Read more...
Posted by : Unknown

.
.
.
.
MATRYOSHKA
.
.
.
Disclaimer © Masashi Kishimoto
Story Written By © EmeraldAI
Rate M for Blood
Genre © Horror, Supense, Mistery
Main Pairing © Sasuke X Sakura
.
.
.
.
Summary
Sebuah boneka kayu asal Rusia yang dilukis unik menyerupai wajah seorang wanita—Matryoshka. Cantik, itulah gambar wajah yang terlukis di sana. Namun, tidak semua barang bisa dikatakan cantik dengan hanya melihat dari luarnya bukan? Lihatlah! Sebuah boneka Matryoshka di sana! Menatapmu seolah akan membunuhmu kapan saja. Membuatmu agar terlihat seperti wujud aslinya.
.
.
.
.
.
Warning
OOC, Typo(s), DLDR, Blood, AU type, Oneshoot, Mind RnR? Saver Contest : Banjir Tomat Cherry.
.
.
.
.
.
Opening Song
Kagamine Len & Rin – Trick and Treat
.
.
.
.
.
.
.
.

TRING

Alunan suara lonceng terdengar ketika seorang pria memasuki salah satu toko souvenir di Kota Moskow. Tanpa perlu melepas mantel hangat miliknya, ia berjalan memasuki lebih dalam sebuah toko yang paling unik di antara toko-toko lain di pusat Kota Moskow. Walau lorong sempit ia lewati dengan berhias berbagai macam souvenir di sisi kanan dan kiri tubuhnya, tak ada alasan baginya untuk melepas mantel tebal yang melekat pada tubuhnya. Hei, siapa yang akan tahan jika berada di dalam sebuah kota atau bahkan negara dimana tengah terjadi musim dingin, walau masih terbilang awal.

“Ah! Maaf tadi saya sedang ada urusan di dalam. Jadi tidak mendengar suara seorang pelanggan masuk kemari. Ah! Silahkan tuan ingin membeli apa?” Ucap sopan seorang pria tua dengan rambutnya yang sudah memutih walau tak keseluruhan.

Lelaki itu sedikit menyingkir dari tempatnya, memberikan kebebasan bagi pelanggannya untuk memilih barang yang akan dibelinya sebagai souvenir. Dengan langkah pelannya ia mengikuti sosok pria muda berwajah tegas itu di balik punggungnya.

Pria itu tak menjawab, ia berjalan pelan dengan pandangan mata menilai satu persatu barang yang nantinya akan menjadi souvenir untuk sang adik tercinta. Walau sejahil apapun dirinya pada adiknya, tapi itu hanyalah sebuah canda gurau semata. Jahil bukan berarti dirinya dendam terhadap sang adik. Yeah, melihat wajah kesal si bungsu Uchiha itu adalah sebuah kesenangan tersendiri baginya.

Sepasang mata onyx miliknya masih setia menelusuri satu persatu barang di sana—tak ada yang menarik perhatiannya. Kedua matanya tampak menatap penuh kearah sebuah benda di dalam sebuah lemari kaca yang berada di ujung ruangan. Tanpa sadar, langkah kakinya membawa tubuhnya agar lebih mendekat kearah benda tersebut.

Langkah kaki pria tua di belakangnya terhenti seketika. Sepasang matanya menatap kearah satu-satunya barang yang berada di dalam sebuah lemari kata besar di ujung ruangan. Sebuah senyum tipis merekah di bibir kusam miliknya. Dalam hati ia sudah menduga bahwa boneka Matryoshka pastilah digemari banyak tourist dari Luar Negeri.

Boneka Matryoshka memang bukanlah boneka secantik Barbie atau boneka lain yang memiliki postur tubuh menawan. Matryoshka terbuat dari kayu yang diukir dan dibentuk menyerupai bentuk angka ‘8’ dan dilukis apik sebagai penggambaran siapa boneka itu. Boneka Matryoshka pada dasarnya dilukis apik bertema wanita petani dengan bunga-bunga atau flora sebagai pelengkapnya.

“Aku ambil Matryoshka. Berapa harganya, paman?” Ucap pemuda tampan itu seraya menunjuk satu-satunya benda yang berada di rak paling ujung.

Lelaki tua itu berjalan pelan, meminta izin pemuda itu untuk sedikit menggeser tempatnya. Ia lalu berdiri di depan pemuda itu, berusaha mengambil sebuah boneka Matryoshka berdebu yang tersisa satu di dalam rak paling ujung. Dengan kaos lusuhnya ia mengusap bagian berdebu boneka tersebut. Ia lalu memberikannya pada pemuda di hadapannya.

“Tidak usah dibayar. Boneka ini telah lama tidak terjual, aku memberikan gratis untukmu. Anggaplan sebagai pemberian dariku karena telah menjadi pelanggan pertamaku.” Ucap serak pria tua itu setelah memberikan sebuah boneka Matryoshka kepada pelanggan pertamanya di pagi ini.

Pria itu tampak sedikit terkejut sesaat setelah mendengar ucapan pria di depannya itu, namun detik selanjutnya sebuah senyum tulus terukir di wajah tampannya seraya berucap, “Thank you.”

Dengan langkah tergesa-gesa pria itu keluar dari dalam toko tersebut, pria itu membungkuk sejenak untuk berucap terima kasih pada pria tua itu, sebelum berjalan menghampiri taksi yang terparkir di tepi jalan.
.
.
.
Tampak sosok pria tengah duduk di sebuah kursi dengan sebuah layar komputer di depannya. Sepasang mata onyx hitam legam miliknya memandang serius setiap baris kata yang terpampang di layar PCnya, sesekali terdengar suara geraman kesal dari mulutnya. Sambil menggerutu pelan ia mengarahkan kusornya lalu menggerakkan jarinya di atas papan keyboard

TUK

Pemuda itu hampir saja terjungkir ke belakang akibat suara yang datang dari arah sebelahnya, ia lalu memandang sengit sosok pria yang meletakkan sebuah barang aneh di kamarnya. Bukan itu yang ia permasalahkan, tapi kenapa pria itu tidak bisa menghilangkan kebiasaannya untuk mengganggu privasi orang tanpa berkata permisi atau apalah itu.

“Hn. Bisakah kau mengetuk pintu sebelum masuk? Itachi?” Ucap Sasuke dengan nada datar nan tajam. Pandangannya lalu beralih pada sebuah benda yang diletakkan pria bernama Itachi itu di atas mejanya.

“Hn. Apa itu?” Ucapnya lagi seraya mengambil sebuah benda aneh di atas mejanya.

Matryoshika. Kau pernah mendengarnya?” Ucap Itachi dan membuat Sasuke mengangguk mengerti.

Yeah, dia pernah mengetahui boneka bernama Matryoshika ini dari sebuah artikel di internet. Boneka ini memang tidak memiliki bentuk secantik Barbie atau sejenisnya, boneka ini justru memiliki bentuk seperti angka ‘8’ yang dilukis dengan apik bergambar seorang wanita petani di sana. Walaupun boneka ini sederhana namun boneka menjadi mascot kota Rusia sampai saat ini.

Ada kabar lain mengenai boneka Matryoshika yang ditaburi dengan sedikit bumbu horror yang sama sekali tidak menyeramkan menurutnya. Hei, apa kau percaya jika boneka seperti chucky atau Robert itu ada? Bagi Sasuke boneka yang menyerupai mayat hidup seperti itu tidak ada dalam kamusnya, boneka tetaplah boneka, hanya benda mati yang tak memiliki nyawa.

“Hn. Kupikir kau berada di Amerika.”

Sasuke menaikkan sebelah alisnya ketika menyadari manusia yang diajaknya bicara sudah menghilang dari hadapannya. ‘Kemana orang itu?’ Namun pada akhirnya Sasuke hanya mengangkat bahu acuh dengan keberadaan kakaknya itu, toh jika makhluk itu menghilang dari hadapannya itu akan sangat menguntungkan baginya.

Tanpa ia sadari, malam petaka ini baru saja di mulai. Game yang menyenangkan ini baru saja memasuki pertengahan, dimana level selanjutnya akan sulit di dapat. Anggaplah jika level yang dimaksud adalah nyawa, kau akan mengerti apa maksud game tersebut.
.
.
.
KRING

KRING

Suara dering telepon memenuhi ruangan bernuansa Eropa itu, dengan langkah malas Sasuke berjalan menuju sebuah telepon rumah yang tergantung di dinding ruang tengah. Ia lalu mengangkat ganggan telepon dengan sedikit ogah-ogahan.

“Hn?” Gumam Sasuke tak jelas melalui ganggang telepon yang dipegangnya.

“Oh Sasuke. Akhirnya kau mengangkat teleponnya juga!!”

“Hn? Itachi? Bukannya kau—“

Sasuke menghentikan ucapannya ketika sebuah suara menyelanya dari seberang telepon, “Oh, aku hanya ingin memberitahumu. Aku menunda kepulanganku ke Tokyo hari ini.”

“…”

Kau tau? Aku terjebak di Russia dengan badai salju. Mungkin aku akan pulang 3 sampai 5 hari lagi sampai badai salju mereda dan saljunya mulai mencair.”

“…”

“Kau baik-baiklah di sana. Ah ya! Aku sudah membelikanmu souvenir dari Russia—Matryoshika. Hanya di jual di Russia.”

“…”

“Jaa. Kalau begitu—sampai di sini ya? Sasu-chan.”

PIIP

PIIP

PIIP

Sasuke tetap terdiam sampai sambungan komunikasi itu dimatikan secara sepihak oleh sang kakak. Ia terpaku dengan pandangan mata kosong, menatap lurus kearah boneka Matryoshika yang seolah menunjukkan wajah mengejek kearahnya. Namun pada kenyataannya boneka itu memang berwajah demikian, seorang wanita petani dengan sebuah senyum di wajahnya.

Namun bukan itu yang kini menjadi persoalan utama. Jika Itachi menelponnya dalam keadaan terjebak badai salju di Russia, lalu siapa yang tadi tiba-tiba masuk ke kamarnya dan menyerahkan sebuah boneka matryoshka? Siapa dia yang begitu mirip dengan kakaknya?

—Apa mungkin dia semacam hantu?

Sasuke tertawa ketika pemikirannya mengarah pada cerita mitos yang belum ada kebenarannya itu. Oh yang benar saja, apakah dia harus percaya dengan adanya boneka pembunuh seperti chucky. Oh ayolah jangan membuatnya tertawa! Mana mungkin ada boneka bisa bergerak, terlebih lagi ini Matryoshika! Boneka yang berbentuk seperti angka ‘8’ dan tidak memiliki tangan ataupun kaki. Jika ini boneka seperti Barbie mungking dia akan sedikit mempercayainya.

Sasuke menghentikan tawanya, lalu pandangannya kembali melihat kearah meja komputernya tempat di mana boneka mascot Russia itu berada. Namun, sepasang mata onyxnya terbelalak kaget seraya sesekali mengerjap cepat. Boneka itu menghilang dari tempatnya, tapi apa ini benar dengan apa yang dilihatnya? Jangan bilang jika boneka itu memiliki roda di bawah tubuhnya sehingga menggelinding dan terjatuh?

Tapi, itu sangat tidak mungkin kan?

Dengan langkah pelan Sasuke masuk kembali ke dalam kamarnya, ia segera menghampir tempat boneka tadi berada dan mulai mencari di sekitarnya. Di bawah meja, lemari dan di balik pintu—namun hasilnya nihil, tak ia temukan boneka aneh itu. Ia lalu membungkukkan tubuhnya untuk melihat di bawah tempat tidurnya—namun nihil, di sana juga tak ada.

Oya oya. Apa anda mencari saya—tuan.”

Sasuke berjengit kaget seraya menolehkan pandangannya ke belakang, namun tak ada siapapun di sana. Sepasang mata itu semakin membulat kaget tatkala ia merasakan seseorang mendekapnya dari belakang.
Seiring berjalannya waktu, Sasuke merasakan perih menyerang daerah bagian leher dan pundaknya. Sesuatu yang tajam tengah memberikan sayatan di sana, ia bahkan bisa merasakan setiap tetesan cairan yang merembes keluar dari dalam tubuhnya—darahnya.

“Aa~ tuan anda benar-benar—“

“—manis.”

KRAK

ZRASH

Detik selanjutnya, ia bisa merasakan tubuhnya seakan terbelah menjadi dua bagian, dari bagian pundak kanannya yang membuat garis perpotongan menuju ke rusuk kiri. Sasuke membulatkan matanya ketika merasakan tubuhnya mati rasa saat itu juga. 

Namun anehnya dia masih bisa bernafas dan merasakan sakit, padahal seharusnya dia sudah mati seketika itu juga.
.
.
.
“AAAARRRGGGHH!!! Hahh—hah…hah!! Hhh~”

Sasuke terbangun dari mimpi mengerikannya dengan keringat yang mengucur membasahi seluruh tubuh bagian atasnya yang tak tertutup dengan sehelai benang pun. Eh? Telanjang? Sasuke tak pernah ingat dirinya tertidur, sejak kapan?

‘A-apa yang terjadi?!!’ Kini baru disadarinya jika tubuhnya dalam keadaan terikat di sebuah palang berbentuk ‘X’ di dalam ruangan dimana di dalamnya banyak sekali terdapat benda berbentuk seperti roda bergerigi, yang berputar sesuai dengan poros jam.

TENG

TENG

Suara lonceng jam tiba-tiba saja terdengar begitu aneh di indra pendengarannya, seperti sebuah kotak musik yang kehabisan daya putaran makan nadanya akan berbelok-belok tanpa arah. Sama halnya dengan suara lonceng yang di dengarnya.

Oya oya—kon’nichiwa, gou-su-jhin—sama.”

Pandangan Sasuke lalu teralih pada sosok makhluk menyerupai manusia dengan rambut panjang berwarna merah muda kusut, wajahnya penuh dengan jahitan dan tindikan di mana-mana, dan anehnya jahitan itu seperti penghubung antara kain berwarna putih dengan kain berwarna putih tulang—singkatnya jahitan di wajah gadis itu seperti jahitan boneka kain untuk menyambungkan kain yang berbeda menjadi satu. Tubuh gadis itu ditutupi dengan sebuah baju berwarna dark pink yang jahitannya benar-benar tak karuan.

—Satu kata untuk mendeskripsikan secara keseluruhan tentang keadaan gadis itu, mengerikan.

Dengan langkah layaknya sebuah robot gadis itu berjalan kearah Sasuke membawa sebuah gunting dan alat jahit manual di masing-masing tangannya. Sasuke tak berani berteriak, pita suaranya seakan terputus sehingga membuatnya tak mampu bersuara sekecil apapun itu. Sepasang mata onyxnya bergetar ketika memandang gadis itu yang semakin mempersempit jarak di antara mereka.

DUG

Ara ara. Kepalaku terjatuh.”

Tubuh tanpa kepala itu membungkuk seraya mengambil sebuah benda berbentuk menyerupai lingkaran yang tampak tersenyum mengerikan kearah Sasuke. Dengan terburu-buru, tangan dari tubuh itu menjahit kepalanya sendiri agar tetap pada tempatnya. Dan tak butuh waktu lama untuk menyatukan kembali kedua bagian tubuh itu.

Gadis itu kembali berjalan tertatih-tatih, membawa sebuah gunting dan peralatan jahit manual di tangannya. Ketika ia berada tepat di depan pemuda yang terikat di palang itu, ia segera mengarahkan ujung gunting itu untuk menggores kulit tubuh atasnya. 

Gerakan itu seakan memberikan kesan seni yang tinggi karena garis itu bukan hanya horizontal maupun vertikal—namun sebuah garis berliku-liku layaknya akar tanaman yang melilit sebuah dahan.

Sasuke meringis pelan ketika merasakan ujung tajam gunting itu ditekankan gadis itu tepat pada bagian dadanya, hingga bisa ia rasakan ujung besi runcing itu menembus tulang rusuknya. Ia semakin menjerit tatkala merasakan gunting itu membelah tubuhnya dari dada sampai perutnya.

“ARGH!! ARRRGGGHHHHH!!!!”

Jeritan itu semakin menggelegar ketika sebuah tangan masuk ke dalam tubuhnya, mengacak-acak organnya bahkan mengeluarkan organ-organ penting itu dari dalam tubuhnya. Dan jeritan itu semakin menjadi-jadi ketika merasaka tangan itu meremas organ hati miliknya, hingga hancur tak bersisa.

Kakoiii~ kau memiliki organ-organ yang sempurna tuan. Sa!! Sa!! Mari kita gantikan organ-organ itu dengan ini.” Ucap gadis itu seraya menunjukkan sekarung penuh benda berwarna putih seperti busa yang biasa digunakan untuk mengisi bantal dan boneka.

Hal mengerikan selanjutnya yang ia rasakan adalah benda tajam itu memaksa masuk menuju bagian jantung dan paru-parunya. Dengan gerakan pelan, gadis itu menggunting jantung serta paru-paru miliknya. Membuat Sasuke semakin menjerit kesakitan, namun anehnya ia masih bisa merasakan rasa sakit yang mendominasi rasa di tubuhnya yang sudah terasa mati rasa itu.
.
.
.
TREK

TREK

TREK

Langkah berat seorang gadis memakai mantel dan topi yang menyembunyikan wajahnya tampak memasuki sebuah toko souvenir di kota Moskow, Russia. Seorang pria tua dengan sebuah boneka Matryoshika yang di dominasi warna biru tua itu tampak menatap penuh damba sosok gadis yang berjalan layaknya sebuah robot kearahnya.

Okaerinassai—Sakura-chan.”

Gadis itu tampak melepas mantel serta topinya, “Tadaima, gou-shu-jin—sama.”

DUG

DUG

Ara-ara, kepalaku lepas lagi.”
.
.
.
Sosok pria tampan tampak termenung di atas tempat tidurnya, pandangannya sama sekali tidak menyiratkan apapun—kosong. Namun jantungnya masih berdetak walau mulai melemah dan deru nafas tak lagi menghiasi hidupnya. Ralat, dia tidak lagi hidup sekarang—hanya kurang beberapa detik lagi sebelum jantungnya itu berhenti berdetak.

Uchiha Sasuke, seorang pria tampan baru saja kehilangan jiwa yang mengisi tubuhnya ketika mengalami kejadian aneh, seperti mimpi namun terasa nyata. Dan hanya dalam hitungan detik, jantung itu akan berdetak.

BRUK

DUG

DUG

Dan benar saja, beberapa detik kemudian, tubuh itu kembali ambruk diiringi dengan terlepasnya kepala milik pemuda itu dari tubuhnya. Menggelinding di lantai kamarnya begitu saja. Anehnya, tak ada darah yang mengucur dari tubuhnya yang sudah memucat.
.
.
.
THE END (?)
.
.
.
OMAKE
.
.
Ara ara. Kita bertemu lagi tuan.” Ucap penuh ekspresi dari sosok gadis menyeramkan dengan rambut berwarna merah muda. Ia memandang ramah sosok pria yang tak beda jauh dari dirinya.
DUG

DUG

Are?? Biar kupasang kepala dan tanganmu—goushujin—sama.”

DUG

Yare yare. Kepalaku terlepas lagi.”
.
.
.
.
THE END
.
.
.
.
.
Ending Song
Supercell – Juuzoku Ningen
.
.
.
.

.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Popular Post

Labels

Ask Me!

Designed by www.senachan.webs.com. Diberdayakan oleh Blogger.

- Copyright © 2014 Jepang Kita! - Designed by Senachan -