati dengan
kabut tebal yang ia ciptakan sendiri. Jangan sampai kabut ini justru semakin
mempersulitnya.
“TEMBAK!!!”
SET
SET
SET
'Nani!!?'
ZRASHH
Gadis
itu menghindari puluhan duri yang mengarah kearahnya dengan lincah, meski
beberapa duri tetap mengenainya, namun staminanya sama sekali tak mengalami
penurunan. Dengan mempercepat laju larinya, ia kembali menembus kabut putih
yang ia buat sendiri, demi mempermudahnya untuk bersembunyi serta menyamarkan
aromanya dari penciuman musuhnya—para vampire.
“Akh!!”
Rintihnya pelan akibat rasa sakit yang diterimanya, membuat gadis itu sedikit
kepayahan, belum lagi darahnya yang mengucur keluar, dan menetes di sepanjang
jalan yang ditapakinya.
Hal
ini akan membuat jejaknya tercium jelas oleh kaum vampirei. Meski begitu, ia tak menyerah sampai di situ. Akan
menjadi hal yang sia-sia bagi kaumnya yang sudah mengorbankan nyawa mereka demi
dirinya agar bisa melarikan diri dari hutan wilayah barat.
Namun,
ia sadar itu adalah hal mustahil baginya. Jika ia berlari kearah utara maka
sama saja dengan dia menyerahkan diri kepada kaum vampire, jika dia berlari kearah timur itu sama saja dengan dia
melanggar peraturan yang berlaku, dia memasuki wilayah kaum lain, sama halnya
dengan wilayah selatan, apapun itu—dia tak mungkin bisa lari kemanapun.
Jika
saja wujudnya sama seperti para manusia, mungkin dia akan lebih memilih untuk
bersembunyi di antara kerumunan para manusia. Namun wujudnya sedikit berbeda,
dia memiliki telinga rubah dan lima buah ekor panjang. Bisa-bisa justru para
manusia akan membunuhnya seketika. Walaupun dia tinggal bukan di wilayah para
manusia, namun dia juga mendengar rumor bahwa—manusia sangat membenci makhluk
sepertinya, seperti mereka yang bukan manusia.
DEG
Ia
bisa merasakan jantungnya mulai berdetak aneh, energinya pun mulai menurun
secara perlahan, ini mungkin di sebabkan karena banyak darah yang keluar dari
tubuhnya. Ia membutuhkan darah manusia untuk memulihkan tenaganya. Namun, itu
adalah hal paling tabu yang bisa ia dapatkan untuk saat ini.
BRUK
“Ittai…!!” Suara rintihan pelan ia
serukan ketika tubuhnya terjatuh ke tanah akibat menabrak sesuatu yang besar.
Gadis
itu mendongakkan kepalanya, menatap mata sosok yang ditabraknya. Seketika itu
bola matanya membulat, tubuhnya bergetar ketakutan—tatkala ia menyadari sosok
apa yang di tabraknya—Uchiha Madara, pemimpin kaum vampire, makhluk yang memerintahkan pasukannya untuk menghabisi
kaum rubah.
“Haruno—Sakura—eh???”
Pandangan
mata gadis bernama Sakura itu tampak menajam, sepasang iris hijau emerald itu berubah menjadi sepasang
mata berwarna ungu kemerah merahan. Dengan keberaniannya ia mengarahkan ujung kusanagi miliknya kearah sosok vampire di depannya—makhluk yang secara
tak langsung sudah menghabisi kaumnya.
“SIALAN
KAU—MADARAAA!!!!” Teriaknya seraya berlari dengan sebuah kusanagi di tangan kanannya.
Hanya
dengan berbekal keberanian dan latihannya selama ini, ia bertekad untuk
membunuh Madara—membalaskan dendam kaumnya yang sudah diluluh lantakkan.
Sakura
melompat dengan gesitnya seraya berkali-kali berusaha menusukkan ujung kusanagi itu tepat di jantung vampire pria di depannya ini. Walaupun
dalam hati ia sangat yakin, vampire
di depannya ini benar-benar akan mendapatkan apa yang dia inginkan,
sampai-sampai memusnahkan kaumnya. Namun, bolehkah ia berharap jika keajaiban
tengah berpihak padanya?
Para
manusia selalu berucap tentang ‘keajaiban’ dan ‘harapan’. Jika memang keajaiban
dan harapan itu ada, maka dia berharap akan ada keajaiban dari Tuhan yang
dikirimkan padanya. Dia sadar, ia tak lebih baik dari seorang manusia bodoh
sekalipun, dia hanyalah makhluk kotor yang dibenci para manusia. Tapi entah
kenapa satu keyakinan dalam benaknya—Tuhan tidak pernah membencinya. Jika
memang Tuhan memebencinya, lalu—kenapa dia dan kaumnya diciptakan?
“Yare yare. Kau memang gadis rubah yang
menarik—“
“Damare!!” Sakura kembali mengayunkan kusanaginya seraya meningkatkan
kewaspadaannya akan jebakan yang mungkin saja dipasang oleh vampire di depannya untuknya.
“—hanya
kau satu-satunya makhluk yang tak takut padaku, pada kami kaum vampire. Menarik.” Ucap pria bernama
Madara itu seraya tetap menghindari serangan yang mengarah padanya, tanpa
berniat untuk membalasnya.
Sakura
menggeram marah mendengar ucapan vampire
di depannya, “cih! Kau bahkan bukan Tuhan…!!!
Kau hanyalah salah satu makhluk terlemah-Nya—“
“…”
“—kau
tak lebih dari makhluk rendah dimataku…!!!”
KRAK
BLARR
Dengan
gesit Madara menghindari serangan kuat yang dilontarkan Sakura padanya.
Serangan itu akhirnya menabrak tanah yang dipijaknya beberapa detik lalu, yang
kini telah hancur dan menciptakan lubang yang cukup besar di sana.
Sakura
menggeram penuh amarah seraya mendecih pelan, ia lalu mengarahkan pandangannya
kearah vampire yang tengah berdiri di
dahan pohon yang tak jauh di depannya. Dengan sisa kekuatannya, ia berusaha
bangkit dari posisinya. Sebelah tangannya yang tidak memegang senjata kini
mengarah pada kepalanya.
Kepalanya
terasa sakit dan berangsur pada penglihatannya yang mulai mengabur, hingga
sepasang kakinya tak mampu lagi untuk menompang berat tubuhnya. Sakura terjatuh
bertumpu dengan sepasang lututnya. Dan kesadarannya mulai hilang perlahan.
‘Gomennasai.’
.
.
.
Di
sebuah ruangan ber-design Eropa, dengan pencahayaan remang-remang.
Tampak sebuah tempat tidur dengan gaya ala
Inggris dimana sosok gadis rubah dengan rambut soft pink panjangnya tengah terbaring lemah di atasnya.
KRIET
Pintu
kamar itu terbuka perlahan, menimbulkan suara yang memecahkan keheningan di
kamar tersebut. Sosok vampire
berjubah hitam itu melangkahkan kakinya mendekati tempat tidur, dimana sosok
gadis yang diinginkannya terbaring tak sadarkan diri di sana.
Sebuah
seringai menyeramkan terlukis di wajah tampannya, ia pun menanggalkan jubahnya
dan membuangnya ke lantai. Ia lalu melepaskan tiga buah kancing teratas kemeja
putihnya. Rambut hitamnya tampak sedikit acak-acakkan. Namun hal itu tak cukup
untuk memudarkan sedikit ketampanannya, justru semakin menambah kesan seksi
pada dirinya.
Pria
yang merupakan pemimpin kaum vampire
itu segera naik ke atas tempat tidurnya yang nantinya juga akan menjadi tempat
tidur milik gadis yang terbaring di sana. Tubuh kekarnya kini sudah berada di
atas tubuh gadis itu. Dengan menggunakan tangan kanannya, dia menarik pelan
kain yang mengikat yukata lusuh yang
dipakai gadis itu.
Ketika
kain itu terlepas, tampak tubuh polos yang bersinar diterpa cahaya rembulan
yang berwarna keemasan.
Pria itu semakin menyeringai tatkala melihat tubuh
gadis yang diinginkannya. Aku tak
menyangka jika dia bisa secantik ini—eh? Batinnya terkagum saat melihat
kecantikkan murni milik gadis rubah di bawahnya.
Telapak
tangan kanannya tampak mengarah pada wajah cantik milik gadis di bawahnya.
Dibelainya lembut wajah berkulit putih itu, tangan itu menyusuri setiap jengkal
kulit wajah gadis itu. Lalu turun menuju leher jenjang miliknya—
Dan
tangan itu berhenti tepat di atas salah satu bongkahan dada milik gadis itu,
diremasnya dengan sedikit keras—membuat gadis di bawahnya mengerang pelan dalam
ketidak sadarannya.
Mendengar
erangan pelan yang dikeluarkan gadis di bawahnya, membuat pria itu semakin
memperlebar seringainya. Ia semakin melanjutkan aksinya—jari telunjuk pria itu
tampak menggoda puncak bongkahan dada yang tadi diremasnya itu, mengakibatkan
puncak kemerahan itu mengeras pertanda gadis itu mulai terangsang walau dalam
ketidak sadarannya.
Pria
itu masih mempertahankan seringaiannya, ia lalu mendekatkan wajahnya kearah
telinga kanan gadis itu seraya berucap pelan, “kau ternyata gadis nakal eh? kau
bisa terangsang walau kau sedang tertidur.”
“Akh!!”
Gadis
itu memekik pelan ketika pria di atasnya menarik keras putingnya. Pria itu
sedikit memasang raut heran, niatnya ingin membangunkan gadis itu dengan
menarik salah satu puting payudara milik gadis itu. Namun kelopak mata itu
masih menutup, hanya suara pekikkan yang dia dapatkan.
Tanpa
ia sengaja telapak tangan kirinya menyentuh—menekan salah satu ekor milik gadis
itu. Dan seketika itupula gadis itu membuka sepasang kelopak matanya, lalu
menendang pria di atasnya dengan sebelah kakinya. Dengan menggunakan dua
tangannya, ia menutupi dua buah dadanya dari mata pria yang mulai bangkit dari
posisi terjatuhnya itu.
“Ma-Ma-Madara!!”
Sepasang bola mata gadis itu terbelalak tatkala melihat siapa makhluk yang
berusaha menodainya.
Pria
itu tampak memegang kepalanya dengan sebelah tangan miliknya, ia lalu berjalan
kearah tempat tidur dimana gadis itu berada dengan sebuah seringai yang terukir
di wajah tampannya. “Yare yare, kau
akhirnya terbangun juga—padahal dari tadi aku sudah bermain dengan tubuhmu.”
Sakura
semakin membulatkan sepasang manik hijaunya ketika mendengar perkataan Madara.
Pandangannya lalu mengitari ke sekitarnya, mencari sebuah kusanagi miliknya, namun ia tak mendapatkan apapun di sana. Tanpa
ia sadari, ia sudah menurunkan tingkat kewaspadaannya pada Madara.
“Akh!!”
Gadis itu merintih sakit ketika merasakan dua buah tangan mencengkram erat
sepasang lengannya, berusaha menjauhkan sepasang tangan miliknya yang menutupi
dua buah dadanya.
“Kau
lumayan kuat untuk ukuran seorang wanita—mari kita liat, seberapa kuatnya
dirimu di atas ranjang.”
Dengan
sekali hentakkan, Madara berhasil melumpuhkan pertahanan tangan gadis di
bawahnya. Ia lalu membawa tangan gadis itu pada sebuah rantai yang sengaja ia
pasang di kepala ranjang, ia lalu mengikat sepasang tangan itu di kepala
ranjang.
Sakura—nama
gadis itu—dia masih meronta-ronta di bawah kukungan tubuh kekar pria vampire di atasnya. Iris berwarna hijau emerald itu kini berubah warna menjadi
ungu kemerahan, sepasang mata miliknya menatap tajam sosok pria di atasnya
sesekali disertai dengan geraman rendah dari mulutnya.
“KYAAAA!!!”
Detik
selanjutnya, suara jeritan Sakura keluarkan tatkala merasakan remasan kuat pada
kedua dadanya. Pria itu tak tanggung-tanggung menggunakan kekuatan tangannya
untuk meremas kedua dada gadis di bawahnya, sesekali ia menarik-narik kedua puting
keras milik gadis itu.
“Hen-hentikan—itu—menyakit-kan!!
AKHHH!!!”
Mendengar suara gadis itu yang merintih sakit membuat Madara semakin memperkuat
remasannya, hingga menimbulkan bekas kemerahan di dada gadis itu. Ia lalu
mendekatkan wajahnya kearah salah satu dada milik Sakura.
Awalnya hanya sebuah
jilatan yang ia tujukan pada puting kemerahan Sakura, namun beberapa detik
kemudian—Madara memasukkan salah satu puting Sakura ke dalam mulutnya,
menghisapnya keras sehingga membuat gadis itu semakin menjerit kesakitan dan
berusaha untuk lepas darinya.
“Kau
ingin lepas eh? Jangan berharap banyak—Sakura.”
“Lepas—HMMMPPHH.”
Tindakan
Madara semakin menjadi-jadi, dengan paksa ia mencium kasar bibir manis Sakura,
sesekali ia menggigitnya dengan gemas hingga mengeluarkan darah yang langsung
ditelannya. Kedua tangannya tetap pada tugasnya, meremas kedua buah dada Sakura
dengan kasar.
“HMMPPHHH!!
AKH!!! TO-TOLONG!! SIAPAPUN TOLONG AKU—“
PLAK
Sakura
terdiam seketika tatkala ia merasakan panas menjalar di pipi kanannya, air
matanya mulai menggenang di pelupuk matanya. Masih dengan sepasang mata ungu
kemerahan miliknya ia menatap penuh amarah kearah Madara yang berwajah datar di
atasnya.
Batinnya
berteriak frustasi, ia masih tak mengerti mengapa pria vampire itu sampai membantai habis kaumnya. Apa salah mereka? Apa
salahnya?! Jika ini karena dia menolak permintaan pria itu yang hendak
menikahinya, bukankah itu adalah haknya. Ia berhak menolak dan menerima lamaran
yang ditujukan padanya.
Air
matanya keluar semakin deras dari pelupuk matanya ketika tangan pria itu mulai
menyentuh daerah pribadinya. Dengan sekuat tenaga ia berusaha merapatkan
pahanya, namun ia kalah kuat dengan pria itu.
“Ku-kumohon
Madara—jangan!!! KYAAAA!!!!”
“Maksudmu,
jangan berhenti eh? Kau memang rubah nakal!!”
“Akh!!
I-ittai—sa-sakit!!”
Tanpa
memperdulikan rintihan Sakura yang menjerit kesakitan, Madara memasukkan dua
buah jarinnya ke dalam lorong sempit milik gadis itu. Tanpa jeda waktu, ia
menggerak-gerakkan kedua jarinya di dalam lorong sempit milik Sakura, bahkan
dia mengabaikan jerit kesakitan yang dikeluarkan gadis di bawahnya.
“Akh!!
Berhenti—kumohon, berhenti!!! KYAAAA!!!”
Mendengar
suara rintihan Sakura membuat gerakan jarinya di dalam lubang gadis itu semakin
menjadi-jadi—kasar dan tak beraturan. Bahkan pria itu tak membiarkan dua buah
dada Sakura terabaikan begitu saja, dia menggunakan tangan kirinya untuk
meremas penuh salah satu bongkahan dada gadis itu, sesekali ia menarik puting
kemerahan Sakura dengan kuat.
Sementara
kedua tangan miliknya memuaskan dada kanan dan lorong kewanitaan gadis di
bawahnya. Mulutnya tak tinggal diam, dengan lidahnya Madara mulai menggoda puting
dada kiri milik Sakura, membasahi puting dan area sekitarnya dengan air
liurnya.
“Ku-kumohon
berhen—KYAAAA!!!” Kalimat yang diucapkan Sakura terputus dan terganti dengan
suara jeritan ketika Madara memasukkan dan menghisap kuat puting dada kiri
Sakura dengan mulutnya.
Sakura
membelalakkan kedua bola matanya, ia merasakan sesuatu dalam dirinya memaksa
keluar. Ia pun memejamkan kedua kelopak matanya ketika sesuatu itu keluar
melalui lorong kewanitaan miliknya.
Sedetik
setelahnya ia menghela nafas lega, ia membuka kedua bola matanya seraya masih
berusaha lepas dari kukungan tubuh kekar di atasnya. “Hmm? Kau ternyata kuat
juga.”
“Lepas!!
Le-lepaskan a—“
Madara
segera melepaskan keseluruhan kain yang melekat di tubuhnya. Sakura yang
melihat tubuh telanjang pria di depannya, tanpa sadar ia sebuah guratan rona
merah menghiasi wajahnya. Pria itu
tampak mengarahkan batang kemaluannya kearah lorong sempit Sakura, seraya
berusaha memasukkannya perlahan karena begitu sesak.
“To-tolong,
ja-jangan—jangan masukkan—KYAAAAA!!!”
Gadis
itu menjerit kencang ketika Madara memaksakan kejantanannya untuk menerobos
masuk ke dalam lorong sempit miliknya. Kedua tangannya mencengkram erat rantai
yang mengikat pergelangan tangannya seraya menggigit bibir bawahnya hingga
mengeluarkan darah.
“KYAAAAA!!!!!!
SA-SAKIT!!!”
Dengan
seluruh kekuatannya, Madara mendorong masuk bendanya hingga masuk seluruhnya ke
dalam lorong peranakkan milik gadis itu. Tanpa memberi jeda waktu sejenak, ia
menggerakkan tubuhnya—mengoyak habis lorong gadis itu, hingga membuat Sakura
menjerit sejadi-jadinya.
“To-tolong!!!
Berhenti!! Berhenti!! KYAAA!! AKHH!!”
Madara
semakin bergerak dengan cepat dan kasar ketika mendengar kalimat penolakan
secara tak langsung dari gadis di bawahnya. Ia lalu merendahkan tubuhnya untuk
menikmati rasa manis bercampur asin di bibir gadis itu. Tanpa Sakura sadari,
Madara mencium bibirnya dengan penuh kelembutan. Gadis yang kini telah berganti
menjadi wanita itu mungkin sudah terlalu terbuai dengan rasa sakit di
kewanitaannya, hingga ia tak bisa membedakan rasa sakit dan nikmat.
Ia
semakin memperdalam ciumannya tanpa menghentikan gerakannya di bawah sana.
Madara sadar, Sakura sudah kembali tak sadarkan diri—dan karena itu gerakannya
mulai melembut, berusaha untuk tak membuat wanita itu terbangung.
Cukup
lama ia dalam kegiatannya, Madara merasakan sesuatu yang akan keluar dari dalam
dirinya. Ia pun kembali mempercepat gerakannya seraya tetap mempertahankan
ciumannya pada bibir wanita di bawahnya. Dan tak butuh waktu lama—ia mengeluarkan
benihnya, memenuhi rahim Sakura.
Madara
menjatuhkan tubuhnya ke samping kanan Sakura, ia tak berniat untuk mengeluarkan
batang kemaluannya dari kewanitaan Sakura. Kedua tangan kekarnya merengkuh
tubuh wanita yang tak sadarkan diri itu, merapatkan punggung wanita itu dengan
dada berototnya. Ia lalu mengarahkan hidungnya kearah tengkuk Sakura, menyesap
aroma musim semi yang menguar dari rambut merah muda wanita itu.
Ia
pun berbisik pelan di telinga rubah milik wanita di dekapannya, “oyasumi—Sakura.”
.
.
.
.
To Be
Continued
.
.
.
.
Ending
Song
EGOIST
– Euterpe
.
.
.
.
.
A/N
KYAAAA!!!
Ini memalukannn!!! #gelindinganDikasur. Apa ini??!!! Ancur berat adegan
lemonnya. Gomen :3 aku gak bisa bikin adegan lemon yang terlalu hot, aku gak
terlalu berpengalaman dalam hal yang begini, #ojigi. Aku berharap fic ini cukup
hot dimata kalian -_- terutama yang request fic ini, kakek Sena -_- aku harap fic
ini hot dimatamu kakek -_- #dibakar.
Dan
untuk sedikit informasi :3 fic ini hanya kupublish di sini. Jadi gak ada copy’annya
di doc mananger akun FFnku :3 jadi berbahagialah kalian yang menemukan fic ini
di sini :3. Alasannya gak kupublish di FFn? -_- ntar aku dibakar sama readers
yang nunggu fic2ku update karena banyak banget yang belum complete. Teheee~ XP
Oke,
saya ucapkan selamat berbuka puasa bagi kalian yang menjalankan :D Dan sedikit
penjelasan untuk kalian -_- saya asli cewek jangan anggap saya cowok hanya
karena saya bikin cerita hentai begini. #ngacir
.
.
.
Gheralda
Citra Prameswari









