Read more...
Posted by : Unknown

.
.
.
.
CHOICE
.
.
.
.
Disclaimer © Masashi Kishimoto
Story Written By EmeraldAI
Rate M for Blood
Genre : Romance, Crime, Mistery, Tragedy
Pairing : Sasuke X Sakura
.
.
.
.
Summary
Hidup di sebuah negara yang penuh dengan kelicikan sama sekali bukan kehendaknya. Bekerja di bawah kekuasaan pemerintah yang keji juga bukan kehendaknya. Hidup tanpa ingatan juga bukan kehendaknya/”Yang ku tau, aku hanyalah boneka dengan rantai di leherku…”/”Jika kau mengerti arti hidup, maka kau akan mengerti hidup adalah pilihan—Sakura.”
.
.
.
.
Warning
Typos, OOC, Blood Expilist, Kissing Scane, Bad Sakura, Sad Ending, AU type, Action Story, DLDR, Mind RnR?
.
.
.
.
.
Opening Song
EGOIST – Namae no Nai Kaibitsu
.
.
.
Dibalik jeruji hitam
Aku dilahirkan
.
.
In ga no daishou harai
Tomo ni yokou
Namae no nai—Kaibitsu
.
.
.
.
Chapter 5

Sakura melangkahkan sepasang kaki jenjangnya di sepanjang trotoar pusat kota Kyoto. Tatapan intens dilayangkan sepasang manik green emerald miliknya, memandang deretan toko di sepanjang jalan. Mulai dari toko persenjataan, toko aksesoris, pakaian dan kedai makanan—dan yang paling banyak dikunjungi adalah kedai makanan dan toko pakaian.
Puluhan pasang mata tak henti menatapnya dengan pandangan heran, kagum, terpesona, atau bahkan pandangan sinis dan dingin. Dan kebanyakan dari mereka adalah para murid dari Academy Anbu Kyoto, namun ada juga yang merupakan penduduk lokal biasa.
Beberapa pria tampak menghampirinya, berusaha mengajaknya untuk sekedar berkenalan. Namun Sakura tak menggubrisnya, ia hanya menghindari setiap kali seorang pria menghalangi jalannya, tanpa berkata apapun. Hanya sekali melihatnya saja, para pria yang berusaha menarik perhatiannya adalah murid AAK (Academy Anbu Kyoto) yang memiliki rank S—bisa dilihat dari material atau bahan dasar pembuatan senjata mereka—ya hanya logam murni biasa.
Namun sebuah kejadian yang tanpa Sakura duga, terjadi padanya. Seorang pria berambut putih kebiru-biruan tiba-tiba saja memojokkannya ke dinding dengan sebelah tangannya berada tepat di sebelah wajahnya. Sebuah seringaian terukir di wajahnya yang tak terlalu tampan, seringai itu begitu mengerikan bagi para wanita yang melihatnya—menampilkan deretan gigi-gigi tajam miliknya.
Lalu tak lama setelahnya, dengan nada terkesan sinis ia berucap, “kau begitu sombong, eh? Ku dengar Tokyo mengirimkan dua orang muridnya ke Kyoto, untuk melakukan pertukaran pelajar—apa itu kau nona?” ucapnya seraya membelai pipi kanan Sakura, yang langsung ditepis oleh gadis itu.
“Aku tidak memiliki urusan denganmu, jadi kuharap kau memberiku jalan untuk lewat, karena aku memiliki urusan lain yang lebih penting daripada sekedar berkenalan denganmu.” Sakura berucap dengan nada yang terkesan dingin.
Pria itu tampak menyeringai lagi, ia lalu membebaskan kukungan tangannya pada tubuh gadis itu, membiarkan gadis itu melangkah pergi menjauhi dirinya. Namun belum sampai dua meter gadis itu melangkah, ia pun berucap lagi, “siapa namamu nona?”
“Haruno Sakura.” ucapnya seraya tetap melangkah pergi. Walau samar, Sakura bisa mendengar pria itu berucap lagi, menyebutkan nama pria itu,
“Hozuki Suigetsu. Kita akan bertemu lagi—Sakura.”
Sakura tidak menaruh peduli akan ucapan pria aneh yang mengaku bernama Suigetsu itu, dan jujur saja ia memikirkan perkataan Suigetsu yang berucap bahwa dirinya adalah murid pertukaran pelajar, bukankah ia di sini tak lebih dari seminggu. Jika pertukaran pelajar itu bisa terjadi berbulan-bulan atau bahkan satu tahun. Sepertinya ia harus menanyakan hal ini pada ibu angkat sekaligus kepala sekolah di Academy Anbu Tokyo.
Cukup lama ia berjalan menyusuri setiap pusat kota, akhirnya ia menemukan apa yang dia cari—sebuah kedai ramen yang cukup ramai di sana. Dan hei, ada seorang gadis berambut indigo yang dia kenal beberapa jam lalu di sana.
Tanpa menunggu waktu lebih lama lagi, Sakura segera melangkahkan kakinya memasuki kedai ramen itu. Ia mendudukkan diri di samping gadis berambut indigo itu, hal ini membuat gadis itu menoleh ke arahnya dengan raut terkejut. Namun detik selanjutnya gadis itu tersenyum ke arahnya yang dibalasnya dengan senyum kikuk—karena jujur saja, ia jarang tersenyum atau bisa dibilang tidak pernah.
“Oh hai, kita bertemu lagi.” ucap gadis itu dengan nada ceria namun terkesan lembut seraya tersenyum lembut kearah Sakura.
Melihat senyum lembut yang gadis itu lontarkan, membuat Sakura mau tak mau membalasnya—walau hanya dengan senyum kikuk. Dengan nada yang dibuat sesantai mungkin dia berucap, “ba-bagaimana lukamu? Apa masih terasa panas?”
“Sedikit…ta-tapi tenang saja, ini sudah lebih baik dari yang tadi—a-ah, maksudku, aku sudah lebih baik.” Gadis itu berbicara terbata-bata karena kegugupannya. Ini adalah pertama kalinya ia memiliki seorang teman.
Teman?
Ah bolehkan ia menganggap gadis di depannya ini sebagai teman? Karena jujur saja, gadis di depannya adalah gadis pertama yang dia kenal baik. Walau pertemuan mereka terjadi karena kecelakaan.
Souka. Yokatta, jika lukamu sudah lebih baik.” ujar Sakura dengan datar, ia lalu mengangkat tangannya, menyampaikan apa yang dipesannya pada seorang lelaki paruhbaya yang tampak meresponnya walau dalam keadaan sibuk dengan pesanan pelanggannya.
A-ano, Sakura-san. Apa pria yang bersamamu itu kekasihmu? Aku lihat kalian begitu akrab d—“
“Bukan. Dia muridku, aku diberi misi oleh Tsunade-sama untuk melatihnya.” ujar Sakura dengan cepat segera memotong ucapan gadis yang dikenalnya bernama Hinata itu. Baiklah, Hinata adalah orang kedua yang mengira bahwa dirinya dan Sasuke adalah sepasang kekasih. Orang pertama tak lain dan tak bukan adalah Jiraya, pemilik toko persenjataan di kota ini sekaligus ayah angkatnya.
So-souka. Aku pikir kalian sepasang kekasih, karena ku-kulihat kalian begitu akrab.” Hinata sedikit terkejut dengan ucapan Sakura yang tiba-tiba menyela ucapannya.
“Kau menyukainya?”
“Ehhh?!!”
Wajahnya langsung merona hebat ketika mendengar dua kata yang dilontarkan Sakura padanya. Sungguh, ia tak habis pikir bagaimana Sakura bisa berpikiran seperti itu—dia hanya bertanya dan bukan berarti dia menyukai pemuda berambut hitam kebiruan itu. Lagipula hatinya sudah milik seorang pria yang saat ini tengah menjalankan misi penyelamatan di Hokkaido bersama kelompoknya.
“Ti-tidak! A-aku tidak menyukainya! A-aku sudah memiliki kekasih—“ Hinata menghentikan ucapannya, ketika ia menyadari bahwa ia sudah membeberkan status hubungannya pada seorang gadis yang baru saja ia temui.
Malu.
Itulah kata yang kini berada dalam benak Hinata saat ini. Bagaimana mungkin dia dengan mudah memberitahukan statusnya saat ini pada orang yang baru ia kenal, walau dia seorang gadis—tapi tetap saja itu adalah hal memalukan baginya. Ia takut Sakura beranggapan jika ia adalah gadis sok akrab.
“Kau sudah memiliki kekasih, eh? Aku kira kau tertarik dengan Sasuke—ternyata kau sudah terikat pada suatu hubungan yang merepotkan.” Ucapan Sakura terkesan sinis namun tetap bernada datar.
Hinata mengangguk pelan dengan wajah memerah seraya menerima pesanannya yang baru saja jadi, ia lalu mengambil sumpit dan sendok untuk memakan pesanannya.
Semangkuk ramen tersodor ke arahnya, ia menerimanya dengan sigap seraya mengucapkan kata ‘terima kasih’ walau dengan nada pelan dan terkesan datar. Namun sepertinya pemilik kedai ramen itu mendengarnya dan membalasnya dengan senyum sumringah.
Sepasang manik emeraldnya tampak sesekali melirik ke arah sekelilingnya. Banyak para pemuda yang tampak memandang ke arah gadis di sebelahnya ini dengan tatapan aneh seolah hendak menerkam gadis itu—tatapan penuh nafsu. Sakura lalu mengalihkan pandangannya ke arah sosok Hinata yang tampak melahap mie ramennya.
Kini Sakura paham akan alasan para pemuda itu menatap Hinata dengan tatapan penuh nafsu, itu semua terletak pada pakaian yang dikenakan gadis itu, hampir mirip seperti tidak berpakaian.
Hinata hanya memakai selembar kain yang bahkan tak mampu menutupi secara keseluruhan dadanya, perut rata gadis itu tampak tak tertutup penghalang apapun dan bagian bawahnya tertutup dengan rok berwarna ungu muda dengan bagian sampingnya yang tersobek hingga terbuka sampai setengah paha. Sedangkan kaki jenjang gadis itu dibalut dengan balutan sepatu yang mirip dengan sepatu stiletto namun tanpa hells.
“Hinata?”
Gadis itu tampak meremas kuat sepasang sumpit yang digengamnya hingga patah menjadi dua. Dia lalu berucap, “aku tau Sakura-san, tapi aku tidak bisa mengganti penampilanku.”
Sakura mulai bingung, ia menaikkan sebelah alisnya sebagai tanda tanya secara tak langsung.
“Aku hanya ingin menjadi seperti kaa-sama, dia dulu adalah seorang Anbu yang hebat.”
“…”
“Dia menyelamatkan ratusan nyawa penduduk di Jepang untuk di eksekusi ke kota yang aman. Dan dia mati secara terhormat karena berusaha membunuh pemimpin Mafia Akatsuki.”
“…”
“Aku—aku memakai seperti apa yang dia pakai dengan harapan aku bisa menjadi seperti dirinya. Aku—aku…”
PUK
Hinata tampak terdiam ketika sebuah tangan menepuk pundaknya. Ia lalu memandang Sakura dengan sepasang manik amethyst miliknya, dan saat itu pula dirinya terkagum melihat sebuah senyum tulus yang Sakura keluarkan. Gadis yang baru dikenalnya ini memiliki paras cantik dan senyum yang menawan, namun sayang gadis ini minim ekspresi.
Gadis di depannya ini seperti kehilangan sesuatu yang penting dalam hidupnya—pikir Hinata. Ia bisa melihatnya karena kemampuannya adalah meramal. Yah, dia adalah seorang pengguna sihir hitam—kokumanjutsu. Dia memiliki nama lain, Black Wizard, rank SS.
Satu-satunya murid di AAK yang memiliki sirkuit sihir dan mampu mengeluarkannya tanpa perantara yang artinya hanya menggunakan tangan kosong. Ini merupakan kemampuan terkuat sekaligus langka, namun sekuat apapun itu pasti memiliki kelemahan—ya, serangannya terbilang lambat karena dia pengguna jarak jauh dan bukan pengguna senjata seperti pistol, pedang, panah, dan lain lain.
“Tetaplah menjadi dirimu sendiri, kau tak perlu mencontoh secara keseluruhan apa yang terdahulumu lakukan. Kau bisa sekuat dia tanpa kau memandangnya—“
“…”
“—iie, kau bisa lebih kuat darinya jika kau berlatih dengan keras.”
Entah setan apa yang merasuki Sakura saat ini hingga dirinya bisa berkata begitu bijak ditambah senyuman yang melekat di wajahnya. Ini pertama kalinya ada sesuatu yang bergejolak di dadanya, begitu menyenangkan dan memberinya kehangatan.
Para gadis di Tokyo sering berbicara masalah teman, sahabat dan kekasih dengan wajah mereka yang bergembira namun terkadang tampak raut sedih di sana.
‘Jadi, apa ini yang disebut dengan teman?’ Batinnya menghangat.
Sangat mudah untuk mengakuinya, karena Sakura bukan gadis munafik di luar sana, bahwa memiliki teman adalah hal terindah. Dan ia merasa tidak menyesal mengenal gadis berambut indigo di sebelahnya.
Hinata tampak mengangguk disertai dengan sebuah senyum tulusnya, “hai’, aku akan merubah penampilanku—Sakura-chan.”
Dan dibalas dengan anggukan mantap dari Sakura,  ia lalu melanjutkan acara memakan makananya. Walau ramen miliknya tidak lagi hangat, namun perutnya yang lapar membuatnya dengan lahap memakan makanannya.
‘Aku sungguh beruntung berkenalan denganmu—kau tak seperti mereka, para gadis yang mengucilkanku. Kita akan selamanya menjadi teman kan—Sakura-chan?’
.
.
.
PLUK
Sakura meletakkan seporsi nasi kari di pangkuan Sasuke, dengan sebuah desahan panjang ia membaringkan tubuhnya di tempat tidur miliknya yang berada di samping tempat tidur Sasuke—di ruangan tersebut terdapat dua tempat tidur berukuran king size, dua buah lemari dan satu kamar mandi.
Sepasang bola mata berwarna hitam legam itu memandang heran gadis yang membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, pasalnya gadis itu berkata akan membawakan ramen, lalu kenapa nasi kari? Jujur, ia tidak seberapa menyukai menu makanan yang dibawakan Sakura.
“Kau bilang ke kedai ramen? Lalu kenapa kau pulang membawa nasi kari?” ucap Sasuke seraya membuka kotak sterofom dan mengambil sendok plastik, lalu melahap sesendok nasi kari dengan wajah tak bersemangat.
Sakura bangkit dari posisinya dia memandang datar ke arah Sasuke dan berucap, “di sana tidak menerima ramen yang dibungkus, jadi aku membelikanmu itu.”
“Kau ini maniak nasi kari ya?” ucap Sasuke seraya mendengus kesal. Jika tau begini ia lebih baik minta dibawakan bento saja.
Dengan nada datar Sakura membalas ucapan Sasuke, “kenapa? Kau tak menyukainya?”
“Hn.”
“Setidaknya makanlah untuk kesembuhanmu, karena latihan akan aku mulai besok. Kau tidak ingin kan, jika tubuhmu limbung dalam sekali seranganku?” tanya Sakura dengan nada bicara yang terkesan saskartik.
Tanpa membalas ucapan Sakura, ia pun segera melahap nasi kari yang dibawakan Sakura untuknya. Batinnya terasa menghangat ketika membuat sebuah kesimpulan bahwa gadis yang akan menjadi gurunya tidak semenyebalkan apa yang dipikirkannya.
‘Ternyata dia tak semenyebalkan apa yang aku pikirkan.’
.
.
.
Di tempat lain, tepatnya di gedung Academy Anbu Tokyo tampak dihebohkan dengan hilangnya salah satu tahanan bernama Yakushi Kabuto, salah satu mata-mata Mafia Akatsuki yang menyamar menjadi seorang murid di AAT.
Tsunade selaku kepala sekolah AAT tampak uring-uringan ketika mendengar laporan dari salah satu bawahannya, ia bahkan membuat meja kerjanya terbelah menjadi dua. Hal ini sudah diduga Shizune yang merupakan asisten pribadinya.
“Shizune!! Perintahkan para 20 murid teratas ranking SS untuk melakukan pencarian Yakushi Kabuto.”
“…”
“Perintahkan mereka juga untuk membawa pria itu dalam keadaan hidup ataupun mati. Kau mengerti Shizune?!!”
Wakarimashita, saya akan segera menjalankan perintah anda Tsunade-sama.” ucap Shizune lalu beberapa saat setelahnya ia menghilang dengan cepat yang meninggalkan kepulan asap putih di tempatnya berdiri tadi.
Tsunade menghela nafas gusar, ia tampak memijat kedua sisi pelipisnya seraya memejamkan sepasang kelopak mata miliknya. Ia benar-benar tak menyangka jika keamanan gedung AAT bisa mengalami kebobolan, dan ini pasti ulah Akatsuki. Mereka memang mafia yang memiliki seribu cara cerdik untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.
“Sepertinya aku butuh sake, untuk menenangkan pikiranku.” gumamnya seraya melangkah keluar dari ruangannya, berjalan menuju ruangan pribadinya dimana terdapat puluhan botol yang berisi penuh sake, di meja bar miliknya.
.
.
.
Di salah satu kota dengan bangunan yang hampir runtuh, tampak sekelompok manusia berjubah hitam tengah berkumpul di dalamnya. Walau dalam keadaan gelap, namun hal ini tak melemahkan kewaspadaan indera mereka semua. Semuanya saling berbincang dan tertawa tanpa kendala apapun.
“Kau sudah mendapatkannya?” ucap seorang pria yang memiliki wajah penuh dengan tindikkan, ia menatap dua orang anak buahnya dengan pandangan tajam.
“Seperti yang kau harapkan—leader-sama.”
“Kerja bagus.”
“…”
“Bagaimana denganmu Sasori? Apa rencanamu?” ucapnya lagi seraya menoleh ke arah sosok pemuda yang diselimuti dengan kegelapan di pojok ruangan.
Pemuda itu melangkah mendekat ke arah Sang Ketua, ia menampilkan sebuah seringai yang tertutupi dengan kegelapan. “Seperti harapanmu leader-sama.”
“…”
“Aku sudah merencanakan semuanya dengan baik—dan besok, aku akan memulai rencanaku. Kumohon untuk dirimu bersabar, ini tidak akan lama—leader.” ujarnya lalu kembali melangkah kembali memasuki kegelapan, lebih dalam hingga hanya terdengar suara langkah kakinya yang menjauhi ruangan tempat kawan-kawannya berkumpul.
“Hn, aku akan menunggunya—Sasori. Anggota baru seperti yang kau janjikan.”
.
.
.
.
.
To Be Continued
.
.
.
.
Ending Song
Nano – Savior Song
.
.
.
.

.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Popular Post

Labels

Ask Me!

Designed by www.senachan.webs.com. Diberdayakan oleh Blogger.

- Copyright © 2014 Jepang Kita! - Designed by Senachan -