Read more...
Posted by : Unknown

.
.
.
.
CHOICE
.
.
.
.
Disclaimer © Masashi Kishimoto
Story Written By EmeraldAI
Rate M for Blood
Genre : Romance, Crime, Mistery, Tragedy
Pairing : Sasuke X Sakura
.
.
.
.
Summary
Hidup di sebuah negara yang penuh dengan kelicikan sama sekali bukan kehendaknya. Bekerja di bawah kekuasaan pemerintah yang keji juga bukan kehendaknya. Hidup tanpa ingatan juga bukan kehendaknya/”Yang ku tau, aku hanyalah boneka dengan rantai di leherku…”/”Jika kau mengerti arti hidup, maka kau akan mengerti hidup adalah pilihan—Sakura.”
.
.
.
.
Warning
Typos, OOC, Blood Expilist, Kissing Scane, Bad Sakura, Sad Ending, AU type, Action Story, DLDR, Mind RnR?
.
.
.
.
.
Opening Song
EGOIST – Namae no Nai Kaibitsu
.
.
.
Dibalik jeruji hitam
Aku dilahirkan
.
.
In ga no daishou harai
Tomo ni yokou
Namae no nai—Kaibitsu
.
.
.
.
Chapter 2

Sakura terdiam, ia terpaku sejenak sebelum menolehkan kepalanya kearah sosok pria tua berwajah muda yang berdiri tepat di sampingnya. Ia lalu kembali mengarahkan pandang kearah sosok pemuda yang bernama Uchiha Sasuke itu. Sepasang mata green emerald miliknya tak lagi menangkap sekelompok anak yang tadi sempat mengerubungi pemuda itu.

“Kau kaget??”

Hai’, Tsunade­-sama. Peringkat S cukup mengesankan, dan sangat tak wajar jika salah satu murid peringkat tersebut tidak bisa bermain senjata.” Ucap Sakura seraya masih memandang pemuda yang kepayahan berdiri akibat mendapatkan luka yang kelihatannya cukup parah dibagian betis dan perutnya.

Suara tawa pelan dikeluarkan Tsunade ketika mendengar ucapan Sakura. “Faktanya dia tidak bisa bermain senjata. Dia hanya menjadi seorang mata-mata. Bahkan keahlian permainan senjatanya bisa dikatakan setingkat murid peringkat C.” Ucap Tsunade kemudian setelah menyelesaikan suara tawanya. Ia memandang kearah Sasuke, dimana pemuda itu masih berusaha keras untuk bangkit.

“…”

Sakura terdiam, ia tak terlalu tertarik dengan pembicaraan yang ia lakukan dengan sang kepala sekolah. Sakura lebih memilih memperhatikan usaha Sasuke untuk bangkit dari posisinya dengan luka memar dimana-mana.

Walaupun banyak orang disekitarnya, tak satupun dari mereka yang berniat membantu pemuda itu. Padahal Sasuke cukup tampan untuk di idolakan para gadis. Tapi mungkin karena kemampuannya yang minim, jadi mereka tidak pernah mendekatinya.

Tsunade kini berganti memandang Sakura. Gadis berambut soft pink itu tampak begitu peduli dengan pemuda bernama Uchiha Sasuke itu, terlihat dari tatapan matanya. Melihat tingkah dan perilaku Sakura, membuatnya melihat bayangan sosoknya dalam diri Sakura. Dia menyadari akan kesamaan sifatnya dengan Sakura, hanya saja Sakura terlalu hidup monoton sedangkan dirinya tidak. Dia memang mematuhi perintah ketua tapi bukan berarti dia harus mengorbankan perasaannya demi misi.

Yare yare. Jika kau peduli dengannya—kau tinggal turun dan tolong dia.”

Iie. Semua yang terdaftar di sekolah ini sebagai murid, tak peduli teman atau kekasih, mereka adalah lawan bersaingmu. Aku hanya akan bertindak jika diberi misi atau perintah darimu.” Ucap Sakura seraya berbalik, hendak meninggalkan ruangan pribadinya.

Tsunade terdiam beberapa saat, ia lalu berucap, “tidak semua misi harus kau terima. Tidak harus perintah seseorang maka kau akan bergerak. Manusia memiliki dua sisi bertolak belakang—logika dan perasaan. Keduanya harus seimbang jika kau menginginkan kenyamanan di dalam hidupmu.”

“…”

TAP

TAP

TAP

Sakura tak menghiraukan Tsunade, ia tetap berjalan tanpa memperdulikan seorang wanita tua yang menasehatinya. Hingga Tsunade berucap kembali dan ia pun menghentikan langkahnya.

“Hidup memiliki pilihan. Setiap makhluk berhak dan wajib memilih sesuai kehendaknya. Tapi—pilihan itu tidak boleh melebihi garis batas ketentuan.”
Sakura terdiam cukup lama, entah kenapa pikiran serta perasaannya sedikit melakukan reaksi dengan menimbulkan perasaan aneh. Ini pertama kalinya Tsunade berkata panjang untuknya sebagai seorang ibu. Dia memanglah anak angkat dari Senju 
Tsunade, namun hubungan mereka tak lebih dari atasan dan bawahan. Tsunade hanya mendidiknya sebagai seorang Anbu cerdas untuk mempertahankan kota.

Selama ini, Tsunade hanya berbicara padanya seputar laporan misi dan penyelidikan. Wanita itu tidak pernah sekalipun berbicara aneh seperti sekarang. Mungkin karena itu ia merasakan perasaan aneh? Pikirnya singkat.

“Saya tidak mengerti apa yang anda bicarakan, Tsunade-sama. Logika mengatur semua kerja otak—saya sama sekali tidak memiliki pilihan dalam hidup saya. Saya hanya akan bergerak jika diperintah—“

“…”

“—saya permisi.”

TAP

TAP

TAP

Sakura kembali melangkahkan kakinya untuk menuruni satu persatu anak tangga. Meninggalkan sosok wanita tua berwajah muda yang tengah menatap sosoknya yang semakin menghilang di balik turunan tangga.

Tsunade kembali berbalik seraya menatap sosok pemuda bernama Sasuke yang masih terlihat berjalan tertatih-tatih seraya memikirkan tentang Haruno Sakura—anak angkatnya—dengan berwajah sendu. Ia lalu bergumam pelan, “kapan kau akan memanggilku dengan sebutan kaa-san…??”
.
.
.
.
Sakura melangkahkan sepasang kaki jenjangnya menuju sebuah gudang yang berada di belakang gedung sekolahnya. Puluhan pasang mata di sekitarnya menatapnya dengan takut, puluhan mulut itu berbisik pelan—membicarakan tentang dirinya beserta berita tentang ranking miliknya. Namun, Sakura tak peduli dengan ucapan-ucapan bibir itu—karena ia tak pernah bisa menyangkal, suatu saat rahasia pun akan terbongkar.

SYUU~

Suara angin berdesir cukup kencang mengibarkan rambut merah muda miliknya yang memiliki style miring—panjang rambut antara bagian kanan dan kiri tidaklah sama—dan juga sisa rambut panjang—mirip ekor—yang sengaja ia kepang dua.

Sepasang kaki jenjangnya terus melangkah menuju sebuah pintu gudang sekolahnya. Sebelah tangannya tampak merogoh bag pack yang melingkar di pinggulnya, mengambil beberapa buah jarum yang berada di kantongnya. Ada dua buah jenis jarum yang dia miliki, beracun dan tak beracun—dan ia kini memakai jarum tanpa racun. 
Walaupun jarum tersebut tak dilapisi racun, namun tetap berbahaya bagi yang terkena, jarum-jarum tersebut berasal dari bahan kristal hitam.

Sakurapun tak tau siapa yang membuatnya, yang jelas jarum-jarum itu selalu ada di tempat tidurnya disaat dia terbangun dari tidurnya. Dan tanpa perlu memikirkan siapa yang membuatnya, Sakura memakai yang sudah ada di depan matanya. Hanya satu pemikiran logis yang ia pikirkan mengenai senjatanya itumungkin memang ini kemampuan tak biasa miliknya? Mungkin.

BRAK

Suara keras pintu yang hancur terdengar cukup keras, beruntung halaman belakang gedung sedang sepi—hanya ada dirinya, pelaku dan satu orang sandra. Yah, ini adalah misi utama Sakura yang harus diselesaikan—menangkap Yakushi Kabuto hidup-hidup. Perintah ini diberikan langsung dari kepala sekolah yang merupakan ibu angkatnya sendiri, kepada dirinya.

Menurut hasil laporan para mata-mata di sekolah ini. Senju Tsunade menyimpulkan jika pelaku pembunuhan lima orang murid beberapa bulan lalu, diduga hal ini dilakukan Yakushi Kabuto semata-mata hanya untuk percobaannya yang gagal. Parahnya, lima orang murid yang menjadi korban memiliki ranking yang tidak main-main.

Sakura kembali melangkahkan kakinya menapak lantai kotor gudang penyimpanan tersebut. Suasana mencekam ia rasakan, ditambah dengan sarang-sarang laba-laba yang terbentang di sudut ruangan, membuat Sakura mengambil satu kesimpulan—gudang ini sudah lama tak terpakai.

SYUUTT

Puluhan pisau kecil meluncur kearahnya ketika ia berada hampir di tengah ruangan. Dengan gesit Sakura menghindarinya dengan gesit—hal ini menyebabkan dirinya semakin masuk ke dalam ruangan. Dan hal kedua yang dia sadari dengan cepat—adanya sebuah jebakan jaring yang tergantung tepat di langit-langit ruangan, jaring itu juga telah dilengkapi dnegan aliran arus listrik yang cukup kuat.

JRAB

CHIPP

CHIPP

Sakura dengan gesit menghindari jaring bertegangan listrik tersebut. Ia menancapkan dua buah pisau kecil miliknya di dinding kayu yang sudah lapuk tersebut sebagai media untuknya berpegangan.

Sepasang mata green emerald itu membulat kaget tatkala ia menyadari sesuatu  yang salah di sana. Kabuto tak bermaksud membuatnya terperangkap di dalam jaring tersebut, namun Kabuto bermaksud meledakkan gudang dengan menggunakan magnet yang sengaja ia pendam di dalam tanah.

“KELUARLAH!! VIER!!”

BRAK

BLAM

Hanya berjarak beberapa detik setelah Sakura keluar bersama dengan seekor kuda hitam dengan rambut api tersebut, gudang yang berisi puluhan jebakan itu meledak dan terbakar oleh api yang ditimbulkan dari listrik bertegangan tinggi dan magnet yang berada di bawah tanah.

Sakura menatap ledakan keras itu seraya berdecih pelan, meruntuki kebodohannya yang membuatnya terperangkap di dalam gudang tersebut. Pandangannya beralih kearah gedung sekolah yang tampak sepi, sepertinya para guru sudah mengarahkan para murid untuk bersembunyi di ruangan bawah tanah.

TAP

TAP

TAP

Pandangannya kembali beralih kearah asal suara langkah kaki yang mendekat kearahnya. Dengan pandangan datar, Sakura menatap sosok pria berjas putih yang melangkah kearahnya bersama dengan sosok pemuda yang ia kenal bernama Uchiha Sasuke berjalan dengan leher, kaki dan tangan yang terikat rantai hitam.

Yare-yare. Kau tak terluka rupanya—Sakura-chan. Padahal aku sudah susah payah menyiapkan kejutan itu padamu. Dan apa ini orang suruhannya? Sungguh sangat disayangkan, Tsunade meminta bantuan pemuda lemah ini untuk memata-mataiku.” ucap Kabuto seraya semakin menarik rantai yang melilit tubuh pemuda di belakangnya. Hal ini mengakibatkan lilitan rantai itu semakin menguat, memperkecil ruang pemuda itu untuk bernafas.

Sakura menggertakkan giginya ketika mendengar ucapan Kabuto yang entah kenapa membuatnya naik pitam. Dari penglihatannya, Sakura dapat menyimpulkan jika Kabuto adalah seorang mata-mata sebuah mafia yang dikirim untuk menggali informasi mengenai Academy Anbu.

Dengan gerakan cepat, bahkan tak dapat dilihat—Sakura menghilang bersamaan dengan seekor kuda miliknya yang bernama Vier tersebut. Dengan kekuatan penuh Sakura menghantamkan dua buah pedang miliknya, berusaha untuk menghancurkan rantai hitam yang mengekang pemuda yang menjadi sandra.

TRANG

Gadis itu terpental beberapa meter ketika sepasang pedang miliknya tak berhasil menghancurkan rantai hitam tersebut. Ia sudah menduga jika kekuatan ini yang dimiliki Kabuto sesuai dengan julukan pemuda itu—Hell Chain.

Doshite? Haruno Sakura…? Kau tak bisa menghancurkannya eh??”

“Cih.” Sakura mendecih pelan ketika mendengar ucapan Kabuto yang terdengar merendahkannya.

Sakura nampak sedikit kaget ketika tiba-tiba saja sebuah rantai yang keluar dari dada Kabuto melilit tubuhnya, membawanya kehadapan Kabuto, memaksa dirinya untuk saling menatap dengan pemuda itu. Ia bisa menangkap sebuah seringai kesombongan terukir di wajah pemuda berhati iblis itu.

“Apa hanya ini kekuatan peringkat V1S. Sungguh sangat disayangkan, kau cukup sampai di sini.”

“…”

“Dan aku cukup berterima kasih dengan gadis bodoh itu yang telah memberitahuku tentang adanya orang yang memata-mataiku.” Ucap Kabuto seraya melirik Sasuke, lalu kembali menatap Sakura dengan pandangan keji dan hanya dibalas Sakura dengan pandangan datar.

Sa—siapa yang harus aku lenyapkan terlebih dulu. Kau—atau serangga ini?”

“…”

“Sepertinya aku harus melenyapkan serangga peng—akh.”
Kabuto tak mampu melanjutkan kata-katanya akibat rasa sakit yang tiba-tiba menyerang dada serta kepalanya. Sebelah tangannya memegang sisi kanan kepalanya sedangkan tangan lainnya meremas kuat dada kirinya, dimana jantung itu berdetak. Rasa sakit itu seolah-olah menyerap perlahan kesedarannya, membuat rantai yang mengekang tubuh dua orang itu melonggar.

KRAK

Rantai yang mengekang mereka hancur tanpa bekas. Sakura tampak mengambil nafas akibat kekangan rantai yang membuatnya sesak. Setelah dirasanya cukup, ia tampak meniup wajah Kabuto seraya berbisik pelan—dan seketika pria itu kehilangan kesadarannya.

Dua buah pedang teracung kearah sosok pria tak berdaya yang tengah kehilangan kesadarannya. Sakura marah, ia bisa merasakan gejolak api dari dalam tubuhnya. Bagaimana jika tubuh pria ini dipotong dalam bentuk miring menjadi empat sampai lima bagian, kurasa pria ini akan menikmati setiap sensasi mengasyikkan dari tubuhnya sendiri—pikirnya.

 “Cukup!! Sakura!!”

TAP

TAP

Sebuah suara perintah disertai dengan suara langkah kaki teralun menuju indra pendengarannya. Sakura pun menghentikan niatnya untuk mencabik-cabik tubuh pria itu. Ia lalu memandang kearah sebuah lorong yang menghubungkan antara gedung dengan halaman belakang.

Sosok wanita cantik muncul dari balik pintu yang menghubungkan gedung dengan halaman belakang, dibelakangnya diikuti oleh dua orang pengawal pemakai topeng. Dengan tatapan datar namun lembut ia menatap Sakura yang tampak kelelahan. “Kau bisa istirahat sekarang.”

Hai’. Arigatou Tsunade-sama.”

Sakura melirik sebentar sosok pemuda yang tengah terkapar dalam ambang batas kesadarannya. Namun, beberapa saat setelahnya ia berjalan meninggalkan tempat yang semakin padat oleh para petugas keamanan sekolah. Walaupun disebut petugas keamanan, namun tugas mereka hanya mengamankan penyusup yang sudah dalam keadaan tak berdaya. Sangat mudah bukan?

“Bawa Yakushi Kabuto ke ruang instrogasi—dan bawa pemuda itu ke ruang kesehatan!!”

Hai’ Oujo-sama.”

Sepasang beriris hazel nut miliknya itu menatap kepergian Sakura. Lalu pandangannya teralih pada sosok pemuda yang terkapar tak jauh dari tubuh Kabuto. Walau sekilas, ia bisa melihat setitik rasa peduli yang dikeluarkan Sakura kepada pemuda itu.
Batinnya berucap lega akan hal itu, ‘yare yare. Sepertinya kau akan menemukan sesuatu yang pernah hilang dalam dirimu—anakku.’
.
.
.
TRING

Ara ara—Sakura-chan…?” Sapa lembut seorang wanita tua penjaga café sekolah. Ia memang cukup mengenal Sakura karena gadis itu sering datang ke sana hanya untuk memesan vanilla latte yang ditemani dengan seporsi dango.
Sakura mendudukkan dirinya di salah satu kursi yang berhadapan langsung dengan jendela luar yang menampilkan pemandangan Kota Tokyo dari atas gedung Academy Anbu. Ia memang kini tengah berada di dalam sebuah café sekolahnya, namun apa yang menutup kemungkinan jika café itu berada di lantai teratas gedung sekolahnya.

Hai’—Dozo.”

“Arigatou.” Ucap lirih Sakura ketika menerima pesanannya. Ia lalu memandang sosok wanita tua yang hendak pergi menuju dapur café. Ia lalu berucap lagi, “baa-san, saya pesan nasi kare.”

Hai’.” Wanita tua itu pergi menuju dapur tanpa berkomentar lagi.
Sakura hanya diam, ia tak tertarik dengan komentar apapun yang menurutnya sangat tidak penting. Dalam benak dan pikirannya ia memikirkan tentang perkataan Tsunade tadi pagi. Ia sangat tidak paham dengan maksud dari sang kepala sekolah itu.

Lagipula sangat jarang wanita itu berkata begitu bijak di hadapannya. Bukan—dia sama sekali tidak meremehkan wanita itu. Tapi selama 17 tahun ia mengerti betul dengan tabiat wanita awet muda itu. Baru kali ini ia mendengar ucapan bijak yang dikeluarkan Senju Tsunade padanya.

Sungguh aneh menurutnya.

.
.
.
Tanpa terasa hari sudah beranjak malam, mataharipun sudah sendari tadi pergi ke peraduannya dan digantikan oleh bulan. Dengan gaun tidurnya Sakura tengah duduk di tepi ranjang seraya mengotak atik alat komunikasinya. Ponsel? Ah bukan, ini semacam alat berbentuk memanjang terbuat dari logam yang mengeluarkan semacam sensor untuk berkomunikasi dan untuk mencari informasi dari berbagai media jaringan.

Sebuah panggilan ia terima dari seseorang yang sudah tertera namanya. Sakura langsung menerima panggilan tersebut, dan setelahnya sebuah video yang menggambarkan situasi si penelpon terpampang di layar sensor tersebut.

“Oh? Kau belum tidur rupanya. Bagus, aku membawa berita misi untukmu Sakura.” Ucap seorang wanita dari seberang sana.

“…” Sakura tak menjawab, ia menunggu perkataan yang lebih detail mengenai misinya.

“Misinya, kau akan kukirim bersama dengan Uchiha Sasuke ke Academy Anbu Kyoto. Tugasmu adalah melatih Uchiha Sasuke dalam bidang seni bela diri dan persenjataan di sana.” Ucap Tsunade seraya membuka-buka map miliknya.

“…”

Ia lalu berucap lagi, “Uchiha Sasuke memiliki type pengamat, itu sebabnya ia memiliki julukan eagle eyes. Tapi dia memegang senjata kusanagi. Bukankah sangat aneh?”

“…”

“Dia hanya memiliki 10% bakat kecepatan dari bakat pengamatnya. Sangat tidak mungkin baginya menguasai bakat kecepatan yang memiliki bagian 10% dari keseluruhan. Itu adalah data yang aku dapat saat dia melakukan sensor bulanan.” 
Tsunade mengakhiri ucapannya seraya menutup map yang sendari tadi ia baca. Ia pun 
memandang Sakura dengan tatapan datar, menunggu persetujuan dari gadis itu.

Hai’ Tsunade-sama. Saya terima tugas ini.”
Mendengar ucapan Sakura dari jaringan komunikasi, ia pun menghela nafas pelan. Ia sudah menduga jika gadis itu akan menerima semua misi yang ia perintahkan. Bahkan jika misi itu membahayakan nyawanya.

Yare-yare, aku sudah menduga jika kau akan menerima semua misi yang kutawarkan.”

“…”

“Baiklah, kuharap besok kau sudah siap untuk keberangkatanmu ke Kyoto. Aku akhiri sampai di sini—Oyasumi.”

Setelah ucapan Tsunade yang terakhir, wanita itu langsung saja memutus sambungan jaringan komunikasi antar keduanya. Tsunade tak perlu menunggu jawaban Sakura karena ia yakin Sakura tidak akan membalas ucapannya.

Sakura lalu meletakkan alat berbeluk persegi yang memanjang itu di meja kecil sebelah tempat tidurnya setelah Tsunade memutuskan sambungan komunikasi mereka. Gadis itu merebahkan tubuhnya di atas kasurnya seraya memejamkan matanya perlahan. Walau ia yakin, mimpi aneh itu akan selalu menghantuinya.
.
.
.
.
Di sisi lain tepatnya di sebuah kota yang cukup jauh dari Tokyo—kota yang masih dikuasai oleh para mafia di dalamnya. Bangunan-bangunan tua masih tampak berdiri tegak walau lebih terlihat hanya seperti puing-puing bangunan.

Di sebuah bangunan yang cukup besar, tampak sosok pria dengan wajah yang tersamarkan dengan kegelapan malam, duduk di atas sebuah sofa hitam yang tampak seperti kursi ruang kerja di perkantoran, ditemani oleh beberapa orang yang duduk di sofa merah lusuh yang tak jauh dari tempatnya.

“Jadi, Yakushi itu tertangkap??” Ucap salah satu pria dengan suaranya yang sedikit ada nada bercanda.

“Hahaha, kurasa dokter setengah gila itu akan menjadi gila permanen, ketika tau bahwa asistennya akan segera kita lenyapkan.” Ucap sosok pria lain dengan suara beratnya yang terdengar mengerikan.

Sosok pria yang menjadi pemimpin mereka tampak berpikir sejenak dengan sebelah tangannya yang diletakkan di bawah dagu, mengusap dagu yang bersih dari rambut yang tumbuh di sana.

Ia kemudia berucap dengan suara tegas, “jangan bunuh dia dulu. Kisame, Deidara—aku menugaskan kalian untuk mengambilnya hidup-hidup. Aku masih membutuhkannya sebagai mata-mata.”

Yare-yare. Leader-sama terlalu baik dengannya. Kita bisa mendapatkan mata-mata yang lebih baik darinya.” Ucap sosok pria dengan rambut pirang panjangnya yang diikat ekor kuda—Deidara, nama pria itu.

Hai’. Leader-sama, saya akan menyelamatkan bocah itu untuk anda.” Ucap pria dengan kulit mirip dengan ikan hiu—Kisame, nama pria itu. Ia menyeringai, memamerkan deretan gigi tajam miliknya.

Sang pemimpin itu tampak tak peduli dengan komentar dua anak buahnya itu. Ia lalu mengalihkan pembicaraannya pada anggotanya yang lain, “jadi? Kapan kau akan membawa adikmu untuk bergabung dengan kelompok ini?? Sasori?”

Pemuda yang bernama Sasori itu tampak terdiam sejenak seraya berjalan keluar dari kegelapan yang terlalu dalam, menuju yang sedikit terang. “Belum saatnya Leader-sama. Ini belum waktu yang tepat untuknya mengetahui semua kebenaran.”

“Lalu??”

“Untuk saat ini kita hanya perlu menunggu sampai waktu yang tepat untuk membawanya bergabung dengan mafia ini. Sekaligus untukku menikahinya.” Ucapnya dengan nada datar untuk menjawab pertanyaan sang ketua yang ditujukan padanya.

Sosok pria lain menimpali ucapannya, “siscon, eh?” Ucapnya dengan nada mengejek kearah pria yang bernama Sasori.

Pemuda itu memilih diam, dia merasa tidak perlu membuang tenaganya hanya demi meladeni seekor serangga pengganggu. Lagipula, serangga akan pergi dengan sendirinya jika bunga yang dihinggapinya tak menghasilkan nektar lagi.

Walau benci mengakuinya, sejujurnya—Sasori benci menunggu dan membuat orang lain menunggu. Namun demi kebaikan adiknya, ia akan lakukan itu—sebagai seorang kakak ia ingin yang terbaik dari yang terbaik untuknya. Hal ini ia lakukan untuk menebus kesalahannya yang telah meninggalkan adiknya, itu juga demi kebaikan gadis itu, dulu.

Karena dia mencintai dan menyayangi adiknya—sebagai seorang kakak kepada adiknya, dan sebagai seorang pria kepada wanitanya.
Hei, jangan berpikir hubungan mereka menentang norma. Karena faktanya ia tak memiliki hubungan darah dengan adiknya, mereka hanyalah sebatas hubungan dua orang anak berbeda gender yang dipertemukan melalui pernikahan dari ibu adiknya, dan ayahnya.

Pernikahan itu terjadi semenjak mereka masih berusia setahun. Mereka masihlah kecil untuk memahami apa arti pernikahan yang dilakukan oleh orang tua mereka masing-masing. Namun masih segar diingatan Sasori, jika adiknya berjanji akan menikah dengannya jika mereka sudah besar. Sungguh bodoh bukan? Mengingat janji dua orang bocah yang akan mengikat takdir mereka suatu hari nanti.

Sungguh konyol bukan?

Tapi bagi Sasori janji tetaplah janji, dimanapun dan dalam keadaan apapun janji harus ditepati. Walaupun janji itu harus membuatnya menunggu selama bertahun-tahun.
.
.
.
.
.
.
To Be Continued
.
.
.
.
Ending Song 
Nano – Savior Of Song
.
.
.

.
A/N

Setelah mengalami gonjang ganjing kehidupan (?) akhirnya bisa ngepost juga -_- dan ketika aku menyadari -_- ternyata fanfic ini part satunya sudah tertimbun saudara-saudara :3 aku usahakan posting semua chap yang udah aku tulis di fic ini. Di file sampe chap 8 kayaknya. Dan Only Mine baru chap 2 #plak XD karena jujur bikin adegan lemon itu susahnya minta ampun...antara imajinasi (?) dan kata-kata harus pas dalam porsinya dan lagi harus bikin feel yang bener2 kerasa, itu sangat sulit. Apalagi saya cewek berkemampuan khusus (?) -_-

For ce miyu : maafkan daku jika tidak menghubungimu :3 dan maaf fic ini gak aku edit, yang udah di ffn aku gak edit :3 

Yosh! Arigatou 
.
.
.
.
.
Gheralda Citra Prameswari

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Popular Post

Labels

Ask Me!

Designed by www.senachan.webs.com. Diberdayakan oleh Blogger.

- Copyright © 2014 Jepang Kita! - Designed by Senachan -