- Back to Home »
- Fanfiction »
- CHOICE (PART 3)
Posted by : Unknown
.
.
.
.
CHOICE
.
.
.
.
Disclaimer
© Masashi Kishimoto
Story
Written By EmeraldAI
Rate
M for Blood
Genre
: Romance, Crime, Mistery, Tragedy
Pairing
: Sasuke X Sakura
.
.
.
.
Summary
Hidup
di sebuah negara yang penuh dengan kelicikan sama sekali bukan kehendaknya.
Bekerja di bawah kekuasaan pemerintah yang keji juga bukan kehendaknya. Hidup
tanpa ingatan juga bukan kehendaknya/”Yang ku tau, aku hanyalah boneka dengan
rantai di leherku…”/”Jika kau mengerti arti hidup, maka kau akan mengerti hidup
adalah pilihan—Sakura.”
.
.
.
.
Warning
Typos,
OOC, Blood Expilist, Kissing Scane, Bad Sakura, Sad Ending, AU type, Action
Story, DLDR, Mind RnR?
.
.
.
.
.
Opening
Song
EGOIST
– Namae no Nai Kaibitsu
.
.
.
“Dibalik jeruji hitam
Aku
dilahirkan”
.
.
In
ga no daishou harai
Tomo
ni yokou
Namae
no nai—Kaibitsu
.
.
.
.
Chapter
3
Station
Area 1, Tokyo XXXX
.
Sosok gadis remaja tampak berjalan seorang diri
diantara padatnya stasiun Tokyo area satu. Gadis itu tampak setia menggenggam
sebuah benda berbentuk persegi panjang dengan sensor yang mengisi ruang kosong
di tengahnya—mengarahkan alat tersebut kearah satu persatu orang yang berada di
sekitarnya.
Jujur, ia tampak kepayahan mencari seorang pemuda
diantara lautan manusia, walaupun identitas pemuda itu sudah terdaftar pada
sensor pelacak miliknya, dan juga posisi mereka sudah berada di area yang sama.
Benda tersebut memang dikhususkan untuk mencari posisi orang melalui identitas
yang sudah dicopy ke dalam alat itu,
hanya perlu mengarahkan ke sekitar, alat itu dengan sendirinya akan melacak
menggunakan sinar sensor.
Cukup lama ia bergelut pada kegiatannya, akhirnya alat
digenggamannya berbunyi—memperlihatkan seorang pemuda tampan yang tengah
bersandar di sebuah pilar kaca di dalam stasiun. Pemuda itu tampak mengotak
atik layar digital miliknya yang
keluardari sebuah benda berbentuk persegi memanjang yang dipegangnya.
Dengan langkah mantap, gadis itu berjalan seraya
menarik sebuah koper di tangan kirinya dan sebuah tas selempang besar yang tergantung di bahu kirinya. Setelah berjarak
kurang lebih setengah meter dari tempat pria itu, dia pun berucap, “Permisi.
Apa kau Uchiha Sasuke??”
“Hn??” Sasuke mengalihkan pandangannya kearah sosok
gadis berambut merah muda pendek, dengan sisa rambut panjang mencapai pantat
yang di kepang dua. Pria bernama Sasuke itu berkata lagi, “jadi kau yang
bernama Haruno Sakura, eh?? Kau tidak seperti yang kubayangkan.”
Pandangan Sasuke tampak menelusuri tubuh Sakura, dari
ujung kepala hingga ujung kaki. Dia tampak menyeringai tipis ketika melihat
pakaian serba hitam yang dipakai Haruno Sakura—ia pikir gadis yang memiliki
peringkat V1S di AAT (Academy Anbu Tokyo)
adalah gadis berpakaian sexy untuk
menunjukkan tubuhnya yang menggoda.
Nyatanya? Hal itu tidak sesuai apa yang dia pikirkan. Dengan
dress hitam berlengan panjang yang
menutupi setengah paha gadis itu, dan parahnya kaki jenjang gadis di depannya
ini dibalut dengan stocking yang
menutup keseluruhan kaki-kaki jenjangnya, dan gadis itu mengenakan sepatu boots tanpa hells, sepatu itu menutupi tiga perempat dari betisnya. Dan
terakhir, bagian kepalanya—gadis itu mengenakan topi bundar berwarna hitam
dengan aksen mawar merah dan putih serta kain jaring berwarna hitam.
—Dia
gadis yang aneh dengan tubuh yang indah, kurasa dia salah kostum.
Pikir Sasuke seraya matanya masih memandangi tubuh Sakura yang diakuinya memang
indah.
Sakura yang merasa dipandangi akhirnya berdehem pelan.
Ia pun berbalik menatap Sasuke dengan pandangan dingin namun menuntut kejelasan
atas pandangan Sasuke padanya. Dan pada dasarnya, Sasuke yang memang tidak peka
hanya bergumam tak jelas dengan kata ambigu andalannya.
“Hn. Kupikir kau
salah kostum nona.” Ucap Sasuke pada akhirnya, seraya melemparkan
pandangan menggoda kearah Sakura. Ia pun sedikit mendekatkan wajahnya kearah
Sakura—ia berniat menjahili gadis itu dengan mencuri ciuman Sakura.
Namun hal tak terduga diucapkan Sakura, memaksa Sasuke
untuk menghentikan niatnya. “Apa yang kau lakukan, Uchiha Sasuke-san??”
Sasuke terdiam, tak menjauh ataupun mendekat—padahal
jarak wajah mereka hanya tersisa 10 senti meter saja, hingga kedua bibir itu
bersentuhan. Beberapa detik kemudian, Sasuke menjauhkan wajahnya seraya
mendecih pelan.
“Hm? Kukira kau pemuda pendiam seperti yang kulihat
kemaren, eh? Kau diserang beberapa siswa peringkat A dan A1.” Ucap Sakura
dengan nada datar namun sinis, seraya melirik Sasuke yang kini berada di
sampingnya menggunakan ekor matanya.
Sasuke terkekeh pelan, ia kemudian membalas perkataan
Sakura dengan tak kalah sinis, “jadi? Kau melihatnya? Aku tak menyangka jika
kau memperhatikanku.”
“Itu hanya sebuah kebetulan. Dan aku tidak pernah
menyangka—“
“…”
“—jika aku akan melatih seorang pemuda lemah yang
mesum.” Ucap Sakura dengan saskartik, diiringi dengan sebuah seringaian yang
terukir di wajahnya.
JESS
“Pemberitahuan,
kereta kelas bisnis tujuan Kyoto akan berangkat sepuluh menit lagi.”
“…”
“Sekali
lagi. kereta kelas bisnis tujuan Kyoto akan berangkat sepuluh menit lagi—terima
kasih.”
Suara pintu kereta yang terbuka mengiringi ucapan
terakhir Sakura. Detik selanjutnya, terdengar suara seorang wanita dari arah
sebuah alat berbentuk corong yang
tergantung di langit-langit stasiun.
“Ayo berangkat—Uchiha Sasuke-san.” Ucap Sakura sembari melangkah menuju pintu salah satu gerbong
shinkansen.
“Hn.”
.
.
.
.
.
Di dalam salah satu gerbong kereta, sepasang remaja duduk berhadapan dengan sebuah meja putih sebagai
pembatas di antara mereka. Seorang pelayan datang dengan membawakan makanan
pesanan mereka berdua. Setelah menata makanan yang dibawanya, pelayan itu pergi
menuju kursi lain untuk mengantarkan pesanan.
“Hn, jadi?”
Sakura menaikkan sebelah alisnya tanda tak mengerti
akan pertanyaan yang dilontarkan seorang pemuda yang baru beberapa jam
dikenalnya secara langsung itu. Setiap ucapan yang dikeluarkan pemuda itu
terlalu ambigu baginya.
“Tsunade-sama
yang menanggung biaya transportasi ini??”
Gadis itu terdiam sejenak seraya memegang sendok
menggunakan tangan kanannya.
“Iie.”
Ia berkata datar, lalu memasukkan sendok berisi nasi kare itu ke dalam mulut kecilnya.
“Hn, Lalu?”
“Aku yang menanggung biayanya. Sebenarnya kau sudah
dipesankan oleh Tsunade-sama, kereta
kelas ekonomi. Tapi aku menolak.” Ucap Sakura seraya menyendokkan lagi sesendok
nasi kare ke dalam mulutnya.
Sebuah seringai terukir di wajah pemuda di hadapannya,
Sasuke dengan percaya diri ia lalu berkata dengan nada menggoda, “hn? Jadi kau
peduli padaku, eh??”
“Iie. Aku
bisa saja pergi ke AAK (Academy Anbu Kyoto) hanya dengan
menunggangi Vier. Tapi, Tsunade-sama melarangku karena bisa menimbulkan
kerisuhan di kota. Dan aku memesan kereta kelas bisnis.” Ucap Sakura.
Tanpa menghilangkan seringaiannya, Sasuke lalu berkata
lagi, “itu sama saja kau peduli padaku—Sakura-chan. Kau bahkan rela memesan tiket mahal ini hanya untuk berbicara
denganku.”
TAK
Suara sebuah gelas berkaki yang berbenturan dengan meja
terdengar dari arah Sakura. Gadis itu sudah menyelesaikan acara makannya
beserta minumnya. Ia lalu memandang datar kearah pemuda tampan di depannya
seraya berkata sinis, “kau terlalu percaya diri Uchiha Sasuke-san. Aku menyiapkan ini untuk diriku
sendiri. Dan jika, Tsunade-sama
mengizinkan kita berbeda kereta—maka aku memilih membiarkanmu di dalam kereta
kelas ekonomi.”
“Hn.”
Ia kehabisan kata-kata untuk membalas perkataan gadis
di hadapannya itu. Sungguh, gadis di hadapannya benar-benar menyebalkan. Jadi,
gadis itu sebenarnya tidak ingin melatihnya? Lalu kenapa dia mengambil misi
itu? Astaga benar-benar gadis aneh.
Tak menyerah sampai di situ, Sasuke kembali membuka
pembicaraan. “Hn. Jika kau merasa kesal denganku—kau bisa meninggalkanku. Aku
bisa saja menjadi mata-mata mafia
untuk menghancurkan pemerintahan.”
“Melatihmu adalah misiku, dan perintah. Aku hanya
menjalankan apa yang dikatakan Tsunade-sama.
Apapun yang Tsunade-sama perintahkan
dalam misi, aku akan jalankan semua itu.”
“Seperti anjing peliharaan, eh?” Sasuke berucap dengan
nada saskartik seraya menatap Sakura dengan pandangan merendahkan.
Sakura terdiam sejenak, seraya menatap kearah luar kereta
padahal tak ada pemandangan apapun yang bisa memuaskan mata. Hanya tembok dan
lorong gelap yang ada di sana. “Entahlah. Terserah apa yang kau pikirkan—aku
tak peduli.”
“Khe, tidak
semua hal bisa kau terima dengan begitu saja. Hidupmu adalah pilihamu!! Kau tak
bisa terus menerus menerima apa yang terjadi.” Jujur saja, Sasuke sedikit
mengeluarkan emosinya karena perkataan gadis di depannya itu. Oh, yang benar
saja—gadis itu lebih mirip sebuah boneka dibanding manusia.
Sakura mengalihkan pandang kearah Sasuke seraya
berkata, “jika begitu—aku sudah menetapkan pilihanku dengan ini.”
“Ck, itu bukan pilihan—itu lebih mengarah seperti kau
menjadi seekor bunglon!”
“Souka. Jadi
anggaplah aku ini manusia setengah bunglon.”
Gila,
ini benar-benar gila—hanya itu kalimat yang terlintas dalam
benak Sasuke mengenai gadis di depannya ini.
Apa gadis itu tidak punya sedikit saja perasaan akan
dirinya sendiri. Singkatnya, kebanyakan gadis jika dibilang wanita bunglon dan
sejenisnya pastinya mereka akan marah, menangis dan sejenis ekspresi kecewa
lain. Tapi gadis di depannya? Dia menerimanya begitu saja.
Sasuke mengepalkan sebelah tangannya, dia berusaha
meredam emosi tak jelasnya dengan gadis di depannya. Tapi kenapa dia peduli?—ah
mungkin dia peduli karena gadis itu begitu menyedihkan di matanya. “Hn. Kau
mirip monster, eh?”
Walau Sasuke peduli dengan Sakura yang menurutnya
menyedihkan, ia tetaplah Uchiha yang tak bisa menghilangkan kesan sinis dari
ucapan tak sukanya pada suatu hal.
“Souka.
Mungkin kau benar jika aku seekor monster—atau sebut saja diriku monster tanpa
nama.”
“Cih.” Sasuke mendecih pelan dengan sebelah tangannya
yang masih terkepal. Dia hendak berkata lagi, namun sebuah suara pintu terbuka
dan suara seorang wanita dari pengeras suara, lebih dulu menyelanya.
Tanpa berkata apapun, Sakura segera beranjak dari
tempatnya dan berjalan menuju pintu kereta yang terbuka. Ia tak perlu lagi
merepotkan koper besar yang dibawanya, ia hanya perlu pergi ke pusat penitipan
barang. Barang-barang yang dibawa oleh para pengguna shinkansen kelas bisnis memang harus dititipkan dan nantinya
diantarkan di stasiun tujuan si penumpang.
Pasti dalam benak kalian, bertanya-tanya mengapa Sakura
menggunakan kereta kelas bisnis, mengapa bukan pesawat? Alasannya, karena saat
ini tak ada pesawat—pesawat hanya diperuntukkan oleh para pemerintah dan
pejabat tinggi seperti seorang perdana menteri. Pesawat itu sendiri bukan
pesawat umum, melainkan jet pribadi.
.
.
.
.
.
“Oi! Gadis gila!!”
Panggil Sasuke dengan nada yang terkesan sinis. Pemuda
itu tampak setengah berlari mengejar sosok Sakura yang sudah lebih dulu
berjalan diatas trotoar. Apa gadis gila
itu bermaksud mengandalkan kakinya untuk sampai ke Kyoto? Pikir Sasuke.
Langkah kaki Sakura terhenti ketika ia merasakan
tubuhnya dipaksa untuk berbalik 180 derajat. Sakura hanya menatap datar Sasuke,
menunggu pemuda itu menjelaskan apa tujuannya mengehentikan langkahnya.
“Jika kau berpikir ingin menggunakan kaki untuk sampai
ke Academy Anbu Kyoto yang berada di
perbukitan. Kau gila, Haruno Sakura!!” Ucap Sasuke datar dengan sedikit emosi
pada ucapannya.
PLAK
Dengan sedikit kasar Sakura menepis tangan Sasuke yang
memegang pundaknya. Ia lalu menatap Sasuke dengan sebuah seringai tipis terukir
di wajahnya. Walau tipis, seringai itu tampak menyeramkan bagi yang melihatnya.
“Lalu? Kau hanya akan mengandalkan kusanagi itu?? Kau adalah tipe pengintai, sangat tipis kemungkinan
kau bisa menang jika hanya menggunakan logam itu.” Ucap Sakura seraya
membalikkan tubuhnya seperti sedia kala, ia melanjutkan langkahnya.
“Hn. Apa maksudmu??”
Sakura menghentikan langkahnya seraya menatap sebuah
toko kecil diantara bangunan yang menjulang ke atas. “Tsunade-sama berpesan agar mengunjungi toko
milik Jiraya-san.”
Sasuke melangkahkan kakinya kearah Sakura yang sudah
lebih dulu memasuki perkarangan toko persenjataan itu. Yeah, dari semua toko yang berbaris—kenapa harus dengan toko tak
terbentuk seperti ini. Toh mungkin persenjataan di sini tidak pernah di lirik
orang. Lagipula mungkin jika dibandingkan dengan kusanagi miliknya, pasti berbeda jauh dengan apa yang ada di dalam
toko tersebut.
Meski pikirannya menolak untuk masuk, namun tubuhnya
tak mampu bekerja sama dengan otaknya. Sasuke tetap mengikuti langkah Sakura
yang memimpin di depannya.
TRING
Suara bel berbunyi nyaring ketika Sakura membuka
pintunya. Sepasang mata green emerald
miliknya tampak menelusuri setiap sudut ruangan, mencari sosok pria tua
berambut putih yang ia kenal sebagai seorang mantan guru pengajar di AAT (Academy
Anbu Tokyo)
Dan dia menemukan sosok itu, pria tua berambut putih
itu tampak duduk di sebuah sofa berwarna merah yang berada di sudut ruangan
yang lumayan besar itu. Pria itu memandang dirinya dengan senyum penuh terukir
di wajahnya.
“Hooohh?? Sudah berapa tahun kau tidak mengunjungi
ayahmu ini??” Ucap seorang pria tua itu seraya menghampiri sosok gadis berambut
soft pink yang tampak didampingin
oleh seorang pemuda di belakangnya.
“Sejak kapan kau memiliki kekasih?? Kau tidak
mengenalkannya pada ayahmu ini??” Ucap pria tua bernama Jiraya itu lagi seraya
menatap Sasuke melalui sudut matanya, yang dibalas dengan tatapan tajam pemuda
itu.
Sakura berucap dengan sopan seraya berojigi sebagai tanda hormat, “sumimarsen, Jiraya-san. Pemuda ini bukan kekasihku—aku hanya mendapat misi untuk
melatihnya.”
“Kau tak perlu seformal
itu pada ayahmu, Sakura-chan~”
‘A-ayah?’ batin
Sasuke yang keheranan dengan percakapan antara Sakura dengan pria tua di
hadapannya itu. Pada akhirnya ia memilih bungkam dan menjadi pengamat yang
baik.
“Langsung saja Jiraya-san. Kedatangan saya kemari atas perintah Tsunade-sama. Uchiha Sasuke membutuhkan senjata
yang cocok untuk kemampuan pengintai.” Ucap Sakura seraya matanya menelisik
satu persatu senjata yang berada di dalam ruangan tersebut.
Jiraya tampak melangkahkan kakinya menuju kearah
Sasuke, ia lalu menghela nafas sejenak seraya berkata, “yare yare. Sepertinya hidupmu jadi monoton, nak.”
“…”
Sepasang matanya memandang Sasuke dengan tatapan penuh
selidik, ia lalu berkata lagi, “sepertinya dia cocok dengan Baretta?”
“Hn. Baretta??”
ucap Sasuke mengulang ucapan pria tua yang berada di hadapannya. Baru kali
pertama ia mendengar ada senjata memiliki nama.
Jiraya tak menjawab, ia malah berbalik dan meninggalkan
Sasuke, sepasang kakinya melangkah kearah sebuah kotak kaca yang di dalamnya
terdapat dua buah pistol dengan design
ala Gothic, berwarna hitam yang di
dominasi dengan warna merah.
“Ya, Beretta.
Mereka bisa menyerang tanpa peluru, dan mereka sendiri yang akan memilih
tuannya.” Ucap Jiraya seraya mengambil dua buah pistol itu dan mengarahkan ke
Sasuke. Jari-jari telunjuknya bersiap untuk menarik pelatuk pistol tanpa peluru
itu.
CKREK
Sasuke membulatkan sepasang mata onyxnya ketika melihat dua buah moncong
pistol mengarah kearahnya. Ia hendak berucap, namun pria itu menyelanya lebih
dulu. “Jika memang Beretta memilihmu,
mereka tidak akan melukaimu.”
KLAK
KLAK
Pria tua itu tampak tersenyum tipis ketika pistol itu
tak mengeluarkan serangan pada Sasuke. Ia lalu mengarahkan dua moncong pistol itu kearah sofa merah
miliknya.
DOR
DOR
Dua buah suara tembakan terdengar ketika ia menarik
pelatuk sepasang pistol di tangannya. Ia lalu berjalan kearah Sasuke dan
menyerahkan dua buah pistol bernama Beretta
itu kepada Sasuke. “Sekarang Beretta milikmu,
nak.”
Sepasang matanya kemudian beralih menatap Sakura yang
tampak memandang kagum sepasang senjata berbentuk sabit, dengan rantai. Gadis
itu sepertinya menginginkan sepasang sabit itu.
“Della
Verra, eh?”
Sakura tampak sedikit terkejut ketika tiba-tiba saja
sosok pria tua berdiri di sebelahnya. Sepasang mata emeraldnya kembali memandang sepasang sabit yang menarik minatnya
untuk memiliki sepasang sabit itu.
“Kau bisa memilikinya.” Ucap Jiraya lagi, membuat
pandangan Sakura kembali mengarah kearahnya dengan pandangan penuh tanya.
Jiraya lalu membuka kotak kaca itu, dan mengambil
sepasang sabit berwarna hitam dan menyerahkannya pada Sakura. Gadis itu
menerimanya, namun ia letakkan kembali sabit itu di atas lantai marmer toko tersebut. Dia lalu mengambil
sepasang pedang dari dalam kopernya dan meletakkan sepasang pedang miliknya di
atas sepasang sabit itu.
Tak butuh waktu sampai satu menit, sepasang pedang itu
menyatu pada masing-masing sabit di bawahnya. Hingga mengubah warna sabit itu
menjadi semakin gelap, serta mengubah pula sedikit bentuk sabit yang semua
memiliki tepi yang mulus, kini berubah menjadi bergerigi tajam.
Ia lalu mengambil sepasang sabit yang termasuk
berukuran besar itu, ia hendak meletakkannya di dalam koper, sayangnya sabit
itu memiliki ukuran lebih besar dari pedangnya sehingga tak muat untuk
dimasukkan di sana.
Jiraya tampak menggeleng pelan, ia lalu mengambil
sebuah tempat yang biasa digunakan meletakkan sabit itu di belakang punggung.
“Kau bisa memakai itu.” Ucapnya seraya memberikan tempat sabit itu kepada
Sakura.
Tanpa mengulur waktu lebih lama, gadis itu segera
memasang alat mirip dengan tas itu di belakang punggungnya. Dengan gerakan
tangkas ia memasukkan senjatanya ke dalam sana tanpa barus melihat kearah
belakang.
“Arigatou gozaimashu—Jiraya-san.”
“Iie
iie.
Tak masalah bagiku—lagipula aku belum pernah memberimu apapun sebagai seorang
ayah.” Ucapnya seraya menepuk pelan kepala Sakura.
“Arigatou—Jaa, kalau begitu, matta ashita.” Setelah mengucapkan kalimat itu, Sakura segera berjalan
keluar toko, diikuti oleh Sasuke yang berjalan di belakangnya.
Sepasang matanya memandang sosok gadis berambut soft pink itu dengan pandangan yang
sulit diartikan. ‘Sudah 10 tahun eh?
Sakura?’ Batinnya berucap sendu.
.
.
.
.
TAP
TAP
TAP
Terdengar suara langkah kaki yang cukup nyaring
memasuki gedung AAK (Academy Anbu Kyoto). Sepasang manusia berlawanan gender berjalan dengan langkah santai
memasuki gedung. Sang pemilik langkah kaki itu tampak memandang lurus ke depan,
tanpa memperdulikan tatapan yang diajukan oleh beberapa orang di sepanjang
jalan menuju koridor.
Tepat saat di belokkan menuju koridor, sosok wanita
berpakaian rapi menyambut mereka dengan berojigi
tentu saja mereka membalas salam wanita itu dengan berojigi pula. “Mei-sama, sudah menunggu kalian di ruangannya. Ikuti
saya.” Wanita itu langsung berbalik setelah mengucapkan kalimat tersebut.
Sasuke dan Sakura, dua sosok itu mengikuti langkah
wanita itu. Perjalanan mereka melalui sepanjang koridor cukup memuakkan.
Beberapa orang murid perempuan tampak mencari perhatian Sasuke dan begitu pula
dengan murid pria yang mencoba mencari perhatian Sakura—menggoda gadis itu
dengan ucapan mesum mereka.
Mereka sungguh beruntung karena saat ini Sakura harus
menemui sang kepala sekolah, jika tidak—sudah dipastikan para pemuda mesum itu
akan lari terbirit-birit oleh aksinya. Bukan hal mengejutkan di Tokyo jika
Sakura akan mengacungkan pedangnya bagi mereka yang melecehkannya. Anggaplah
itu sebagai pembelaan harga dirinya yang akan diinjak-injak.
Meskipun di Academy
Anbu Tokyo, Sakura dikabarkan adalah seorang gadis peringkat D1 yang hampir
di keluarkan. Namun dia tak segan-segan mendepak murid yang melecehkannya dari
gedung Academy Anbu Tokyo. Lagipula,
berita itu bukan kenyataan baginya—dan bukan kemauannya untuk merahasiakan
peringkatnya.
Terkadang pepatah ada benarnya, diam itu emas—dan itu sudah terbukti pada Haruno Sakura.
Tanpa terasa mereka telah sampai di depan pintu ruangan
kepala sekolah. Wanita pemandu jalan mereka pun pamit undur diri. Kini hanya
tersisa mereka berdua, berdiri di depan pintu yang bertuliskan nama sang kepala
sekolah.
Sakura membuka pintu itu ketika ada suara dari dalam
yang mempersilahkan mereka masuk—bahkan sebelum mereka mengetuk pintu. “Sumimarsen.” Ucap Sakura dengan nada
rendah seraya melangkahkan kakinya memasuki sebuah ruangan luas milik sang
kepala sekolah.
Sosok wanita berambut coklat itu memandang Sakura
dengan tatapan berbinar, ia sudah menantikan kedatangan murid terbaik dari Academy Anbu Tokyo. “Ara ara, Haruno Sakura? Aku sudah
menunggu kedatanganmu kemari—duduklah.”
Sakura dan Sasuke mendudukkan dirinya di sebuah kursi
di depan meja kepala sekolah. Sakura tampak tenang dengan raut datarnya ia lalu
berucap, “sumimarsen Terumi-sama, atas keterlambatan saya.”
“Iie, bukan
masalah besar.” Ucap wanita yang memiliki nama Terumi Mei itu seraya
menyodorkan dua cangkir berisi teh hangat di dalamnya. “Dozo. Pasti melelahkan dari Tokyo sampai kemari.”
“Iie, nande mo
nai.” Ucap Sakura seraya menerima secangkir berisi teh hangat di dalamnya.
Ia pun menyeruput pelas teh itu, yang sebelumnya sudah ditiupnya.
Wanita itu tampak tersenyum lembut seraya berucap lagi,
“ara ara. Kalian tak perlu sungkan
selama di sini—aku sangat senang menerima tamu dari Tsunade. Apalagi salah satu
tamu itu adalah murid peringkat tertinggi di sana.”
“…”
“Kalian pasti lelah, biar pelayanku yang mengantarkan
kalian ke kamar—tapi maaf, jika hanya ada satu kamar. Baiklah, Ayano!”
“Hai’.”
“Antarkan mereka berdua ke kamar khusus yang berada di
lantai atas.”
“Hai’.”
Sasuke hampir saja berjengit kaget ketika tiba-tiba
sosok wanita yang tadi mereka temui di pesimpangan lorong, muncul begitu saja
di sebelahnya. Sejak kapan wanita itu
masuk? Pikirnya heran.
Ia tak mau ambil pusing karena masalah itu, lagipula
hal yang wajar bagi penghuni Academy Anbu.
Pastinya wanita itu memiliki potensi seperti teleport? Atau mungkin kecepatan? Bisa saja kan?
.
.
.
.
BRUK
Sasuke menjatuhkan punggungnya ke atas salah satu kasur
di ruangan itu. Ia memejamkan matanya sejenak, seraya menikamati bagaimana
rasanya berada di ruangan pribadi murid ranking
V1S. Ketika ia membuka sepasang kelopak matanya, ia dikejutkan dengan
tindakan Sakura yang termasuk berani.
Tanpa rasa malu, gadis itu melepaskan gaunnya. Memperlihatkan
setiap lekuk tubuh gadis itu, bisa dibilang gadis itu memiliki tubuh yang sexy, dadanya pun cukup besar untuk
ukuran gadis seusia Sakura—mungkin ukuran C cup.
Gadis itu memasang satu persatu baju serta atributnya.
Di mulai dari celana pendek yang hanya menutupi seperempat paha putih milik
gadis itu. Celana itu tersambung langsung dengan stocking berwarna hitam yang panjangnya mencapai seperempat paha.
Lalu bagian atasnya, gadis itu memakai pakaian
berlengan yang menutupi lima senti di bawah sikunya. Pakaian itu memperlihatkan
perut ramping serta pusar gadis itu, namun tak sepenuhnya terlihat jelas karena
tertutup dengan jaring-jaring yang terpansang di sana. Jaring-jaring memiliki
panjang yang melebihi celana pendek yang dikenakan gadis itu.
“Hn. Kau mau kemana?” Sasuke berusaha menormalkan nada
ucapannya senormal mungkin.
Gadis itu menolehkan pandang kearah pemuda yang tengah
berbaring di atas kasur. “Aku akan latihan—berhubung aku bukan murid sekolah
ini. Jadi aku tak perlu mengikuti pelajaran ataupun melakukan misi.”
“…”
“Ah ya! Latihanmu akan kumulai besok pukul empat pagi,
jadi sekarang kau bisa bersenang-senang.” Ucap Sakura seraya berjalan menuju
pintu utama ruangan tersebut. Namun langkahnya terhenti ketika sebuah suara
menginstrupsinya.
“Hn. Aku ikut.”
“…”
“Aku ingin melihat bagaimana kau berlatih.”
Sasuke segera bangkit dari posisinya, ia pun mengikuti
langkah Sakura yang keluar dari ruangan. Tak lupa ia membawa dua buah pistol
aneh yang baru didapatkannya tadi.
.
.
.
.
.
To
Be Continued
.
.
.
.
Ending
Song
Nano
– Savior Song
.
.
.
.
