- Back to Home »
- Fanfiction »
- CHOICE (PART 4)
Posted by : Unknown
.
.
.
.
CHOICE
.
.
.
.
Disclaimer
© Masashi Kishimoto
Story
Written By EmeraldAI
Rate
M for Blood
Genre
: Romance, Crime, Mistery, Tragedy
Pairing
: Sasuke X Sakura
.
.
.
.
Summary
Hidup
di sebuah negara yang penuh dengan kelicikan sama sekali bukan kehendaknya.
Bekerja di bawah kekuasaan pemerintah yang keji juga bukan kehendaknya. Hidup
tanpa ingatan juga bukan kehendaknya/”Yang ku tau, aku hanyalah boneka dengan
rantai di leherku…”/”Jika kau mengerti arti hidup, maka kau akan mengerti hidup
adalah pilihan—Sakura.”
.
.
.
.
Warning
Typos,
OOC, Blood Expilist, Kissing Scane, Bad Sakura, Sad Ending, AU type, Action
Story, DLDR, Mind RnR?
.
.
.
.
.
Opening
Song
EGOIST
– Namae no Nai Kaibitsu
.
.
.
“Dibalik jeruji hitam
Aku
dilahirkan”
.
.
In
ga no daishou harai
Tomo
ni yokou
Namae
no nai—Kaibitsu
.
.
.
.
Chapter
4
“Hei, gadis gila—aku benar-benar tak mengerti jalan
pikiranmu.” ucap Sasuke seraya menatap rimbunan benda berwarna merah muda di
atasnya. Ia kini tengah berbaring diatas rumput hijau dengan menatap kearah
langit yang terhalangi dengan rimbunan bunga Sakura.
SYUT
SYUT
TAK
TAK
Sakura tak menghentikan kegiatannya melempar beberapa
jarum kearah sebuah papan sasaran. Awalnya semua lemparannya selalu tepat
sasaran, namun beberapa saat ketika ia mendengar perkataan Sasuke—entah kenapa
konsentrasinya terpecah belah hingga mengakibatkan lemparan terakhirnya tidak
tepat dengan apa yang di harapkannya. Jarum itu sedikit meleset dari target
bergambar titik warna merah di tengah papan.
Ia menghela nafas berat, ini adalah pertama kalinya ia
merasakan gejolak emosi yang meletup-letup di dadanya. Berkali-kali ia
membisikkan kata ‘sabar’ untuk dirinya sendiri.
“Bisakah kau tidak mengangguku?
Uchiha Sasuke-san?”
“…”
“Jika kau menggangguku karena kau bosan. Akan lebih
baik jika kau gunakan waktumu untuk berlatih—kau bahkan tak bisa melindungi
dirimu sendiri sebagai pemegang rank S.
Bagaimana kau bisa—“
“Kau berpikir aku selemah itu hanya karena beberapa
orang menyerangku kemaren, eh?!!” ucap Sasuke dengan sebuah seringai tampil di
wajah tampannya, memotong perkataan Sakura.
“…”
“Dengar baik-baik—gadis gila!! Aku sengaja membuat
diriku seakan-akan kalah—kau tau, maksudku tentang misi yang diberikan Tsunade-sama?” dusta Sasuke seraya mengalihkan
pandangannya kearah lain, ia tak berani menatap sepasang manik green emerald milik Sakura. Takut jika
kalau gadis itu bisa mengetahui kebohongan seseorang hanya dengan menatap
matanya.
Namun sayangnya, apa yang ada dipikiran Sasuke tak
sesuai dengan kenyataan yang ada pada Sakura. Pada kenyataannya gadis itu tidak
bisa mengetahui kebohongan seseorang hanya dengan menatap matanya, bahkan ia
tak bisa mengetahui perasaan orang lain.
Sakura hanya mengangguk sebagai tanda mengerti tentang
apa yang diucapkan Sasuke. Dengan rasa bersalah ia lalu berucap dengan sedikit
lantang seraya melempar beberapa jarum hitamnya lagi, “kalau begitu, maafkan
aku Uchiha Sasuke-san.”
Kini giliran Sasuke yang merasa bersalah karena telah
berdusta pada Sakura, yang nantinya akan menjadi orang yang membuatnya lebih
kuat dibanding yang sekarang. Pemuda itu sedikit tersenyum getir saat menyadari
betapa rendahnya dirinya—dia petarung yang lemah, ditambah dengan predikat yang
baru saja ia catat sendiri sebagai pembohong ulung. Di sini dirinya terlihat
seperti seorang pengecut.
“Jadi—bisakah kau menunjukkan sampai dimana
kehebatanmu? Uchiha Sasuke-san?”
Baiklah, ia harus menghilangkan perasaan bersalah itu
ketika ia mendengar perkataan Sakura. Sepertinya gadis itu mengetahui
kebohongannya—ia benar-benar sudah berpikir jika gadis gila itu tidak bisa
membaca perasaan orang lain. Tapi sepertinya pemikiran itu harus segera ia
hapuskan, sebab tak sesuai dengan kenyataan.
Sakura memang tak bisa mengerti perasaan setiap orang,
namun bukan berarti ia tak bisa mengerti jalan pemikiran setiap manusia yang
berhadapan dengannya, kan? Jika ia tak
mengerti jalan pemikiran manusia yang berhadapan dengannya, sungguh hal
mustahil jika peringkat V1S bisa ia
dapatkan, bukan?
‘Kuso!’ Sasuke mengumpat dalam hati atas ketidak
beruntungannya kali ini.
Tanpa Sasuke sendiri sadari, sebuah senyum tipis
terlukis di wajah Sakura yang telah terbiasa tak mengeluarkan ekspresi senang.
Namun, Sakura tak mau menyimpan kebohongan pada dirinya sendiri, jika ia
menyukai suasana saat ini—saat bersama sosok pemuda menyebalkan yang ia kenal
bernama Uchiha Sasuke.
SYUT
SYUT
“Jadi aku harus apa?”
TAK
JLEB
“I-ittai…!!!”
Bagus, sekarang karena ucapan Sasuke, lemparannya malah
meleset mengenai seseorang. Bukan karena dirinya tidak profesional sehingga
senjatanya bisa salah sasaran. Salahkan Sasuke yang membuatnya terkejut
sehingga tanpa sadar ia malah mengarahkan jarumnya kearah semak-semak dan
mengenai seseorang di sana.
Tapi tunggu—di balik semak-semak itu berdiri tembok
yang tinggi sebagai pembatas antara hutan dan gedung sekolah. Ya, gedung Academy Anbu Kyoto memang dikelilingi
hutan rindang yang biasa digunakan untuk para murid melakukan tes praktek di
sana. Hal ini karena sistem illusion room
belum diterapkan di gedung ini—atau lebih tepatnya belum selesai dalam
pengerjaannya. Sistem itu masih diterapkan di Academy Anbu
Tokyo.
Sakura memberikan tatapan mematikan kearah Sasuke,
namun sedetik kemudian ia berlari menghampiri sosok dibalik semak-semak yang
tengah merintih kesakitan karena terkena jarum kristal hitam miliknya.
Memang jarum itu tak mengandung racun, meski begitu
jika tertusuk jarum miliknya, kulit mereka akan terasa seperti tergigit ular
dan selanjutnya akan terasa terbakar. Bagi mereka yang tak memiliki potensi tak
biasa, pasti beberapa jam kemudian akan merenggang nyawa dikarenakan rasa sakit
yang terasa panas seperti terbakar.
Dengan gerakan cepat Sakura membelah semak-semak itu
menggunakan kedua tangannya yang dibalut sarung tangan hitam, dengan raut datar
ia pun berucap. “Da-daijobu?” ucapnya
seraya membantu gadis itu berdiri.
“Akh!! Ke-kenapa rasanya begitu panas?” ucap gadis itu
seraya memegang luka sayatan yang berada di lengan kanannya.
Sakura memapah tubuh gadis berambut indigo itu untuk
keluar dari semak-semak. Ia lalu menurunkannya di bawah pohon Sakura—tanpa
berkata apapun, ia meletakkan kedua tangannya di atas luka milik gadis itu. Tak
lama, sebuah cahaya berpedar kehijauan keluar dari kedua tangannya, menutup
luka sayatan itu secara perlahan, namun hal itu tak bisa menghilangan rasa
perih dari dalam luka yang tertutup itu.
“Ah! Ini terasa lebih baik.” ujar gadis berambut indigo
itu, membuat Sakura menjauhkan kedua telapak tangannya dari atas luka sayatan
gadis itu.
“Sumimarsen,
saya tidak menyangka jika lemparan saya bisa meleset hanya karena ucapan orang bodoh.” Sakura berucap dengan
nada sedikit sinis seraya melirik kearah Sasuke yang berdiri tak jauh di
sampingnya.
Dalam hati, ingin rasanya Sakura memenggal kepala
pemuda yang telah membuat serangannya meleset dan mengenai seseorang di sana.
Beruntung serangannya mengenai salah seorang murid di Academy Anbu Kyoto, jika serangannya mengenai orang biasa,
bisa-bisa orang itu akan menjerit kesakitan walau lukanya sudah ia obati. Bahkan
Sakura berani menjamin, gadis di hadapannya ini masih mengalami rasa sakit
akibat luka yang baru saja tertutup itu.
Gadis berambut indigo panjang itu sedikit gugup ketika
seseorang meminta maaf padanya, padahal ia tau di sini dirinya juga bersalah. Jika
saja ia langsung menghampiri gadis itu tanpa harus bersembunyi, mungkin dirinya
tak perlu mendapat luka itu. Tadi ia sudah berusaha menghindar dari jarum itu,
namun kecepatannya tak bisa menandingi kecepatan benda itu hingga dirinya
tergores sedikit oleh jarum itu.
Catat! Hanya tergores dan kulitnya sudah serasa
terbakar. Ia tak bisa membayangkan jika jarum itu sampai menusuknya.
“I-Iie. A-aku
yang salah di sini, jika saja aku langsung menghampirimu tanpa bersikap
pengecut mungkin jarum itu tidak akan sampai melukaiku—gomennasai!!!” Gadis itu berucap dengan cepat seraya menundukkan
badannya berkali-kali di hadapan Sakura.
“…”
“A-ano…ha-hajimemashita—Hyuuga
Hinata desu. Yoroshiku.” Gadis bernama Hinata itu berucap dengan ucapan
terbata-bata karena kegugupannya seraya ber-ojigi
sekali lagi.
Sakura terdiam sejenak, namun detik berikutnya ia ikut
ber-ojigi seperti gadis di depannya
itu seraya dengan datar dia berucap, “Haruno Sakura, desu.” ucapnya singkat.
“E-etto—hahahaha,
aku sedikit gugup bertemu denganmu. A-aku hanya penasaran dengan murid V1S dari Tokyo, d-dan aku memilih
sembunyi di antara semak-semak, u-untuk me-melihat—mu.” Hinata berucap dengan
nada bergetar dan dengan wajah yang sedikit memerah akibat rasa malu karena
ketahuan mengintip. Entah mengapa ia merasa dirinya seperti penguntit.
Melihat kedekatan antara Hinata dan Sakura secara
singkat, membuat otak jeniusnya berpikir yang ‘bukan-bukan’. Sasuke berpikir, apa mungkin Sakura itu—lesbi?
Tidak! Bukan tanpa alasan dirinya berpikir begitu. Coba
pikirkan, saat pertama kali ia dan Sakura bertemu, sudah diawali dengan obrolan
yang tak mengenakkan. Dan sekarang, baru saja Sakura bertemu dengan seorang
gadis dan Sakura sudah sangat lancar berkomunikasi dengan baik dengan gadis itu.
Bukankah itu aneh?
“A-ano—sumimarsen,
aku hampir lupa jika aku harus segera melapor ke ruangan Terumi-sama tentang keberhasilan misi yang
kulakukan de-dengan—dengan—Na-Naruto—kun.”
“…”
“J-jaa—Sa-Sakura-san.”
Detik itu juga gadis berambut indigo dengan pakaiannya
yang terbuka itu melesat dengan cepat menuju sebuah jendela yang terbuka di
lantai dua. Jangan berpikir jika gadis itu memiliki sayap, tidak—dia hanya
menggonakan sepasang kaki dan tangannya untuk bisa sampai ke sana.
Setelah kepergian gadis berambut indigo itu, Sasuke
melangkahkan kakinya mendekat kearah Sakura yang tampak membereskan sisa-sisa
latihannya. Ia lalu berucap dengan nada datar, “Sakura, apa kau itu—“
“…”
“—lesbi?”
JDUAG
Dan perkataan Sasuke sukses menciptakan sebuah luka
memar di dada kirinya akibat tendangan langsung dari Sakura. Gadis itu merasa sedikit tersinggung akibat perkataan
Sasuke padanya. Dirinya masihlah normal, dan tentu dia tidak akan memiliki
perasaan cinta pada sesama wanita.
.
.
.
“I-ittai…!!!
Bisakah kau sedikit lebih halus?!” rintih Sasuke yang duduk di atas tempat
tidur seraya memberikan deathglare
kearah Sakura yang duduk di depannya.
Gadis yang diberi deathglare
itu hanya diam, seraya tetap mengusap kain basah di tangan kanannya kearah dada
kekar Sasuke. Jujur, untuk luka seperti ini Sakura tidak bisa mengobati
menggunakan kemampuannya, dia hanya bisa menutup luka sayatan tapi tidak bisa
menghilangkan rasa sakitnya seperti yang dilakukan Tsunade. Dia masihlah amatir
untuk masalah pengobatan, dia mempelajari ilmu itu sendiri hanya sekedar
mengisi waktu luang saja. Jadi, dia tidak seberapa menekuninya.
“Pe-pelan-pelan, bodoh!! I-ittai!!” Sasuke semakin merintih sakit ketika Sakura sedikit
menekan kain basah itu kearah luka Sasuke.
Gadis itu mendengus pelan seraya memasukkan kain ke
dalam baskom berisi air yang terletak di sebelahnya. Ia lalu meremasnya,
membuat air hangat yang sempat terserap oleh kain itu kembali menetes ke dalam
baskom. Dengan lirih ia lalu berucap, “itu kesalahanmu, setidaknya aku tak
sampai membunuhmu atau membuat kakimu patah.”
“Hn. Lebih baik mengalami patah tulang kaki dibanding
merasakan tendangan wanita gila sepertimu.” lirih Sasuke berusaha agar Sakura
tak mendengarnya. Namun sayangnya, Sakura mendengar jelas perkataan Sasuke.
Namun ia hanya diam.
“…”
“Hn. Sakura.”
Gadis yang merasa namanya dipanggilpun menatap Sasuke,
ia menaikkan sebelah alisnya sebagai sebuah ekspresi tanya akibat perkataan
ambigu dari Sasuke.
“Aku masih penasaran tentang caramu mengalahkan Yakushi
Kabuto waktu itu.”
“Aku menaruh racun pada ciuman yang kuberikan padanya.”
Sakura menjawab dengan nada yang seolah tak peduli.
Sebuah emosi takjub terpancar dari sepasang mata elang
milik Sasuke, pemuda itu sedikit kagum dengan Sakura. Selain memiliki
ketangguhan dalam bertarung, gadis itu juga memiliki pemikiran yang panjang. “Hn.
Aku tidak menyangka jika kau sampai senekat itu.”
“Iie. Itu
hanya hal kecil, aku hanya mengantisipasi jika kalau aku terdesak dalam
pertarungan melawan Kabuto. Dia bukanlah lawan yang bisa diremehkan—dia
merupakan salah satu mata-mata dari mafia
Akatsuki yang dulu pernah menguasai Kyoto.”
“…”
“Aku memang tak berhasil membantai keseluruhan, mereka
yang selamat memilih keluar dari Tokyo dan menetap di salah satu kota yang aku
belum tau dimana itu.” Sakura berucap panjang lebar, menjelaskan satu persatu
tentang pertarungannya melawan Akatsuki.
Mendengar penjelasan dari Sakura, pemuda itu sedikit
heran. Ia pun memutuskan bertanya kembali, “hn. Kupikir mereka yang memiliki ranking tinggi memiliki kepedulian yang
lebih dengan teman satu team-nya.”
Sakura menggeleng perlahan, tanda menolak pendapat
Sasuke. Ia lalu menjawab, “iie, aku
melakukan misi itu sendiri.”
“Kau?!! Sendiri?!!!” Sasuke tak percaya dengan pengakuan gadis itu.
Ia pikir ada orang lain yang membantu gadis itu dalam misinya, ternyata gadis
itu melakukannya sendiri.
Bahkan, kalaupun ia melakukan misi dengan kelompok, ia
tak akan mampu berbuat banyak selain mengintai. Hanya itu kemampuan yang
dimilikinya saat itu, dan mungkin selamanya. Entah mengapa ia tak begitu yakin
dengan ucapan Sakura yang akan melatihnya hingga mampu bertarung. Tapi bukan
berarti ia meragukan kemampuan yang dimiliki Sakura.
Tanpa berkata apapun Sakura lalu beranjak dari
tempatnya, ia lalu berjalan kearah jendela kamar, dibukanya jendela
itu—membiarkan angin luar masuk ke dalamnya.
“Sasuke.”
“Hn.”
“Tunggulah di sini, aku akan membawakanmu makanan.”
“…”
“Aku lihat tadi ada kedai ramen yang cukup ramai di
tengah kota. Kurasa tidak buruk makan ramen di siang hari.”
Sasuke sedikit terkejut mendengar ucapan Sakura.
Biasanya gadis itu akan berucap sinis padanya dan bersikap seolah tak peduli
dengannya. Namun kali ini gadis itu terlihat sedikit menunjukkan sisi
lembutnya. “Aku tak menyangka jika kau memiliki sisi lembut juga. Kukira yang
ada di otakmu hanya misi dan misi.”
“Ti-tidak. Kau salah paham!! Anggaplah itu sebagai rasa
bersalahku karena sudah menendang dadamu hingga memar. Hanya itu.”
“…”
“Kalau begitu—jaa!!”
Sebelum Sasuke sempat membalas ucapannya, Sakura segera
keluar melalui jendela kaca di kamar mereka berdua. Dengan menunggangi seekor
kuda hitam, Sakura melesat menuju pintu gerbang gedung itu.
Seluas senyuman tampak menghiasi wajah pemuda bernama
Sasuke itu. Sepasang mata elangnya memandang kearah jendela kamar mereka dengan
tatapan yang sulit diartikan. Walau hanya sekilas, namun ia cukup puas dapat
melihat rona merah tipis di wajah Sakura. Dia begitu manis dengan wajah merona
dibanding wajah datar yang selalu ditunjukkannya.
‘Apa
mungkin Sakura menyukaiku?’
Dan selanjutnya, berbagai pikiran aneh memenuhi
otaknya. Sasuke sendiri bahkan tak
menyangka jika ia bisa berpikiran seperti itu. Sakura menyukainya? Bahkan
pertemuan mereka, diawali dengan obrolan sinis.
.
.
.
.
.
To
Be Continued
.
.
.
.
.
Ending
Song
Nano
– Savior Song
.
.
.
.
.
.
