- Back to Home »
- Fanfiction »
- Only Mine (PART 1)
Posted by : Unknown
.
.
.
ONLY
MINE
.
.
.
Disclaimer
© Masashi Kishimoto
Story
Written By © Gheralda
Inspirator
By Anime No Game No Life
Rate
© M for Mature
Genre
© Fantasy, Angst
Pairing
© Madara X Sakura
.
.
.
Summary
Apa kau percaya
dunia ini seperti game? Apa kau percaya
jika dunia ini memiliki celah dimana terdapat kehidupan lain di dalamnya? Tanpa
kalian sadari selama ini manusia telah menjalani game—jika tidak? Lalu apa guna mereka berebut kuasa? dan tanpa
manusia sadari pula, ada kehidupan lain yang mengintai setiap gerak gerik para
manusia, penyebab segala malam petaka yang terjadi.
Menceritakan sebuah
kehidupan di balik celah dunia, tentang seorang gadis yang merupakan
satu-satunya pewaris tahtah hutan barat, setelah kematian seluruh rasnya.
Dialah ras rubah putih terakhir. Dan malam petaka selanjutnya menghampirinya—ia
harus merelakan hutan barat serta dirinya sendiri untuk pemimpin ras vampire—Uchiha Madara, makhluk yang
sudah memusnahkan rasnya.
.
.
.
Warning
OOC,
Typo(s), Vampict, Bad Ending, Lemon/Lime, Mengandung Unsur Kekerasan,
Multichapter, EYD kurang sempurna, Type AU, Mind RnR?
.
.
.
.
Opening
Song
Suzuki
Konomi – This Game
.
.
.
.
.
Chapter
1
TRAK
“Haah—hahh—Hhh.”
Suara
deru nafas mengiringi setiap langkah
cepat sosok gadis rubah, berlari menembus tebalnya kabut putih yang menutupi area hutan barat. Langit malam yang
berawan menyebabkan cahaya bulan tak mampu sampai ke permukaan bumi.
Tangan
kanannya tampak mengarah pada sebuah kusanagi
berwadah merah yang berada di pinggangnya, dengan perlahan ia menarik ganggang kusanagi tersebut. Mengeluarkan sisi
tajam senjatanya dari tempat yang melindunginya.
“I-itu
dia di sana—tangkap dia!!!”
Sosok
gadis itu mendecih pelan saat menyadari keberadaannya telah ditemukan oleh
sekumpulan vampire yang hendak
menangkapnya. Langkah kakinya semakin cepat tatkala ia mendengar suara puluhan langkah kaki yang semakin mendekat. Kepalanya
sedikit ia tengokkan ke belakang, memastikan seberapa dekat mereka dari
jaraknya.
Sepasang
iris mata green emerald itu mengecil
seketika, tatkala melihat sekumpulan pasukan vampire yang semakin mendekat kearahnya. Ia lalu kembali
memfokuskan pandangannya kearah depan, dia harus ekstra berhati-hati dengan
kabut tebal yang ia ciptakan sendiri. Jangan sampai kabut ini justru semakin
mempersulitnya.
“TEMBAK!!!”
SET
SET
SET
'Nani!!?'
ZRASHH
Gadis
itu menghindari puluhan duri yang mengarah kearahnya dengan lincah, meski
beberapa duri tetap mengenainya, namun staminanya sama sekali tak mengalami
penurunan. Dengan mempercepat laju larinya, ia kembali menembus kabut putih
yang ia buat sendiri, demi mempermudahnya untuk bersembunyi serta menyamarkan
aromanya dari penciuman musuhnya—para vampire.
“Akh!!”
Rintihnya pelan akibat rasa sakit yang diterimanya, membuat gadis itu sedikit
kepayahan, belum lagi darahnya yang mengucur keluar, dan menetes di sepanjang
jalan yang ditapakinya.
Hal
ini akan membuat jejaknya tercium jelas oleh kaum vampirei. Meski begitu, ia tak menyerah sampai di situ. Akan
menjadi hal yang sia-sia bagi kaumnya yang sudah mengorbankan nyawa mereka demi
dirinya agar bisa melarikan diri dari hutan wilayah barat.
Namun,
ia sadar itu adalah hal mustahil baginya. Jika ia berlari kearah utara maka
sama saja dengan dia menyerahkan diri kepada kaum vampire, jika dia berlari kearah timur itu sama saja dengan dia
melanggar peraturan yang berlaku, dia memasuki wilayah kaum lain, sama halnya
dengan wilayah selatan, apapun itu—dia tak mungkin bisa lari kemanapun.
Jika
saja wujudnya sama seperti para manusia, mungkin dia akan lebih memilih untuk
bersembunyi di antara kerumunan para manusia. Namun wujudnya sedikit berbeda,
dia memiliki telinga rubah dan lima buah ekor panjang. Bisa-bisa justru para
manusia akan membunuhnya seketika. Walaupun dia tinggal bukan di wilayah para
manusia, namun dia juga mendengar rumor bahwa—manusia sangat membenci makhluk
sepertinya, seperti mereka yang bukan manusia.
DEG
Ia
bisa merasakan jantungnya mulai berdetak aneh, energinya pun mulai menurun
secara perlahan, ini mungkin di sebabkan karena banyak darah yang keluar dari
tubuhnya. Ia membutuhkan darah manusia untuk memulihkan tenaganya. Namun, itu
adalah hal paling tabu yang bisa ia dapatkan untuk saat ini.
BRUK
“Ittai…!!” Suara rintihan pelan ia
serukan ketika tubuhnya terjatuh ke tanah akibat menabrak sesuatu yang besar.
Gadis
itu mendongakkan kepalanya, menatap mata sosok yang ditabraknya. Seketika itu
bola matanya membulat, tubuhnya bergetar ketakutan—tatkala ia menyadari sosok
apa yang di tabraknya—Uchiha Madara, pemimpin kaum vampire, makhluk yang memerintahkan pasukannya untuk menghabisi
kaum rubah.
“Haruno—Sakura—eh???”
Pandangan
mata gadis bernama Sakura itu tampak menajam, sepasang iris hijau emerald itu berubah menjadi sepasang
mata berwarna ungu kemerah merahan. Dengan keberaniannya ia mengarahkan ujung kusanagi miliknya kearah sosok vampire di depannya—makhluk yang secara
tak langsung sudah menghabisi kaumnya.
“SIALAN
KAU—MADARAAA!!!!” Teriaknya seraya berlari dengan sebuah kusanagi di tangan kanannya.
Hanya
dengan berbekal keberanian dan latihannya selama ini, ia bertekad untuk
membunuh Madara—membalaskan dendam kaumnya yang sudah diluluh lantakkan.
Sakura
melompat dengan gesitnya seraya berkali-kali berusaha menusukkan ujung kusanagi itu tepat di jantung vampire pria di depannya ini. Walaupun
dalam hati ia sangat yakin, vampire
di depannya ini benar-benar akan mendapatkan apa yang dia inginkan,
sampai-sampai memusnahkan kaumnya. Namun, bolehkah ia berharap jika keajaiban
tengah berpihak padanya?
Para
manusia selalu berucap tentang ‘keajaiban’ dan ‘harapan’. Jika memang keajaiban
dan harapan itu ada, maka dia berharap akan ada keajaiban dari Tuhan yang
dikirimkan padanya. Dia sadar, ia tak lebih baik dari seorang manusia bodoh
sekalipun, dia hanyalah makhluk kotor yang dibenci para manusia. Tapi entah
kenapa satu keyakinan dalam benaknya—Tuhan tidak pernah membencinya. Jika
memang Tuhan memebencinya, lalu—kenapa dia dan kaumnya diciptakan?
“Yare yare. Kau memang gadis rubah yang
menarik—“
“Damare!!” Sakura kembali mengayunkan kusanaginya seraya meningkatkan
kewaspadaannya akan jebakan yang mungkin saja dipasang oleh vampire di depannya untuknya.
“—hanya
kau satu-satunya makhluk yang tak takut padaku, pada kami kaum vampire. Menarik.” Ucap pria bernama
Madara itu seraya tetap menghindari serangan yang mengarah padanya, tanpa
berniat untuk membalasnya.
Sakura
menggeram marah mendengar ucapan vampire
di depannya, “cih! Kau bahkan bukan Tuhan…!!!
Kau hanyalah salah satu makhluk terlemah-Nya—“
“…”
“—kau
tak lebih dari makhluk rendah dimataku…!!!”
KRAK
BLARR
Dengan
gesit Madara menghindari serangan kuat yang dilontarkan Sakura padanya.
Serangan itu akhirnya menabrak tanah yang dipijaknya beberapa detik lalu, yang
kini telah hancur dan menciptakan lubang yang cukup besar di sana.
Sakura
menggeram penuh amarah seraya mendecih pelan, ia lalu mengarahkan pandangannya
kearah vampire yang tengah berdiri di
dahan pohon yang tak jauh di depannya. Dengan sisa kekuatannya, ia berusaha
bangkit dari posisinya. Sebelah tangannya yang tidak memegang senjata kini
mengarah pada kepalanya.
Kepalanya
terasa sakit dan berangsur pada penglihatannya yang mulai mengabur, hingga
sepasang kakinya tak mampu lagi untuk menompang berat tubuhnya. Sakura terjatuh
bertumpu dengan sepasang lututnya. Dan kesadarannya mulai hilang perlahan.
‘Gomennasai.’
.
.
.
Di
sebuah ruangan ber-design Eropa, dengan pencahayaan remang-remang.
Tampak sebuah tempat tidur dengan gaya ala
Inggris dimana sosok gadis rubah dengan rambut soft pink panjangnya tengah terbaring lemah di atasnya.
KRIET
Pintu
kamar itu terbuka perlahan, menimbulkan suara yang memecahkan keheningan di
kamar tersebut. Sosok vampire
berjubah hitam itu melangkahkan kakinya mendekati tempat tidur, dimana sosok
gadis yang diinginkannya terbaring tak sadarkan diri di sana.
Sebuah
seringai menyeramkan terlukis di wajah tampannya, ia pun menanggalkan jubahnya
dan membuangnya ke lantai. Ia lalu melepaskan tiga buah kancing teratas kemeja
putihnya. Rambut hitamnya tampak sedikit acak-acakkan. Namun hal itu tak cukup
untuk memudarkan sedikit ketampanannya, justru semakin menambah kesan seksi
pada dirinya.
Pria
yang merupakan pemimpin kaum vampire
itu segera naik ke atas tempat tidurnya yang nantinya juga akan menjadi tempat
tidur milik gadis yang terbaring di sana. Tubuh kekarnya kini sudah berada di
atas tubuh gadis itu. Dengan menggunakan tangan kanannya, dia menarik pelan
kain yang mengikat yukata lusuh yang
dipakai gadis itu.
Ketika
kain itu terlepas, tampak tubuh polos yang bersinar diterpa cahaya rembulan
yang berwarna keemasan.
Pria itu semakin menyeringai tatkala melihat tubuh
gadis yang diinginkannya. Aku tak
menyangka jika dia bisa secantik ini—eh? Batinnya terkagum saat melihat
kecantikkan murni milik gadis rubah di bawahnya.
Telapak
tangan kanannya tampak mengarah pada wajah cantik milik gadis di bawahnya.
Dibelainya lembut wajah berkulit putih itu, tangan itu menyusuri setiap jengkal
kulit wajah gadis itu. Lalu turun menuju leher jenjang miliknya—
Dan
tangan itu berhenti tepat di atas salah satu bongkahan dada milik gadis itu,
diremasnya dengan sedikit keras—membuat gadis di bawahnya mengerang pelan dalam
ketidak sadarannya.
Mendengar
erangan pelan yang dikeluarkan gadis di bawahnya, membuat pria itu semakin
memperlebar seringainya. Ia semakin melanjutkan aksinya—jari telunjuk pria itu
tampak menggoda puncak bongkahan dada yang tadi diremasnya itu, mengakibatkan
puncak kemerahan itu mengeras pertanda gadis itu mulai terangsang walau dalam
ketidak sadarannya.
Pria
itu masih mempertahankan seringaiannya, ia lalu mendekatkan wajahnya kearah
telinga kanan gadis itu seraya berucap pelan, “kau ternyata gadis nakal eh? kau
bisa terangsang walau kau sedang tertidur.”
“Akh!!”
Gadis
itu memekik pelan ketika pria di atasnya menarik keras putingnya. Pria itu
sedikit memasang raut heran, niatnya ingin membangunkan gadis itu dengan
menarik salah satu puting payudara milik gadis itu. Namun kelopak mata itu
masih menutup, hanya suara pekikkan yang dia dapatkan.
Tanpa
ia sengaja telapak tangan kirinya menyentuh—menekan salah satu ekor milik gadis
itu. Dan seketika itupula gadis itu membuka sepasang kelopak matanya, lalu
menendang pria di atasnya dengan sebelah kakinya. Dengan menggunakan dua
tangannya, ia menutupi dua buah dadanya dari mata pria yang mulai bangkit dari
posisi terjatuhnya itu.
“Ma-Ma-Madara!!”
Sepasang bola mata gadis itu terbelalak tatkala melihat siapa makhluk yang
berusaha menodainya.
Pria
itu tampak memegang kepalanya dengan sebelah tangan miliknya, ia lalu berjalan
kearah tempat tidur dimana gadis itu berada dengan sebuah seringai yang terukir
di wajah tampannya. “Yare yare, kau
akhirnya terbangun juga—padahal dari tadi aku sudah bermain dengan tubuhmu.”
Sakura
semakin membulatkan sepasang manik hijaunya ketika mendengar perkataan Madara.
Pandangannya lalu mengitari ke sekitarnya, mencari sebuah kusanagi miliknya, namun ia tak mendapatkan apapun di sana. Tanpa
ia sadari, ia sudah menurunkan tingkat kewaspadaannya pada Madara.
“Akh!!”
Gadis itu merintih sakit ketika merasakan dua buah tangan mencengkram erat
sepasang lengannya, berusaha menjauhkan sepasang tangan miliknya yang menutupi
dua buah dadanya.
“Kau
lumayan kuat untuk ukuran seorang wanita—mari kita liat, seberapa kuatnya
dirimu di atas ranjang.”
Dengan
sekali hentakkan, Madara berhasil melumpuhkan pertahanan tangan gadis di
bawahnya. Ia lalu membawa tangan gadis itu pada sebuah rantai yang sengaja ia
pasang di kepala ranjang, ia lalu mengikat sepasang tangan itu di kepala
ranjang.
Sakura—nama
gadis itu—dia masih meronta-ronta di bawah kukungan tubuh kekar pria vampire di atasnya. Iris berwarna hijau emerald itu kini berubah warna menjadi
ungu kemerahan, sepasang mata miliknya menatap tajam sosok pria di atasnya
sesekali disertai dengan geraman rendah dari mulutnya.
“KYAAAA!!!”
Detik
selanjutnya, suara jeritan Sakura keluarkan tatkala merasakan remasan kuat pada
kedua dadanya. Pria itu tak tanggung-tanggung menggunakan kekuatan tangannya
untuk meremas kedua dada gadis di bawahnya, sesekali ia menarik-narik kedua puting
keras milik gadis itu.
“Hen-hentikan—itu—menyakit-kan!!
AKHHH!!!”
Mendengar suara gadis itu yang merintih sakit membuat Madara semakin memperkuat
remasannya, hingga menimbulkan bekas kemerahan di dada gadis itu. Ia lalu
mendekatkan wajahnya kearah salah satu dada milik Sakura.
Awalnya hanya sebuah
jilatan yang ia tujukan pada puting kemerahan Sakura, namun beberapa detik
kemudian—Madara memasukkan salah satu puting Sakura ke dalam mulutnya,
menghisapnya keras sehingga membuat gadis itu semakin menjerit kesakitan dan
berusaha untuk lepas darinya.
“Kau
ingin lepas eh? Jangan berharap banyak—Sakura.”
“Lepas—HMMMPPHH.”
Tindakan
Madara semakin menjadi-jadi, dengan paksa ia mencium kasar bibir manis Sakura,
sesekali ia menggigitnya dengan gemas hingga mengeluarkan darah yang langsung
ditelannya. Kedua tangannya tetap pada tugasnya, meremas kedua buah dada Sakura
dengan kasar.
“HMMPPHHH!!
AKH!!! TO-TOLONG!! SIAPAPUN TOLONG AKU—“
PLAK
Sakura
terdiam seketika tatkala ia merasakan panas menjalar di pipi kanannya, air
matanya mulai menggenang di pelupuk matanya. Masih dengan sepasang mata ungu
kemerahan miliknya ia menatap penuh amarah kearah Madara yang berwajah datar di
atasnya.
Batinnya
berteriak frustasi, ia masih tak mengerti mengapa pria vampire itu sampai membantai habis kaumnya. Apa salah mereka? Apa
salahnya?! Jika ini karena dia menolak permintaan pria itu yang hendak
menikahinya, bukankah itu adalah haknya. Ia berhak menolak dan menerima lamaran
yang ditujukan padanya.
Air
matanya keluar semakin deras dari pelupuk matanya ketika tangan pria itu mulai
menyentuh daerah pribadinya. Dengan sekuat tenaga ia berusaha merapatkan
pahanya, namun ia kalah kuat dengan pria itu.
“Ku-kumohon
Madara—jangan!!! KYAAAA!!!!”
“Maksudmu,
jangan berhenti eh? Kau memang rubah nakal!!”
“Akh!!
I-ittai—sa-sakit!!”
Tanpa
memperdulikan rintihan Sakura yang menjerit kesakitan, Madara memasukkan dua
buah jarinnya ke dalam lorong sempit milik gadis itu. Tanpa jeda waktu, ia
menggerak-gerakkan kedua jarinya di dalam lorong sempit milik Sakura, bahkan
dia mengabaikan jerit kesakitan yang dikeluarkan gadis di bawahnya.
“Akh!!
Berhenti—kumohon, berhenti!!! KYAAAA!!!”
Mendengar
suara rintihan Sakura membuat gerakan jarinya di dalam lubang gadis itu semakin
menjadi-jadi—kasar dan tak beraturan. Bahkan pria itu tak membiarkan dua buah
dada Sakura terabaikan begitu saja, dia menggunakan tangan kirinya untuk
meremas penuh salah satu bongkahan dada gadis itu, sesekali ia menarik puting
kemerahan Sakura dengan kuat.
Sementara
kedua tangan miliknya memuaskan dada kanan dan lorong kewanitaan gadis di
bawahnya. Mulutnya tak tinggal diam, dengan lidahnya Madara mulai menggoda puting
dada kiri milik Sakura, membasahi puting dan area sekitarnya dengan air
liurnya.
“Ku-kumohon
berhen—KYAAAA!!!” Kalimat yang diucapkan Sakura terputus dan terganti dengan
suara jeritan ketika Madara memasukkan dan menghisap kuat puting dada kiri
Sakura dengan mulutnya.
Sakura
membelalakkan kedua bola matanya, ia merasakan sesuatu dalam dirinya memaksa
keluar. Ia pun memejamkan kedua kelopak matanya ketika sesuatu itu keluar
melalui lorong kewanitaan miliknya.
Sedetik
setelahnya ia menghela nafas lega, ia membuka kedua bola matanya seraya masih
berusaha lepas dari kukungan tubuh kekar di atasnya. “Hmm? Kau ternyata kuat
juga.”
“Lepas!!
Le-lepaskan a—“
Madara
segera melepaskan keseluruhan kain yang melekat di tubuhnya. Sakura yang
melihat tubuh telanjang pria di depannya, tanpa sadar ia sebuah guratan rona
merah menghiasi wajahnya. Pria itu
tampak mengarahkan batang kemaluannya kearah lorong sempit Sakura, seraya
berusaha memasukkannya perlahan karena begitu sesak.
“To-tolong,
ja-jangan—jangan masukkan—KYAAAAA!!!”
Gadis
itu menjerit kencang ketika Madara memaksakan kejantanannya untuk menerobos
masuk ke dalam lorong sempit miliknya. Kedua tangannya mencengkram erat rantai
yang mengikat pergelangan tangannya seraya menggigit bibir bawahnya hingga
mengeluarkan darah.
“KYAAAAA!!!!!!
SA-SAKIT!!!”
Dengan
seluruh kekuatannya, Madara mendorong masuk bendanya hingga masuk seluruhnya ke
dalam lorong peranakkan milik gadis itu. Tanpa memberi jeda waktu sejenak, ia
menggerakkan tubuhnya—mengoyak habis lorong gadis itu, hingga membuat Sakura
menjerit sejadi-jadinya.
“To-tolong!!!
Berhenti!! Berhenti!! KYAAA!! AKHH!!”
Madara
semakin bergerak dengan cepat dan kasar ketika mendengar kalimat penolakan
secara tak langsung dari gadis di bawahnya. Ia lalu merendahkan tubuhnya untuk
menikmati rasa manis bercampur asin di bibir gadis itu. Tanpa Sakura sadari,
Madara mencium bibirnya dengan penuh kelembutan. Gadis yang kini telah berganti
menjadi wanita itu mungkin sudah terlalu terbuai dengan rasa sakit di
kewanitaannya, hingga ia tak bisa membedakan rasa sakit dan nikmat.
Ia
semakin memperdalam ciumannya tanpa menghentikan gerakannya di bawah sana.
Madara sadar, Sakura sudah kembali tak sadarkan diri—dan karena itu gerakannya
mulai melembut, berusaha untuk tak membuat wanita itu terbangung.
Cukup
lama ia dalam kegiatannya, Madara merasakan sesuatu yang akan keluar dari dalam
dirinya. Ia pun kembali mempercepat gerakannya seraya tetap mempertahankan
ciumannya pada bibir wanita di bawahnya. Dan tak butuh waktu lama—ia mengeluarkan
benihnya, memenuhi rahim Sakura.
Madara
menjatuhkan tubuhnya ke samping kanan Sakura, ia tak berniat untuk mengeluarkan
batang kemaluannya dari kewanitaan Sakura. Kedua tangan kekarnya merengkuh
tubuh wanita yang tak sadarkan diri itu, merapatkan punggung wanita itu dengan
dada berototnya. Ia lalu mengarahkan hidungnya kearah tengkuk Sakura, menyesap
aroma musim semi yang menguar dari rambut merah muda wanita itu.
Ia
pun berbisik pelan di telinga rubah milik wanita di dekapannya, “oyasumi—Sakura.”
.
.
.
.
To Be
Continued
.
.
.
.
Ending
Song
EGOIST
– Euterpe
.
.
.
.
.
A/N
KYAAAA!!!
Ini memalukannn!!! #gelindinganDikasur. Apa ini??!!! Ancur berat adegan
lemonnya. Gomen :3 aku gak bisa bikin adegan lemon yang terlalu hot, aku gak
terlalu berpengalaman dalam hal yang begini, #ojigi. Aku berharap fic ini cukup
hot dimata kalian -_- terutama yang request fic ini, kakek Sena -_- aku harap fic
ini hot dimatamu kakek -_- #dibakar.
Dan
untuk sedikit informasi :3 fic ini hanya kupublish di sini. Jadi gak ada copy’annya
di doc mananger akun FFnku :3 jadi berbahagialah kalian yang menemukan fic ini
di sini :3. Alasannya gak kupublish di FFn? -_- ntar aku dibakar sama readers
yang nunggu fic2ku update karena banyak banget yang belum complete. Teheee~ XP
Oke,
saya ucapkan selamat berbuka puasa bagi kalian yang menjalankan :D Dan sedikit
penjelasan untuk kalian -_- saya asli cewek jangan anggap saya cowok hanya
karena saya bikin cerita hentai begini. #ngacir
.
.
.
Gheralda
Citra Prameswari
