Read more...

Archive for Juli 2014

Pokémon of Week : Chinchou #170

Selamat malam minna XD berjumpa lagi dengan saya Hirano ,.. oh ya di post sebelumnya saya belum ngenalin diri yah XDa ... kalo gitu watashi wa Akinari Hirano yoroshiku onegaishimasu X3.
Pada tau nggak saya sekarang datengin bintang tamu dari mana dan siapakah dia ?
hayo ada yang tau nggk?
Oke deh kalo gitu aku kasih tau pokemon di sebelah kiri ini namanya adalah "Chinchou" dia berasal dari perairan Johto di kota Olivine City.
Seperti biasa pertama kita akan bahas tentang Pokédex Data.

 Pokédex Data
National № : 170
Type : Water Electric
Species : Angler Pokémon
Height : 1′8″ (0.51m)
Weight : 26.5 lbs (12.0 kg)
Abilities : Illuminate
               Volt Absorb
                    Water Absorb (hidden ability)
Local № : 174 (Gold,Silver,Crystal)
                181 (Ruby,Sapphire,Emerald)
                176 (HeartGold,SoulSilver)
                147 (X,Y)
Japanese : Chonchi

 Dari data diatas Chinchou memiliki 2 elemen yaitu air dan listrik . Sebenarnya elemen air lemah terhadap listrik tapi tidak bagi Chinchou karena chinchou memiliki elemen listrik juga. Selanjutnya





Chinchou memiliki HP(Health Point) sebanyak 75 dan angka tersebut adalah angka yang paling tinggi dari semua stats ,speed Chinchou memiliki jumlah angka 67 ,yaa angka yang cukup lumayan ,tetapi Chinchou memiliki attack dan defense yang sama yaitu 38 ,seimbang.
Chinchou lemah terhadap serang bertipe Grass dan Ground dan kebal terhadap serangan Fire,Water,Ice,Electric,Flying,dan Steel.


Evolution Chart

Evolusi Chinchou membutuhkan level 27 untuk berevolusi menjadi Lanturn .

Name Origin
chochin
Bahasa jepangJepang untuk 'lantern' (lentera).
Bagaimana tertarik dengan pokemon ini? x> silahkan mancing saja di Olivine City semoga beruntung dan sampai jumpa minggu depan XD.

Bonus untuk para pembaca XD Chinchou loli Fanart







Posted by Kudryav
Tag :

Spring Love Diary - Kinoko Higurashi


Gadis yang jatuh cinta terkadang memiliki hal-hal tertentu yang dilakukannya. Umehara pun begitu. Gadis 2 SMA itu memiliki catatan tentang orang yang disukainya. Seperti stalker sih, tapi namanya juga jatuh cinta. Catatan ISZK. Ya, Isezaki adalah teman sekelas Umehara yang kebetulan duduk di depannya. Tapi setelah selama ini disembunyikan, catatan itu malah tak sengaja dibaca oleh Isezaki. 

Malu luar biasa dan rasanya tak ingin bertemu apalagi sekedar bertemu pandangan dengan Isezaki. Umehara pun berusaha menghindar. Sampai saat ini, gadis lugu itu belum berani mengatakan perasaannya karena Isezaki memiliki pacar di SMA lain. Berkat keberaniannya, Umehara memberanikan diri menanyakan kabar tentang putusnya Isezaki. Laki-laki riang itu mengakui kebenaran berita itu dengan wajah kecewa dan sedih. 

Bagaimana pun usaha yang dilakukan Umehara untuk mendekati dan menarik perhatian Isezaki, rasanya percuma saja. Sampai akhirnya, Isezaki menyadari bahwa Umehara benar-benar tahu tentang dirinya dan perhatian terhadap dirinya.

Walaupun terkesan jahil dan sering meminjam catatan Umehara, Isezaki tampak tertarik dan malah terlihat mendekati Umehara. Ah, mungkin karena pernyataan cinta yang sempat diungkapkan Umehara pada Isezaki. Tapi, apakah itu berarti Isezaki menerima perasaannya? Lalu bagaimana dengan Umehara yang masih digantung perasaannya?

Seven Colours Closet
Hubungan jarak jauh menjadi hal yang harus dijalani Akari dan Hinata. Ya, saat menyelesaikan SMA, Hinata memutuskan untuk melanjutkan kuliahnya ke jurusan desain fashion. Berkutat dengan pakaian dan berjanji akan membuatkan Akari baju yang bisa membuatnya bertualang. Akari tak mengerti yang dimaksudkan Hinata dan sejujurnya ia tak pernah tertarik dengan pakaian yang fashionable. Hinata juga sering mengirimkan beberapa helai pakaian buatannya. Lalu apakah Akari akan bisa bertahan dengan hubungan jarak jauh itu?

Enjoy reading, minna~

-Aoiwj-
Posted by Unknown
Tag :

Pokémon of Week : Chikorita #152


 Selamat Sore minna ^_^ ! Post pertama kali ini saya akan mendatangkan bintang tamu dari rerumputan . Siapakah dia? ada yang tahu? tidak lain tidak bukan adalah Chikorita si daun bunga kecil dari rerumputan XD.
Pertama saya akan bahas tentang pokédex data dari si manis ini X3

Pokédex Data
National № : 152
Type : Grass
Species : Leaf Pokémon
Height : 2′11″ (0.89m)
Weight : 14.1 lbs (6.4 kg)
Abilities : Overgrow
               Leaf Guard ( Hidden Ability)
Local № : 001 (Gold,Silver,Crystal)
                      001 (HeartGold,SoulSilver)

Wow berat Chikorita sama seperti berat 2 tabung gas 3kg XD lumayan berat yah. Oke next


 Chikorita adalah Pokemon tipe Bertahan atau defense .Dari base status terlihat bahwa jumlah angka lebih tinggi adalah Defense dan Sp. Defense sama yaitu 65. Tapi walau Chikorita pokemon tipe defense dia tetap memiliki kelemahan terhadap beberapa elemen yaitu : Fire,Ice,Poison,Flying,dan Bug.


 Evolution Chart

Evolusi chikorita menjadi Bayleef harus mencapai level 16 dan evolusi berikutnya dari Bayleef menjadi Meganium harus mencapai level 32.

Name origin

chicory
tanaman berbunga
-ita
Dalam bahasa spanyol artinya ‘kecil’
Bagaimana tertarik dengan pokemon satu ini? XD oke sampai jumpa lagi minggu depan X3.

Bonus untuk para pembaca XD  Chikorita versi loli

 

Posted by Kudryav
Tag :

CHOICE (PART 1)


.
.
.
CHOICE
.
.
.
.
.
Disclaimer © Masashi Kishimoto
Story Written By Gheralda
Rate M for Blood
Genre © Romance, Mistery, Crime.
Pairing © Sasuke X Sakura
.
.
.
.
Summary
Hidup di sebuah negara yang penuh dengan kelicikan sama sekali bukan kehendaknya. Bekerja di bawah kekuasaan pemerintah yang keji juga bukan kehendaknya. Hidup tanpa ingatan juga bukan kehendaknya/”Yang ku tau, aku hanyalah boneka dengan rantai di leherku…”/”Jika kau mengerti arti hidup, maka kau akan mengerti hidup adalah pilihan—Sakura.”

.
.
.
Warning
Typos, OOC, Blood Expilist, Kissing Scane, Bad Sakura, Sad Ending, AU type, Action Story, DLDR, Mind RnR?
.
.
.
.
Opening Song
EGOIST – Namae no Nai Kaibitsu
.
.
.
Dibalik jeruji hitam
Aku dilahirkan
.
.
In ga no daishou harai
Tomo ni yokou
Namae no nai—Kaibitsu
.
.
.
.
Chapter 1


Tokyo, merupakan salah satu kota besar di Jepang, sekaligus sebagai ibukota negara. Hanya tempat itulah yang merupakan kota teraman di Jepang setelah Kyoto dan Okinawa yang berhasil direbut. Jika kalian bertanya mengapa hanya Tokyo sebagai kota teraman? Jawabannya, karena Jepang tengah melakukan perang terhadap negara sendiri. Bukan maksud menghancurkan negara sendiri—namun, menghancurkan sekumpulan pemberontak, sebutlah mereka mafia.

Para penduduk yang berada di luar ketiga kota tersebut, pastilah menjadi budak para mafia. Jika kau seorang wanita, bersiaplah untuk melayani nafsu puluhan pria setiap malamnya. Dan jika kau laki-laki, bersiaplah untuk menjadi anggota terbawah mafia tersebut—sebutlah mereka sebagai budak yang akan menjadi umpan para anjing pelacak.

Mereka, para penduduk di luar sana tidak akan pernah bisa lepas dalam keadaan hidup-hidup—kecuali jika seseorang menyelamatkan mereka dari tangan penjahat. Namun apa yang bisa mereka harapkan? Jutaan orang Jepang di berbagai kota bernasib sama seperti mereka. Sungguh hal mustahil jika hanya mengandalkan kekuatan para tentara Jepang atau mereka yang menjadi lulusan terbaik sebuah sekolah akademi pertahanan Tokyo, Kyoto dan Okinawa.

 Academy Anbu, sebuah sekolah yang di dirikan di Tokyo dan baru-baru ini di dirikan juga di Kyoto dan Okinawa. Sekolah tersebut diperuntukkan bagi mereka yang memiliki potensi tak biasa sejak lahir atau bahkan sejak masih berada di kandungan. Bukan sembarang potensi yang harus mereka miliki—setidaknya mereka harus mampu menghindari ratusan jarum beracun dalam waktu yang bersamaan. Tentu saja itu adalah hal yang tidak mungkin bagi mereka yang tidak memiliki kemampuan khusus.
Bisa dikatakan kemampuan khusus tersebut memiliki sedikit hubungan dengan kekuatan supranatural, tapi mereka juga bukan seorang penyihir. Mereka bertarung dengan kecepatan dan kelincahan dengan bantuan senjata, bukan dengan buku mantra dan sebuah tongkat sihir. Mereka menggunakan teknologi sebagai pelacak lokasi, bukan menggunakan bola kristal. Itulah perbedaan mereka dengan penyihir.

Para murid Academy Anbu dibedakan menjadi beberapa peringkat yang dibedakan menjadi 11 peringkat—yang pertama SS, kedua S, ketiga A, keempat  A1, kelima B, keenam B1, ketujuh C, kedelapan C1, kesembilan D, kesepuluh D1. Itu adalah peringkat utama, namun ada satu peringkat dimana peringkat  tersebut memiliki tingkat tertinggi diatas 10 peringkat tersebut, hanya lima orang yang bisa mendapatkan tingkat itu—V1S.

Namun banyak dari para murid tidak pernah mengetahui tentang peringkat V1S, karena saat ini hanya ada satu orang yang mendapatkan tingkat itu. Dia adalah seorang gadis cantik berambut soft pink panjang.
Queen of Nightmare, itulah nama julukan yang diberikan oleh kepala sekolah padanya. Setiap murid mendapatkan julukan mereka masing-masing bedasarkan hasil analisa kekuatan, cara bertarung, dan cara mereka membunuh. Gadis itu diberi julukan Queen Nightmare, karena dia selalu memberikan mimpi buruk bagi mereka menjadi target misinya.

Pernah suatu ketika ia mendapat misi merebut wilayah selatan dari kota Tokyo, dari para mafia. Biasanya dia hanya melempar jarum beracun kearah lawannya untuk mengalahkan mereka. Namun tidak pada saat itu, di depan kedua matanya sendiri ia melihat seorang leader dari salah satu mafia di Oto dengan keji membunuh target yang harusnya ia selamatkan karena merupakan salah satu murid di Academy Anbu di Kyoto yang memegang peringkat SS.

Dan sesaat setelahnya. Gadis itu langsung mencincang leader mafia tersebut menjadi beberapa bagian, dengan berani ia membawa mayat pemuda yang harusnya ia selamatnya dengan potongan sebuah kepala milik leader mafia tersebut.
.
.
.
Sosok gadis berambut soft pink tengah melangkahkan kakinya melalui sepanjang koridor yang dipenuhi oleh sekelompok gadis dan pria yang tengah bercengkrama. Namun ada beberapa yang memandangnya remeh dirinya seraya berbisik-bisik tentang rumor yang beredar akan dirinya.

Gadis itu menghentikan langkahnya tepat di belakang sosok pemuda berpakaian hitam dengan jas lab miliknya. Tangannya terulur menepuk bahu pemuda itu agar si empunya berbalik menatap kearahnya.“Ah, Sakura-chan. Ada perlu ap—“

“Kabuto-senpai. Aishiteru.”

CUP

Gadis itu berkata lantang disertai dengan kecupan yang merenggut ciuman pertamanya. Sosok gadis berambut dark pink menatapnya dengan wajah memerah menahan amarah, ia pun berjalan menuju gadis itu dan menampar keras pipi kanan gadis yang bernama Sakura itu.

PLAK

Suara tamparan keras terdengar di lorong, mereka yang melihat itu terdiam tanpa ada satupun yang berani bergerak selangkahpun. Mereka juga tak habis pikir dengan tingkah Haruno Sakura yang dengan berani menyatakan perasaannya dengan Yakushi Kabuto, yang sudah memiliki kekasih yaitu Tayuya.

Dalam hati mereka berkata jika Haruno Sakura adalah gadis yang tak tau malu. Mengapa? Karena rumor mengatakan jika Haruno Sakura hampir dikeluarkan dari Academy Anbu karena peringkatnya yang rendah diantara para murid D1. Dan sekarang gadis itu makin memperburuk imagenya sendiri dengan berusaha merebut pasangan orang lain, bukankah itu hal gila?

Namun di sisi lain—kenyataan berkata bahwa, Haruno Sakura tidak berada di peringkat D1. Dia malah memiliki peringkat yang lebih tinggi dibanding para murid lain, hanya dalam beberapa menit dia bisa mengalahkan Tayuya atau bahkan seseorang yang berada di peringkat SS. Namun ia tidak mau pamer akan kehebatannya, karena jika kehebatan terlihat oleh seseorang, maka kelemahan pun juga akan terlihat.
Bitch!! Aku memang sudah dari awal menduga, kau memang gadis tidak tau malu. Haruno Sakura seorang gadis yang berada di peringkat D1, merebut kekasih orang lain—kurasa kau lebih pantas disebut bitch-chan.” Ucap Tayuya dengan nada saskartik seraya menatap Sakura dengan pandangan sinis.

Untuk beberapa saat, Sakura tak menjawab. Ia hanya membalas tatapan Tayuya dengan dingin dan menusuk, memberikan isyarat agar gadis itu tidak membuka pertarungan dengannya di illusion room.

“Aku hanya mengatakan hal jujur dan aku tidak memiliki urusan denganmu Hagane Tayuya-san.” Sakura mengelak ucapan Tayuya yang menebutnya bitch-chan. Dan itu cukup menyakiti harga dirinya—menurut Sakura.

“Kau pikir kau pantas dengannya? Dia kekasihku dan semua yang berhubungan dengannya sama dengan berurusan denganku. Kurasa aku akan sedikit membantumu untuk keluar dari sekolah ini dan memberi hadiah atas keberanianmuFIGHT OPEN!!

 “Accept—open.”
.
.
.
Mereka berdua kini berada di dalam illusion room, sebuah ruangan yang menyerupai tempat mereka berada. Sistem ruangan ini memang khusus untuk para murid agar mereka tak mengadakan pertarungan yang bisa membahayakan murid lain atau menghancurkan gedung serta fasilitas sekolah.

Sakura membuka kedua kelopak matanya perlahan, sesaat setelah memasuki illusion room. Beberapa meter di depannya berdiri sosok gadis yang menjadi lawannya, Tayuya yang dikenal pengguna senjata langka. Bagaimana tidak disebut langka jika yang gadis itu gunakan adalah sebuah seruling berwarna hitam. Karena itulah gadis itu diberi julukan black music.

“Ada apa Haruno? Kau takut, eh? Kau tak perlu khawatir karena sebentar lagi—aku akan mengakhiri ketakutanmu itu, jalang.” Ucap Karin, sedetik kemudian langsung memainkan seruling miliknya.

Sebuah gelombang mengarah kearah Sakura. Gadis itu dengan sigap menghindar dengan cepat layaknya seorang pengguna teleport. Tiba-tiba saja gadis itu sudah berada di belakang Tayuya hanya dengan dua kedipan mata berturut-turut.

Gadis penyandang gelar black music itu tersentak kaget ketika merasakan sebuah pukulan keras di tengkuknya. Ia pun terjatuh ke lantai dengan keadaan setengah sadar. Kedua kelopak matanya terbuka setengah, samar-samar ia masih bisa melihat Haruno Sakura yang berjalan kearahnya dengan sebuah pedang hitam di tangan kanannya.

Anata wa—da-dare?” Ucap Tayuya yang perlahan mulai kehilangan kesadarannya. Diambang batas keasadarannya, walau samar ia mendengar jawaban mengejutkan dari lawannya.

“Haruno Sakura—Queen of Nightmarerank V1S, desu.”
.
.
.
“Hei, kau dengar soal kejadian tadi pagi??” Ucap salah seorang murid pada temannya dengan nada ngeri.

“Tentang Haruno Sakura yang mencium Kabuto-senpai setelah menyatakan perasaannya??”

Hontou?”

Hontou da yo.”

Sakura melangkahkan kakinya melewati koridor yang dipenuhi oleh para siswi yang tengah berbincang-bincang. Mayoritas, mereka membicarakan tentangnya yang menyatakan cinta dengan kekasih orang, belum lagi ia harus siap mental bahwa sebentar lagi semua siswi akan tau jika dia adalah seseorang yang memiliki peringkat tertinggi V1S.

Namun Sakura tidak mempermasalahkan hal tersebut, toh ia tidak pernah berencana untuk menyembunyikan jati dirinya. Jika memang terbongkar, biarlah terbongkar—untuk apa ia menutupinya, itu malah akan semakin membuatnya terlihat lemah. Jika nantinya Tayuya—gadis yang beberapa menit lalu dikalahkan olehnya, tidak terima akan kekalahannya. Ia akan dengan suka rela mengembalikan seluruh point milik Tayuya—lagipula ia tidak membutuhkan point yang tak seberapa itu.

“Berhenti!! Pengecut!!” Suara lantang seorang gadis terdengar jelas di indra pendengaran Sakura, walau suasana di koridor tidak bisa dikatakan sepi itu.

Sakura yang merasa panggilan itu tertuju pada dirinya, ia pun sedikit menoleh seraya menatap sosok gadis berambut dark pink melalui ekor matanya. Ia sudah menduga jika Tayuya akan menuntutnya akan pertarungan yang sungguh tak adil tadi. Bukan karena Sakura berlaku curang, melainkan karena perbedaan level dan point yang cukup jauh.

“Kau berbicara denganku—Hagane Tayuya-san?” Ucap Sakura seraya membalikkan tubuhnya agar berhadapan dengan orang yang memanggilnya.

Gadis itu tak menjawab, ia berjalan dengan cepat kearah Sakura. Lalu sedetik kemudian terdengar suara tamparan keras yang membuat semuanya memandang mereka.  “Kau—sialan!! Kau mengambil semua pointku!! Dan—ternyata rumor itu salah!! Kukira kau—SIALAN!! KAU SENGAJA?!!”

“…”

Souka, kau sengaja tidak mengatakan apapun tentang peringkatmu, kau sengaja diam padahal jelas-jelas kau mendengar rumor buruk tentang dirimu sendiri. Itu semua kau lakukan agar kau bisa mendapatkan point kami yang berada di bawahmu.”

“…”

“Aku ucapkan selamat padamu nona!! Kau berhasil!! Hahahaha—dengarkan aku Haruno Sakura yang pengecut!! Buka lebar kedua telingamu yang kuharap masih berfungsi baik!! Aku Tayuya, tidak akan pernah menyerahkan Yakushi Kabuto—kekasihku, kepadamu!! Tidak akan!! Sekalipun kau berada diperingkat V1S!!”

Sakura masih terdiam hingga Tayuya selesai dengan ucapannya. Ia tak berniat menjawab pertanyaan gadis berambut dark pink tersebut. Tanpa memperdulikan tatapan mengancam Tayuya—Sakura berjalan melewati gadis itu. Namun saat posisi mereka sejajar, Sakura memberhentikan langkahnya lalu berbisik pelan.

“Aku tidak pernah menipu siapapun. Mempublishkan kehebatan diri sendiri sama dengan kau susah payah memasang perangkap untuk lawanmu dan pada akhirnya kau lah yang terkena perangkapmu sendiri.”

“…”

Sakura kembali berjalan beberapa meter, lalu menolehkan pandangannya kearah Tayuya. “Jika kau memang orang berbakat dan cerdas. Kau tentu bisa mencerna ucapanku—Hagane Tayuya-san.”

BRUK

Tayuya terjatuh bertumpu dengan kedua lututnya. Jadi dia harus berakhir di sini? Meninggalkan semua impiannya untuk menjadi anbu yang terkuat demi melindungi keluarganya serta mencari adiknya yang berada di Hokkaido. Walaupun sedikit kemungkinan adiknya masih hidup, biarlah jika ia hanya menemukan tulang benulang milik adiknya—Mayu.

Sebelah tangannya tampak menggeser udara di depannya yang sebenarnya sebuah layar tembus pandang. Beberapa saat kemudian kedua bola matanya membulat kaget tatkala melihat empat digit angka tercetak di kolom point miliknya. Tak ada perubahan di sana, bahkan tak ada satu pointpun hilang di sana.

Tayuya bisa menarik satu kesimpulan. Haruno Sakura tidak mengembalikan hadiah 
pertandingan yang merupakan seluruh point miliknya. Tayuya lalu menengok ke belakang, menatap tubuh Sakura yang tak lama kemudian menghilang di balik pintu besi yang merupakan penghubung antara koridor lantai satu dengan sebuah ruangan yang tak pernah ia ketahui untuk apa.

Tapi yang jelas, ruangan itu hanya bisa di masuki oleh Haruno Sakura kepala sekolah—karena tak pernah ia lihat satupun guru selain Senju Tsunade, yang pernah memasuki ruangan itu
.
.
.
Sakura melangkahkan kakinya menuju sebuah jendela besar ruangan pribadinya di Academy Anbu. Kaca jendela tersebut dibuat dari bahan khusus sehingga mereka yang berada di luar tidak bisa melihat mereka yang di dalam, sebaliknya mereka yang berada di dalam akan sangat jelas melihat mereka yang berada di luar.

Bosan melihat dari lantai satu. Sakura memutuskan menaiki satu persatu anak tangga di ruangan tersebut untuk bisa sampai ke lantai dua ruangannya. Ruangan pribadinya memang memiliki dua ruangan yakni lantai satu dan dua.

Tak butuh waktu lama, telapak kakinya yang di balut dengan sepatu pantofel dengan model bod berwarna hitam itu menapak lantai dua ruangan pribadinya. Ia cukup puas dengan ruangan pribadinya yang terdiri dari dua lantai ini, ia tidak merasa rugi saat mengambil alih dua buah kota di Jepang yang saat ini berada di dalam pengawasan anbu dan kemiliteran Jepang.

Sakura berdiri menghadap dinding kaca yang mempertontonkan halaman depan sekolahnya. Sepasang mata emeraldnya tampak memicing ketika melihat sebuah tindakan penindasan yang di kerubungi banyak siswa di sana—lima lawan satu, bukankah tak adil? Apalagi jika lima orang yang terbagi dari peringkat A dan B sedangkan satu orang yang mungkin memiliki peringkat lebih rendah.

Kenapa Sakura bisa mengetahui peringkat mereka semua? Terlihat dari lambang tato bunga yang berada di lengan mereka masing-masing. Namun ada beberapa yang memiliki lambang tersebut di bagian yang tertutup kain. Contohnya Sakura yang memiliki lambang mawar emas di balik sarung tangan hitamnya, tepatnya bagian punggung tangan miliknya.

“Lemah—pengecut.” Ucap Sakura dingin seraya menatap gerombolan siswa yang tampak menindas seorang lelaki yang peringkatnya lebih rendah—perkiraan Sakura karena tak bisa melihat lambang mawar, yang mungkin berada di balik baju pemuda itu.

Sakura tidak menujukan ucapannya untuk seorang pemuda yang ditindas itu, namun untuk lima orang penindas di sana. Jika mereka memang kuat, seharusnya mereka akan memilih bertarung di dalam illusion room, bukan dengan menindas orang di kenyataan. Apalagi orang itu berada di peringkat di bawahmu.

“Bukankah kau sama dengan mereka—Sakura, jika kau hilangkan kata ‘lemah’mu itu.” 

Sebuah suara terdengar jelas di sertai dengan suara langkah kaki di ruangan tersebut.
Sakura sangat mengenali sosok yang tiba-tiba saja masuk ke dalam ruangannya, karena tak ada satu orangpun selain dia dan orang itu yang bisa masuk kemari.
Ia pun membalikkan tubuhnya seraya sedikit merendahkan tubuhnya, serta tangan kanannya yang ia letakkan di depan dada yang tidak dalam posisi terkepal. 

Sumimarsen, Tsunade-sama. Saya tidak menyadari kehadiran anda.”

“Bukan masalah bagiku—“

“…”

“Kenapa kau tidak pergi menolongnya jika kau merasa kasihan padanya. Hanya dengan melihat saja kau tak mungkin bisa mengubah apapun.”  Ucap Tsunade seraya berjalan mendekat kearah kaca seraya melihat penindasan tersebut dari kejauhan.

“Itu bukan tanggung jawab saya. Anda hanya menugaskan saya untuk menangkap Yakushi Kabuto-senpai karena penelitiannya beberapa bulan lalu yang mengakibatkan tiga orang siswi peringkat S dan dua orang siswa peringkat SS, tewas.”

Tsunade menghela nafas pelan, ia sudah menduga jika gadis itu tidak akan melakukan tugas yang memang bukan tanggung jawabnya. “Yare yare, itu terserah padamu. Lagipula, pemuda itu memiliki peringkat yang lumayan tinggi.”

Sakura tak menjawab, ia hanya melemparkan pandangan tanya-nya kearah Tsunade.

“Uchiha Sasuke—rank S.”
.
.
.
.
.
To Be Continued
.
.
.
.
Ending Song
Nano – Savior Of Song
.
.
.
.
A/N
Err—apa ini termasuk genre sci-fi? Aku bingung. Ini bisa di kata Tragedy, bisa dibilang 
Romance, bisa dibilang Action, bisa dibilang Fantasy, bisa dibilang crime, bisa juga dibilang Mistery. Astaga TT ini benar apa nggak kalo genrenya Romance Crime. Kupikir karena ini yang paling mendasar TT.

Oke, ini sudah update sesuai permintaan. Saya ingin fokus di fic ini karena takut ancur lagi. Dan jangan terlalu bermimpi ini bakal happy ending :p
Jika berkenan silahkan tinggalkan jejak di kolom review atau bisa langsung PM saya bagi silent readers atau apapun itu.
Salam
.
.
.

Gheralda Citra Prameswari
Posted by Unknown

Only Mine (PART 1)



.
.
.
.
ONLY MINE
.
.
.
Disclaimer © Masashi Kishimoto
Story Written By © Gheralda
Inspirator By Anime No Game No Life
Rate © M for Mature
Genre © Fantasy, Angst
Pairing © Madara X Sakura
.
.
.
Summary
Apa kau percaya dunia ini seperti game? Apa kau percaya jika dunia ini memiliki celah dimana terdapat kehidupan lain di dalamnya? Tanpa kalian sadari selama ini manusia telah menjalani game—jika tidak? Lalu apa guna mereka berebut kuasa? dan tanpa manusia sadari pula, ada kehidupan lain yang mengintai setiap gerak gerik para manusia, penyebab segala malam petaka yang terjadi.
Menceritakan sebuah kehidupan di balik celah dunia, tentang seorang gadis yang merupakan satu-satunya pewaris tahtah hutan barat, setelah kematian seluruh rasnya. Dialah ras rubah putih terakhir. Dan malam petaka selanjutnya menghampirinya—ia harus merelakan hutan barat serta dirinya sendiri untuk pemimpin ras vampire—Uchiha Madara, makhluk yang sudah memusnahkan rasnya.
.
.
.
Warning
OOC, Typo(s), Vampict, Bad Ending, Lemon/Lime, Mengandung Unsur Kekerasan, Multichapter, EYD kurang sempurna, Type AU, Mind RnR?
.
.
.
.
Opening Song
Suzuki Konomi – This Game
.
.
.
.
.
Chapter 1

TRAK

“Haah—hahh—Hhh.”

Suara deru nafas  mengiringi setiap langkah cepat sosok gadis rubah, berlari menembus tebalnya kabut putih yang menutupi area hutan barat. Langit malam yang berawan menyebabkan cahaya bulan tak mampu sampai ke permukaan bumi.

Tangan kanannya tampak mengarah pada sebuah kusanagi berwadah merah yang berada di pinggangnya, dengan perlahan ia menarik ganggang kusanagi tersebut. Mengeluarkan sisi tajam senjatanya dari tempat yang melindunginya.

“I-itu dia di sana—tangkap dia!!!”

Sosok gadis itu mendecih pelan saat menyadari keberadaannya telah ditemukan oleh sekumpulan vampire yang hendak menangkapnya. Langkah kakinya semakin cepat tatkala ia mendengar suara puluhan  langkah kaki yang semakin mendekat. Kepalanya sedikit ia tengokkan ke belakang, memastikan seberapa dekat mereka dari jaraknya.

Sepasang iris mata green emerald itu mengecil seketika, tatkala melihat sekumpulan pasukan vampire yang semakin mendekat kearahnya. Ia lalu kembali memfokuskan pandangannya kearah depan, dia harus ekstra berhati-hati dengan kabut tebal yang ia ciptakan sendiri. Jangan sampai kabut ini justru semakin mempersulitnya.

“TEMBAK!!!”

SET

SET

SET

'Nani!!?'

ZRASHH

Gadis itu menghindari puluhan duri yang mengarah kearahnya dengan lincah, meski beberapa duri tetap mengenainya, namun staminanya sama sekali tak mengalami penurunan. Dengan mempercepat laju larinya, ia kembali menembus kabut putih yang ia buat sendiri, demi mempermudahnya untuk bersembunyi serta menyamarkan aromanya dari penciuman musuhnya—para vampire.

“Akh!!” Rintihnya pelan akibat rasa sakit yang diterimanya, membuat gadis itu sedikit kepayahan, belum lagi darahnya yang mengucur keluar, dan menetes di sepanjang jalan yang ditapakinya.

Hal ini akan membuat jejaknya tercium jelas oleh kaum vampirei. Meski begitu, ia tak menyerah sampai di situ. Akan menjadi hal yang sia-sia bagi kaumnya yang sudah mengorbankan nyawa mereka demi dirinya agar bisa melarikan diri dari hutan wilayah barat.

Namun, ia sadar itu adalah hal mustahil baginya. Jika ia berlari kearah utara maka sama saja dengan dia menyerahkan diri kepada kaum vampire, jika dia berlari kearah timur itu sama saja dengan dia melanggar peraturan yang berlaku, dia memasuki wilayah kaum lain, sama halnya dengan wilayah selatan, apapun itu—dia tak mungkin bisa lari kemanapun.

Jika saja wujudnya sama seperti para manusia, mungkin dia akan lebih memilih untuk bersembunyi di antara kerumunan para manusia. Namun wujudnya sedikit berbeda, dia memiliki telinga rubah dan lima buah ekor panjang. Bisa-bisa justru para manusia akan membunuhnya seketika. Walaupun dia tinggal bukan di wilayah para manusia, namun dia juga mendengar rumor bahwa—manusia sangat membenci makhluk sepertinya, seperti mereka yang bukan manusia.

DEG

Ia bisa merasakan jantungnya mulai berdetak aneh, energinya pun mulai menurun secara perlahan, ini mungkin di sebabkan karena banyak darah yang keluar dari tubuhnya. Ia membutuhkan darah manusia untuk memulihkan tenaganya. Namun, itu adalah hal paling tabu yang bisa ia dapatkan untuk saat ini.

BRUK

Ittai…!!” Suara rintihan pelan ia serukan ketika tubuhnya terjatuh ke tanah akibat menabrak sesuatu yang besar.

Gadis itu mendongakkan kepalanya, menatap mata sosok yang ditabraknya. Seketika itu bola matanya membulat, tubuhnya bergetar ketakutan—tatkala ia menyadari sosok apa yang di tabraknya—Uchiha Madara, pemimpin kaum vampire, makhluk yang memerintahkan pasukannya untuk menghabisi kaum rubah.

“Haruno—Sakura—eh???”

Pandangan mata gadis bernama Sakura itu tampak menajam, sepasang iris hijau emerald itu berubah menjadi sepasang mata berwarna ungu kemerah merahan. Dengan keberaniannya ia mengarahkan ujung kusanagi miliknya kearah sosok vampire di depannya—makhluk yang secara tak langsung sudah menghabisi kaumnya.

“SIALAN KAU—MADARAAA!!!!” Teriaknya seraya berlari dengan sebuah kusanagi di tangan kanannya.

Hanya dengan berbekal keberanian dan latihannya selama ini, ia bertekad untuk membunuh Madara—membalaskan dendam kaumnya yang sudah diluluh lantakkan.
Sakura melompat dengan gesitnya seraya berkali-kali berusaha menusukkan ujung kusanagi itu tepat di jantung vampire pria di depannya ini. Walaupun dalam hati ia sangat yakin, vampire di depannya ini benar-benar akan mendapatkan apa yang dia inginkan, sampai-sampai memusnahkan kaumnya. Namun, bolehkah ia berharap jika keajaiban tengah berpihak padanya?

Para manusia selalu berucap tentang ‘keajaiban’ dan ‘harapan’. Jika memang keajaiban dan harapan itu ada, maka dia berharap akan ada keajaiban dari Tuhan yang dikirimkan padanya. Dia sadar, ia tak lebih baik dari seorang manusia bodoh sekalipun, dia hanyalah makhluk kotor yang dibenci para manusia. Tapi entah kenapa satu keyakinan dalam benaknya—Tuhan tidak pernah membencinya. Jika memang Tuhan memebencinya, lalu—kenapa dia dan kaumnya diciptakan?

Yare yare. Kau memang gadis rubah yang menarik—“

Damare!!” Sakura kembali mengayunkan kusanaginya seraya meningkatkan kewaspadaannya akan jebakan yang mungkin saja dipasang oleh vampire di depannya untuknya.

“—hanya kau satu-satunya makhluk yang tak takut padaku, pada kami kaum vampire. Menarik.” Ucap pria bernama Madara itu seraya tetap menghindari serangan yang mengarah padanya, tanpa berniat untuk membalasnya.

Sakura menggeram marah mendengar ucapan vampire di depannya, “cih! Kau bahkan bukan Tuhan…!!!  Kau hanyalah salah satu makhluk terlemah-Nya—“

“…”

“—kau tak lebih dari makhluk rendah dimataku…!!!”

KRAK

BLARR

Dengan gesit Madara menghindari serangan kuat yang dilontarkan Sakura padanya. Serangan itu akhirnya menabrak tanah yang dipijaknya beberapa detik lalu, yang kini telah hancur dan menciptakan lubang yang cukup besar di sana.

Sakura menggeram penuh amarah seraya mendecih pelan, ia lalu mengarahkan pandangannya kearah vampire yang tengah berdiri di dahan pohon yang tak jauh di depannya. Dengan sisa kekuatannya, ia berusaha bangkit dari posisinya. Sebelah tangannya yang tidak memegang senjata kini mengarah pada kepalanya.

Kepalanya terasa sakit dan berangsur pada penglihatannya yang mulai mengabur, hingga sepasang kakinya tak mampu lagi untuk menompang berat tubuhnya. Sakura terjatuh bertumpu dengan sepasang lututnya. Dan kesadarannya mulai hilang perlahan.

‘Gomennasai.’
.
.
.
Di sebuah ruangan ber-design Eropa, dengan pencahayaan remang-remang. Tampak sebuah tempat tidur dengan gaya ala Inggris dimana sosok gadis rubah dengan rambut soft pink panjangnya tengah terbaring lemah di atasnya.

KRIET

Pintu kamar itu terbuka perlahan, menimbulkan suara yang memecahkan keheningan di kamar tersebut. Sosok vampire berjubah hitam itu melangkahkan kakinya mendekati tempat tidur, dimana sosok gadis yang diinginkannya terbaring tak sadarkan diri di sana.

Sebuah seringai menyeramkan terlukis di wajah tampannya, ia pun menanggalkan jubahnya dan membuangnya ke lantai. Ia lalu melepaskan tiga buah kancing teratas kemeja putihnya. Rambut hitamnya tampak sedikit acak-acakkan. Namun hal itu tak cukup untuk memudarkan sedikit ketampanannya, justru semakin menambah kesan seksi pada dirinya.

Pria yang merupakan pemimpin kaum vampire itu segera naik ke atas tempat tidurnya yang nantinya juga akan menjadi tempat tidur milik gadis yang terbaring di sana. Tubuh kekarnya kini sudah berada di atas tubuh gadis itu. Dengan menggunakan tangan kanannya, dia menarik pelan kain yang mengikat yukata lusuh yang dipakai gadis itu.
Ketika kain itu terlepas, tampak tubuh polos yang bersinar diterpa cahaya rembulan yang berwarna keemasan. 

Pria itu semakin menyeringai tatkala melihat tubuh gadis yang diinginkannya. Aku tak menyangka jika dia bisa secantik ini—eh? Batinnya terkagum saat melihat kecantikkan murni milik gadis rubah di bawahnya.

Telapak tangan kanannya tampak mengarah pada wajah cantik milik gadis di bawahnya. Dibelainya lembut wajah berkulit putih itu, tangan itu menyusuri setiap jengkal kulit wajah gadis itu. Lalu turun menuju leher jenjang miliknya—
Dan tangan itu berhenti tepat di atas salah satu bongkahan dada milik gadis itu, diremasnya dengan sedikit keras—membuat gadis di bawahnya mengerang pelan dalam ketidak sadarannya.

Mendengar erangan pelan yang dikeluarkan gadis di bawahnya, membuat pria itu semakin memperlebar seringainya. Ia semakin melanjutkan aksinya—jari telunjuk pria itu tampak menggoda puncak bongkahan dada yang tadi diremasnya itu, mengakibatkan puncak kemerahan itu mengeras pertanda gadis itu mulai terangsang walau dalam ketidak sadarannya.

Pria itu masih mempertahankan seringaiannya, ia lalu mendekatkan wajahnya kearah telinga kanan gadis itu seraya berucap pelan, “kau ternyata gadis nakal eh? kau bisa terangsang walau kau sedang tertidur.”

“Akh!!”

Gadis itu memekik pelan ketika pria di atasnya menarik keras putingnya. Pria itu sedikit memasang raut heran, niatnya ingin membangunkan gadis itu dengan menarik salah satu puting payudara milik gadis itu. Namun kelopak mata itu masih menutup, hanya suara pekikkan yang dia dapatkan.

Tanpa ia sengaja telapak tangan kirinya menyentuh—menekan salah satu ekor milik gadis itu. Dan seketika itupula gadis itu membuka sepasang kelopak matanya, lalu menendang pria di atasnya dengan sebelah kakinya. Dengan menggunakan dua tangannya, ia menutupi dua buah dadanya dari mata pria yang mulai bangkit dari posisi terjatuhnya itu.

“Ma-Ma-Madara!!” Sepasang bola mata gadis itu terbelalak tatkala melihat siapa makhluk yang berusaha menodainya.

Pria itu tampak memegang kepalanya dengan sebelah tangan miliknya, ia lalu berjalan kearah tempat tidur dimana gadis itu berada dengan sebuah seringai yang terukir di wajah tampannya. “Yare yare, kau akhirnya terbangun juga—padahal dari tadi aku sudah bermain dengan tubuhmu.”

Sakura semakin membulatkan sepasang manik hijaunya ketika mendengar perkataan Madara. Pandangannya lalu mengitari ke sekitarnya, mencari sebuah kusanagi miliknya, namun ia tak mendapatkan apapun di sana. Tanpa ia sadari, ia sudah menurunkan tingkat kewaspadaannya pada Madara.

“Akh!!” Gadis itu merintih sakit ketika merasakan dua buah tangan mencengkram erat sepasang lengannya, berusaha menjauhkan sepasang tangan miliknya yang menutupi dua buah dadanya.

“Kau lumayan kuat untuk ukuran seorang wanita—mari kita liat, seberapa kuatnya dirimu di atas ranjang.”

Dengan sekali hentakkan, Madara berhasil melumpuhkan pertahanan tangan gadis di bawahnya. Ia lalu membawa tangan gadis itu pada sebuah rantai yang sengaja ia pasang di kepala ranjang, ia lalu mengikat sepasang tangan itu di kepala ranjang.

Sakura—nama gadis itu—dia masih meronta-ronta di bawah kukungan tubuh kekar pria vampire di atasnya. Iris berwarna hijau emerald itu kini berubah warna menjadi ungu kemerahan, sepasang mata miliknya menatap tajam sosok pria di atasnya sesekali disertai dengan geraman rendah dari mulutnya.

“KYAAAA!!!”

Detik selanjutnya, suara jeritan Sakura keluarkan tatkala merasakan remasan kuat pada kedua dadanya. Pria itu tak tanggung-tanggung menggunakan kekuatan tangannya untuk meremas kedua dada gadis di bawahnya, sesekali ia menarik-narik kedua puting keras milik gadis itu.

“Hen-hentikan—itu—menyakit-kan!! AKHHH!!!”

Mendengar suara gadis itu yang merintih sakit membuat Madara semakin memperkuat remasannya, hingga menimbulkan bekas kemerahan di dada gadis itu. Ia lalu mendekatkan wajahnya kearah salah satu dada milik Sakura. 

Awalnya hanya sebuah jilatan yang ia tujukan pada puting kemerahan Sakura, namun beberapa detik kemudian—Madara memasukkan salah satu puting Sakura ke dalam mulutnya, menghisapnya keras sehingga membuat gadis itu semakin menjerit kesakitan dan berusaha untuk lepas darinya.

“Kau ingin lepas eh? Jangan berharap banyak—Sakura.”

“Lepas—HMMMPPHH.”

Tindakan Madara semakin menjadi-jadi, dengan paksa ia mencium kasar bibir manis Sakura, sesekali ia menggigitnya dengan gemas hingga mengeluarkan darah yang langsung ditelannya. Kedua tangannya tetap pada tugasnya, meremas kedua buah dada Sakura dengan kasar.

“HMMPPHHH!! AKH!!! TO-TOLONG!! SIAPAPUN TOLONG AKU—“

PLAK

Sakura terdiam seketika tatkala ia merasakan panas menjalar di pipi kanannya, air matanya mulai menggenang di pelupuk matanya. Masih dengan sepasang mata ungu kemerahan miliknya ia menatap penuh amarah kearah Madara yang berwajah datar di atasnya.

Batinnya berteriak frustasi, ia masih tak mengerti mengapa pria vampire itu sampai membantai habis kaumnya. Apa salah mereka? Apa salahnya?! Jika ini karena dia menolak permintaan pria itu yang hendak menikahinya, bukankah itu adalah haknya. Ia berhak menolak dan menerima lamaran yang ditujukan padanya.

Air matanya keluar semakin deras dari pelupuk matanya ketika tangan pria itu mulai menyentuh daerah pribadinya. Dengan sekuat tenaga ia berusaha merapatkan pahanya, namun ia kalah kuat dengan pria itu.

“Ku-kumohon Madara—jangan!!! KYAAAA!!!!”

“Maksudmu, jangan berhenti eh? Kau memang rubah nakal!!”

“Akh!! I-ittai—sa-sakit!!”

Tanpa memperdulikan rintihan Sakura yang menjerit kesakitan, Madara memasukkan dua buah jarinnya ke dalam lorong sempit milik gadis itu. Tanpa jeda waktu, ia menggerak-gerakkan kedua jarinya di dalam lorong sempit milik Sakura, bahkan dia mengabaikan jerit kesakitan yang dikeluarkan gadis di bawahnya.

“Akh!! Berhenti—kumohon, berhenti!!! KYAAAA!!!”
Mendengar suara rintihan Sakura membuat gerakan jarinya di dalam lubang gadis itu semakin menjadi-jadi—kasar dan tak beraturan. Bahkan pria itu tak membiarkan dua buah dada Sakura terabaikan begitu saja, dia menggunakan tangan kirinya untuk meremas penuh salah satu bongkahan dada gadis itu, sesekali ia menarik puting kemerahan Sakura dengan kuat.

Sementara kedua tangan miliknya memuaskan dada kanan dan lorong kewanitaan gadis di bawahnya. Mulutnya tak tinggal diam, dengan lidahnya Madara mulai menggoda puting dada kiri milik Sakura, membasahi puting dan area sekitarnya dengan air liurnya.

“Ku-kumohon berhen—KYAAAA!!!” Kalimat yang diucapkan Sakura terputus dan terganti dengan suara jeritan ketika Madara memasukkan dan menghisap kuat puting dada kiri Sakura dengan mulutnya.


Sakura membelalakkan kedua bola matanya, ia merasakan sesuatu dalam dirinya memaksa keluar. Ia pun memejamkan kedua kelopak matanya ketika sesuatu itu keluar melalui lorong kewanitaan miliknya.

Sedetik setelahnya ia menghela nafas lega, ia membuka kedua bola matanya seraya masih berusaha lepas dari kukungan tubuh kekar di atasnya. “Hmm? Kau ternyata kuat juga.”

“Lepas!! Le-lepaskan a—“

Madara segera melepaskan keseluruhan kain yang melekat di tubuhnya. Sakura yang melihat tubuh telanjang pria di depannya, tanpa sadar ia sebuah guratan rona merah menghiasi wajahnya.  Pria itu tampak mengarahkan batang kemaluannya kearah lorong sempit Sakura, seraya berusaha memasukkannya perlahan karena begitu sesak.

“To-tolong, ja-jangan—jangan masukkan—KYAAAAA!!!”

Gadis itu menjerit kencang ketika Madara memaksakan kejantanannya untuk menerobos masuk ke dalam lorong sempit miliknya. Kedua tangannya mencengkram erat rantai yang mengikat pergelangan tangannya seraya menggigit bibir bawahnya hingga mengeluarkan darah.

“KYAAAAA!!!!!! SA-SAKIT!!!”

Dengan seluruh kekuatannya, Madara mendorong masuk bendanya hingga masuk seluruhnya ke dalam lorong peranakkan milik gadis itu. Tanpa memberi jeda waktu sejenak, ia menggerakkan tubuhnya—mengoyak habis lorong gadis itu, hingga membuat Sakura menjerit sejadi-jadinya.

“To-tolong!!! Berhenti!! Berhenti!! KYAAA!! AKHH!!”

Madara semakin bergerak dengan cepat dan kasar ketika mendengar kalimat penolakan secara tak langsung dari gadis di bawahnya. Ia lalu merendahkan tubuhnya untuk menikmati rasa manis bercampur asin di bibir gadis itu. Tanpa Sakura sadari, Madara mencium bibirnya dengan penuh kelembutan. Gadis yang kini telah berganti menjadi wanita itu mungkin sudah terlalu terbuai dengan rasa sakit di kewanitaannya, hingga ia tak bisa membedakan rasa sakit dan nikmat.

Ia semakin memperdalam ciumannya tanpa menghentikan gerakannya di bawah sana. Madara sadar, Sakura sudah kembali tak sadarkan diri—dan karena itu gerakannya mulai melembut, berusaha untuk tak membuat wanita itu terbangung.

Cukup lama ia dalam kegiatannya, Madara merasakan sesuatu yang akan keluar dari dalam dirinya. Ia pun kembali mempercepat gerakannya seraya tetap mempertahankan ciumannya pada bibir wanita di bawahnya. Dan tak butuh waktu lama—ia mengeluarkan benihnya, memenuhi rahim Sakura.

Madara menjatuhkan tubuhnya ke samping kanan Sakura, ia tak berniat untuk mengeluarkan batang kemaluannya dari kewanitaan Sakura. Kedua tangan kekarnya merengkuh tubuh wanita yang tak sadarkan diri itu, merapatkan punggung wanita itu dengan dada berototnya. Ia lalu mengarahkan hidungnya kearah tengkuk Sakura, menyesap aroma musim semi yang menguar dari rambut merah muda wanita itu.
Ia pun berbisik pelan di telinga rubah milik wanita di dekapannya, “oyasumi—Sakura.”
.
.
.
.
To Be Continued
.
.
.
.
Ending Song
EGOIST – Euterpe
.
.
.
.
.
A/N
KYAAAA!!! Ini memalukannn!!! #gelindinganDikasur. Apa ini??!!! Ancur berat adegan lemonnya. Gomen :3 aku gak bisa bikin adegan lemon yang terlalu hot, aku gak terlalu berpengalaman dalam hal yang begini, #ojigi. Aku berharap fic ini cukup hot dimata kalian -_- terutama yang request fic ini, kakek Sena -_- aku harap fic ini hot dimatamu kakek -_- #dibakar.

Dan untuk sedikit informasi :3 fic ini hanya kupublish di sini. Jadi gak ada copy’annya di doc mananger akun FFnku :3 jadi berbahagialah kalian yang menemukan fic ini di sini :3. Alasannya gak kupublish di FFn? -_- ntar aku dibakar sama readers yang nunggu fic2ku update karena banyak banget yang belum complete. Teheee~ XP

Oke, saya ucapkan selamat berbuka puasa bagi kalian yang menjalankan :D Dan sedikit penjelasan untuk kalian -_- saya asli cewek jangan anggap saya cowok hanya karena saya bikin cerita hentai begini. #ngacir
.
.
.

Gheralda Citra Prameswari
Posted by Unknown

Popular Post

Labels

Ask Me!

Designed by www.senachan.webs.com. Diberdayakan oleh Blogger.

- Copyright © 2014 Jepang Kita! - Designed by Senachan -