Read more...

When The Wolf Boy Meets The Lamb Girl vol. 1 - Wagata Konomi

Touka selalu merasa kesepian karena ditinggal sendirian oleh orangtuanya untuk bekerja. Tepat di hari ulang tahunnya, Touka bertemu dengan seekor anjing Husky dan diberi nama Hasu. Sejak saat itu, Touka dan Hasu melewati hari-hari untuk hidup bersama. Tapi ada sesuatu yang mengejutkan hari itu.
Ya, Touka mengetahui bahwa Hasu adalah manusia yang bisa berubah menjadi anjing.

Hasu pun mengikuti Touka ke sekolah hari itu. Karena tampan, banyak anak perempuan yang mendekatinya. Hasu pun berjanji akan menjadi anak baik hari itu, hari perayaan mereka, hari pertama kalinya mereka bertemu. Hari ulang tahun Touka.
Hari yang sangat spesial bagi Touka tapi Touka merasa Hasu menjauh darinya. Touka merasakan sakit di dadanya dan malah membentak Hasu menyuruhnya pulang ke rumah. Touka pun menyadari bahwa Hasu berkeliling sekolah untuk menanyakan hadiah apa yang tepat bagi Touka di hari ulang tahunnya. Touka pun meminta maaf dan menyadari kesalahannya.

Di kisah lainnya, Hasu datang bersama Touka dan teman sekelas Touka, Haruka. Haruka sangat tertarik pada Hasu sejak kedatangannya ke sekolah waktu itu. Mereka lalu mencoba wahana yang ada di taman bermain itu dan Touka tak menyadari jika saat itu Hasu sedang terserang flu. Walau sempat meragukan perasaannya pada Hasu dengan mengatakan bahwa dirinya membenci Hasu, Touka pada akhirnya tidak benar-benar bisa membencinya.
Hasu yang selalu ada untuknya.

Di hari lainnya Hasu bertemu dengan seorang anak kecil yang ternyata merupakan seekor anjing, Koutarou. Hasu juga belajar satu kata tentang kematian.
Ketika kembali lagi ke sekolah, Hasu malah menemukan rival seorang laki-laki teman sekelas Touka, Nishida. Nishida terlihat kasar dan mudah sekali salah paham dengan kebaikan seorang perempuan.

"Terimakasih telah lahir dan datang untukku!" -Touka &Hasu-

Ada juga cerita lain, Metabopome!
Yang menceritakan tentang anjing pomeranian, Mukku bersama dengan pemiliknya Chihiro yang berjuang dan akhirnya bisa menerima apa adanya satu sama lain.

Nice reading, minna~!


-Aoiwj-
Posted by Unknown
Tag :

Idol Master - Nagiri Kyo

Tubuh Moka Usami yang lemah membuatnya tak bisa menikmati kehidupan sekolah yang normal, sebagaimana layaknya yang dirasakan anak-anak lain. Moka berharap agar bisa menikmati kehidupan SMAnya dengan lebih menyenangkan di Hoshigoe Gakuen.

Mengejutkan bagi Moka karena dirinya satu kelas dengan anak-anak bintang idola. Maka, jadilah Moka sendiri yang anak biasa di kalangan anak artis. Pada saat foto bersama, hanya Moka dan wali kelasnya saja yang berfoto. Moka pun menjadi ketua kelas karena anak-anak lainnya sibuk.

Moka pun akhirnya mulai akrab dengan teman-teman sekelasnya. Yang paling sering dan paling dekat dengan Moka adalah Ayane Yukimura, Sougo Tokiwa dan Ikumi Tsukamoto. Ketiga orang itu sangat tertarik pada Moka. Mereka mengatakan ingin menikmati kehidupan sekolah yang normal. Namun, sayang Moka harus istirahat di UKS karena tubuhnya itu. Tapi, kata-kata yang membuat Moka merasa berharga membangkitkan semangatnya.

Sepertinya Sougo dan Ikumi sangat ingin memiliki Moka sehingga terlihat sekali kompetisi yang terjadi diantara mereka. Festival sekolah pun menanti dan sangat gigih saat persiapan dan latihan untuk sebuah penampilan. Meskipun Moka hanya orang biasa, dia pun diwajibkan untuk memberikan kontribusi walaupun dengan kondisinya yang lemah. Namun, menjelang festival, Moka masuk rumah sakit.

Ada juga beberapa peristiwa lain yang akan membuat kalian terharu dan jadi bersemangat. Ya, pertemanan tak memandang siapa dan apa statusmu. Ketika kamu senang menjalaninya tanpa beban, itulah pertemanan yang seharusnya. Apa adanya saja. (^^)

Cerita lain: Kakak
Koharu sangat sayang pada kakaknya. Saking sayangnya, Koharu selalu ingin memperhatikan kakaknya dan juga ingin diperhatikan kakaknya. Si kakak malah tidak suka dan terkadang sebal dengan sikap adiknya itu.

Walaupun begitu, tetap saja insting seorang kakak itu ada dan berjalan. Nah, apakah Koharu akan baik-baik saja dengan kakaknya?


Enjoy reading, minna~!

-Aoi Kaito-
Posted by Unknown
Tag :

Sang Angsa Emas Chapter 2, a NaruIno Fanfic




Sang Angsa Emas.

Naruto © Masashi Kishimoto.

Warning : AU, OOC, OC, Typo, Bad Languange. Anda dipersilahkan mundur untuk menghindari tindak anarkis (?) yang mungkin akan Anda lakukan di kotak review.

-oOo-

Enjoy~

.

.

.

Namikaze Naruto.

Aku terdiam kala iris biruku mendapati Ino yang berdiam diri sembari memandangi hamparan tanah retak nan tandus di bawah kakinya.

Kilau sendu membayang di kornea birunya. Aku berdecak, sedikit rasa kecewa juga merasuk ke dalam dadaku saat kulihat kekeringanlah yang membentang di mana-mana—seolah tak mengizinkan kami untuk memutar kenangan indah akan tempat ini. Seolah tiada lagi kenangan yang patut diingat akan tempat yang dulunya terlihat sangat indah ini.

"Kering, Naru," bisiknya dengan suara parau.

Aku menghela napas sebelum kakiku bergerak memangkas jarak antara aku dan Ino. Aku berdiri tegak di sampingnya, tangan kiriku bergerak menepuk kepalanya pelan. "Apa yang kau harapkan? Ini sudah bertahun-tahun, Ino."

Ino menoleh dan memandangku dengan lirikan nakalnya. "Hmmm, eternity? As a beautiful place, which existence is eternal, as memory does," jawabnya sambil memandangku lekat-lekat.

"Ah," sahutku singkat sebelum terkekeh pelan, "beauty is in the eye of the beholder," sambungku sok puitis.

Ino menatapku dengan sebelah alis terangkat. Gadis bermahkota pirang itu nampaknya berusaha keras menahan kekehan yang berada di ujung bibirnya—lihatlah bibirnya yang bergetar itu.

"Kalau ingin tertawa, tertawa saja. Tidak usah ditahan!" celetukku sok sinis, membuat Ino tak tahan lagi untuk menahan segaris senyum yang terlukis di bibir pink-nya.

Aku mendesah lirih dalam hati ketika aku menangkap pancaran kelegaan membias dari bola mata aquamarine itu. Tanpa aba-aba, Ino menekuk lututnya; berjongkok dan mengulurkan tangan kanannya—meraih segumpal tanah kering di hadapannya.

Tangan mungil itu mengepal, membuat kepingan tanah yang ada di gengamannya berubah menjadi serpihan-serpihan halus yang berjatuhan dengan pasrah menghias rumput kering di bawahnya.

"Kalau aku tutup mata ... mungkin nggak ya, danau kecil itu kembali?" Pertanyaan Ino yang terlalu tiba-tiba mendadak menimbulkan perasaan ingin tahu mencuat di dasar hatiku.

"Mau mencoba?" ucapku kemudian. Ino menoleh dan mengangguk lirih. Tangan putih susunya menggapai pergelangan tanganku—memaksaku berjongkok di sampingnya untuk yang kedua kalinya di hutan jati ini.

"Coba pejamkan mata. Kukira dengan adanya kau di sini, segalanya menjadi lebih mudah," kata Ino lirih. Aku baru saja menolehkan wajahku ketika melihatnya telah memejamkan mata dengan bibir yang sedikit meruncing ke depan, dan alis berkerut tipis—tanpa sadar membuatku tersenyum tipis.

Menepuk kepala pirangnya sejenak, lalu aku kembali berpaling ke arah hamparan tanah kering yang ada di hadapanku, dan memejamkan mata dalam diam.

End of Naruto P.O.V

Semenit dalam kesunyian, kedua insan berhelai pirang itu seolah tengah menikmati kicauan burung, desir angin yang lembut, gemerisik dedaunan, embusan napas yang bersahutan, bahkan degupan jantung mereka yang bertalu-talu dengan lembut.

"Lihat ... danau itu kembali pada kita, Naru." Suara lembut Ino mendadak memecah keheningan yang beberapa menit lalu masih mendominasi atmosfer di sekitar mereka.
Lalu ... memori itu kembali ...

Tanah kering yang semula retak dan tandus karena termakan usia kini berubah menjadi kumpulan air yang membentang dalam sebuah proses transformasi yang lembut.

Titik-titik kehijauan mulai bermunculan di permukaan; bersamaan dengan tunas-tunas eceng gondok yang dengan cepat mulai berdaun dengan indah.

Naruto menghela napasnya, menyadari bahwa keindahan sebuah kenangan akan tetap berada di hati seseorang yang mengalaminya—bahkan ketika kenyataan tak seindah sebuah kenangan.

Kemudian, lamunan lelaki berparas tampan itu buyar saat genggaman Ino mendadak mengerat.

"Tahun-tahun yang berlalu ..." Ino berucap singkat nan lirih.

Tak ada kata yang terucap setelahnya. Yang ada hanyalah sebuah dekapan hangat dari Naruto untuk gadis pirangnya. Sepatah kata berisi permintaan maaf terlantun dari bibirnya sebelum lelaki beriris blue ocean itu tenggelam dalam bisunya kebingungan.

'Apa-apaan kamu, Naruto?! Ino itu sahabatmu! Ino bukan gadis yang boleh kau permainkan sesuka hatimu!' Suara batin Naruto menjerit dengan alasan-alasan sok suci.

Untuk sesaat kemudian, kejujuran dalam hati Naruto mengatakan alasan yang sebenarnya ...

Bahwa Ino bukan levelnya.

Bahwa dia, Si Itik Buruk Rupa, tak layak menerima kecupan dari Si Angsa Emas.

Tidak.

Dia tak pantas.

"Kalau kamu merasa tenang dengan itu. Aku tak masalah." Kata-kata yang mengalir dari bibir Ino mampu membuat Naruto malu seketika. Pikirannya terbaca dengan mudah!

'Bagaimana aku bisa menghakiminya sedemikian rupa hanya dengan menatap perbedaan fisik kami?! Bagaimana aku bisa melakukannya saat aku dapat merasakan ketulusan itu dalam kata-katanya?!' batin Naruto kembali berteriak memaki sang inang.

Naruto terdiam, namun dia tak jua melepaskan rengkuhan lengannya pada tubuh Ino. Dia membiarkannya. Naruto membiarkan rengkuhan lengannya mengombang-ambingkan perasaan dan logikanya.

'Ketulusan, itu yang kuperlukan untuk mengobati pengkhianatan.' Batin Naruto kembali berseru memberikan pembelaan.

Dan saat itulah ia kembali mengecup bibir Ino dengan lembut.

Pejaman mata dan kenikmatan lahir batin.

Ketenangan jiwa yang murni.

Pun rasa sayang yang tiada bisa terukur, dan hanya bisa dinyatakan dalam setiap kelembutan dan kehangatan yang membuat tubuhnya bergetar secara nyata—telah ia dapatkan dari gadis dalam pelukannya,

Yamanaka Ino.

'Ia menyayangiku! Ia mengasihiku! Ia mencintaiku!' Jeritan hati Naruto kembali berkumandang bak orang gila yang tengah kasmaran.

Hatinya bergemuruh, pergulatan kini tengah berlangsung riuh di dalam hatinya. Kemunafikan dan sisi narsisme yang mendominasi sikap superior-nya selama menjadi Si Angsa Emas kini bergelut dengan keinginan untuk dicintai dan mencintai yang menyeruak dari dasar palung terdalam di hatinya.

Semuanya bergelut mempertahankan pendapat masing-masing, tak ada yang mau mengalah.

Dan yang terjadi selanjutnya adalah sebuah proses transformasi lain yang disusun rapi oleh Naruto untuk gadis pirangnya. Untuk Yamanaka Ino.

Detik demi detik,

Setiap sentuhan demi sentuhan.

Pelajaran demi pelajaran.

Canda tawa dan kemesraan.

Kolam renang dan gym yang menjadi tujuan setelah pulang sekolah.

Pelajaran berdansa, dunia hiburan malam, liukan-liukan yang menggandeng romantisme bersama keringat yang mengucur telah terlewati.

Angsa-Angsa Emas yang lain telah menawarkan bantuan dengan sukarela selama proses itu berlangsung. Sebuah proses pembentukan mahakarya oleh seorang maestro sejati telah berhasil mengubah Sang Itik Buruk Rupa menjadi seekor Angsa Emas yang cantik.

Ino berubah.

Perlahan tapi pasti, dengan atau tanpa disadarinya, Ino sudah menjadi seekor Angsa Emas yang begitu cantik nan anggun.

Semua jerih payah dan cucuran keringat yang berjatuhan kini telah menampakkan hasil yang sungguh memikat hati.

Berat badan yang menurun drastis, tatanan fisik yang mengagumkan, pergaulan yang mencuatkan reputasi—semua itu telah dimiliki Ino dalam waktu enam bulan.

Hanya enam bulan.

Waktu yang relatif singkat untuk membuat Ino memperoleh pernyataan-pernyataan cinta dari pemuda-pemuda yang dahulu mencibirnya dengan pandangan congkak.

Hanya enam bulan pula waktu yang dibutuhkan oleh Naruto untuk menyadari bahwa perubahan fisik Ino turut membawa perubahan dalam cara berpikirnya.

Naruto tak pernah tahu siapa yang mengenalkan gadis pirang polosnya pada sosok itu.

Seorang pria dewasa dengan atribut, pangkat, dan kemewahan seorang abdi negara yang melekat erat pada tubuhnya—sosok pria yang paling dielu-elukan setiap wanita saat itu.

Sosok yang kemudian mampu membuat Ino berkata, "Keluar? Wah, nanti aku ada acara sama teman-teman. Sorry ya? Besok lusa saja, oke?"

Itu hanya sepenggal kata penolakan dari puluhan kata yang Ino lontarkan ketika ia telah mengenal lelaki bersurai merah itu.

Saat itulah Naruto menyadari bahwa ia tak bisa lagi menemukan sosok Yamanaka Ino yang dulu selalu ada untuknya.

Yang bersamanya sekarang adalah sosok seorang gadis populer yang menghabiskan waktunya untuk mempertahankan apa yang sudah dicapainya.

Sosok gadis yang kini hanya menganggap Naruto tak lebih dari seekor lalat pengacau saat ia melihat masa depan yang lebih cerah di depan matanya.

Dia bukan Yamanaka Ino-nya.

Dia adalah Yamanaka Ino yang lain.
-To be Continue-
.
"Perubahan selalu membawa dampak positif dan negatif di saat yang bersamaan. Di saat itulah kepiawaian kalian dalam bersikap bijak akan menentukan segalanya." —Nakazawa Miyuki.


Regards,

Nakazawa Miyuki.
Posted by Unknown

Secret Love Trip (1 of 2) - Anashin



Berawal dari pertemuan Miu Aoi dengan seorang laki-laki yang menolongnya di minimarket, Aoi pun tertarik dengan laki-laki yang bernama Kosei Mishina. Kosei adalah ketua OSIS di sekolah Aoi. Hal-hal yang hebat terjadi di sekitar Kosei termasuk juga dalam mengajak dua anggota OSIS lainnya tergabung dan membantunya hingga saat ini. Hinata Hongo, laki-laki cantik dan lembut yang merupakan sekretaris sekaligus bendahara OSIS. Hinata sangat baik pada semua orang dan entah bagaimana, banyak perempuan yang tertarik padanya. Yang seorang lagi adalah gadis anggun dengan kekuatan super, Luna Yabuki. Kenapa super? Karena sempat ada kabar terdengar bahwa Luna dulunya adalah berandalan dan sampai sekarang masih disegani. Untuk masalah beladiri, jangan diragukan lagi. Kosei-lah yang membuat mereka berdua bisa bekerja sama dengan ajaibnya dalam OSIS.

OSIS membuka pendaftaran anggota baru!
Aoi tertarik untuk mengikutinya dengan alasan untuk bahan riset komiknya. Ya, Aoi berniat untuk menjadi seorang komikus. Segala cara pun dilakukannya, bahkan sampai membuat Kosei jengkel dan marah. Namun, Hinata akhirnya memutuskan untuk meminta bantuan Aoi yang pintar menggambar membuat poster Festival Sekolah. Aoi pun bingung tak tahu harus berbuat apa. Tapi Aoi berhasil menyelesaikan tugasnya. Kelelahan dengan pekerjaan memodifikasi posternya, Aoi pun tumbang di pagi hari. Kebetulan sekali Kosei melihatnya dan membawa Aoi ke ruang kesehatan.

Kosei mengatakan bahwa Aoi boleh masuk OSIS berkat usaha dan kerja kerasnya membantu pemodifikasian poster. Hal tak terduga pun terjadi. Kosei malah menyatakan cinta pada Aoi.

Sementara itu, diungkapkanlah bagaimana kehidupan Aoi. Aoi memiliki seorang kakak laki-laki. Kakaknya adalah seorang penulis novel roman. Kadang, Aoi sering dimintai tolong macam-macam atau bahkan diganggu kakaknya.
Sedangkan di pihak lain, Kosei juga memiliki kakak perempuan. Mereka tidak memiliki ikatan darah dan sepertinya Kosei menaruh perasaan pada kakak tirinya itu.

Lalu bagaimana hubungan Aoi dan Kosei? Apa yang sebenarnya Kosei sembunyikan?

Enjoy reading, minna~



##Maaf sekali karena lama tidak update. Bukannya bagaimana, pengiriman komik sendiri menjadi terlambat dan khusus minggu lebaran kemarin, tidak ada komik baru yang terbit. Harap maklum saja ya >w< Jadi dengan ini, saya tebus ya. Hehe >w<)/ Wait for the next~

-Aoi Kaito-
Posted by Unknown
Tag :

MATRYOSHIKA

.
.
.
.
MATRYOSHKA
.
.
.
Disclaimer © Masashi Kishimoto
Story Written By © EmeraldAI
Rate M for Blood
Genre © Horror, Supense, Mistery
Main Pairing © Sasuke X Sakura
.
.
.
.
Summary
Sebuah boneka kayu asal Rusia yang dilukis unik menyerupai wajah seorang wanita—Matryoshka. Cantik, itulah gambar wajah yang terlukis di sana. Namun, tidak semua barang bisa dikatakan cantik dengan hanya melihat dari luarnya bukan? Lihatlah! Sebuah boneka Matryoshka di sana! Menatapmu seolah akan membunuhmu kapan saja. Membuatmu agar terlihat seperti wujud aslinya.
.
.
.
.
.
Warning
OOC, Typo(s), DLDR, Blood, AU type, Oneshoot, Mind RnR? Saver Contest : Banjir Tomat Cherry.
.
.
.
.
.
Opening Song
Kagamine Len & Rin – Trick and Treat
.
.
.
.
.
.
.
.

TRING

Alunan suara lonceng terdengar ketika seorang pria memasuki salah satu toko souvenir di Kota Moskow. Tanpa perlu melepas mantel hangat miliknya, ia berjalan memasuki lebih dalam sebuah toko yang paling unik di antara toko-toko lain di pusat Kota Moskow. Walau lorong sempit ia lewati dengan berhias berbagai macam souvenir di sisi kanan dan kiri tubuhnya, tak ada alasan baginya untuk melepas mantel tebal yang melekat pada tubuhnya. Hei, siapa yang akan tahan jika berada di dalam sebuah kota atau bahkan negara dimana tengah terjadi musim dingin, walau masih terbilang awal.

“Ah! Maaf tadi saya sedang ada urusan di dalam. Jadi tidak mendengar suara seorang pelanggan masuk kemari. Ah! Silahkan tuan ingin membeli apa?” Ucap sopan seorang pria tua dengan rambutnya yang sudah memutih walau tak keseluruhan.

Lelaki itu sedikit menyingkir dari tempatnya, memberikan kebebasan bagi pelanggannya untuk memilih barang yang akan dibelinya sebagai souvenir. Dengan langkah pelannya ia mengikuti sosok pria muda berwajah tegas itu di balik punggungnya.

Pria itu tak menjawab, ia berjalan pelan dengan pandangan mata menilai satu persatu barang yang nantinya akan menjadi souvenir untuk sang adik tercinta. Walau sejahil apapun dirinya pada adiknya, tapi itu hanyalah sebuah canda gurau semata. Jahil bukan berarti dirinya dendam terhadap sang adik. Yeah, melihat wajah kesal si bungsu Uchiha itu adalah sebuah kesenangan tersendiri baginya.

Sepasang mata onyx miliknya masih setia menelusuri satu persatu barang di sana—tak ada yang menarik perhatiannya. Kedua matanya tampak menatap penuh kearah sebuah benda di dalam sebuah lemari kaca yang berada di ujung ruangan. Tanpa sadar, langkah kakinya membawa tubuhnya agar lebih mendekat kearah benda tersebut.

Langkah kaki pria tua di belakangnya terhenti seketika. Sepasang matanya menatap kearah satu-satunya barang yang berada di dalam sebuah lemari kata besar di ujung ruangan. Sebuah senyum tipis merekah di bibir kusam miliknya. Dalam hati ia sudah menduga bahwa boneka Matryoshka pastilah digemari banyak tourist dari Luar Negeri.

Boneka Matryoshka memang bukanlah boneka secantik Barbie atau boneka lain yang memiliki postur tubuh menawan. Matryoshka terbuat dari kayu yang diukir dan dibentuk menyerupai bentuk angka ‘8’ dan dilukis apik sebagai penggambaran siapa boneka itu. Boneka Matryoshka pada dasarnya dilukis apik bertema wanita petani dengan bunga-bunga atau flora sebagai pelengkapnya.

“Aku ambil Matryoshka. Berapa harganya, paman?” Ucap pemuda tampan itu seraya menunjuk satu-satunya benda yang berada di rak paling ujung.

Lelaki tua itu berjalan pelan, meminta izin pemuda itu untuk sedikit menggeser tempatnya. Ia lalu berdiri di depan pemuda itu, berusaha mengambil sebuah boneka Matryoshka berdebu yang tersisa satu di dalam rak paling ujung. Dengan kaos lusuhnya ia mengusap bagian berdebu boneka tersebut. Ia lalu memberikannya pada pemuda di hadapannya.

“Tidak usah dibayar. Boneka ini telah lama tidak terjual, aku memberikan gratis untukmu. Anggaplan sebagai pemberian dariku karena telah menjadi pelanggan pertamaku.” Ucap serak pria tua itu setelah memberikan sebuah boneka Matryoshka kepada pelanggan pertamanya di pagi ini.

Pria itu tampak sedikit terkejut sesaat setelah mendengar ucapan pria di depannya itu, namun detik selanjutnya sebuah senyum tulus terukir di wajah tampannya seraya berucap, “Thank you.”

Dengan langkah tergesa-gesa pria itu keluar dari dalam toko tersebut, pria itu membungkuk sejenak untuk berucap terima kasih pada pria tua itu, sebelum berjalan menghampiri taksi yang terparkir di tepi jalan.
.
.
.
Tampak sosok pria tengah duduk di sebuah kursi dengan sebuah layar komputer di depannya. Sepasang mata onyx hitam legam miliknya memandang serius setiap baris kata yang terpampang di layar PCnya, sesekali terdengar suara geraman kesal dari mulutnya. Sambil menggerutu pelan ia mengarahkan kusornya lalu menggerakkan jarinya di atas papan keyboard

TUK

Pemuda itu hampir saja terjungkir ke belakang akibat suara yang datang dari arah sebelahnya, ia lalu memandang sengit sosok pria yang meletakkan sebuah barang aneh di kamarnya. Bukan itu yang ia permasalahkan, tapi kenapa pria itu tidak bisa menghilangkan kebiasaannya untuk mengganggu privasi orang tanpa berkata permisi atau apalah itu.

“Hn. Bisakah kau mengetuk pintu sebelum masuk? Itachi?” Ucap Sasuke dengan nada datar nan tajam. Pandangannya lalu beralih pada sebuah benda yang diletakkan pria bernama Itachi itu di atas mejanya.

“Hn. Apa itu?” Ucapnya lagi seraya mengambil sebuah benda aneh di atas mejanya.

Matryoshika. Kau pernah mendengarnya?” Ucap Itachi dan membuat Sasuke mengangguk mengerti.

Yeah, dia pernah mengetahui boneka bernama Matryoshika ini dari sebuah artikel di internet. Boneka ini memang tidak memiliki bentuk secantik Barbie atau sejenisnya, boneka ini justru memiliki bentuk seperti angka ‘8’ yang dilukis dengan apik bergambar seorang wanita petani di sana. Walaupun boneka ini sederhana namun boneka menjadi mascot kota Rusia sampai saat ini.

Ada kabar lain mengenai boneka Matryoshika yang ditaburi dengan sedikit bumbu horror yang sama sekali tidak menyeramkan menurutnya. Hei, apa kau percaya jika boneka seperti chucky atau Robert itu ada? Bagi Sasuke boneka yang menyerupai mayat hidup seperti itu tidak ada dalam kamusnya, boneka tetaplah boneka, hanya benda mati yang tak memiliki nyawa.

“Hn. Kupikir kau berada di Amerika.”

Sasuke menaikkan sebelah alisnya ketika menyadari manusia yang diajaknya bicara sudah menghilang dari hadapannya. ‘Kemana orang itu?’ Namun pada akhirnya Sasuke hanya mengangkat bahu acuh dengan keberadaan kakaknya itu, toh jika makhluk itu menghilang dari hadapannya itu akan sangat menguntungkan baginya.

Tanpa ia sadari, malam petaka ini baru saja di mulai. Game yang menyenangkan ini baru saja memasuki pertengahan, dimana level selanjutnya akan sulit di dapat. Anggaplah jika level yang dimaksud adalah nyawa, kau akan mengerti apa maksud game tersebut.
.
.
.
KRING

KRING

Suara dering telepon memenuhi ruangan bernuansa Eropa itu, dengan langkah malas Sasuke berjalan menuju sebuah telepon rumah yang tergantung di dinding ruang tengah. Ia lalu mengangkat ganggan telepon dengan sedikit ogah-ogahan.

“Hn?” Gumam Sasuke tak jelas melalui ganggang telepon yang dipegangnya.

“Oh Sasuke. Akhirnya kau mengangkat teleponnya juga!!”

“Hn? Itachi? Bukannya kau—“

Sasuke menghentikan ucapannya ketika sebuah suara menyelanya dari seberang telepon, “Oh, aku hanya ingin memberitahumu. Aku menunda kepulanganku ke Tokyo hari ini.”

“…”

Kau tau? Aku terjebak di Russia dengan badai salju. Mungkin aku akan pulang 3 sampai 5 hari lagi sampai badai salju mereda dan saljunya mulai mencair.”

“…”

“Kau baik-baiklah di sana. Ah ya! Aku sudah membelikanmu souvenir dari Russia—Matryoshika. Hanya di jual di Russia.”

“…”

“Jaa. Kalau begitu—sampai di sini ya? Sasu-chan.”

PIIP

PIIP

PIIP

Sasuke tetap terdiam sampai sambungan komunikasi itu dimatikan secara sepihak oleh sang kakak. Ia terpaku dengan pandangan mata kosong, menatap lurus kearah boneka Matryoshika yang seolah menunjukkan wajah mengejek kearahnya. Namun pada kenyataannya boneka itu memang berwajah demikian, seorang wanita petani dengan sebuah senyum di wajahnya.

Namun bukan itu yang kini menjadi persoalan utama. Jika Itachi menelponnya dalam keadaan terjebak badai salju di Russia, lalu siapa yang tadi tiba-tiba masuk ke kamarnya dan menyerahkan sebuah boneka matryoshka? Siapa dia yang begitu mirip dengan kakaknya?

—Apa mungkin dia semacam hantu?

Sasuke tertawa ketika pemikirannya mengarah pada cerita mitos yang belum ada kebenarannya itu. Oh yang benar saja, apakah dia harus percaya dengan adanya boneka pembunuh seperti chucky. Oh ayolah jangan membuatnya tertawa! Mana mungkin ada boneka bisa bergerak, terlebih lagi ini Matryoshika! Boneka yang berbentuk seperti angka ‘8’ dan tidak memiliki tangan ataupun kaki. Jika ini boneka seperti Barbie mungking dia akan sedikit mempercayainya.

Sasuke menghentikan tawanya, lalu pandangannya kembali melihat kearah meja komputernya tempat di mana boneka mascot Russia itu berada. Namun, sepasang mata onyxnya terbelalak kaget seraya sesekali mengerjap cepat. Boneka itu menghilang dari tempatnya, tapi apa ini benar dengan apa yang dilihatnya? Jangan bilang jika boneka itu memiliki roda di bawah tubuhnya sehingga menggelinding dan terjatuh?

Tapi, itu sangat tidak mungkin kan?

Dengan langkah pelan Sasuke masuk kembali ke dalam kamarnya, ia segera menghampir tempat boneka tadi berada dan mulai mencari di sekitarnya. Di bawah meja, lemari dan di balik pintu—namun hasilnya nihil, tak ia temukan boneka aneh itu. Ia lalu membungkukkan tubuhnya untuk melihat di bawah tempat tidurnya—namun nihil, di sana juga tak ada.

Oya oya. Apa anda mencari saya—tuan.”

Sasuke berjengit kaget seraya menolehkan pandangannya ke belakang, namun tak ada siapapun di sana. Sepasang mata itu semakin membulat kaget tatkala ia merasakan seseorang mendekapnya dari belakang.
Seiring berjalannya waktu, Sasuke merasakan perih menyerang daerah bagian leher dan pundaknya. Sesuatu yang tajam tengah memberikan sayatan di sana, ia bahkan bisa merasakan setiap tetesan cairan yang merembes keluar dari dalam tubuhnya—darahnya.

“Aa~ tuan anda benar-benar—“

“—manis.”

KRAK

ZRASH

Detik selanjutnya, ia bisa merasakan tubuhnya seakan terbelah menjadi dua bagian, dari bagian pundak kanannya yang membuat garis perpotongan menuju ke rusuk kiri. Sasuke membulatkan matanya ketika merasakan tubuhnya mati rasa saat itu juga. 

Namun anehnya dia masih bisa bernafas dan merasakan sakit, padahal seharusnya dia sudah mati seketika itu juga.
.
.
.
“AAAARRRGGGHH!!! Hahh—hah…hah!! Hhh~”

Sasuke terbangun dari mimpi mengerikannya dengan keringat yang mengucur membasahi seluruh tubuh bagian atasnya yang tak tertutup dengan sehelai benang pun. Eh? Telanjang? Sasuke tak pernah ingat dirinya tertidur, sejak kapan?

‘A-apa yang terjadi?!!’ Kini baru disadarinya jika tubuhnya dalam keadaan terikat di sebuah palang berbentuk ‘X’ di dalam ruangan dimana di dalamnya banyak sekali terdapat benda berbentuk seperti roda bergerigi, yang berputar sesuai dengan poros jam.

TENG

TENG

Suara lonceng jam tiba-tiba saja terdengar begitu aneh di indra pendengarannya, seperti sebuah kotak musik yang kehabisan daya putaran makan nadanya akan berbelok-belok tanpa arah. Sama halnya dengan suara lonceng yang di dengarnya.

Oya oya—kon’nichiwa, gou-su-jhin—sama.”

Pandangan Sasuke lalu teralih pada sosok makhluk menyerupai manusia dengan rambut panjang berwarna merah muda kusut, wajahnya penuh dengan jahitan dan tindikan di mana-mana, dan anehnya jahitan itu seperti penghubung antara kain berwarna putih dengan kain berwarna putih tulang—singkatnya jahitan di wajah gadis itu seperti jahitan boneka kain untuk menyambungkan kain yang berbeda menjadi satu. Tubuh gadis itu ditutupi dengan sebuah baju berwarna dark pink yang jahitannya benar-benar tak karuan.

—Satu kata untuk mendeskripsikan secara keseluruhan tentang keadaan gadis itu, mengerikan.

Dengan langkah layaknya sebuah robot gadis itu berjalan kearah Sasuke membawa sebuah gunting dan alat jahit manual di masing-masing tangannya. Sasuke tak berani berteriak, pita suaranya seakan terputus sehingga membuatnya tak mampu bersuara sekecil apapun itu. Sepasang mata onyxnya bergetar ketika memandang gadis itu yang semakin mempersempit jarak di antara mereka.

DUG

Ara ara. Kepalaku terjatuh.”

Tubuh tanpa kepala itu membungkuk seraya mengambil sebuah benda berbentuk menyerupai lingkaran yang tampak tersenyum mengerikan kearah Sasuke. Dengan terburu-buru, tangan dari tubuh itu menjahit kepalanya sendiri agar tetap pada tempatnya. Dan tak butuh waktu lama untuk menyatukan kembali kedua bagian tubuh itu.

Gadis itu kembali berjalan tertatih-tatih, membawa sebuah gunting dan peralatan jahit manual di tangannya. Ketika ia berada tepat di depan pemuda yang terikat di palang itu, ia segera mengarahkan ujung gunting itu untuk menggores kulit tubuh atasnya. 

Gerakan itu seakan memberikan kesan seni yang tinggi karena garis itu bukan hanya horizontal maupun vertikal—namun sebuah garis berliku-liku layaknya akar tanaman yang melilit sebuah dahan.

Sasuke meringis pelan ketika merasakan ujung tajam gunting itu ditekankan gadis itu tepat pada bagian dadanya, hingga bisa ia rasakan ujung besi runcing itu menembus tulang rusuknya. Ia semakin menjerit tatkala merasakan gunting itu membelah tubuhnya dari dada sampai perutnya.

“ARGH!! ARRRGGGHHHHH!!!!”

Jeritan itu semakin menggelegar ketika sebuah tangan masuk ke dalam tubuhnya, mengacak-acak organnya bahkan mengeluarkan organ-organ penting itu dari dalam tubuhnya. Dan jeritan itu semakin menjadi-jadi ketika merasaka tangan itu meremas organ hati miliknya, hingga hancur tak bersisa.

Kakoiii~ kau memiliki organ-organ yang sempurna tuan. Sa!! Sa!! Mari kita gantikan organ-organ itu dengan ini.” Ucap gadis itu seraya menunjukkan sekarung penuh benda berwarna putih seperti busa yang biasa digunakan untuk mengisi bantal dan boneka.

Hal mengerikan selanjutnya yang ia rasakan adalah benda tajam itu memaksa masuk menuju bagian jantung dan paru-parunya. Dengan gerakan pelan, gadis itu menggunting jantung serta paru-paru miliknya. Membuat Sasuke semakin menjerit kesakitan, namun anehnya ia masih bisa merasakan rasa sakit yang mendominasi rasa di tubuhnya yang sudah terasa mati rasa itu.
.
.
.
TREK

TREK

TREK

Langkah berat seorang gadis memakai mantel dan topi yang menyembunyikan wajahnya tampak memasuki sebuah toko souvenir di kota Moskow, Russia. Seorang pria tua dengan sebuah boneka Matryoshika yang di dominasi warna biru tua itu tampak menatap penuh damba sosok gadis yang berjalan layaknya sebuah robot kearahnya.

Okaerinassai—Sakura-chan.”

Gadis itu tampak melepas mantel serta topinya, “Tadaima, gou-shu-jin—sama.”

DUG

DUG

Ara-ara, kepalaku lepas lagi.”
.
.
.
Sosok pria tampan tampak termenung di atas tempat tidurnya, pandangannya sama sekali tidak menyiratkan apapun—kosong. Namun jantungnya masih berdetak walau mulai melemah dan deru nafas tak lagi menghiasi hidupnya. Ralat, dia tidak lagi hidup sekarang—hanya kurang beberapa detik lagi sebelum jantungnya itu berhenti berdetak.

Uchiha Sasuke, seorang pria tampan baru saja kehilangan jiwa yang mengisi tubuhnya ketika mengalami kejadian aneh, seperti mimpi namun terasa nyata. Dan hanya dalam hitungan detik, jantung itu akan berdetak.

BRUK

DUG

DUG

Dan benar saja, beberapa detik kemudian, tubuh itu kembali ambruk diiringi dengan terlepasnya kepala milik pemuda itu dari tubuhnya. Menggelinding di lantai kamarnya begitu saja. Anehnya, tak ada darah yang mengucur dari tubuhnya yang sudah memucat.
.
.
.
THE END (?)
.
.
.
OMAKE
.
.
Ara ara. Kita bertemu lagi tuan.” Ucap penuh ekspresi dari sosok gadis menyeramkan dengan rambut berwarna merah muda. Ia memandang ramah sosok pria yang tak beda jauh dari dirinya.
DUG

DUG

Are?? Biar kupasang kepala dan tanganmu—goushujin—sama.”

DUG

Yare yare. Kepalaku terlepas lagi.”
.
.
.
.
THE END
.
.
.
.
.
Ending Song
Supercell – Juuzoku Ningen
.
.
.
.

.
Posted by Unknown

CHOICE (PART 6)

.
.
.
.
CHOICE
.
.
.
.
Disclaimer © Masashi Kishimoto
Story Written By EmeraldAI
Rate M for Blood
Genre : Romance, Crime, Mistery, Tragedy
Pairing : Sasuke X Sakura
.
.
.
.
Summary
Hidup di sebuah negara yang penuh dengan kelicikan sama sekali bukan kehendaknya. Bekerja di bawah kekuasaan pemerintah yang keji juga bukan kehendaknya. Hidup tanpa ingatan juga bukan kehendaknya/”Yang ku tau, aku hanyalah boneka dengan rantai di leherku…”/”Jika kau mengerti arti hidup, maka kau akan mengerti hidup adalah pilihan—Sakura.”
.
.
.
.
Warning
Typos, OOC, Blood Expilist, Kissing Scane, Bad Sakura, Sad Ending, AU type, Action Story, DLDR, Mind RnR?
.
.
.
.
.
Opening Song
EGOIST – Namae no Nai Kaibitsu
.
.
.
Dibalik jeruji hitam
Aku dilahirkan
.
.
In ga no daishou harai
Tomo ni yokou
Namae no nai—Kaibitsu
.
.
.
.
.
Chapter 6
DOR
DOR
TRANG
TRANG
Suara dua jenis besi yang beradu tampak menggema di sebuah area lahan luas yang hanya ditumbuhi rumput liar. Walau masih terbilang sangat pagi, bahkan matahari belum menampakkan cahayanya—namun, suara bising tampak memenuhi area sekitar lahan, baik suara tembakan pistol maupun teriakan penuh ketegasan dari sosok gadis yang tampak bertarung dengan pria yang membawa dua buah pistol di masing-masing tangannya.
“Masih belum!! Kau masih terlalu lemah untuk disebut seorang pria!” bentak sosok gadis berambut soft pink pendek kurang dari bahu, dengan dua buah kepangan rambut bagian bawahnya, yang menjuntai panjang mencapai pantat—atau bahkan lebih.
Pria yang dibentaknya tampak mendecih pelan, lalu mengarahkan mulut dua buah pistolnya ke arah sosok gadis yang berdiri beberapa meter dari tempatnya. Sepasang mata merah darahnya tampak menggantikan sepasang onyx menawan yang biasa ia tunjukkan sehari-hari.
DOR
DOR
TRANG
TRANG
Lagi-lagi suara tembakkan terdengar, namun kali ini frekuensi suaranya lebih lemah dari yang sebelum-sebelumnya, dan untuk yang kesekian kalinya dua buah peluru yang meluncur dari mulut pistol itu terjatuh sebelum sampai pada sasaran. Hal ini semakin membuat pria itu geram—lagi-lagi pelurunya kalah dengan dua buah jarum yang memiliki ketebalan tak lebih dari setengah peluru tersebut.
“Berhentilah membentak Sakura. Baretta tak sekuat apa yang kau duga—“
Baretta membentuk kekuatan pelurunya berdasarkan emosi orang yang menjadi tuannya. Kau harus mengendalikan emosimu Sasuke-san,” jelas Sakura seraya memberikan jeda sejenak seraya menghembuskan nafasnya pelan.
Dia harus rela membalikkan kepribadiannya yang dingin dan tegas, demi menjadi seorang pelatih yang bijaksana dalam bersikap. Sakura lalu berucap lagi, “kau memang memiliki raut wajah stoic untuk menyembunyikan segala bentuk emosi—tapi dalam dirimu, emosi itu bergejolak tak terkendali.”
“…”
“Sudah tugasmu untuk mengendalikan emosi itu, kau hanya perlu menata emosimu dari dalam.” ucap Sakura seraya menepuk pelan pundak kiri Sasuke.
Dengan suara pelan namun tegas—Sakura kembali berucap, “latihanmu untuk pagi ini cukup—kita akan melanjutkan latihannya setelah kelas selesai. Sekarang bersiaplah sebelum bel berbunyi.”
“Hn.”
“Kau bisa menemukanku di kelas ranking SS. Aku ada pelajaran olahraga pagi ini.” Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Sakura kembali berjalan hendak meninggalkan tempatnya melatih Sasuke.
Namun langkahnya terhenti ketika sebuah tangan kekar menggenggam lengannya. Sakura tak menolehkan pandangannya, ia hanya menatap Sasuke yang memegang lengannya melalui ekor mata miliknya. Sedetik kemudian ia mendengar Sasuke mengucapkan dua patah kata yang tak pernah ia duga sebelumnya.
“Sakura—“
“…”
“—arigatou.”
Tak lama setelahnya Sasuke melepaskan genggaman pada lengannya. Sakura tak menjawab, gadis itu memilih diam seakan menulikan sepasang telinga miliknya. Ia bingung harus menjawab apa atas perkataan Sasuke, dan memilih melengos pergi begitu saja.
Jujur, ini awal pertama kalinya ia mendapatkan ucapan seperti itu dari seseorang. Dan mungkin inilah penyebab jantungnya berdetak semakin kencang, seakan jantungnya ingin terjun bebas menuju perutnya.
Melihat Sakura yang lebih memilih pergi tanpa menjawab apapun atas perkataannya, membuatnya mencelos—ia susah payah mengatakan hal tabu tersebut, tapi orang yang diajaknya bicara memilih pergi tanpa membalas perkataannya walau dengan gumaman. Jika tau begini, ia lebih memilih diam dan tidak akan pernah mengatakannya pada Sakura.
Tapi—
Entah kenapa sisi lain hatinya terasa mengembang, memberikan sensasi tersendiri di perutnya. Serta, rongga dadanya terasa menghangat ketika kulitnya bersentuhan dengan kulit lengan Sakura. Tak dapat ia pungkiri, saat ini guratan merah tipis tampak menghiasi wajah tampannya.
Sebelah tangannya tampak memegang dada kirinya tempat jantungnya berada, ia bisa merasakan detak jantungnya yang menggila. Ia tak pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya, walau ia seringkali bersentuhan dengan wanita bahkan berciuman dengan mereka. Tapi ia tak pernah mendapatkan sensasi seperti apa yang ia rasakan sekarang.
‘Aku tidak mengerti—semua hal tentangmu, perasaanmu, bahkan pemikiranmu—berikan aku penjelasan tentang itu semua bahkan yang saat ini terjadi padaku.’
.
.
.
“Sakura-chan, ohayou!!”
Sosok gadis berambut indigo panjang tampak terduduk di atas sebuah kapak dengan pegangannya yang panjang. Kapak itu berwarna hitam pekat dengan beberapa rantai penghubung yang dipegang gadis itu.
Gadis itu berpenampilan gelap, tubuhnya dibalut dengan dress ala goth dengan bagian bawahnya yang menggunakan kain transparan mencapai mata kaki. Gadis itu hanya mengenakan celana pendek berwarna hitam berbahan kulit, yang hanya menutupi sepermpat paha atasnya. Sedangkan sepasang kaki jenjangnya dibalut dengan sepatu boot berwarna hitam yang menutupi betis sampai seperempat pahanya dengan sebuah tali pada masing-masing bagian atas sepatunya untuk menghubungkan antara sepatu dengan celana pendek yang ia kenakan.
Rambut indigo panjangnya ia kepang menyamping, dan sebuah topi hitam ala penyihir menutupi kepalanya. Gadis itu mengubah total penampilannya, kini semua orang memandangnya dengan pandangan kagum, bukan lagi dengan pandangan sinis yang biasa mereka berikan pada gadis itu.
Ohayou.” balas Sakura seraya berusaha bersikap lunak, namun kesan aneh semakin melekat padanya saat ia berusaha bersikap lebih lunak dari kesehariannya.
Ne ne, Sakura-chan…!! Kita sekelas, pasti menyenangkan memiliki teman di kelas. Aku benar-benar tak sabar, kira-kira apa kita bisa sebangku??” ucap Hinata tampak sangat antusias dengan keberadaan Sakura. Gadis itu seolah melupakan semua masalahnya dalam pertemanan.
Souka. Aku juga berharap begitu.” Sakura tak bisa berkata banyak, ia hanya menjawab singkat atas pertanyaan Hinata. Dia bukanlah gadis yang pernah memiliki kenangan indah bersama seorang teman—bahkan ia tak memiliki satupun teman di Tokyo.
Hinata tampak menunjukkan pose berpikirnya, sedetik kemudian ia tersenyum lembut. Ia lalu berucap, “ada rumor bilang jika kau berada di ranking V1S di Tokyo—apa itu hanya rumor saja, atau—“
“Ya.”
“Hah?”
“Aku memang ranking V1S, aku bukan ranking SS tapi aku sering berbaur dengan ranking SS, karena tidak ada murid lain yang memiliki ranking V1S selain aku.” Sakura berucap dengan panjang namun cepat, membuat Hinata menampilkan ekspresi kagetnya.
Jadi, Sakura bukanlah gadis dengan kekuatan setara dengan gadis lain? Hinata sudah berpikir sejak awal jika Sakura bukanlah pemilik ranking pada umumnya, ada kekuatan besar dalam diri gadis itu. Kekuatan itu terkurung, seperti menunggu pasangannya menyelamatkan dirinya.
Intinya, Sakura memiliki kekuatan besar namun hanya bisa di aktifkan jika bertemu dengan kekuatan yang menjadi pasangannya.
“Kau tidak mengikuti pelajaran olahraga? Kau akan mendapatkan hukuman dari Anko-sensei jika kau tidak mengikutinya, Sakura-chan.” ujar Hinata seraya mengikuti arah langkah Sakura yang menuju gedung olahraga, walau kapaknya yang bergerak dan dirinya hanya duduk di atasnya.
Tanpa perlu mengalihkan pandangannya Sakura menjawab pertanyaan Hinata, “iie, di Tokyo aku tak pernah mengikutinya. Aku hanya melihat dan aku akan menerima tantangan jika ada yang menantangku.”
“…”
“Di Tokyo memiliki sistem berbaur, dari ranking teratas hingga terendah akan saling bertarung dalam sebuah labirin yang dibuat dari illusion room. Apa di sini sama?”
Hinata menggeleng cepat, “iie, di sini pertarungan dikelompokkan berdasarkan ranking. Dan memang terkadang kami menggunakan sistem labirin, tapi terkadang kami menggunakan hutan yang mengelilingi gedung.” jelas Hinata.
Souka.”
A-ano Sakura-chan. Apa pendapatmu tentang kesetiaan?” ucap Hinata seraya menggigit bibir bawahnya, takut jika Sakura akan marah jika ia bertanya hal macam-macam.
Sakura tampak berpikir sejenak, namun detik selanjutnya ia menjawab, “setia, kau menetapkan pilihanmu pada satu hal, mungkin? Aku tak seberapa mengerti dengan hal semacam itu. Gomen.”
I-iie Sakura-chan. Kau sudah sedikit membantu dengan perkataanmu.” Hinata merasa tak enak hati ketika mendengar perkataan ‘maaf’ meluncur dari bibir gadis di sebelahnya.
Ia mengakui apa yang dikatakan Sakura ada benarnya, perkataan Sakura sama seperti yang berada di pikirannya. Dia juga berpikir untuk apa mempertahankan hubungannya dengan sang kekasih jika kekasihnya saja senang bermain dengan wanita di luar sana. Untuk apa dia membuang cintanya hanya untuk pria yang sama sekali tak memandangnya. Jadi, dia memilih mengakhiri semuanya semalam, dengan begini tak ada yang tersakiti lebih lama bukan?
Dirinya bukan seorang yang masochist yang menyukai rasa sakit yang menjalar di fisik maupun batinnya. Dia hanyalah seorang gadis biasa dengan darah Hyuuga yang mengalir dalam dirinya, dia hanya menginginkan kebahigaan pasti bukan kebahagiaan semu yang kapan saja bisa menjadi penderitaan.
“Tentang kekasihmu?”
Hinata sempat terkejut ketika mendengar pertanyaan Sakura yang tepat sasaran. Ia mengangguk pelan seraya bergumam, kedua telapak tangannya yang dibalut dengan sarung tangan hitam mengepal erat. Tak dapat dipungkirinya, sisi lain dirinya menjerit sakit. Karena jujur, masih ada rasa cinta dalam dadanya hingga membuat jantungnya serasa tercabik-cabik setiap kali mengingat mantan kekasihnya.
“Dia bukan satu-satunya lelaki di dunia ini, kau bisa mendapatkan yang lebih baik darinya.” ucap Sakura dengan nada datar. Walaupun ini pertama kalinya ia mendengar kasus seperti percintaan, namun lidahnya tak kelu untuk berbicara memberikan pendapat serta sarannya.
“Kau tidak mengerti Sakura-chan, ini hal yang sulit.”
Sakura terdiam sejenak untuk menghela nafas pendek, ia lalu berucap mengeluarkan pendapatnya apa yang ia tau saat ini. “Aku memang tidak mengerti apapun tentang perasaan ataupun cinta, aku menyelesaikan ratusan misi dengan kasus yang rumit dan berbahaya namun tidak dengan perasaan dan cinta.”
“…”
“Tsunade-sama pernah memberitahuku jika rasa cinta itu pahit dan manis, tapi aku tak pernah mengerti betul rasa cinta. Aku terus bertanya pada setiap orang ‘apa rasa cinta?’ namun setiap orang memiliki jawaban berbeda.”
“…”
“Aku semakin bingung, aku mencoba mencari taunya sendiri. Dengan mencoba satu persatu apa yang mereka katakan, mereka bilang cinta itu ciuman. Aku mempraktekannya pada salah satu musuhku sendiri, sekaligus demi kelancaran misi.”
Hinata terbelalak kaget ketika mendengar ucapan Sakura, rona merah tampak menghiasi wajah manisnya. “Sa-Sakura-chan.” cicitnya seraya menahan rasa malu yang luar biasa.
“Dan bagiku terasa hambar, aku tak merasakan pahit dan manis di ciuman itu. Setelah berpikir panjang aku menarik sebuah kesimpulan pasti—“
“—rasa cinta itu, memang hambar. Pahit dan manis yang dimaksud adalah kehidupan, cinta akan terasa pahit dam manis jika bercampur dengan kehidupan. Namun bukan itu pandanganku, cinta itu adalah perasaan nyaman dengan hal yang asing dan perlahan menjadi hal yang kau kenal baik.”
“…”
“Itulah cinta menurut kesimpulanku—Hinata.”
KRIEET
Hinata sempat terpaku dengan perkataan Sakura yang panjang, namun sedetik kemudian ia bisa menarik kesimpulan tentang teman pinknya ini. Cara pandang gadis itu berbeda dengan orang kebanyakan, gadis itu akan memandang dari segala pihak tidak hanya dalam lingkup pandangannya. Mungkin mayoritas orang yang tidak mengenal Sakura akan beranggapan jika gadis itu tidak peduli dengan sekitarnya, hanya karena sikapnya yang dingin dan sifatnya yang memilih diam.
Tapi tidak, Hinata sejak awal tidak memandang buruk sifat Sakura yang selalu diam dan terkesan dingin. Gadis itu diam bukan karena ia tak peduli, ia diam karena hal itu tak perlu ia tanggapi, di balik itu semua Sakura adalah gadis yang peduli dengan sekitarnya, ia menghargai cara pandang orang, ia peduli dengan setiap saran yang diberikan untuknya. Dan dingin karena memang itulah dirinya, entah karena masa lalu atau apa—Hinata masih belum mengerti.
‘Inikah dirimu—Sakura-chan?’
.
.
.
BRAK
“Tsunade-sama!!” teriak seorang wanita berambut hitam pendek yang baru saja membanting pintu. Wanita itu berjalan cepat menghampiri sosok wanita berambut pirang yang memandang ke arah luar jendela.
Langkahnya terhenti ketika sebuah isyarat tangan dari wanita berambut pirang itu tertuju ke arahnya untuk tidak berbicara. Sebuah senyum pedih tampak menghiasi wajahnya. Ia sudah menduga jika hal ini akan terjadi, pertarungan ini tak dapat dihindari.
“Aku mengerti Shizune. Aku tak mampu menghentikan pertempuran ini dan aku menyadari tak cukup hanya dengan kekuatan kita semua untuk menghancurkan mereka.”
“Tsunade-sa—
“Jadi—tak ada jalan lain selain mundur untuk sementara waktu. Hubungi Academy Anbu Okinawa…perintahkan para murid untuk berkemas. Kita akan tinggal di sana untuk sementara waktu.”
“Tapi Tsunade-sama, bukankah lebih baik kita menghubungi Kyoto—“
Iie.” Tsunade berbalik seraya menatap serius ke arah asistennya. “Kau hanya perlu melaksanakan apa yang aku perintahkan, mengerti?!” bentak Tsunade.
Hai’!! Kalau begitu saya akan segera menghubungi AAO dan memerintahkan para murid untuk berkemas.” ucapnya dengan tegas walau ia cukup terkejut mendengar bentakkan sang kepala sekolah.
“…”
“Kalau begitu saya permisi.”
Dan detik selanjutnya, tampak kepulan asap putih menyelubungi tubuh wanita berambut hitam pendek itu. Tak lama setelahnya, asap itu menghilang bersamaan dengan hilangnya sosok Shizune dari pandangan mata.
“Aku sudah menyadari semua permainan bodoh ini, tidak akan kubiarkan nyawa putriku terancam—tidak akan, sekalipun dia bukan putri kandungku.” ucap Tsunade seraya memandang datar ke arah pintu ruangannya. Ia memejamkan matanya sejenak, ia melihat kematiannya yang tak lama lagi.
Setidaknya ia bisa mempermudah pergerakan putrinya kelak untuk memusnahkan siapa yang seharusnya dimusnahkan. Telah lama ia berpikir tentang semuanya, dan ia kini dapat menarik satu kesimpulan.
Tsunade mengambil sebuah kertas dan sebuah pena, ia menuliskan beberapa buah kata yang bercampur dengan kode. Dilipatnya kertas tersebut, ia lalu memberikan sebuah kata kunci pada selembar kertas itu, seperti halnya kutukan. Tidak ada seorangpun yang bisa membuka kertas itu apalagi menghancurkannya, namun ia yakin Sakura akan menemukan cara itu.
‘Hanya tersisa nyawaku yang dapat kukorbankan. Setelah ini, jaga dirimu baik-baik—kau kunci semua permasalahan ini. Aku yakin, kau akan menemukan jawaban—‘
.
.
.
‘—siapa yang seharusnya kau bunuh.’
.
.
.
Sakura melangkahkan sepasang kaki jenjangnya menyusuri koridor gedung yang tampak sepi. Hari ini ia tak bisa langsung beristirahat di kamarnya karena sang wali kelas memaksanya untuk membantu mengembalikan setumpuk buku tebal ke perpustakaan. Sebenarnya Hinata hendak membantu, namun gadis itu dipaksa pulang karena keluarganya mengadakan acara makan malam yang wajib dihadiri setiap anggota keluarga Hyuuga.
BRUK
Sebuah dorongan membuat Sakura terjatuh ke belakang dan membuat buku-buku yang dibawanya menebar ke sekelilingnya. Gadis segera bangkit dari posisinya, memungut satu persatu buku yang dibawanya. Sakura tampak sedikit terkejut ketika mendengar sebuah suara seorang pria yang ditabraknya.
“Biar kubawakan setengahnya. Kau baik-baik saja kan?” nada lembut itu mengalun memasuki indera pendengaran Sakura.
Gadis itu mengangguk pelan seraya berusaha berdiri walau ia bisa merasakan kaki kanannya terkilir. Namun ini bukan hal fatal baginya, ia sudah sering mendapatkan luka yang bahkan lebih parah daripada ‘terkilir’
Pemuda itu memiliki wajah imut dengan rambut semerah darah. “Kau bisa memanggilku Sasori, kau?”
“Sakura—Haruno Sakura, desu.” ucap datar Sakura yang tanpa henti memandang wajah tampan pemuda yang berjalan di sampingnya.
Bukan karena ia terpesona dengan ketampanan pemuda di sebelahnya, tapi wajah pemuda itu tampak sangat familiar di pikirannya. Ia bisa merasakan ikatan kuat dengan pemuda itu, namun ia tak pernah mengingat sedikitpun tentang pemuda di sebelahnya. Untuk sementara waktu Sakura memilih diam, sembari berpikir sejenak.
‘Kau bahkan tak mengingatku Sakura. Tapi, aku berjanji akan mengembalikan ingatanmu—dan kita akan menikah. Hanya kau, aku dan anak-anak kita—aku akan menciptakan dunia tersendiri untuk keluarga kita—‘
.
.
.
‘—dunia tanpa peperangan.’
.
.
.
.
To Be Continued
.
.
.
.
.
.
.
Ending Song
Nano – Savior Song
.
.
.
.
.
A/N
Selesai sudah chapter 6 ini #lapKeringat saya memutuskan untuk keluar dari fanfiction.net, dan saya akan fokus di sini dan blog pribadi saya. Di web milik Sena ini saya akan mempublish segala rate, mulai dari K, T, M bahkan MA. Tapi di blog pribadi saya hanya akan menulis rate K dan T saja.
Saya sempat kaget ketika diberi tau Sena jika banyak yang menunggu fic saya ini -_- terutama fic Only Mine yang jujur bikin saya miris karena banyak yang suka :v padahal itu lemonnya semakin lama akan semakin ekstrim :v dan saya gak berani jamin tidak ada unsur kekerasa di dalamnya :D #Plak
Baiklah saya mulai perkenalan di sini demi menjaga kesopanan.
Perkenalkan nama saya Gheralda, namun biasa dipanggil dengan sebutan Ai. Keduanya adalah nama asli saya , dan saya seorang gadis #karenaBanyakYangMengiraSayaLaki2 , desu yoroshiku.
Kalian bisa menemukan saya di jejaring social facebook dengan nama ‘Ai Ling Che Che’ jika nanti saya menggantinya, saya akan ganti dengan nama ‘Gheralda Ai’ :3
Baiklah terimakasih J bagi pembaca Only Mine mohon bersabar. Dan siapa yang kemaren request ficnya dibanyakin? Sekarang yang mengisi bagian fanfiction ini tidak hanya saya tapi juga Cece saya J tapi dia hanya mengisi rating aman seperti K dan T J untuk rating di atas itu masih saya pegang. ^^
Salam
.
.
.
Gheralda Citra Prameswari

Arigatou
Posted by Unknown

Popular Post

Labels

Ask Me!

Designed by www.senachan.webs.com. Diberdayakan oleh Blogger.

- Copyright © 2014 Jepang Kita! - Designed by Senachan -