- Back to Home »
- Fanfiction »
- CHOICE (PART 1)
Posted by : Unknown
.
.
.
CHOICE
.
.
.
.
.
Disclaimer
© Masashi Kishimoto
Story
Written By Gheralda
Rate
M for Blood
Genre
© Romance, Mistery, Crime.
Pairing
© Sasuke X Sakura
.
.
.
.
Summary
Hidup
di sebuah negara yang penuh dengan kelicikan sama sekali bukan kehendaknya. Bekerja
di bawah kekuasaan pemerintah yang keji juga bukan kehendaknya. Hidup tanpa
ingatan juga bukan kehendaknya/”Yang ku tau, aku hanyalah boneka dengan rantai
di leherku…”/”Jika kau mengerti arti hidup, maka kau akan mengerti hidup adalah
pilihan—Sakura.”
.
.
.
Warning
Typos,
OOC, Blood Expilist, Kissing Scane, Bad Sakura, Sad Ending, AU type, Action
Story, DLDR, Mind RnR?
.
.
.
.
Opening
Song
EGOIST
– Namae no Nai Kaibitsu
.
.
.
Dibalik
jeruji hitam
Aku
dilahirkan
.
.
In
ga no daishou harai
Tomo
ni yokou
Namae
no nai—Kaibitsu
.
.
.
.
Chapter
1
Tokyo,
merupakan salah satu kota besar di Jepang, sekaligus sebagai ibukota negara.
Hanya tempat itulah yang merupakan kota teraman di Jepang setelah Kyoto dan Okinawa yang berhasil direbut. Jika kalian bertanya mengapa hanya
Tokyo sebagai kota teraman? Jawabannya, karena Jepang tengah melakukan perang
terhadap negara sendiri. Bukan maksud menghancurkan negara sendiri—namun,
menghancurkan sekumpulan pemberontak, sebutlah mereka mafia.
Para penduduk yang berada di luar ketiga kota tersebut,
pastilah menjadi budak para mafia. Jika kau seorang wanita, bersiaplah untuk
melayani nafsu puluhan pria setiap malamnya. Dan jika kau laki-laki, bersiaplah
untuk menjadi anggota terbawah mafia tersebut—sebutlah mereka sebagai budak
yang akan menjadi umpan para anjing
pelacak.
Mereka, para penduduk di luar sana tidak akan pernah
bisa lepas dalam keadaan hidup-hidup—kecuali jika seseorang menyelamatkan
mereka dari tangan penjahat. Namun apa yang bisa mereka harapkan? Jutaan orang
Jepang di berbagai kota bernasib sama seperti mereka. Sungguh hal mustahil jika
hanya mengandalkan kekuatan para tentara Jepang atau mereka yang menjadi
lulusan terbaik sebuah sekolah akademi pertahanan Tokyo, Kyoto dan Okinawa.
Academy Anbu, sebuah sekolah yang di
dirikan di Tokyo dan baru-baru ini di dirikan juga di Kyoto dan Okinawa.
Sekolah tersebut diperuntukkan bagi mereka yang memiliki potensi tak biasa
sejak lahir atau bahkan sejak masih berada di kandungan. Bukan sembarang
potensi yang harus mereka miliki—setidaknya mereka harus mampu menghindari
ratusan jarum beracun dalam waktu yang bersamaan. Tentu saja itu adalah hal
yang tidak mungkin bagi mereka yang tidak memiliki kemampuan khusus.
Bisa dikatakan kemampuan khusus tersebut memiliki
sedikit hubungan dengan kekuatan supranatural, tapi mereka juga bukan seorang
penyihir. Mereka bertarung dengan kecepatan dan kelincahan dengan bantuan
senjata, bukan dengan buku mantra dan sebuah tongkat sihir. Mereka menggunakan
teknologi sebagai pelacak lokasi, bukan menggunakan bola kristal. Itulah
perbedaan mereka dengan penyihir.
Para murid Academy
Anbu dibedakan menjadi beberapa peringkat yang dibedakan menjadi 11
peringkat—yang pertama SS, kedua S, ketiga A, keempat A1, kelima B, keenam B1, ketujuh C, kedelapan
C1, kesembilan D, kesepuluh D1. Itu adalah peringkat utama, namun ada satu
peringkat dimana peringkat tersebut
memiliki tingkat tertinggi diatas 10 peringkat tersebut, hanya lima orang yang
bisa mendapatkan tingkat itu—V1S.
Namun banyak dari para murid tidak pernah mengetahui
tentang peringkat V1S, karena saat ini hanya ada satu orang yang mendapatkan
tingkat itu. Dia adalah seorang gadis cantik berambut soft pink panjang.
Queen
of Nightmare, itulah nama julukan yang diberikan oleh
kepala sekolah padanya. Setiap murid mendapatkan julukan mereka masing-masing
bedasarkan hasil analisa kekuatan, cara bertarung, dan cara mereka membunuh.
Gadis itu diberi julukan Queen Nightmare,
karena dia selalu memberikan mimpi buruk bagi mereka menjadi target misinya.
Pernah suatu ketika ia mendapat misi merebut wilayah
selatan dari kota Tokyo, dari para mafia. Biasanya dia hanya melempar jarum
beracun kearah lawannya untuk mengalahkan mereka. Namun tidak pada saat itu, di
depan kedua matanya sendiri ia melihat seorang leader dari salah satu mafia di Oto
dengan keji membunuh target yang harusnya ia selamatkan karena merupakan salah
satu murid di Academy Anbu di Kyoto yang memegang peringkat SS.
Dan sesaat setelahnya. Gadis itu langsung mencincang leader mafia tersebut menjadi beberapa
bagian, dengan berani ia membawa mayat pemuda yang harusnya ia selamatnya
dengan potongan sebuah kepala milik leader
mafia tersebut.
.
.
.
Sosok gadis berambut soft pink tengah melangkahkan kakinya melalui sepanjang koridor
yang dipenuhi oleh sekelompok gadis dan pria yang tengah bercengkrama. Namun
ada beberapa yang memandangnya remeh dirinya seraya berbisik-bisik tentang
rumor yang beredar akan dirinya.
Gadis itu menghentikan langkahnya tepat di belakang
sosok pemuda berpakaian hitam dengan jas lab miliknya. Tangannya terulur
menepuk bahu pemuda itu agar si empunya berbalik menatap kearahnya.“Ah, Sakura-chan.
Ada perlu ap—“
“Kabuto-senpai.
Aishiteru.”
CUP
Gadis itu berkata lantang disertai dengan kecupan yang
merenggut ciuman pertamanya. Sosok gadis berambut dark pink menatapnya dengan wajah memerah menahan amarah, ia pun
berjalan menuju gadis itu dan menampar keras pipi kanan gadis yang bernama
Sakura itu.
PLAK
Suara tamparan keras terdengar di lorong, mereka yang
melihat itu terdiam tanpa ada satupun yang berani bergerak selangkahpun. Mereka
juga tak habis pikir dengan tingkah Haruno Sakura yang dengan berani menyatakan
perasaannya dengan Yakushi Kabuto, yang sudah memiliki kekasih yaitu Tayuya.
Dalam hati mereka berkata jika Haruno Sakura adalah
gadis yang tak tau malu. Mengapa? Karena rumor mengatakan jika Haruno Sakura
hampir dikeluarkan dari Academy Anbu karena peringkatnya yang rendah
diantara para murid D1. Dan sekarang gadis itu makin memperburuk imagenya sendiri dengan berusaha merebut
pasangan orang lain, bukankah itu hal gila?
Namun di sisi lain—kenyataan berkata bahwa, Haruno
Sakura tidak berada di peringkat D1. Dia malah memiliki peringkat yang lebih tinggi
dibanding para murid lain, hanya dalam beberapa menit dia bisa mengalahkan
Tayuya atau bahkan seseorang yang berada di peringkat SS. Namun ia tidak mau
pamer akan kehebatannya, karena jika kehebatan terlihat oleh seseorang, maka
kelemahan pun juga akan terlihat.
“Bitch!! Aku
memang sudah dari awal menduga, kau memang gadis tidak tau malu. Haruno Sakura
seorang gadis yang berada di peringkat D1, merebut kekasih orang lain—kurasa
kau lebih pantas disebut bitch-chan.”
Ucap Tayuya dengan nada saskartik seraya menatap Sakura dengan pandangan sinis.
Untuk beberapa saat, Sakura tak menjawab. Ia hanya
membalas tatapan Tayuya dengan dingin dan menusuk, memberikan isyarat agar
gadis itu tidak membuka pertarungan dengannya di illusion room.
“Aku hanya mengatakan hal jujur dan aku tidak memiliki
urusan denganmu Hagane Tayuya-san.”
Sakura mengelak ucapan Tayuya yang menebutnya bitch-chan. Dan itu cukup menyakiti harga dirinya—menurut Sakura.
“Kau pikir kau pantas dengannya? Dia kekasihku dan
semua yang berhubungan dengannya sama dengan berurusan denganku. Kurasa aku
akan sedikit membantumu untuk keluar dari sekolah ini dan memberi hadiah atas keberanianmu—FIGHT OPEN!!”
“Accept—open.”
.
.
.
Mereka berdua kini berada di dalam illusion room, sebuah ruangan yang menyerupai tempat mereka berada.
Sistem ruangan ini memang khusus untuk para murid agar mereka tak mengadakan
pertarungan yang bisa membahayakan murid lain atau menghancurkan gedung serta
fasilitas sekolah.
Sakura membuka kedua kelopak matanya perlahan, sesaat
setelah memasuki illusion room.
Beberapa meter di depannya berdiri sosok gadis yang menjadi lawannya, Tayuya
yang dikenal pengguna senjata langka. Bagaimana tidak disebut langka jika yang
gadis itu gunakan adalah sebuah seruling berwarna hitam. Karena itulah gadis
itu diberi julukan black music.
“Ada apa Haruno? Kau takut, eh? Kau tak perlu khawatir
karena sebentar lagi—aku akan mengakhiri ketakutanmu itu, jalang.” Ucap Karin,
sedetik kemudian langsung memainkan seruling miliknya.
Sebuah gelombang mengarah kearah Sakura. Gadis itu
dengan sigap menghindar dengan cepat layaknya seorang pengguna teleport. Tiba-tiba saja gadis itu sudah
berada di belakang Tayuya hanya dengan dua kedipan mata berturut-turut.
Gadis penyandang gelar black music itu tersentak kaget ketika merasakan sebuah pukulan
keras di tengkuknya. Ia pun terjatuh ke lantai dengan keadaan setengah sadar.
Kedua kelopak matanya terbuka setengah, samar-samar ia masih bisa melihat
Haruno Sakura yang berjalan kearahnya dengan sebuah pedang hitam di tangan
kanannya.
“Anata wa—da-dare?” Ucap Tayuya yang perlahan mulai kehilangan kesadarannya.
Diambang batas keasadarannya, walau samar ia mendengar jawaban mengejutkan dari
lawannya.
“Haruno Sakura—Queen
of Nightmare—rank V1S, desu.”
.
.
.
“Hei, kau dengar soal kejadian tadi pagi??” Ucap salah
seorang murid pada temannya dengan nada ngeri.
“Tentang Haruno Sakura yang mencium Kabuto-senpai setelah menyatakan perasaannya??”
“Hontou?”
“Hontou da yo.”
Sakura melangkahkan kakinya melewati koridor yang dipenuhi
oleh para siswi yang tengah berbincang-bincang. Mayoritas, mereka membicarakan
tentangnya yang menyatakan cinta dengan kekasih orang, belum lagi ia harus siap
mental bahwa sebentar lagi semua siswi akan tau jika dia adalah seseorang yang
memiliki peringkat tertinggi V1S.
Namun Sakura tidak mempermasalahkan hal tersebut, toh
ia tidak pernah berencana untuk menyembunyikan jati dirinya. Jika memang
terbongkar, biarlah terbongkar—untuk apa ia menutupinya, itu malah akan semakin
membuatnya terlihat lemah. Jika nantinya Tayuya—gadis yang beberapa menit lalu
dikalahkan olehnya, tidak terima akan kekalahannya. Ia akan dengan suka rela
mengembalikan seluruh point milik
Tayuya—lagipula ia tidak membutuhkan point
yang tak seberapa itu.
“Berhenti!! Pengecut!!” Suara lantang seorang gadis
terdengar jelas di indra pendengaran Sakura, walau suasana di koridor tidak
bisa dikatakan sepi itu.
Sakura yang merasa panggilan itu tertuju pada dirinya,
ia pun sedikit menoleh seraya menatap sosok gadis berambut dark pink melalui ekor matanya. Ia sudah menduga jika Tayuya akan
menuntutnya akan pertarungan yang sungguh tak adil tadi. Bukan karena Sakura
berlaku curang, melainkan karena perbedaan level
dan point yang cukup jauh.
“Kau berbicara denganku—Hagane Tayuya-san?” Ucap Sakura seraya membalikkan
tubuhnya agar berhadapan dengan orang yang memanggilnya.
Gadis itu tak menjawab, ia berjalan dengan cepat kearah
Sakura. Lalu sedetik kemudian terdengar suara tamparan keras yang membuat
semuanya memandang mereka. “Kau—sialan!!
Kau mengambil semua pointku!!
Dan—ternyata rumor itu salah!! Kukira kau—SIALAN!! KAU SENGAJA?!!”
“…”
“Souka, kau
sengaja tidak mengatakan apapun tentang peringkatmu, kau sengaja diam padahal
jelas-jelas kau mendengar rumor buruk tentang dirimu sendiri. Itu semua kau
lakukan agar kau bisa mendapatkan point
kami yang berada di bawahmu.”
“…”
“Aku ucapkan selamat padamu nona!! Kau berhasil!!
Hahahaha—dengarkan aku Haruno Sakura yang pengecut!! Buka lebar kedua telingamu
yang kuharap masih berfungsi baik!! Aku Tayuya, tidak akan pernah menyerahkan
Yakushi Kabuto—kekasihku, kepadamu!! Tidak akan!! Sekalipun kau berada
diperingkat V1S!!”
Sakura masih terdiam hingga Tayuya selesai dengan
ucapannya. Ia tak berniat menjawab pertanyaan gadis berambut dark pink tersebut. Tanpa memperdulikan
tatapan mengancam Tayuya—Sakura berjalan melewati gadis itu. Namun saat posisi
mereka sejajar, Sakura memberhentikan langkahnya lalu berbisik pelan.
“Aku tidak pernah menipu siapapun. Mempublishkan
kehebatan diri sendiri sama dengan kau susah payah memasang perangkap untuk
lawanmu dan pada akhirnya kau lah yang terkena perangkapmu sendiri.”
“…”
Sakura kembali berjalan beberapa meter, lalu menolehkan
pandangannya kearah Tayuya. “Jika kau memang orang berbakat dan cerdas. Kau
tentu bisa mencerna ucapanku—Hagane Tayuya-san.”
BRUK
Tayuya terjatuh bertumpu dengan kedua lututnya. Jadi
dia harus berakhir di sini? Meninggalkan semua impiannya untuk menjadi anbu yang terkuat demi melindungi
keluarganya serta mencari adiknya yang berada di Hokkaido. Walaupun sedikit
kemungkinan adiknya masih hidup, biarlah jika ia hanya menemukan tulang
benulang milik adiknya—Mayu.
Sebelah tangannya tampak menggeser udara di depannya
yang sebenarnya sebuah layar tembus pandang. Beberapa saat kemudian kedua bola
matanya membulat kaget tatkala melihat empat digit angka tercetak di kolom point miliknya. Tak ada perubahan di
sana, bahkan tak ada satu pointpun
hilang di sana.
Tayuya bisa menarik satu kesimpulan. Haruno Sakura
tidak mengembalikan hadiah
pertandingan yang merupakan seluruh point miliknya. Tayuya lalu menengok ke
belakang, menatap tubuh Sakura yang tak lama kemudian menghilang di balik pintu
besi yang merupakan penghubung antara koridor lantai satu dengan sebuah ruangan
yang tak pernah ia ketahui untuk apa.
Tapi yang jelas, ruangan itu hanya bisa di masuki oleh
Haruno Sakura kepala sekolah—karena tak pernah ia lihat satupun guru selain
Senju Tsunade, yang pernah memasuki ruangan itu
.
.
.
Sakura melangkahkan kakinya menuju sebuah jendela besar
ruangan pribadinya di Academy Anbu.
Kaca jendela tersebut dibuat dari bahan khusus sehingga mereka yang berada di
luar tidak bisa melihat mereka yang di dalam, sebaliknya mereka yang berada di
dalam akan sangat jelas melihat mereka yang berada di luar.
Bosan melihat dari lantai satu. Sakura memutuskan
menaiki satu persatu anak tangga di ruangan tersebut untuk bisa sampai ke
lantai dua ruangannya. Ruangan pribadinya memang memiliki dua ruangan yakni lantai
satu dan dua.
Tak butuh waktu lama, telapak kakinya yang di balut
dengan sepatu pantofel dengan model bod berwarna hitam itu menapak lantai
dua ruangan pribadinya. Ia cukup puas dengan ruangan pribadinya yang terdiri
dari dua lantai ini, ia tidak merasa rugi saat mengambil alih dua buah kota di
Jepang yang saat ini berada di dalam pengawasan anbu dan kemiliteran Jepang.
Sakura berdiri menghadap dinding kaca yang mempertontonkan
halaman depan sekolahnya. Sepasang mata emeraldnya
tampak memicing ketika melihat sebuah tindakan penindasan yang di kerubungi
banyak siswa di sana—lima lawan satu, bukankah tak adil? Apalagi jika lima
orang yang terbagi dari peringkat A dan B sedangkan satu orang yang mungkin
memiliki peringkat lebih rendah.
Kenapa Sakura bisa mengetahui peringkat mereka semua?
Terlihat dari lambang tato bunga yang berada di lengan mereka masing-masing.
Namun ada beberapa yang memiliki lambang tersebut di bagian yang tertutup kain.
Contohnya Sakura yang memiliki lambang mawar emas di balik sarung tangan
hitamnya, tepatnya bagian punggung tangan miliknya.
“Lemah—pengecut.” Ucap Sakura dingin seraya menatap
gerombolan siswa yang tampak menindas seorang lelaki yang peringkatnya lebih
rendah—perkiraan Sakura karena tak bisa melihat lambang mawar, yang mungkin
berada di balik baju pemuda itu.
Sakura tidak menujukan ucapannya untuk seorang pemuda
yang ditindas itu, namun untuk lima orang penindas di sana. Jika mereka memang
kuat, seharusnya mereka akan memilih bertarung di dalam illusion room, bukan dengan menindas orang di kenyataan. Apalagi
orang itu berada di peringkat di bawahmu.
“Bukankah kau sama dengan mereka—Sakura, jika kau
hilangkan kata ‘lemah’mu itu.”
Sebuah suara terdengar jelas di sertai dengan
suara langkah kaki di ruangan tersebut.
Sakura sangat mengenali sosok yang tiba-tiba saja masuk
ke dalam ruangannya, karena tak ada satu orangpun selain dia dan orang itu yang
bisa masuk kemari.
Ia pun membalikkan tubuhnya seraya sedikit merendahkan
tubuhnya, serta tangan kanannya yang ia letakkan di depan dada yang tidak dalam
posisi terkepal.
“Sumimarsen,
Tsunade-sama. Saya tidak menyadari
kehadiran anda.”
“Bukan masalah bagiku—“
“…”
“Kenapa kau tidak pergi menolongnya jika kau merasa
kasihan padanya. Hanya dengan melihat saja kau tak mungkin bisa mengubah
apapun.” Ucap Tsunade seraya berjalan
mendekat kearah kaca seraya melihat penindasan tersebut dari kejauhan.
“Itu bukan tanggung jawab saya. Anda hanya menugaskan
saya untuk menangkap Yakushi Kabuto-senpai
karena penelitiannya beberapa bulan lalu yang mengakibatkan tiga orang siswi
peringkat S dan dua orang siswa peringkat SS, tewas.”
Tsunade menghela nafas pelan, ia sudah menduga jika
gadis itu tidak akan melakukan tugas yang memang bukan tanggung jawabnya. “Yare yare, itu terserah padamu.
Lagipula, pemuda itu memiliki peringkat yang lumayan tinggi.”
Sakura tak menjawab, ia hanya melemparkan pandangan
tanya-nya kearah Tsunade.
“Uchiha Sasuke—rank
S.”
.
.
.
.
.
To
Be Continued
.
.
.
.
Ending
Song
Nano
– Savior Of Song
.
.
.
.
A/N
Err—apa ini termasuk genre sci-fi? Aku bingung. Ini
bisa di kata Tragedy, bisa dibilang
Romance, bisa dibilang Action, bisa
dibilang Fantasy, bisa dibilang crime, bisa juga dibilang Mistery. Astaga TT
ini benar apa nggak kalo genrenya Romance Crime. Kupikir karena ini yang paling
mendasar TT.
Oke, ini sudah update sesuai permintaan. Saya ingin
fokus di fic ini karena takut ancur lagi. Dan jangan terlalu bermimpi ini bakal
happy ending :p
Jika berkenan silahkan tinggalkan jejak di kolom review
atau bisa langsung PM saya bagi silent readers atau apapun itu.
Salam
.
.
.
Gheralda
Citra Prameswari
