Read more...
Posted by : Unknown

.
.
.
.
CHOICE
.
.
.
.
Disclaimer © Masashi Kishimoto
Story Written By EmeraldAI
Rate M for Blood
Genre : Romance, Crime, Mistery, Tragedy
Pairing : Sasuke X Sakura
.
.
.
.
Summary
Hidup di sebuah negara yang penuh dengan kelicikan sama sekali bukan kehendaknya. Bekerja di bawah kekuasaan pemerintah yang keji juga bukan kehendaknya. Hidup tanpa ingatan juga bukan kehendaknya/”Yang ku tau, aku hanyalah boneka dengan rantai di leherku…”/”Jika kau mengerti arti hidup, maka kau akan mengerti hidup adalah pilihan—Sakura.”
.
.
.
.
Warning
Typos, OOC, Blood Expilist, Kissing Scane, Bad Sakura, Sad Ending, AU type, Action Story, DLDR, Mind RnR?
.
.
.
.
.
Opening Song
EGOIST – Namae no Nai Kaibitsu
.
.
.
Dibalik jeruji hitam
Aku dilahirkan
.
.
In ga no daishou harai
Tomo ni yokou
Namae no nai—Kaibitsu
.
.
.
.
Chapter 3

Station Area 1, Tokyo XXXX
.
Sosok gadis remaja tampak berjalan seorang diri diantara padatnya stasiun Tokyo area satu. Gadis itu tampak setia menggenggam sebuah benda berbentuk persegi panjang dengan sensor yang mengisi ruang kosong di tengahnya—mengarahkan alat tersebut kearah satu persatu orang yang berada di sekitarnya.

Jujur, ia tampak kepayahan mencari seorang pemuda diantara lautan manusia, walaupun identitas pemuda itu sudah terdaftar pada sensor pelacak miliknya, dan juga posisi mereka sudah berada di area yang sama. Benda tersebut memang dikhususkan untuk mencari posisi orang melalui identitas yang sudah dicopy ke dalam alat itu, hanya perlu mengarahkan ke sekitar, alat itu dengan sendirinya akan melacak menggunakan sinar sensor.

Cukup lama ia bergelut pada kegiatannya, akhirnya alat digenggamannya berbunyi—memperlihatkan seorang pemuda tampan yang tengah bersandar di sebuah pilar kaca di dalam stasiun. Pemuda itu tampak mengotak atik layar digital miliknya yang keluardari sebuah benda berbentuk persegi memanjang yang dipegangnya.

Dengan langkah mantap, gadis itu berjalan seraya menarik sebuah koper di tangan kirinya dan sebuah tas selempang besar yang tergantung di bahu kirinya. Setelah berjarak kurang lebih setengah meter dari tempat pria itu, dia pun berucap, “Permisi. 
Apa kau Uchiha Sasuke??”

“Hn??” Sasuke mengalihkan pandangannya kearah sosok gadis berambut merah muda pendek, dengan sisa rambut panjang mencapai pantat yang di kepang dua. Pria bernama Sasuke itu berkata lagi, “jadi kau yang bernama Haruno Sakura, eh?? Kau tidak seperti yang kubayangkan.”

Pandangan Sasuke tampak menelusuri tubuh Sakura, dari ujung kepala hingga ujung kaki. Dia tampak menyeringai tipis ketika melihat pakaian serba hitam yang dipakai Haruno Sakura—ia pikir gadis yang memiliki peringkat V1S di AAT (Academy Anbu Tokyo) adalah gadis berpakaian sexy untuk menunjukkan tubuhnya yang menggoda.

Nyatanya? Hal itu tidak sesuai apa yang dia pikirkan. Dengan dress hitam berlengan panjang yang menutupi setengah paha gadis itu, dan parahnya kaki jenjang gadis di depannya ini dibalut dengan stocking yang menutup keseluruhan kaki-kaki jenjangnya, dan gadis itu mengenakan sepatu boots tanpa hells, sepatu itu menutupi tiga perempat dari betisnya. Dan terakhir, bagian kepalanya—gadis itu mengenakan topi bundar berwarna hitam dengan aksen mawar merah dan putih serta kain jaring berwarna hitam.

—Dia gadis yang aneh dengan tubuh yang indah, kurasa dia salah kostum. Pikir Sasuke seraya matanya masih memandangi tubuh Sakura yang diakuinya memang indah.
Sakura yang merasa dipandangi akhirnya berdehem pelan. Ia pun berbalik menatap Sasuke dengan pandangan dingin namun menuntut kejelasan atas pandangan Sasuke padanya. Dan pada dasarnya, Sasuke yang memang tidak peka hanya bergumam tak jelas dengan kata ambigu andalannya.

“Hn. Kupikir kau  salah kostum nona.” Ucap Sasuke pada akhirnya, seraya melemparkan pandangan menggoda kearah Sakura. Ia pun sedikit mendekatkan wajahnya kearah Sakura—ia berniat menjahili gadis itu dengan mencuri ciuman Sakura.

Namun hal tak terduga diucapkan Sakura, memaksa Sasuke untuk menghentikan niatnya. “Apa yang kau lakukan, Uchiha Sasuke-san??”

Sasuke terdiam, tak menjauh ataupun mendekat—padahal jarak wajah mereka hanya tersisa 10 senti meter saja, hingga kedua bibir itu bersentuhan. Beberapa detik kemudian, Sasuke menjauhkan wajahnya seraya mendecih pelan.

“Hm? Kukira kau pemuda pendiam seperti yang kulihat kemaren, eh? Kau diserang beberapa siswa peringkat A dan A1.” Ucap Sakura dengan nada datar namun sinis, seraya melirik Sasuke yang kini berada di sampingnya menggunakan ekor matanya.
Sasuke terkekeh pelan, ia kemudian membalas perkataan Sakura dengan tak kalah sinis, “jadi? Kau melihatnya? Aku tak menyangka jika kau memperhatikanku.”

“Itu hanya sebuah kebetulan. Dan aku tidak pernah menyangka—“

“…”

“—jika aku akan melatih seorang pemuda lemah yang mesum.” Ucap Sakura dengan saskartik, diiringi dengan sebuah seringaian yang terukir di wajahnya.

JESS

“Pemberitahuan, kereta kelas bisnis tujuan Kyoto akan berangkat sepuluh menit lagi.”

“…”

“Sekali lagi. kereta kelas bisnis tujuan Kyoto akan berangkat sepuluh menit lagi—terima kasih.”

Suara pintu kereta yang terbuka mengiringi ucapan terakhir Sakura. Detik selanjutnya, terdengar suara seorang wanita dari arah sebuah alat berbentuk corong yang tergantung di langit-langit stasiun.

“Ayo berangkat—Uchiha Sasuke-san.” Ucap Sakura sembari melangkah menuju pintu salah satu gerbong shinkansen.

“Hn.”
.
.
.
.
.
Di dalam salah satu gerbong kereta, sepasang remaja duduk berhadapan dengan sebuah meja putih sebagai pembatas di antara mereka. Seorang pelayan datang dengan membawakan makanan pesanan mereka berdua. Setelah menata makanan yang dibawanya, pelayan itu pergi menuju kursi lain untuk mengantarkan pesanan.  

“Hn, jadi?”

Sakura menaikkan sebelah alisnya tanda tak mengerti akan pertanyaan yang dilontarkan seorang pemuda yang baru beberapa jam dikenalnya secara langsung itu. Setiap ucapan yang dikeluarkan pemuda itu terlalu ambigu baginya.

“Tsunade-sama yang menanggung biaya transportasi ini??”
Gadis itu terdiam sejenak seraya memegang sendok menggunakan tangan kanannya. 

Iie.” Ia berkata datar, lalu memasukkan sendok berisi nasi kare itu ke dalam mulut kecilnya.

“Hn, Lalu?”

“Aku yang menanggung biayanya. Sebenarnya kau sudah dipesankan oleh Tsunade-sama, kereta kelas ekonomi. Tapi aku menolak.” Ucap Sakura seraya menyendokkan lagi sesendok nasi kare ke dalam mulutnya.

Sebuah seringai terukir di wajah pemuda di hadapannya, Sasuke dengan percaya diri ia lalu berkata dengan nada menggoda, “hn? Jadi kau peduli padaku, eh??”

Iie. Aku bisa saja pergi ke AAK (Academy Anbu Kyoto) hanya dengan menunggangi Vier. Tapi, Tsunade-sama melarangku karena bisa menimbulkan kerisuhan di kota. Dan aku memesan kereta kelas bisnis.” Ucap Sakura.

Tanpa menghilangkan seringaiannya, Sasuke lalu berkata lagi, “itu sama saja kau peduli padaku—Sakura-chan. Kau bahkan rela memesan tiket mahal ini hanya untuk berbicara denganku.”

TAK

Suara sebuah gelas berkaki yang berbenturan dengan meja terdengar dari arah Sakura. Gadis itu sudah menyelesaikan acara makannya beserta minumnya. Ia lalu memandang datar kearah pemuda tampan di depannya seraya berkata sinis, “kau terlalu percaya diri Uchiha Sasuke-san. Aku menyiapkan ini untuk diriku sendiri. Dan jika, Tsunade-sama mengizinkan kita berbeda kereta—maka aku memilih membiarkanmu di dalam kereta kelas ekonomi.”

“Hn.”

Ia kehabisan kata-kata untuk membalas perkataan gadis di hadapannya itu. Sungguh, gadis di hadapannya benar-benar menyebalkan. Jadi, gadis itu sebenarnya tidak ingin melatihnya? Lalu kenapa dia mengambil misi itu? Astaga benar-benar gadis aneh.

Tak menyerah sampai di situ, Sasuke kembali membuka pembicaraan. “Hn. Jika kau merasa kesal denganku—kau bisa meninggalkanku. Aku bisa saja menjadi mata-mata mafia untuk menghancurkan pemerintahan.”

“Melatihmu adalah misiku, dan perintah. Aku hanya menjalankan apa yang dikatakan Tsunade-sama. Apapun yang Tsunade-sama perintahkan dalam misi, aku akan jalankan semua itu.”

“Seperti anjing peliharaan, eh?” Sasuke berucap dengan nada saskartik seraya menatap Sakura dengan pandangan merendahkan.

Sakura terdiam sejenak, seraya menatap kearah luar kereta padahal tak ada pemandangan apapun yang bisa memuaskan mata. Hanya tembok dan lorong gelap yang ada di sana. “Entahlah. Terserah apa yang kau pikirkan—aku tak peduli.”

Khe, tidak semua hal bisa kau terima dengan begitu saja. Hidupmu adalah pilihamu!! Kau tak bisa terus menerus menerima apa yang terjadi.” Jujur saja, Sasuke sedikit mengeluarkan emosinya karena perkataan gadis di depannya itu. Oh, yang benar saja—gadis itu lebih mirip sebuah boneka dibanding manusia.

Sakura mengalihkan pandang kearah Sasuke seraya berkata, “jika begitu—aku sudah menetapkan pilihanku dengan ini.”

“Ck, itu bukan pilihan—itu lebih mengarah seperti kau menjadi seekor bunglon!”

Souka. Jadi anggaplah aku ini manusia setengah bunglon.”
Gila, ini benar-benar gila—hanya itu kalimat yang terlintas dalam benak Sasuke mengenai gadis di depannya ini.

Apa gadis itu tidak punya sedikit saja perasaan akan dirinya sendiri. Singkatnya, kebanyakan gadis jika dibilang wanita bunglon dan sejenisnya pastinya mereka akan marah, menangis dan sejenis ekspresi kecewa lain. Tapi gadis di depannya? Dia menerimanya begitu saja.

Sasuke mengepalkan sebelah tangannya, dia berusaha meredam emosi tak jelasnya dengan gadis di depannya. Tapi kenapa dia peduli?—ah mungkin dia peduli karena gadis itu begitu menyedihkan di matanya. “Hn. Kau mirip monster, eh?”

Walau Sasuke peduli dengan Sakura yang menurutnya menyedihkan, ia tetaplah Uchiha yang tak bisa menghilangkan kesan sinis dari ucapan tak sukanya pada suatu hal.
Souka. Mungkin kau benar jika aku seekor monster—atau sebut saja diriku monster tanpa nama.”

“Cih.” Sasuke mendecih pelan dengan sebelah tangannya yang masih terkepal. Dia hendak berkata lagi, namun sebuah suara pintu terbuka dan suara seorang wanita dari pengeras suara, lebih dulu menyelanya.

Tanpa berkata apapun, Sakura segera beranjak dari tempatnya dan berjalan menuju pintu kereta yang terbuka. Ia tak perlu lagi merepotkan koper besar yang dibawanya, ia hanya perlu pergi ke pusat penitipan barang. Barang-barang yang dibawa oleh para pengguna shinkansen kelas bisnis memang harus dititipkan dan nantinya diantarkan di stasiun tujuan si penumpang.

Pasti dalam benak kalian, bertanya-tanya mengapa Sakura menggunakan kereta kelas bisnis, mengapa bukan pesawat? Alasannya, karena saat ini tak ada pesawat—pesawat hanya diperuntukkan oleh para pemerintah dan pejabat tinggi seperti seorang perdana menteri. Pesawat itu sendiri bukan pesawat umum, melainkan jet pribadi.
.
.
.
.
.
“Oi! Gadis gila!!”

Panggil Sasuke dengan nada yang terkesan sinis. Pemuda itu tampak setengah berlari mengejar sosok Sakura yang sudah lebih dulu berjalan diatas trotoar. Apa gadis gila itu bermaksud mengandalkan kakinya untuk sampai ke Kyoto? Pikir Sasuke.
Langkah kaki Sakura terhenti ketika ia merasakan tubuhnya dipaksa untuk berbalik 180 derajat. Sakura hanya menatap datar Sasuke, menunggu pemuda itu menjelaskan apa tujuannya mengehentikan langkahnya.

“Jika kau berpikir ingin menggunakan kaki untuk sampai ke Academy Anbu Kyoto yang berada di perbukitan. Kau gila, Haruno Sakura!!” Ucap Sasuke datar dengan sedikit emosi pada ucapannya.

PLAK

Dengan sedikit kasar Sakura menepis tangan Sasuke yang memegang pundaknya. Ia lalu menatap Sasuke dengan sebuah seringai tipis terukir di wajahnya. Walau tipis, seringai itu tampak menyeramkan bagi yang melihatnya.

“Lalu? Kau hanya akan mengandalkan kusanagi itu?? Kau adalah tipe pengintai, sangat tipis kemungkinan kau bisa menang jika hanya menggunakan logam itu.” Ucap Sakura seraya membalikkan tubuhnya seperti sedia kala, ia melanjutkan langkahnya.

“Hn. Apa maksudmu??”
Sakura menghentikan langkahnya seraya menatap sebuah toko kecil diantara bangunan yang menjulang ke atas. “Tsunade-sama berpesan agar mengunjungi toko milik Jiraya-san.”

Sasuke melangkahkan kakinya kearah Sakura yang sudah lebih dulu memasuki perkarangan toko persenjataan itu. Yeah, dari semua toko yang berbaris—kenapa harus dengan toko tak terbentuk seperti ini. Toh mungkin persenjataan di sini tidak pernah di lirik orang. Lagipula mungkin jika dibandingkan dengan kusanagi miliknya, pasti berbeda jauh dengan apa yang ada di dalam toko tersebut.

Meski pikirannya menolak untuk masuk, namun tubuhnya tak mampu bekerja sama dengan otaknya. Sasuke tetap mengikuti langkah Sakura yang memimpin di depannya.  
TRING

Suara bel berbunyi nyaring ketika Sakura membuka pintunya. Sepasang mata green emerald miliknya tampak menelusuri setiap sudut ruangan, mencari sosok pria tua berambut putih yang ia kenal sebagai seorang mantan guru pengajar di AAT (Academy Anbu Tokyo)

Dan dia menemukan sosok itu, pria tua berambut putih itu tampak duduk di sebuah sofa berwarna merah yang berada di sudut ruangan yang lumayan besar itu. Pria itu memandang dirinya dengan senyum penuh terukir di wajahnya.

“Hooohh?? Sudah berapa tahun kau tidak mengunjungi ayahmu ini??” Ucap seorang pria tua itu seraya menghampiri sosok gadis berambut soft pink yang tampak didampingin oleh seorang pemuda di belakangnya.

“Sejak kapan kau memiliki kekasih?? Kau tidak mengenalkannya pada ayahmu ini??” Ucap pria tua bernama Jiraya itu lagi seraya menatap Sasuke melalui sudut matanya, yang dibalas dengan tatapan tajam pemuda itu.

Sakura berucap dengan sopan seraya berojigi sebagai tanda hormat, “sumimarsen, Jiraya-san. Pemuda ini bukan kekasihku—aku hanya mendapat misi untuk melatihnya.”

“Kau tak perlu seformal itu pada ayahmu, Sakura-chan~”

‘A-ayah?’ batin Sasuke yang keheranan dengan percakapan antara Sakura dengan pria tua di hadapannya itu. Pada akhirnya ia memilih bungkam dan menjadi pengamat yang baik.

“Langsung saja Jiraya-san. Kedatangan saya kemari atas perintah Tsunade-sama. Uchiha Sasuke membutuhkan senjata yang cocok untuk kemampuan pengintai.” Ucap Sakura seraya matanya menelisik satu persatu senjata yang berada di dalam ruangan tersebut.

Jiraya tampak melangkahkan kakinya menuju kearah Sasuke, ia lalu menghela nafas sejenak seraya berkata, “yare yare. Sepertinya hidupmu jadi monoton, nak.”

“…”

Sepasang matanya memandang Sasuke dengan tatapan penuh selidik, ia lalu berkata lagi, “sepertinya dia cocok dengan Baretta?”

“Hn. Baretta??” ucap Sasuke mengulang ucapan pria tua yang berada di hadapannya. Baru kali pertama ia mendengar ada senjata memiliki nama.
Jiraya tak menjawab, ia malah berbalik dan meninggalkan Sasuke, sepasang kakinya melangkah kearah sebuah kotak kaca yang di dalamnya terdapat dua buah pistol dengan design ala Gothic, berwarna hitam yang di dominasi dengan warna merah.

“Ya, Beretta. Mereka bisa menyerang tanpa peluru, dan mereka sendiri yang akan memilih tuannya.” Ucap Jiraya seraya mengambil dua buah pistol itu dan mengarahkan ke Sasuke. Jari-jari telunjuknya bersiap untuk menarik pelatuk pistol tanpa peluru itu.

CKREK

Sasuke membulatkan sepasang mata onyxnya ketika melihat dua buah moncong pistol mengarah kearahnya. Ia hendak berucap, namun pria itu menyelanya lebih dulu. “Jika memang Beretta memilihmu, mereka tidak akan melukaimu.”

KLAK

KLAK

Pria tua itu tampak tersenyum tipis ketika pistol itu tak mengeluarkan serangan pada Sasuke. Ia lalu mengarahkan dua moncong pistol itu kearah sofa merah miliknya.

DOR

DOR

Dua buah suara tembakan terdengar ketika ia menarik pelatuk sepasang pistol di tangannya. Ia lalu berjalan kearah Sasuke dan menyerahkan dua buah pistol bernama Beretta itu kepada Sasuke. “Sekarang Beretta milikmu, nak.”

Sepasang matanya kemudian beralih menatap Sakura yang tampak memandang kagum sepasang senjata berbentuk sabit, dengan rantai. Gadis itu sepertinya menginginkan sepasang sabit itu.

“Della Verra, eh?”

Sakura tampak sedikit terkejut ketika tiba-tiba saja sosok pria tua berdiri di sebelahnya. Sepasang mata emeraldnya kembali memandang sepasang sabit yang menarik minatnya untuk memiliki sepasang sabit itu.

“Kau bisa memilikinya.” Ucap Jiraya lagi, membuat pandangan Sakura kembali mengarah kearahnya dengan pandangan penuh tanya.
Jiraya lalu membuka kotak kaca itu, dan mengambil sepasang sabit berwarna hitam dan menyerahkannya pada Sakura. Gadis itu menerimanya, namun ia letakkan kembali sabit itu di atas lantai marmer toko tersebut. Dia lalu mengambil sepasang pedang dari dalam kopernya dan meletakkan sepasang pedang miliknya di atas sepasang sabit itu.

Tak butuh waktu sampai satu menit, sepasang pedang itu menyatu pada masing-masing sabit di bawahnya. Hingga mengubah warna sabit itu menjadi semakin gelap, serta mengubah pula sedikit bentuk sabit yang semua memiliki tepi yang mulus, kini berubah menjadi bergerigi tajam.

Ia lalu mengambil sepasang sabit yang termasuk berukuran besar itu, ia hendak meletakkannya di dalam koper, sayangnya sabit itu memiliki ukuran lebih besar dari pedangnya sehingga tak muat untuk dimasukkan di sana.

Jiraya tampak menggeleng pelan, ia lalu mengambil sebuah tempat yang biasa digunakan meletakkan sabit itu di belakang punggung. “Kau bisa memakai itu.” Ucapnya seraya memberikan tempat sabit itu kepada Sakura.

Tanpa mengulur waktu lebih lama, gadis itu segera memasang alat mirip dengan tas itu di belakang punggungnya. Dengan gerakan tangkas ia memasukkan senjatanya ke dalam sana tanpa barus melihat kearah belakang.

Arigatou gozaimashu—Jiraya-san.”

“Iie iie. Tak masalah bagiku—lagipula aku belum pernah memberimu apapun sebagai seorang ayah.” Ucapnya seraya menepuk pelan kepala Sakura.

ArigatouJaa, kalau begitu, matta ashita.” Setelah mengucapkan kalimat itu, Sakura segera berjalan keluar toko, diikuti oleh Sasuke yang berjalan di belakangnya.
Sepasang matanya memandang sosok gadis berambut soft pink itu dengan pandangan yang sulit diartikan. ‘Sudah 10 tahun eh? Sakura?’ Batinnya berucap sendu.
.
.
.
.
TAP

TAP

TAP

Terdengar suara langkah kaki yang cukup nyaring memasuki  gedung AAK (Academy Anbu Kyoto). Sepasang manusia berlawanan gender berjalan dengan langkah santai memasuki gedung. Sang pemilik langkah kaki itu tampak memandang lurus ke depan, tanpa memperdulikan tatapan yang diajukan oleh beberapa orang di sepanjang jalan menuju koridor.

Tepat saat di belokkan menuju koridor, sosok wanita berpakaian rapi menyambut mereka dengan berojigi tentu saja mereka membalas salam wanita itu dengan berojigi pula. “Mei-sama,  sudah menunggu kalian di ruangannya. Ikuti saya.” Wanita itu langsung berbalik setelah mengucapkan kalimat tersebut.

Sasuke dan Sakura, dua sosok itu mengikuti langkah wanita itu. Perjalanan mereka melalui sepanjang koridor cukup memuakkan. Beberapa orang murid perempuan tampak mencari perhatian Sasuke dan begitu pula dengan murid pria yang mencoba mencari perhatian Sakura—menggoda gadis itu dengan ucapan mesum mereka.

Mereka sungguh beruntung karena saat ini Sakura harus menemui sang kepala sekolah, jika tidak—sudah dipastikan para pemuda mesum itu akan lari terbirit-birit oleh aksinya. Bukan hal mengejutkan di Tokyo jika Sakura akan mengacungkan pedangnya bagi mereka yang melecehkannya. Anggaplah itu sebagai pembelaan harga dirinya yang akan diinjak-injak.

Meskipun di Academy Anbu Tokyo, Sakura dikabarkan adalah seorang gadis peringkat D1 yang hampir di keluarkan. Namun dia tak segan-segan mendepak murid yang melecehkannya dari gedung Academy Anbu Tokyo. Lagipula, berita itu bukan kenyataan baginya—dan bukan kemauannya untuk merahasiakan peringkatnya.
Terkadang pepatah ada benarnya, diam itu emas—dan itu sudah terbukti pada Haruno Sakura.

Tanpa terasa mereka telah sampai di depan pintu ruangan kepala sekolah. Wanita pemandu jalan mereka pun pamit undur diri. Kini hanya tersisa mereka berdua, berdiri di depan pintu yang bertuliskan nama sang kepala sekolah.
Sakura membuka pintu itu ketika ada suara dari dalam yang mempersilahkan mereka masuk—bahkan sebelum mereka mengetuk pintu. “Sumimarsen.” Ucap Sakura dengan nada rendah seraya melangkahkan kakinya memasuki sebuah ruangan luas milik sang kepala sekolah.

Sosok wanita berambut coklat itu memandang Sakura dengan tatapan berbinar, ia sudah menantikan kedatangan murid terbaik dari Academy Anbu Tokyo. “Ara ara, Haruno Sakura? Aku sudah menunggu kedatanganmu kemari—duduklah.”
Sakura dan Sasuke mendudukkan dirinya di sebuah kursi di depan meja kepala sekolah. Sakura tampak tenang dengan raut datarnya ia lalu berucap, “sumimarsen Terumi-sama, atas keterlambatan saya.”

Iie, bukan masalah besar.” Ucap wanita yang memiliki nama Terumi Mei itu seraya menyodorkan dua cangkir berisi teh hangat di dalamnya. “Dozo. Pasti melelahkan dari Tokyo sampai kemari.”

Iie, nande mo nai.” Ucap Sakura seraya menerima secangkir berisi teh hangat di dalamnya. Ia pun menyeruput pelas teh itu, yang sebelumnya sudah ditiupnya.
Wanita itu tampak tersenyum lembut seraya berucap lagi, “ara ara. Kalian tak perlu sungkan selama di sini—aku sangat senang menerima tamu dari Tsunade. Apalagi salah satu tamu itu adalah murid peringkat tertinggi di sana.”

“…”

“Kalian pasti lelah, biar pelayanku yang mengantarkan kalian ke kamar—tapi maaf, jika hanya ada satu kamar. Baiklah, Ayano!”

Hai’.”

“Antarkan mereka berdua ke kamar khusus yang berada di lantai atas.”

Hai’.”

Sasuke hampir saja berjengit kaget ketika tiba-tiba sosok wanita yang tadi mereka temui di pesimpangan lorong, muncul begitu saja di sebelahnya. Sejak kapan wanita itu masuk? Pikirnya heran.

Ia tak mau ambil pusing karena masalah itu, lagipula hal yang wajar bagi penghuni Academy Anbu. Pastinya wanita itu memiliki potensi seperti teleport? Atau mungkin kecepatan? Bisa saja kan?
.
.
.
.
BRUK

Sasuke menjatuhkan punggungnya ke atas salah satu kasur di ruangan itu. Ia memejamkan matanya sejenak, seraya menikamati bagaimana rasanya berada di ruangan pribadi murid ranking V1S. Ketika ia membuka sepasang kelopak matanya, ia dikejutkan dengan tindakan Sakura yang termasuk berani.

Tanpa rasa malu, gadis itu melepaskan gaunnya. Memperlihatkan setiap lekuk tubuh gadis itu, bisa dibilang gadis itu memiliki tubuh yang sexy, dadanya pun cukup besar untuk ukuran gadis seusia Sakura—mungkin ukuran C cup.

Gadis itu memasang satu persatu baju serta atributnya. Di mulai dari celana pendek yang hanya menutupi seperempat paha putih milik gadis itu. Celana itu tersambung langsung dengan stocking berwarna hitam yang panjangnya mencapai seperempat paha.

Lalu bagian atasnya, gadis itu memakai pakaian berlengan yang menutupi lima senti di bawah sikunya. Pakaian itu memperlihatkan perut ramping serta pusar gadis itu, namun tak sepenuhnya terlihat jelas karena tertutup dengan jaring-jaring yang terpansang di sana. Jaring-jaring memiliki panjang yang melebihi celana pendek yang dikenakan gadis itu.

“Hn. Kau mau kemana?” Sasuke berusaha menormalkan nada ucapannya senormal mungkin.

Gadis itu menolehkan pandang kearah pemuda yang tengah berbaring di atas kasur. “Aku akan latihan—berhubung aku bukan murid sekolah ini. Jadi aku tak perlu mengikuti pelajaran ataupun melakukan misi.”

“…”

“Ah ya! Latihanmu akan kumulai besok pukul empat pagi, jadi sekarang kau bisa bersenang-senang.” Ucap Sakura seraya berjalan menuju pintu utama ruangan tersebut. Namun langkahnya terhenti ketika sebuah suara menginstrupsinya.

“Hn. Aku ikut.”

“…”

“Aku ingin melihat bagaimana kau berlatih.”
Sasuke segera bangkit dari posisinya, ia pun mengikuti langkah Sakura yang keluar dari ruangan. Tak lupa ia membawa dua buah pistol aneh yang baru didapatkannya tadi.
.
.
.
.
.
To Be Continued
.
.
.
.
Ending Song
Nano – Savior Song
.
.
.

.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Popular Post

Labels

Ask Me!

Designed by www.senachan.webs.com. Diberdayakan oleh Blogger.

- Copyright © 2014 Jepang Kita! - Designed by Senachan -